Dua Insan

Dua Insan
Obsesi gilamu, menghancurkan aku.


__ADS_3

Aluna mulai jengkel dengan Andrew yang selalu mengusiknya sepanjang hari.


"Berhenti buat gua risih!" ketusnya.


"Risih..? Lo bilang lo risih, Lun..? Oke, itu yang lo mau."


Andrew mulai mengeluarkan cutter dengan menyayat perlahan tangan Aluna dan hal itu membuat Akuna tak tahan lagi!


"GILA LO ANJING!" umpat Aluna lagi dan lagi membuat Angela sekilas menunduk dan mulai mendekati Laura lagi.


"Gua gila karna gua maunya lo, Luna..."


Konyol! Konyol sekali jikalau memang Amdrew sebegitunya ingin memiliki Aluna sudah diikat oleh kekasihnya. Bagaimana bisa dia akan menghadapi Andrew yang sudah sangat terobsesi dengan dirinya ini?


Kampus juga masih sepi! Tidak ada seorangpun yang datang dan perlahan.. Andrew mulai berbisik pada telinga Laura.


"Kampus ini udah gua suruh kosongin karna gua cuma mau berdua sama lo.."


Deg!


Aluna refleks nyaris lemas dilantai. Dia mulai mencari jalan agar dia bisa keluar dari kelas yang dikunci dan dijaga itu! Cutter yang tadi untuk menyayat lengannya, dia sudah berhasil menyingkirkan cutter tersebut sekuat tenaga dengan cara merebutnya.


"Alasan lo nolak gua apa?"


"Karna kamu gak pantas! Kamu sadar bisa?! Kamu kaya orang gila!" sarkas Aluna dengan tatapan penuh kebencian dan mulai merasa perih dengan luka bekas sayatan itu.


Sementara Andrew, dia masih mengunci pergerakan Aluna didinding dengan tatapan psycho darinya.


"Jadi milik gua atau... lo gua bunuh?"


Deg!


Bagaimana bisa? Ah, mungkin saja dia hanya asal bicara.


Semestaku💗 100 pesan dan 25 panggilan tak terjawab.


Sekilas Aluna melirik ponselnya yang menyala dan dia mulai mengotak-atik ponselnya namun..


"Ini gua ambil," Andrew mengambil ponsel tersebut.


Alunabbuntu! Kepalanya sedari tadi rasanya hampir meledak. Karna disisi lain, Aluna sudah lelah dengan tingkah gila Andrew.


Aluna mulai merebut ponsel tersebut dan menendang kursi dihadapannya dengan kasar sehingga, papan tulis dikelas tersebut roboh.


Brak!!


"Kamu udah uji kesabaranku dengan obsesi gilamu itu!"


Klak!

__ADS_1


Gila! Aluna ngamuk. Karna dia bisa mematahkan kaki kursi dengan sekali pijakannya.


"UDAH CUKUP! OBSESI GILA LO ITU CUMA NYIKSA GUA ANJING! KALAU LO BENERAN MAU NYIKSA GUA, LO GAUSAH BERKEDOK SUKA SAMA GUA PADAHAL LO CUMA TEROBSESI MAU NYIKSA GUA!" Amarah Aluna meledak.


Aluna mulai mendekati Angela dengan membawa kaki kursi itu dan melemparkan kaki kursi itu ke kaca.


PYAR!!


"Inget kata-kata gua... Lo cuma terobsesi buat nyiksa gua tanpa sadar.. Lo itu salah pilih lawan. Lo cuman cewek gila yang bisa selesaikan apa-apa dengan kekerasan dan gua juga bisa. Inget satu hal, lo bakal hancur sama obsesi gila lo itu." ucap Aluna penuh penekanan dikata-katanya. Tanpa tatapan teduh penuh cinta dan ketulusan seperti biasanya


Siapa yang tidak muak apabila dikejar? Semua orang pasti muak.


"Lo yang bakal hancur karna lo udah berani sama gua, nona Laksamana."


