Dua Insan

Dua Insan
Menetaplah sebentar lagi, Semestaku.


__ADS_3

Tubuh Arlangga ditahan oleh Andara. Bersamaan dengan Aluna yang kembali, ia langsung mendekati Arlangga dan memberi isyarat agar Arlangga dibawa ke rumah sakit.


Andara menyetujuinya. Ia langsung membawa Arlangga ke rumah sakit dengan Aluna yang basah kuyup juga ikut. Ia tak sanggup apabila harus hadir dan melihat makam tanpa jasad lagi.


Arlangga dilarikan ke ruang ICCU dan Aluna hanya menatap kosong ruangan itu. Ia tak bisa mengatakan sepatah kata terkecuali perasaannya yang semakin hancur karena ia harus menerima fakta bahwa nyatanya semua yang berjanji akan mengingkari.


"Aluna.."


"Pa... Semua akan baik-baik saja, kan..? Kak Arlangga ga akan kenapa-kenapa kan..?"


"Iya sayang, semua akan baik-baik saja.. Semua akan membaik."


Tak lama, Sagara keluar dari ruangan tersebut dengan raut wajah yang sayu. Dengan mata memerah menahan tangis ia mulai berbicara lirih, "Andara, besar-kecil kemungkinan.. Tidak akan sampai setahun, karena sudah rusak parah dan maaf.. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin."


"DOKTER GAUSAH BERCANDA!" sentak Aluna dengan memukul Sagara sehingga Sagara tersungkur dan membiarkan Aluna memasuki ruang ICCU tersebut.


Tangisan Aluna pecah. Ia tak sanggup menahan isak tangisnya lagi. Aluna hanya bisa terduduk dan menangis sejadi-jadinya saat melihat mata Arlangga yang terpejam, suara mesin EKG dan aroma khas ruangan itu membuat Aluna semakin takut.


"Kak, bangun.. Kakak udah janji ga akan pergi duluan.."


"Kak, lihat! Tanganku bersih, aku.. Aku ga akan nangis. Kak.. Bangun!! Jangan tidur kaya gini, kak.."


Suara tangisan yang menyayat hati membuat Aluna seketika teringat akan sebuah janji. Janji untuk menetap bersama dan janji tidak meninggalkan satu sama lain. Menjaga dan selamanya akan kekal dalam bahagia tanpa isak tangis air mata kesedihan yang melanda.


"Jangan dulu lelah, kak.. Yakin semua akan indah. Jangan menyerah sekarang! Yakin bahwa semua takdir akan indah pada waktunya, kak! Aku mohon bangun..."


Tak lama, tangan Arlangga bergerak dan matanya terbuka. Arlangga mulai meraih tangan Aluna dan tersenyum tipis. Dengan penuh keyakinan ia mulai menarik Aluna lebih dekat.


"Aluna.. bawa saya keluar," pinta Arlangga membuat Aluna menggeleng. Karena ia tau keadaan Arlangga yang parah namun, mengapa justru Arlangga meminta keluar..?


"Aluna, turuti keinginannya. Kalian boleh kemana saja, kalian boleh kemana saja malam ini.. Untuk kalian."


Aluna mengangguk. Ia mulai mendudukan Arlangga dikursi roda dan mendorong kursi roda tersebut memgelilingi taman dan tujuan terakhirnya adalah pantai. Pantai dengan suasana yang khas.

__ADS_1


Arlangga meminta berhenti. Ia mengecup sekilas bibir Aluna dan mulai menuntun Aluna untuk duduk disebuah bebatuan yang tak jauh letaknya.


"Sayang, duduk disini," titah Arlangga diangguki Aluna.


Aluna tersenyum manis. Ia menatap wajah Arlangga lekat dan membiarkan Arlangga bersandar pada bahu miliknya.


"Aluna.. Saya pernah bilang kalau saya ga akan membiarkan ini akhir, kan..? Kalau misal ini akhir dari segalanya.. Baca surat yang saya tinggalkan pada ruangan kita. Baca dan berjanjilah kamu tidak akan menangis. Sembari menikmati angin ini.. Bisakah saya meminta sesuatu..?"


"Apapun itu, katakan saja kepadaku."


"Saya hanya ingib kamu.. Jangan menangis. Jangan menangis dan jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi. Jangan keras kepada dirimu dan sayangi dirimu sendiri, Aluna.."


"Iya kak..?"


"Saya mencintaimu. Saya tidak ingin semua ini berakhir, Aluna.."


......................


Aluna tersenyum. Ia mulai mengusap pipi Arlangga dan menatap seksama paras suaminya yang tampan itu. Suaranya yang menenangkan dan saat ini.. Mereka dapat merasakan apa yang dimaksud dengan ketenangan.


