
"Aliya.. Sudah 1 bulan, lepaskan kami.."
"Tidak akan! Jadilah milikku maka aku akan melepaskanmu!"
"Sudah saya katakan bukan..? Cinta saya hanya kepada Anindia. Bukan kepada kamu, Aliya. Saya akui saya salah tapi ─"
"CUKUP SIALAN! KALIAN MEMBUAL TERUS-TERUSAN! DAN KAMU, KAMU JUGA DULU MENYEKAP KAKAK KU APA MAU KAMU SIH?!"
"Membunuh kalian berdua."
"Papa! Sebenarnya apa yang terjadi tahun-tahun lalu?!"
......FLASHBACK ON! ......
Tahun-tahun silam...
Terdapat sebuah 5 orang diantaranya adalah Sagara, Aliya, Pratmana, Andara dan Anindia. Dimana diantara 2 perempuan tersebut, Anindia yang selalu mendapat perhatian Andara karena para remaja itu tengah dimabuk oleh cinta.
"Eh, hari minggu nanti jalan-jalan yuk? Kita bawa calon masing-masing, setuju?" ucap Anindia dengan senyuman yang manis yang membuat Andara terkesima.
"Kamu sudah memiliki calon pasangan, Anin?" tanya Andara membuat Sagara dan yang lain seketika menoleh ke arah Andara yang bertanya sedemikian rupa. "Aku belum memilikinya, hanya saja aku tengah menyukai seseorang," cicit Anin membuat Andara seketika muram.
"Andara, kamu baik-baik saja?" tanya Pratmana membuat Andara menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, besok minggu kita berkumpul dan sepakat dalam mengutarakan perasaan bukan? Baiklah, sekarang kita pulang saja dulu," usul Pratmana diangguki oleh semua. Karena memang, Pratmana yang berperan penting dalam persahabatan itu.
Andara gundah. Ia takut karena Anin telah berkata bahwa ada yang disukai olehnya. Apabila ia tak mengutarakan.. Apakah ia harus menerima takdir bahwa perasaannya itu kandas..?
"Kak, gapapa?" tanya Sagara cepat diangguki oleh Andara namun, ditengah-tengah perjalanan itu Andara terhenti karena Aliya menahannya.
"Aliya, apa yang kamu lakukan?"
"Aku menyukaimu! Jadilah miliku!" seru Aliya membuat Andara mematung. Ia tidak tau harus berkata apa karena Andara tak ada perasaan sama sekali kepada Aliya.
"Maaf... Saya menyukai orang lain, Aliya."
DEG...
Hati Aliya rasanya bagai ditusuk ribuan jarum. Badannya bergetar hebat. Bibirnya bergetar dan air matanya mulai berjatuhan. Dasarnya, Aliya itu memiliki gangguan kejiwaan yang membuat orang lain kerap dalam masalah. Jadi, mereka harus menjaga perasaan Aliya agar tingkah gilanya itu tidak kumat.
"Aku tidak apa! Asal kau jadi milikku, Andara.."
"Maaf, Aliya. Saya tidak bisa mempermainkan perasaan perempuan. Karena saya takut itu akan menjadi imbas untuk putri saya kelak."
__ADS_1
"Tapi aku sangat menyukaimu! Aku mencintaimu.. Terima cintaku, kumohon."
"Maaf, Aliya."
Singkat, padat, jelas namun, menghancurkan. Aliya pergi dari hadapan Andara dengan perasaan kecewa. Tersirat jelas sekali bahwasan ia menangis lalu berlari ke rumah dan mendobrak pintu rumah tersebut. Memberantaki seisi kamar dan membuat kedua orang tuanya cemas.
"ANDARA SIALAN!!!!" jeritnya dengan menghempas semua barang yang ada dihadapannya.
"Aliya, Aliya, nduk! Kamu kenapa?! Buka pintunya dulu!!"
"PERGI!! AKU GA BUTUH DITEMENIN! AKU GA BUTUH! SEMUA SAMA AJA! ANDARA SIALAN! SEMUA COWOK BAJINGAN ANJING!"
"ALIYA, BUKA PINTUNYA NAK...!!!"
TOK..!! TOK..!! TOK..!!
Suara pintu diketuk dengan kuat itu membuat Aliya melemparkan sebuah vas bunga yang jelas itu harganya sangat mahal ke arah ibunya sehingga kening ibunya berdarah.
"UDAH AKU BILANG, PERGI..!!!!!"
Perasaan Aliya yang hancur saat itu tidak seberapa dibanding dengan rasa sakit orang tuanya yang nyaris dihabisi anak semata wayangnya sendiri.
"*Aliya, apa-apaan kamu seperti ini?! Apakah ayah pernah mengajarkan kamu berani dengan ibumu?!"