Aluna berdecih geli dengan ucapan Andrew yang tak tau apa-apa.


"Sayangnya, gua nyonya Sheorphonia bukan Laksamana," sela Aluna dengan menyeringai kecil dengan mengucapkan nama belakangnya.


Aluna mulai mendekati Andrew dan mulai membuat posisi Andrew terpojok.


"Gimana? Kaget ya..?"


"Dimana omongan besar tadi?"


"Mau menghancurkan tapi sayang, salah pilih lawan."


Brak!!


"Liat? Kalian minggir atau.. Nasib kalian kaya meja itu?"


......................


Hening.


Tak ada yang bisa berbicara ketika Aluna mulai menyingkirkan para penjaga itu dan merebut kembali ponselnya.


Aluna mulai berjalan namun, Andrew mulai mendekati Aluna dan..


Jleb.


Andrew menusuk perut Aluna dengan pisau kecil yang dia sembunyikan sedari tadi.


"Gua mau lo jadi milik gua."


"Gausah mimpi!"


Jleb.


"Sakit?"

__ADS_1


"Lo cuma orang gila."


Jleb.


Aluna bergeming. Darah mulai dia muntahkan namun, dia masih bisa bertarung dengan pria gila itu tatkala dia sudah mendapat 3 kali tusukan pisau diperutnya.


Prang!


Aluna menepis pisau itu dan mulai memukuli Andrew bertubi-tubi tanpa belas kasihan mengabaikan sakit dari bekas tusukan itu.


"GUA UDAH BILANG LO CUMA OBSESI GILA BUAT NYIKSA GUA!" marah Aluna mengebu-gebu dengan mendorong tubuh Andrew menggunakan sisa-sisa tenaganya yang sudah melemah.


Andrew tak berani mendekati Aluna yang tengah dalam mode setan seolah itu bukan dirinya. Bahkan, marga yang disebutkan saja sangat bertolak belakang dengan marga aslinya.


"Aluna, kamu kenapa?!" tanya Arlangga dengan segera menghampiri dan membawa Aluna keluar dari tempat tersebut.


"Sayang, dimana yang sakit? Tunggu sebentar kita ke rumah sakit!"


"Kak.. Cape.."


"Sttt diam. Saya bawa kamu segera. Saya ga mau terima kalimat apapun! Kamu tidak perlu ke tempat itu lagi. Saya tidak mau kamu terus menerus seperti ini, Aluna.."


"Kak..."


"Kita sampai."


Arlangga dengan segera menggendong Aluna dan melarikan Aluna ke ruang ICCU dan Aluna juga segera ditangani. Wajah pucat Arlangga tidak bisa berbohong bahwa ia tengah sakit juga.


"Arlangga, kamu tidak apa-apa..?"


"Tidak.. Tolong rawat gadis saya sebaik mungkin, paman."


Sagara mengangguk. Ia paham apa yang dirasakan oleh keponakannya. Jadi, ia harus siaga satu untuk keduanya.


"Kamu tidak ingin dirawat saja..?"


"Tidak. Saya baik-baik saja."


"Baiklah, saya tangani dulu gadismu," ucap Sagara dengan mulai memasuki ruang ICCU dan memberikan pertolongan pertama untuk Aluna. Ia tak tahu menahu namun, ia hanya menangani luka Aluna dan setelahnya, Aluna diperbolehkan pulang.


"Aluna, kamu ke rumah saya saja ya..?"


"Iya, kak.. Aku mau ketemu Mawar, boleh ya..?"


"Iya, boleh."


Mereka berdua langsung pergi dari rumah sakit setelah menyelesaikan administrasi. Aluna juga berhenti bekerja part time karena Arlangga melarangnya.


Sesampainya, Aluna langsung diperintahkan untuk memasuki rumah dan Arlangga juga menemui adiknya, "Siapkan Aluna. Saya ingin mengajaknya ke suatu tempat."

__ADS_1


"Kemana..?"


To be continue!


__ADS_2