
18 Tahun silam...
Aliya dan juga Pratmana adalah pengantin baru 2 bulan menikah namun, sayang sekali. Pratmana harus menerima kenyataan bahwasan istrinya harus melahirkan seorang anak yang jelas tak ia ketahui itu anak siapa.
Aliya melahirkan seorang anak berkelamin perempuan namun, Aliya tidak menyentuh putrinya yang masih bayi itu bahkan, menyusuinya saja ia tidak sudi.
"Aliya, dia sangat cantik."
"Dia bukan anakmu, buang saja. Aku tidak sudi menyusui anak bajingan itu!"
"Bukankah ini sudah konsekuensinya? Jika kamu tidak mau, biarkan saya yang merawatnya."
"Saya memberikan nama kepadanya.. Aluna Pragya Laksamana. Gadis yang cantik seperti cahaya rembulan."
DEG!
Hati Aliya terasa sakit mendengar pernyataan suaminya yang sangat tegas menamai putrinya dengan menggunakan marganya. Rasa hampa pada hatinya masih terasa jelas. Ia merasa sangat teramat berdosa karena harus melakukan hal tak senonoh saat bersama yang lama lantaran takut ditinggalkan.
"Kenapa kamu mau menerima anak ini..? Jelas-jelas kamu tau ini bukan darah dagingmu..?"
"Karena bagi saya.. Anak ini lahir karena anugrah. Dan takdir. Apakah kamu tidak kasihan kepadanya? Ia jelas-jelas tidak mengerti apa yang terjadi lantas, mengapa kamu harus membencinya..? Bahkan, anak ini sangat mirip denganmu."
"Jangan menyamakan aku dengan dia, kak. Aku tidak sudi! Kenapa kau sangat menyayanginya?! Buang saja. Berikan anak itu ke panti asuhan."
Pratmana berusaha sabar. Ia mulai membedong Aluna dan menimang-nimang Aluna dengan penuh kasih sayang walau, Sama sekali Aliya tak memberikan ASI, itu tak masalah. Pratmana bisa membuat susu formula dan menjaga Aluna selayaknya permata.
"Setelah ini.. Aku pergi. Aku tidak sudi serumah dengan anak sialan itu."
"Aliya. Aluna tidak berdosa. Apakah dia tau bahwa kamu membencinya? Kamu cekik dan bunuh dia sekarang pun, dia hanya akan menangis dan dia akan langsung tiada. Karena apa..? Karena anak yang tidak berdaya ini adalah darah dagingmu. Hasil perbuatanmu, dan saya tidak mempermasalahkan itu. Beristirahalah, saya yang akan menjaganya jika kamu tidak mau."
Aliya tak menghiraukan ucapan suaminya. Ia langsung pergi tidur dan mengabaikan bayinya sendiri. Untung saja, Pratmana sudah berjanji menjaga dan menyayangi Aluna.
"Maaf, Aluna.." batin Aliya dengan memejamkan matanya yang berat.
__ADS_1
"Aluna anak pintar, tidur ya sayang? Besok kita bawa bunda pulang, bunda pasti capek," ucap Pratmana dengan menciumi wajah Aluna yang lugu itu.
Setelah Pratmana pergi, seorang wanita paruh baya memasuki ruangan Aliya dan melipat tangannya didada, "Wah-wah... Sudah melahirkan? Baguslah. Buang saja anak haram itu, Aliya. Untung saja ya suami kamu itu bodoh," ujar wanita paruh baya itu seolah tanpa malu.
"Ini semua juga karena anak sialanmu! Seharusnya aku tidak pernah menginjakkan kaki rumah sialan itu. Dan kau tau..? Aku tidak akan sekeji itu dan untuk membenci..? Aku memang membenci namun aku tidak akab membuang darah dagingku, camkan itu wanita sialan." kecam Aliya dengan mengumpat dan menatap tajam wanita dihadapannya.
Plak!
"Kurang ajar kamu, Aliya!" bentaknya membuat Aliya hingga tertoleh karena tamparan itu.
"Suamiku saja tidak pernah melontarkan tangannya lantas.. Siapa kau berani sekali menamparku..? Aku bisa saja melaporkanmu atas tuduhan penganiayaan!" ancam Aliya dengan menepis tangan wanita paruh baya itu dengan kasar.
"Sebaiknya kau tau batasanmu."
