
Kali ini, Reno yang berdiam diri dikamar dengan membungkus tubuhnya dengan selimut. Mengurung dirinya, tidak makan, tidak minum, bahkan tidak beranjak dari tempat tidurnya sudah 3 hari.
Reno seolah dihancurkan dengan ucapan Sagara yang mengatakan bahwa Aluna hanya bertahan karena dirinya ingin. Katakanlah bahwa Reno lebay, karena sesunguhnya semua tidak tau apa yang dirasakan Reno saat ini.
Hari ini, mamanya sudah mengetuk pintu kamar Reno sebanyak 5 kali dan tak ada jawaban. Hanya ada air mata yang terus mengucur, mata bengkak dengan kepala yang terasa sangat pusing.
Perlahan mamanya memasuki kamar Reno. Menduduki sudut ranjang dan mulai mengusap surai Reno dengan lembut.
"Reno sayang.. Sudah ya? Jangan kaya gini terus. Mama tau ini semua berat, banget. Tapi lebih berat lagi kalau misal Aluna tau Reno sedih sampai kaya gini sayang.. Sudah ya..? Ayo bangun, makan, dan setelah itu jenguk Alunanya ya sayang? Biar rasa rindu itu bisa terlampiaskan."
Reno mengangguk setuju. Ia mulai keluar dengan penampilannya yang berantakan dan mulai menahan rasa sakit karena Aluna nyaris tak terselamatkan.
Setelahnya, Reno membawa sebuah bunga untuk ke rumah sakit. membawa beberapa baju Aluna dan mulai mengemudi dengan kecepatan sedang karena pikirannya yang tidak karu-karuan maka, akan bebahaya apabila ngebut seperti beberapa hari yang lalu.
Sesampainya, Reno dengan segera membawa bunga tersebut dan melihat Aluna masih kritis jadi, Reno memutuskan untuk segera masuk dan meletakkan bunga tersebut dimeja.
"Aluna, gua gatau lo bakal bangun tapi gua harap lo lewatin masa kritis ini. Gua gatau lagi harus gimana karena gua pusing. Gua drop dan seketika semua yang tadinya baik-baik aja jadi berantakan karena lo kaya gini.. Gua ngelawan takdir ga sih? Karena jelas-jelas gua suka sama lo yang udah dinikahin sama Arlangga. Sahabat gua sendiri.. Gua egois gak kalau gua minta lo bertahan? Kita cari papanya Arlangga sama Mawar. Kita selametin mereka nanti, lo harus janji bertahan ya?"
"Gua mau cerita boleh?"
"Lo diem, artinya boleh. Iya gak? Iya dong pasti. Yaudah, gua cerita ya? Gua kemarin pas denger lo ngedrop, gua cuma diem aja. Karena apa? Karena rasanya hati gua yang ancur. Dunia gua seketika runtuh dan hancur berantakan. Mama sama papa cerai dan saat itu juga lo kaya gini. Semuanya buat gua tertekan. Ngeliat lo senyum, itu buat dunia gua terasa baik-baik aja, Lun.. Tapi kalau lo kaya gini.. Dunia gua ancur.."
__ADS_1
"Gua baru keluar kamar dari 3 hari lalu, gua gatau harus gimana karena pikiran gua cuma tertuju sama lo. Semua yang udah jelas-jelas didepan mata, gua ga bisa terima. Gua mau cerita banyak sampai akhirnya lo bangun dan lo bilang kalau semua bakal baik-baik aja. Gua bakal disini sampai lo sadar, gua bakal disini sampai dunia lo baik-baik aja. Gua disini buat lo, Aluna.. Gelang yang lo kasih masih gua pake kok. Ga gua lepas atau gua buang, karena apapun yang lo kasih.. Gua simpen."
Lo tau gak? Belakangan ini gatau kenapa gua ngerasa sepi. Selama 2 hari ini kalau gak salah gua juga ngerasa gagal, banget. Lo digituin gua malah kebawah tanpa bilang atau pamit sama lo, oh ya lo suka kue gak? Lo kok diem terus sih?"
