Dua Insan

Dua Insan
Indah tak sempurna


__ADS_3

Reno hari ini pulang namun.. Yang ia dengarkan hanyalah suara piring pecah, gelas yang dilempar bahkan, barang-barang yang tadinya tersusun rapi menjadi berantakan.


Reno hanya mampu mematung ditempat. Menyaksikan semua itu dengan mata terbuka, tubuh membeku dan menerima konsekuensinya. Memang. Salah memang apabila ia meminta keluarganya kembali seperti sediakala. Tak ada gunanya memberi peringatan karena cinta keduanya telah hilang.


"Ma, pa, diamlah selama Reno berada dirumah, apakah bisa?"


"Bukan urusanmu, bocah!"


"GUA UDAH MINTA BAIK-BAIK YA SETAN!" umat Reno kepada papanya dengan penuh emosi.


"ANAK BAJINGAN INI DIDIKANMU BUKAN?! AMBIL SAJA! SAYA GA BUTUH!"


"GUA JUGA GA BUTUH PUNYA BOKAP KAYA ANJING! GUA JUGA GA BUTUH PUNYA KELUARGA KAYA SETAN! GUA JUGA GA BUTUH DAN GUA GA PERLU PUNYA BOKAP YANG SUKA MAIN CEWEK DILUAR! LO TAU..? GUA MALU JADI ANAK LO, ANJING! KALAU EMANG MAU PISAH, GAUSAH BANYAK DRAMA, GUA MUAK!" jerit Reno dengan menghempas meja yang berada didepannya hingga membuat sang mama menangis histeris ketakutan melihat Reno yang biasanya lemah lembut menjadi seperti itu.


Heningnya malam membuat Reno hanya mampu mengumpat dalam hati. Memukuli tembok hingga tangannya lebam membiru. Mendengar tangisan mamanya setiap malam, itu cukup menyiksanya. Hancur.


"Ma, jangan menangisi dia!"


"Tapi mama masih cinta papa kamu, Reno.."


"CINTA?! APAKAH HIDUP CUKUP UNTUK MEMAKAN CINTA, MA?! APAKAH MAMA JUGA AKAN PERGI DAN MENGEJAR BAJINGAN ITU?!"


"TOLONG NGERTIIN MAMA, REN!"

__ADS_1


Hening. Reno hanya mampu melepaskan koper yang dipegang mamanya. Mengangguk dan membiarkan mamanya pergi menyusul papanya dengan menangis. Tanpa mempedulikannya dan tanpa peduli akan dirinya.


BRAK!!!


"ORANG TUA SIALAN! KALIAN EGOIS DAN GAK PERNAH NGERTIIN GUA SAMA SEKALI! GUA CAPEK ANJING HARUS NGERTIIN KALIAN BERDUA!" umpat Reno habis-habisan dengan mengamuk, menendang meja hingga meja itu terbelah dan menangis sejadi-jadinya dilantai yang dingin.


"Arlangga..!!! Gua butuh lo, Ar... Gua kangen sama lo, gua butuh lo.. Ar, gua ga bisa gini terus.. Kenapa ortu gua egois?! Perhatiannya ga pernah ada! Mereka niat punya anak ga sih?! Gua capek!"


Putus asa. Kehidupan Reno berantakan. Ia hanya mampu menatap kepergian orang tuanya yang tanpa menoleh, melangkah pergi tanpa menghiraukannya yang berharap kepergian dirinya.


Pikiran Reno terberai dalam lamunan. Hatinya retak. Pendiriannya runtuh malam itu adalah malam bencana untuknya. Ia hanya bisa menangis dalam diam. Makanan yang tadinya tersaji saja sudah tak ada. Bulan yang seharusnya memancarkan cahaya juga tiada. Lampu rumah yang telah padam membuat Reno hanya termenung didalam ruangan tersebut. Rumah yang berantakan dan kedua orang tuanya yang pergi juga membuat semua hidup Reno berubah.


Kelam dalam diam. Yang tadinya Arlangga selalu menenangkannya, sekarang ia harus menghadapi semua sendirian. Menatap sekitar dengan nanar. Pandangannya terasa buram. Reno hanya mengambil sebuah alkohol dalam lemari dan menghabiskan 1 botol. Mengabaikan sekitar dan terlelap dimeja makan. Ia tak ingin memikirkan hal lain. Tanpa sadar, tangan Reno juga bersimbah darah. Dulu dia heran mengapa Aluna melakukan itu dan sekarang, ia mengerti mengapa Aluna melakukan hal itu.


