Dua Insan

Dua Insan
Harmonisasi Terindah


__ADS_3

Malam harinya, Aluna sudah didandani rapi dengan dress yang diberikan oleh Arlangga dan sesuai perintah yang dia dapatkan.


Adiwangga Hotel.


Hotel milik keluarga tentunya. Hotel megah dengan para staff yang ramah, hotel bintang 5 yang selalu disinggahi oleh para pengunjung untuk melepas lelah.


"Masuk gih, aku tunggu kabar baiknya." Ujar Mawar tersenyum tipis mengusap sekilas rambut calon kakak iparnya itu.


Mawar kembali mengemudikan mobilnya dan Aluna segera memasuki hotel tersebut dituntun oleh staff yang sedari tadi menyambut dirinya dengan penuh hormat.


Aluna diajak naik ke lantai 4 dan disana samar-samar dia mendengar suara alunan piano yang merdu dan mengusik hatinya. Alunan piano dengan harmoni yang sesuai seperti yang dia harapkan.


Setelah melihat kedatangan Aluna, Arlangga langsung menghampiri dan menggendong tubuh mungil Aluna. Arlangga mendudukan Aluna diatas piano tersebut dan dia mulai memainkan piano tersebut dengan senyuman yang membuat lesung pipinya timbul.


❝Alunan sebuah harmoni ini saya mainkan hanya untukmu.. Semua hatiku, semua rasa yang menguncam hati selama ini akan sirna ketika bersama denganmu.. Dunia yang dahulu gelap nan hampa kini terasa sangat berwarna karna hadirmu.. Kehadiranmu yang membuatku sadar bahwa dalam dunia ini ada cinta yang telah aku temukan.. Cinta yang akan membuat semua orang terpaku kala mendengarkannya..❞


❝Jika terdapat sebuah rasa terdalam hanya akan saya ungkapkan melalui alunan piano yang merdu dan tak akan menyakitimu ini.. Mencarimu memang melelahkan namun, dalam mencari saya mengerti bahwa menunggu hal yang tiada arti adalah hal yang menyakiti.. Luka yang berantakan dalam hati kecilmu.. Izinkan saya menghiasinya dengan cinta yang tak engkau dapat sebelumnya..❞


❝Dengarlah setiap harmoni ini, dengar dan dapatkah engkau mendengar perasaan saya yang selama ini menunggumu begitu lama..? Bertahun-tahun lamanya saya seperti orang hilang akal dan saya memutuskan menjadi sebuah petuah dalam cinta dan janji.. Janji yang harus saya tepati meski saya tau terlambat untuk jujur tentang perasaan ini.. Namun, ingatlah.. Saya akan memjagamu dan tetap bersama denganmu selamanya.. Selama nafas berdetak dan sampai saya mati.. Saya hanya akan menanti untuk jujur bahwa.. ❞


❝Kaulah segalanya untuk saya.. Engkau adalah curahan hati yang bisa mengungkapkan segalanya.. Saya akan mengenalkanmu kepada hujan dan pemandangan yang indah sampai akhirnya.. Takdir menyatukan kita menjadi.. Insan yang disatukan.❞


TING!


Nada piano diakhiri dengan Aluna diturunkan oleh Arlangga dari piano tersebut dan mulai didudukan disebuah kursi.


Arlanggabmulai bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak cincin lalu mengenggam tangan gadisnya itu erat.


"Aluna.. Saya tau saya bukan seseorang yang pandai Mencintai.. Saya bukan orang yang pandai menyatakan apa itu rasa.. Saya bukan orang yang banyak bicara dan bukan orang yang bisa memberikanmu banyak harap atau janji, saya hanya akan berkata dengan  rembulan yang menjadi saksi saat ini.. Disaksikan oleh bintang  dan ditemani ribuan cahaya, izinkan saya menungkapkan bahwa saya.. Mencintaimu, maukah engkau menjadi satu-satunya cinta dan permaisuri dalam kehidupan saya, sayang..?"


Hening.


Aluna terperangah mendengarkan ucapan dari Arlangga. Dia tak mengucapkan sepatah katapun.


"Kakak.. Melamarku..?"


Shock! Tentu saja gadis itu shock mendengarkan semua tutur kata Arlangga.

__ADS_1


Arlangga menghela nafas, dia paham dengan Aluna yang pasti shock. Perlahan dia mulai menyematkan cicin pada jari manis gadis itu dan tersenyum hingga lesung pipinya timbul.


