Dua Insan

Dua Insan
Sebatas mimpi


__ADS_3

Sunyi. Sepi. Hanya ada hembusan angin kecil yang menghampiri, angin yang membuat Aluna seketika terhenyak kala melihat seorang lelaki berpakaian serba putih tengah menghampirinya.


"Sayang, mengapa ragamu begitu lemah? Saya tidak akan melepaskanmu apabila kamu tidak pernah bangkit setelah kepergian saya," ujar Arlangga dengan mulai membangkitkan Aluna dari duduknya.


"K - kak..? Kakak! Aku merindukan kakak.. Aku hanya ─"


"Tidak apa.. Rindu itu pasti tak menentu. Akan ada rasa rindu dan akan ada rasa sedih yang menyelimutimu namun, saya disini untuk menjadi tempat pulangmu, sayang.. Jangan menangis. Saya tidak suka dengan air matamu ini."


"Lantas apa aku harus marah kepada Tuhan dan menyalahkan semua yang terjadi ini kepada takdir yang telah berkehendak kepada kita berdua..? Jawab! Apakah aku harus berteriak agar kau mendengar bahwa aku merindukanmu, Arlangga Pramuja Daniswara?!"


DEG!!!


Untuk pertama kalinya. Aluna menyebut nama lengkap sembari dengan tangisan yang pecah. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Arlangga bahkan, ia hanya bisa terduduk menunggu Aluna bangkit dengan menatap sang belahan jiwa yang tengah hancur karena ditinggalkan dirinya.


"Aluna, berdiri sayang," titah Arlangga dengan mengulurkan tangannya.


Aluna menyambut uluran tangan tersebut dan mulai berdiri dari empunya. Ia mulai memegang pundak Arlangga dan membiarkan Arlangga menadah air matanya. "Jangan menangis lagi, saya tidak menyukai air matamu ini, Aluna," ucap Arlangga dengan mulai mengusap lembut pipi Aluna dan mulai memandangi sekeliling samar.


"Aluna.. Sampai kapan kamu akan terpuruk seperti ini, sayang..?"


"Sampai engkau membawaku pulang, semestaku.."


"Kemarilah, saya akan mendekap erat, merengkuh tubuhmu yang rapuh, saya akan menjanjikan sesuatu yang tak pernah engkau dengar sebelumnya. Maaf apabila saya tidak bisa menuaikan sebuah janji yang saya ungkap dulu, sekarang.. Terima ya..? Saya ga mungkin akan kembali, Aluna.. Kita berbeda."


"Apa lagi..? Kakak akan meninggalkanku lagi? Apakah belum cukup untuk hari sebelumnya? Apakah kakak akan pergi lagi setelah ini?! Kakak akan membiarkan aku mati dalam keadaan raga yang masih bernyawa?! Tatap aku dan jawab.. Kau mencintaiku bukan..?"


"Aluna, saya ─"


"JAWAB!"


"Saya mencintaimu namun.. Kamu bukan satu-satunya, Aluna. Bukan hanya mama, ada seorang gadis yang saya sukai namun, saya tidak mencintainya. Saya ingin bersama denganmu karena saya sulit melupakan gadis tersebut.. Aluna, maafkan saya.. Saya tidak bermaksud ─"

__ADS_1


"Aluna.. Jangan menangis.."


Hening.


Aluna bergeming dengan mulai menatap langit dan tubuhnya terperosot kala Arlangga mendekapnya dengan erat.


"Pukul aku, kak.."


"Pukul aku! Jadi selama ini aku hanya sebuah pelampiasan rasa luka dan sebuah alat untuk membantumu melupa..? Lebih baik kakak membunuhku daripada kakak harus menyakiti hatiku seperti ini, kak... Apakah janji itu berarti..? Apakah aku hanya seorang gadis yang tak berpendidikan? Apakah aku gadis gampangan? Apakah aku gadis yang tidak memiliki latar belakang terhormat..? Apakah karena aku anak yang tidak diinginkan oleh bunda..? Jawab kak!"


"Aluna, tenanglah! Gadis yang Arlangga sukai adalah aku. Aku yang bersama dengannya dan terimakasih karena telah menemaninya hingga saat ini. Sudah waktunya kamu pergi dan jangan kembali! Karena kita sudah menyatu disini. Jangan pernah kembali karena kita tidak mengharapkanmu disini!"


DEG...