......................


Pagi ini Reno hanya terpikir kepada Aluna. Ia memasuki mobil dan melajukan dalam kecepatan max. Sesampainya, Reno langsung berlari ke dalam sehingga secara tak sengaja ia menabrak Sagara dan membuat Sagara terkejut setengah mati.


"Reno..?"


"Aluna mana? Aluna mana?!" jerit Reno membuat Sagara kebinggungan.


"Hey, tenang! Ada apa? Ada apa, Ren? Ada apa?!"

__ADS_1


"Mama papa... Mama papa.. Mereka pergi, om.. Ninggalin Reno sendirian. Reno takut, Reno gamau.. Reno butuh Arlangga, Reno butuh Aluna.. Reno butuh mereka buat temenin Reno.. Reno butuh ─"


Grep!!


Sagara mendekap Reno erat. Membiarkan tangisan Reno pecah. Menopang raga yang lemah itu, mengobati tangan Reno yang terluka dan membiarkan Reno meluahkan segala rasa sakit yang membuncah dalam hatinya.


"Reno.. Kamu ga rela orang tua kamu pergi..? Tapi itu pilihan mereka sayang.. Kalau emang mereka mau kembali, mereka bakal balik. Om tau ini berat dan bukan pilihan tapi.. Kalau emang mereka gamau balik, masih ada om sama Aluna. Masih ada waktu yang panjang buat kamu bertahan disini. Kalau kamu butuh sesuatu, om ada. Kalau emang kamu mau dapatin Aluna, om bantuin. Asalkan kamu bisa kendaliin diri kamu sendiri. Kamu bisa berhenti cari Andara sama Mawar kalau emang kami capek."


"Gagal om.. Reno gagal! Reno gagal jadi anak karena biarin mereka pisah dan Reno udah buat mama nangis.. Reno udah buat mama pergi. Reno udah buat mereka pisah! Reno jujur gamau tapi kenapa..? Kenapa mereka selalu aja buat Reno marah? Mereka bawa-bawa masalalu dan bajingan itu udah nyakitin mama! Kenapa mama gamau pisah dari dia?!"


"Reno.. Kamu buktiin kalau kamu bisa. Jangan buat diri kamu lemah kaya gini, gapapa. Nangis sepuasnya dan setelah itu.. Kamu bisa temui Aluna. Temui dia dan kamu boleh cerita sama dia," titah Sagara diangguki oleh Reno yang pergi setelahnya.


Reno berjalan ke arah ruangan Aluna lalu memasuki ruangan tersebut dan duduk disamping Aluna. Mengusap kepala Aluna lembut dan tertawa kecil.


"Gua ga bawain lo bunga, maaf ya..? Gua kesini buru-buru banget. Lo kapan mau bangun? Gua kangen."


"Lun, orang tua gua pisah. Gua gatau mau ngadu ke siapa lagi selain lo. Gua ga punya siapa-siapa lagi disini, mama pergi, papa pergi. Mereka cuma peduli sama ego masing-masing. Mereka ga peduli sama gua disini, Lun.. Maaf ya? Gua ngerti kenapa lo ngebarcode, karena sekarang gua ngerasain itu..."


"Dan sekarang gua cuma bisa berharap mereka balik. Mereka udah ga ada cinta tapi mama gua masih cinta sama papa, dan ninggalin gua demi dia padahal.. Gua butuh dia. Keluarga indah tapi gak sempurna karena gua punya papa yang jahat. Dia bajingan yang nyakitin mama gua.. Lun, lo dengerin gua kan..?" tanya Reno dengan mulai meremas tangan Aluna kuat.


"Bener ya kata mama..? Sekali laki-laki ngerasa cocok bakal kejar cewek itu terus..? Gua tau lo tumbuh dari kasarnya dan dunia yang kejam. Tapi.. Menurut gua lo itu cemerlang karena mampu buat orang lain tenang karena wajah dan senyuman lo. Bayangin kalau misal lo sama Arlangga punya anak pasti lucu kan tapi.."


"Tapi gua gimana..? Gua pasti bakal bahagia walau nyatanya hati gua berantakan, Lun.. Bangun ya..? Kita cari Mawar sama om Andara bareng-bareng.."

__ADS_1


To be continue!


__ADS_2