"Jadi istri saya ya..? Saya janji bahagiakan kamu, saya akan membuatmu bahagia sampai akhir hayat, ya..?"


Aluna bergeming. Tak ada jawaban karna dia sudah terpaku dengan tingkah Arlangga yang membuatnya salah tingkah disana.


......................


Perlahan Aluna mulai terperanjat tatkala Arlangga mendekati dirinya. Aluna mengangguk dan sekilas dia tersenyum tipis.


"Aku mau jadi istri kakak, aku mau kak.. Aku mau jadi bagian hidup kakak mulai hari ini dan seterusnya."


Arlangga tersenyum bahagia! Dia langsung memeluk erat tubuh Aluna dan membuat Aluna sampai terangkat karna berat badan Aluna tentu saja turun sampai beberapa kilo karna sakit.


Setelahnya, Aluna dibawa untuk duduk dan menyantap hidangan yang tersedia dimeja makan. Dengan anggunnya Laura memakan beberapa suap dan menyudahinya.


"Sudah selesai?"


"Sudah."


Tanpa menunggu jawaban, Arlangga langsung menggendong tubuh Aluna tanpa aba-aba dan membawanya ke sebuah gedung. Dimana gedung itu sudah dihias secara indah. Banyak lampu bergelantung bersamaan dengan sebuah lagu diputar.


Sebuah lagu yang sangat ia sukai selama ini.. Lagu indah dengan harmonisasi yang penuh makna dan para teman-teman yang hadir turut menyaksikan dimana Aluna sedikit binggung karna tak ada sepatah katapun yang terucap terkecuali Arlangga yang terus mengenggam erat tangan Aluna.


Genggaman yang enggan untuk dilepaskan dan genggaman tangan yang erat itu seolah tak akan pernah dilepas oleh lelaki itu.


Kedua insan yang sedang dimabuk asmara bersamaan dengan Aluna yang ditarik dan didandani dengan sangat cantik pada malam hari ini adalah hari kemenangan untuk keduanya.


Gengaman tangan yang engan terlepas dan disamping itu, Arlangga membawa Aluna melihat banyaknya bintang dan langit yang dihiasi bulan.


"Kak.. Kakak sangat pucat," lirih Aluna dengan menahan tubuh Arlangga yang nyaris terjatuh.


"Kak.. Kakak beneran gapapa?"


"Saya gapapa.. Lihat? Hidung kamu juga berdarah, saya yang seharusnya bertanya sayang.. Kamu tidak apa-apa..?"


"Aku tidak apa-apa.. Kak.. Berapa usia kakak sekarang..?"

__ADS_1


"Usia saya 22, kamu sendiri?"


"Aku baru 18 tahun, kak."


"Jalan hidup kamu masih panjang, jangan sia-siakan ya..? Saya mau kamu bahagia ada atau tidaknya saya.. Kamu harus bahagia."


Perlahan, tubuh keduanya meluruh dan darah mengucur deras dari hidung Aluna. Keduanya saling bersandar dan tertawa kecil. Sangat indah melihat bulan dan bintang walaupun kondisi mereka yang tidak memungkinkan.


"Aluna.. Apa impianmu..?"


"Impianku adalah melihat wajah bunda.. Disayang dan dimanja bunda dengan mesra, kak.."


"Ceritalah, saya akan mendengarkannya.."


"Aku tidak punya cerita kak, sampai kapan kita akan saling merebahkan diri seperti ini..?"


"Sampai rasa sakit kita menghilang, Aluna.. Boleh saya meminta satu permintaan?"


"Katakan, kak."


"Peluk tubuh saya, dekap dan jangan lepas sebelum saya terlelap," pinta Arlangga membuat Aluna berbalik dan mendekap erat tubuh Arlangga.


"Jangan tinggalin aku ya kak.. Aku ga sanggup.."


"Saya tidak akan meninggalkanmu, Aluna.. Saya hanya akan tertidur didalam dekapanmu karena saya merindukan mama..," lirih Arlangga dengan membalas dekapan dan mulai memejamkan netranya.


"Tidak apa.. Rindu itu sangat wajar untuk seorang anak yang merindukan orang tuanya.. Itu sangat wajar."


Arlangga terlelap. Dan Aluna hanya menopang tubuh Arlangga dengan sisa-sisa tenaganya dan berakhir pada keduanya tumbang bersama.


"Aluna..," panggil Arlangga lirih dengan mulai menguncang tubuh Aluna.


"Aku disini, kak.. Aku disini.."


"S - sesak.. Dada saya sesak.."


To be continue!

__ADS_1


__ADS_2