"Anda yang harus tau batasan anda, Wilona."
......................
Malam itu begitu gelap dan sejak sampai rumah, Pratmana binggung karena Aluna terus-menerus menangis tanpa sebab dan bahkan, tangisan itu membuatnya tidak bisa tidur.
Aluna berhenti menangis saat Pratmana mulai menimang-nimangnya dan mendekapnya hingga esok harinya, Pratmana berangkat kerja dan menitipkan Aluna ke panti lalu mengambilnya saat ia pulang kerja.
Aliya terdiam dibednya dengan mengusak rambutnya kacau dan menghantam kuat sebuah tembok yang berada dibelakangnya.
"Neng, kenapa?"
"Gapapa. Sana keluar, Aliya gamau liat ibu!"
"Neng, makan dulu. Habis neng makan ibu keluar ya.."
"Bu... Kenapa harus anak itu..? Kenapa suami Aliya tidak langsung membuang Aluna saja dan membencinya? Jelas-jelas itu bukan darah dagingnya tapi.. Kenapa...?"
"Neng.. Itu karena nak Pratmana adalah suami yang sangat teramat bertanggung jawab. Beruntung eneng teh bisa dapat suami kaya dia, Ibu teh tau apa yang kamu rasain neng, cuma emang jadiin ini semua pembelajaran aja biar lain kali.. Eneng gak lakuin kesalahan yang sama, iya..? Yaudah, sekarang kamu makan."
__ADS_1
"Aliya ga lapar bu.. Kenapa bajingan itu terus membuat Aliya tidak nyaman..? Kenapa selalu seperti ini sih bu?! Aliya capek!"
"Yang ngeyel dan gamau ditinggalin dulu siapa..? Yang dulu sampai ngelawan orang tua cuma buat ikut dia siapa..? Untungnya, nak Pratmana menerima dan mau sama kamu atuh neng, coba engga..? Kamu udah diperlakuin dengan ga layak. Bahkan, nak Pratmana juga ga masalah sama masalah kamu, hebat kan? Neng harusnya terima takdir aja ya..? Ga baik ngelawan Tuhan."
Aliya menghela nafasnya. Ia tak percaya bahwasan ia yang salah namun, ia yang marah. "Neng, terkadang ga semua hidup sesuai sama kemauan dari kamu, ga semua manusia itu bisa hidup sendirian, pelan-pelan terima aja ya..? Semua pasti ada hikmahnya," ucap Asih, Ibunya Aliya. Neneknya Aluna.
Aliya hanya terpaku mendengar setiap tutur kata ibunya yang penuh arti namun..
"*Udahlah kamu nurut! Gak nurut.. Gua tinggalin lo."
"I - iya... Jangan tinggalin aku ya.."
"Iya. Gua ga akan ninggalin lo asal lo itu nurut sama gua. Sekarang diem."
Dan*....
"ENGGAK..!!! GAK MAU!! GUA GA AKAN PERNAH NURUT SAMA LO GUA ─"
"Aliya, hey! Ini saya.. Kamu kenapa teriak-teriak? Mimpi apa?"
"A - aku tadi.. Tadi minpi..."
"Saya ngerti. Tidur lagi saja. Kita didalam mobil, kalau kamu gamau satu rumah dengan Aluna, kamu tinggal dihotel saja sementara. Persiapan untuk ke Singapura, kita disana dan akan kembali pasca Aluna sudah cukup mengerti keadaannya," saran Pratmana diangguki Aliya.
Aliya juga hanya bisa mengangguk. Ia buntu. Tak bisa menolak namun, ia juga tak bisa bertindak. Bahkan, untuk sekedar mendapat ketenangan.. Pratmana yang mengurus itu semua. Ketenangan yang tidak membuat Aliya merasa tertekan.
"Sudah sampai, turun dan bawa barangmu. Saya akan jemput Ibu untuk merawat Aluna, saya temani kamu karena kondisi kamu juga belum begitu stabil," sela Pratmana memotong saat Aliya hendak berbicara.
"Aluna dirawat ibu..?"
"Iya, saya temani kamu."
Aliya mengangguk dengan mengulas senyuman tipis. Sedangkan Pratmana, ia mulai menjemput Asih dan meminta tolong agar Asih merawat Aluna dengan tulus.
__ADS_1
"Buk, tolong jagain anak saya ya..? Jangan lukai dia."
To be continue!