Entah memang Reno yang gila karena berbicara dengan Aluna yang tengah masa kritis atau memang dasarnya Reno itu merasa kehilangan, tak ada yang tahu sama sekali mengenai hal itu. Tak ada yang tau mengapa dan bagaimana nantinya Reno apabila Aluna tidak bisa melewati masa kritis ini.
......................
Tak terasa, hari ini waktunya berlalu dengan cepat. Malam hari ini, Reno masih stay menunggu Aluna agar segera sadar karena, masa kritisnya berakhir. Hanya tinggal menunggu kesadaran Aluna kembali seutuhnya dan setelah itu, Aluna boleh keluar asal ia tidak melakukan hal yang berbahaya diluar sana. Ia akan tetap berada diruangan dan dia akan tetap dirawat disana karena itu sudah menjadi tanggung jawab rumah sakit. Dan rumah sakit itu private. Hanya keluarga saja. Jadi, Reno bebas karena Andara sudah menganggap Reno itu putranya sendiri.
"Om, papanya Arlangga sama adiknya udah ketemu?" tanya Reno penasaran.
"Tapi om.. Emangnya ga ada sama sekali jejak yang om temuin dijalan?"
"Tidak ada, oh ya.. Kamu kenapa belakangan ini sering menjaga Aluna? Apakah karena kasihan atau..?"
"Reno suka sam Aluna, om. Cuma.. Reno mikir, Reno udah lama banget mendem perasaan ini. Udah dari dulu dan gatau kenapa sekarang Reno lebih sering takut kehilangan Aluna."
Sagara paham dan mengerti tentang apa yang dirasakan oleh Reno tersebut. Ia merelakan perasaannya demi sahabatnya sendiri. Bahkan, dulu ia juga berkorban demi Arlangga. Semua yang ia lakukan tak ternilai karena pengorbanannya cukup banyak dan besar untuk Arlangga sejak dulu.
"Reno, kamu mau kemana setelah ini?"
__ADS_1
"Reno akan mengunjungi makam Arlangga dulu, mungkin? Setelah itu.. Reno bakal ceritain semuanya. Reno harap Arlangga ga marah karena Reno suka sama ratunya."
Hanya ada satu kata. Pasrah. Hanya itu yang mampu diutarakan oleh Sagara dan yang lain. Apalagi, menyangkut perasaan ini Reno sudah memendamnya terlalu lama sehingga rasanya, hatinya sakit dan hari-harinya terasa gelap pasca mendengar bahwa Aluna bisa menyerah kapan saja dan setelah itu terjadi, Aluna tak lagi dapat diselamatkan.
"Reno, apa kamu ikhlas dengan kepergian Arlangga?" tanya Sagara membuat Reno beralih menatapnya.
"Tidak," sahut Reno lirih dengan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak bisa ikhlas atas kepergiannya?" tanya Sagara lagi membuat Reno hanya menghela nafasnya dan mulai menatap sekitar.
"Om lihat gak kalung yang Reno pake ini? Ini kalung dari Arlangga. Kalung yang dia buat sendiri, bagi mereka emang kaling 1 juta ini ga terlalu berarti tapi, bagi Reno kalung ini sangat berarti. Karena kalung ini, dia rela ga tidur dan dia juga ngehabisin waktunya cuma buat ukir nama dikalung ini. Andai misal dia jujur dari awal, mungkin bisa diobati, kan..? Andai dia bisa jujur, mungkin Aluna juga ga akan drop sampai kaya gini."
"Ikhlaskan kepergiannya, Ren."
"Ikhlas itu mudah diucapkan om, tapi susah dilakukan. Melepas itu mudah tapi mengikhlaskan itu susah."
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini, Ren?"
"Mengunjunginya. Meminta agar dia tidak menjerat ratunya seperti sekarang."
To be continue!
__ADS_1