"Sakit jiwa kamu, Aliya*!"
......................
Sunyinya malam membuat hati Aliya tergerak untuk merusak jendela kayu dikamarnya dan pergi menikam tubuh Anindia dengan pisau yang ia genggam.
*Namun, untung saja dengan segera, ayahnya Aliya menyeret dan mengikat tangan Aliya. Memberikan obat penenang agar anaknya sadar setelahnya, membiarkan anaknya terlelap malam hari itu.
"Sebenarnya apa msalahmu sih? Ayah binggung. Kamu kaya gini karena apa? Ga ada asap kalau ga ada api, Aliya.."
"Sudahlah. Tidur dan tenangkan dirimu, ayah akan mengikatmu sampai besok. Agar jelas dan agar ayah tau akar permasalahan kamu*."
*Hanya itu yang mampu diungkap oleh ayahnya sebelum meninggalkan Aliya dan sebelum tibanya hari yang memang sangat menyebabkan kesalahp*ahaman. Esok harinya, Aliya membersihkan tubuhnya dan pergi ke tempat yang telah direncakan walau penampilannya berantakan.
"*Aliya, kamu kenapa?" tanya Pratmana dengan menangkup pipi Aliya dan menatap Aliya cemas.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit."
"Sakit..? Ah baiklah, Aliya.. Saya izin menemui orang tuamu, apakah boleh..?"
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Melamarmu."
Aliya bergeming. Ia binggung harus bagaimana karena ia sama sekali tak mempunyai perasaan kepada Pratmana. Sama sekali tidak ada.
"Soal perasaan atau cinta.. Kita bisa bina bersama. Saya gapapa asal kamu bisa terima saja, itu lebih dari cukup, Aliya*."
"*Tapi ─"
Perkataan Aliya terhenti saat Pratmana* menariknya dalam dekapan, "Saya tau kamu mencintai Andara namun, Andara akan menikah dengan Anindia. Pelan-pelan cintai saya ya..? Saya bahagiakan kamu," lirih Pratmana membuat Aliya hanya bisa mematung. Karena ia tidak sadar bahwa ia dicintai selama ini.
"Kak.. Kamu akan mencintaiku..?"
"Iya. Saya akan mencintaimu. Menyukaimu. Menerimamu dan saya juga akan.. Menjaga anak dalam kandunganmu ini, Aliya. "
DEG..
"*B - bagaimana bisa kakak ─"
"Karena saya yang sudah memberikan hukuman yang setimpal kepada pelakunya. Saya tau.. Saya mengerti dan saya harap kamu mampu mencintai saya, saya akan mencintai kamu dan menerima anak dalam kandunganmu ini*."
"*Kak.."
"Pernikahan Andara dan Anindia akan tergelar megah. Apa kamu akan datang atau tidak? Saya hanya akan menurutimu, Aliya."
"Apakah boleh apabila tidak usah pergi? Aku tidak rela mereka menikah. Aku tidak rela mereka.."
"Aliya, ingat ini.. Jangan pernah membenci atau menghancurkan kebahagiaan orang lain hanya karena kamu tertolak. Semua sudah ditakar dengan porsi masing-masing, aku saya harap kamu paham dengan apa yang saya sampaikan ini ya..? Saya mau kamu bahagia. Saya janji ga akan pernah ninggalin kamu dengan cara bodoh saya. Saya harap kamu bahagia, Aliya.."
"Tapi aku harap.. Andara akan menderita sesuai rencanaku, Pratmana."
Sejak hari itu, Aliya sering berkunjung ke rumah Andara hanya dengan alasan menemui Anindia lalu memberikan sebuah minuman dan ya.. Anindia meninggal seusai melahirkan Mawar dan kabar itu membuat Aliya bahagia namun, cintanya masih saja tertolak oleh Andara karena rasa bersalahnya*.
...FLASHBACK OFF! ...
Suasana yang hening hanya terdengar suara gemerisik dedaunan dari arah luar, membuat Aluna terhenyak dan memutuskan untuk pergi ke taman belakang rumah sakit seraya menenangkan pikirannya yang gundah.
Malam yang cerah karena terdapat bulan dan bintang yang indah diangkasa lepas. Dan itu membuat Aluna tersenyum lekat memandangi sekitar dengan ranum yang sayu, "Bulan.. Kamu indah, tapi sayang ya..? Keindahanmu hanya bisa ku lihat pada malam hari. Aku sedang gundah. Papa dan juga Mawar pergi entah kemana.. Aku takut mereka terluka.. Apakah boleh aku meminta tolong..? Tolong tunjukkan jalan terang dari semua tanda tanyaku ini..," ucap Aluna dengan menatap ke atas angkasa lepas.
"Aluna.. Kamu mau tau sesuatu..?"
To be continue!
__ADS_1