Hancur. Semua pendirian Aluna hancur dalam sekejap. Ia melihat semestanya pergi dengan gadis lain yang berpenampilan dan wajah yang hampir mirip dengan dirinya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Aluna menerima? Pastinya ia akan marah.


......................


"KAK ARLANGGA, DIA PUNYA GADIS LAIN, DIA MENYUKAI GADIS LAIN, DIA MENYUKAINYA, ALUNA HANYA ─"


"Aluna, tenang! Apakah kamu bermimpi?"


"Aluna yakin tadi adalah putra papa! Tadi adalah semestanya Aluna! Dia.. Dia memiliki gadis lain, gadis yang sama dengan Aluna, mereka bersama ─"


"Apakah yang kau maksud adalah Mamanya..? Apakah yang kau maksud dengan gadis lain..? Arlangga hanya memilikimu dan mamanya! Bukan yang lain, Aluna tenanglah. Tenangkan dirimu.."


"M - mama..?"


Aluna bergeming lagi dan lagi dengan menatap nanar sekitar. Memandangi ruangan putih dan tangan yang diinfus. Memandangi selang oksigen yang tengah berada dihidungnya dan memandangi semua alat-alat medis yang telah dikeluarkan oleh Sagara diruangannya.


"Pa.. Aluna dimana?" tanya Aluna dengan menatap sekeliling.

__ADS_1


"Rumah sakit. Kamu ga ingat apapun? Dan kamu ketemu Arlangga dimana?" cecar Andara membuat Aluna hanya menggelengkan kepalanya lemah. Menatap sayu sekitar.


"Tidak apa, jangan diingat. Tidurlah, papa jaga kamu disini."


"Aluna melihat semestanya Aluna didalam mimpi.. Dia berpakaian putih dengan seorang gadis berpakaian dan wajahnya mirip dengan Aluna.. Dia berkata Aluna tidak boleh kembali kesana, apa artinya dia sudah bukan cinta Aluna..?"


"Bukan begitu, Aluna.. Gadis itu tidak memperbolehkanmu kesana karena belum waktunya. Kamu masih harus bertahan disini sebentar, hanya sebentar lagi, Aluna. Jangan pernah berkecil hati dan jangan melakukan apapun terkecuali beristirahat, mengerti sayang?"


"Pa.. Bisakah papa bacakan dongeng untuk Aluna..?"


"Dongeng apa sayang?"


"Tentang seorang putri yang menemukan cinta sejatinya, pa."


Andara tersenyum simpul. Ia mengangguk dan mulai mengusap lembut kepala Aluna. Membiarkan Aluna menyamankan posisi lalu ia mulai mengusap pipi Aluna lembut.


"Pada suatu ketika.. Saya pernah mendengar seorang pangeran menceritakan kejadian dan keadaannya saat bertemu dengan sang putri. Seorang putri yang teramat cantik tanpa kekurangan apapun juga menerima pangerannya hingga.. Sang pangeran jatuh hati. Membuat Sang putri seolah-olah adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk dan manusia-manusia lainnya dibumi ini. Sang putri dasarnya seorang putri yang dicintai ini adalah seorang putri tanpa ibunda. Membesarkan dua putri kecil dan satu pangeran dan memiliki seorang raja yang bijaksana. Memimpin istana dengan makmur tanpa seorang ratu. Hanya ada putri mahkota yang tengah menanti hadirnya sang ratu didalam istana tertikam tanpa arah. Jalan dan tujuannya tidak pernah ia temukan hingga pada akhirnya ─"


"Datanglah seorang pangeran lalu menjanjikan hal manis kepada sang putri namun akhirnya pangeran itu.. Pergi. Meninggalkan seluruh kenangan yang tak akan pernah diulangi kembali," potong Aluna dengan lirih menatap Andara sayup.


"Aluna, kamu tau cerita ini??"


"Tau. Karena aku dan semestaku yang ada didalam cerita tersebut. Cerita yang indah namun, tidak diawali dan begitu saja langsung diakhiri."


Tak ada kiasan kata yang terungkap setelahnya. Hanya ada rasa sesal dan rasa yang membuat Andara merasa gagal lagi dan lagi.


Setelah Aluna terlelap, Andara terkejut kala Sagara memberi kabar yang mengejutkan.


"Andara! Aliya kumat gilanya!" seru Sagara dengan panik membuat Andara terperanjat dan langsung pergi ke tempat yang dikabarkan oleh Sagara.


"ALIYA, HENTIKAN INI!"

__ADS_1


To be continue!


__ADS_2