"Aluna.."


"Iya kak..?"


"Apakah kakak tau..? Setelah bertemu dengan kakak.. Aku mengerti apa yang dimaksud dengan cinta. Aku paham makna kehidupan. Aku bisa mengerti apa yang dirasakan remaja pada umumnya. Apakah kisah kita akan selesai..? Tidak. Kita baru saja memulainya, kak. Jangan langsung menyelesaikan kisah ini. Jangan ada akhir, semestaku."


"Saya tetap berada disini, ratu kecilku. Terimakaaih telah bersama dengan saya. Mencintai saya. Menjadi ratu kecil sekaligus hidup saya. Tanpa kamu.. Mungkin saya sudah menyerah sedari lama namun, saat bertemu dengamu.. Saya akhirnya tau rasanya jatuh hati kepada gadis yang sempurna sepertimu."


"Aku tidak sempurna. Aku istrimu, aku ratu kecilmu, aku hidupmu tapi.. Apa pernah kamu berpikir kalau tanpa kamu.. Mungkin aku sudah berakhir diatas gedung itu. Tanpa kakak hadir, mungkin aku hanyalah seorang ****** yang dihina dan tak dianggap oleh siapapun. Tanpa kakak.. Aku tidak ada tempat pulang."


Heningnya malam mendukung suasana keduanya. Arlangga mulai tersenyum hingga lesung pipinya timbul dan senyuman itu sangat manis.


"Kakak sangat manis jika tersenyum seperti ini.."

__ADS_1


"Kamu akan semakin cantik jika tersenyum. Jangan menghilangkan senyuman itu."


"Kak, kenapa kakak ingin ke pantai..?"


Arlangga terhenyak. Ia mulai memasangkan sebuah kalung dan jepit rambut yang berlambang bunga tulip. Aluna tersenyum melihat hadiah yang diberikan itu. Aluna tak pernah membayangkan bahwa ternyata Arlangga sangat romantis.


"Kak, kenapa kalung dan jepit ini memiliki bentuk yang bertolak belakang?"


"Kalung itu melambangkan namamu. Aluna.. Bulan yang bersinar dan saya harap kamu akan tetap menjadi bulan. Meski redup namun, tidak akan kehilangan cahayanya. Bulan sabit memiliki simbol akan kekuatan, kesucian dan kehidupan. Sedangkan bunga tulip.. Saya harap kamu menjadi pribadi yang lebih kuat. Saya harap kamu menjadi gadis yang pemaaf dan bunga tulip memiliki arti kesucian. Kamu tidak kotor tapi, kamu adalah gadis yang bersih. Dari hati kamu.. Jangan menyimpan dendam ya sayang.."


"Terimakasih kak.. Tapi kenapa kakak memberikan ini malam ini?"


"Karena hanya saya yang boleh memakaian jepit rambut ini. Dan hanya saya yang boleh melepas kalung itu dari lehermu. Hanya saya yang boleh menyentuhmu."


"Aku milik kakak.. Aku janji tidak akan pernah melepas ini dan aku akan selalu bersama kakak, kakak juga harus berjanji ya..? Janji akan selalu bersama aku!"


"Saya janji, ratu kecil."


Arlangga lagi dan lagi tersenyum. Ia mengusap-usap kecil kepala Aluna dan kemudian ia bersandar pada Aluna. Menahan rasa sesak yang membuat Aluna peka namun, Aluna hanya berpura-pura tidak tau dan menahan isakannya.


"Aluna.."


"Iya kak.. Ada apa?"


"Saya ngantuk.."


Kata-kata yang membuat Aluna menangis tanpa suara. Menahan isakan dan menahan agar air matanya tidak lolos begitu saja.


"Kakak ngantuk..? Kakak cape ya..? Gapapa.. Kakak tidur aja, aku ga akan ganggu kakak tidur lagi, kakak tidur ya sayang..? Tidur aja."


Arlangga mulai menyandarkan kepalanya pada bahu Aluna dan memejamkan matanya sehingga, itu adalah hembusan nafas terakhir dan Aluna menyadari saat tangan Arlangga melemas, Aluna tergopoh-gopoh mencari ponsel namun, nahas. Tak menemukan ponsel itu.


"Kak.. Kakak cape banget ya..? Kenapa ga kasih tau aku aja kalau kakak udah cape banget? Aku ga akan maksa kakak bertahan lagi kalau kakak udah gak sanggup.. Kak, aku harap kakak bahagia ya setelah ini..? Aku harap kakak ga sakit dan bahagia bersama mama kakak disana.. Bersama cinta kakak dan menjagaku dari atas. Selamat beristirahat, semestaku.."

__ADS_1


To be continue!


__ADS_2