Dua Insan

Dua Insan
Aku akan mengangapmu, Ibundaku.


__ADS_3

Jantung Aluna seolah tertusuk ribuan jarum. Ia tau bahwa Mahendra hanya marah karena ia ditindas habis-habisan hari itu dan ia merasa bersalah karena takut kepadanya.


Aluna membalas dekapan itu dengan erat. Dekapan yang hangat dan membuat Aluna meluruh dan merasa bersyukur memiliki adik seperti Mahendra.


"Maaf ya.. Kakak belum bisa jadi yang terbaik buat kamu," lirih Aluna dengan tertawa hambar.


"Sebutan kakak ga pantas lagi," sergah Mahendra dengan mulai memandangi paras ayu Aluna dan mulai mengusap lembut pipi Aluna, "Sebutan kakak tidak pantas untukmu karena sebutan yang lebih baik untukmu adalah.. Bunda.. Bunda jangan sakit ya..?"


Sungguh! Air mata Aluna lolos tanpa aba-aba dari pelupuknya. Ia tak menyangka akan mendapat panggilan itu dari adiknya.


"Mahendra...?"


"Iya, bunda. Apakah ada seorang kakak yang rela pertaruhin nyawa buat adiknya? Apa ada kakak yang rela dicaci maki saat adiknya berbuat kesalahan? Apakah ada seorang kakak didunia ini yang mampu hidup tanpa naungan kedua orang tua dan merawat 3 adiknya dengan baik sampai 2 adiknya dibawa oleh sang ayah..? Bunda.. Panggilan yang pantas buat kamu. Bunda Aluna," terang Mahendra dengan mengurai pelukan dan menuntun Aluna kembali ke atas bednya.


"Bunda, aku cari kak Arlangga dulu," ucap Mahendra diangguki oleh Aluna.


Tak lama, Arlangga datang dengan membawa sebuah bucket bunga mawar putih dan tulip. Bunga yang sangat disukai oleh Aluna. Arlangga mulai mendekati Aluna dan menatap lekat Aluna.


"Aluna.. Datang ke taman biasa saya tunggu ditelaga malam ini, saya ingin mengungkap sesuatu."


Aluna menganggukkan kepalanya. Sedangkan Mahendra, ia datang dengan membawa makanan dan membawa surat keterangan dokter yang ia genggam erat.


"Bunda, ini makanannya," ucap Mahendra membuat Arlangga melongo.


"Hah?"


"Mahen yang ingin memanggilku bunda," terang Aluna dengan mengulas senyum manis pada bibirnya.


"Ah begitu.. Yasudah, kamu sudah merasa lebih baik, kan..?"


"Iya kak, besok atau nanti, Aluna sudah boleh pulang."


Arlangga mengiyakan. Lalu, tersenyum saat melihat infus Aluna sudah dilepas. Arlangga mengajak Aluna keluar dengan membawa bucket bunga tersebut dan meletakkan Aluna di sebuah taman yang dekat dengan telaga.


Arlangga mulai bersimpuh dan menyerahkan bucket bunga berserta sebuah cincin.


"Aluna.. Ikat saya ditulang belikatmu, saya ingin dengar ceritamu juga tentang bagaimana engkau menemukan sebuah rasi bintang didalam matamu agar saya tau kemana saya harus pulang apabila saya kehilangan seseorang. Jadi milik saya ya..? Izinkan saya merebahkan tubuh dan mendengar suara lembutmu.. Saya tidak ingin membuatmu menangis, saya akan menceritakan kepada alam semesta bahwa saya menemukan gadis yang sangat sempurna dalam kehidupan saya.. Jadi.. Kamu bersedia bersama saya, Aluna...?"


"Kak.. Apa kamu tidak akan menyesal memiliki gadis seperti aku..? Apa kakak tidak akan menyesal karena mengenal gadis yang hancur sepertiku..? Aku hanya tidak ingin kakak menyesal suatu saat.."

__ADS_1


"Tidak. Saya akan menjagamu, saya akan bersama denganmu, menua bersamamu dan tentunya.. Menikahimu," sahut Arlangga dengan menyematkan sebuah cincin pada jari manis Aluna.


Aluna terperangah. Ia tak percaya bahwa ternyata Arlangga sudah lama memendam perasaan itu hingga, akhirnya mereka disatukan.


"Aku menerima lamaranmu, kak.. Aku menerimamu!" seru Aluna dengan langsung berhambur dan memeluk erat tubuh Arlangga.


Arlangga dengan sigap menangkap dan langsung memutar tubuh Aluna yang tengah merangkulnya. Ia sangat bahagia karena ia memiliki gadis yang sempurna seperti Aluna. Bahkan, gadis itu tak akan menunjukkan isak tangisnya jika tidak benar-benar sakit.


......................


Malam harinya, Aluna dan Mahendra tengah makan malam bersama tentunya dengan Mahendra yang bahagia karena melihat Aluna kembali ceria..


Hilang dari seluruh memori yang tak akan mungkin dapat membohongi hati, memang. Mahendra sangat ingin melihat sosok Ibunda yang melahirkannya namun, ia bersyukur karena memiliki Aluna yang telah ia anggap sebagai Ibundanya.


"Bunda, bunda gamau pindah sekolah saja..?"


"Tidak.. Karena disana ada banyak kenangan," sahut Aluna tersenyum manis dengan terkekeh pelan saat melihat wajah Majendra blepotan.


"Kalau makan, pelan-pelan Mahen," tegur Aluna dengan lembut.


Setelahnya, Mahendra dan Aluna memasuki kamar masing-masing lalu terlelap. Hingga saat esok hari, Aluna sudah bersiap dengan seragam baru dan segera berangkat sekolah.


Aluna menempuh perjalanan dan memasuki sekolah dengan perasaan yang bercampur aduk. Dan untung saja, Alice datang namun, ia tak menyapa Aluna sama sekali.


"Alice, kamu sudah lama sampai?"


"Bukan urusan lo."


"Kamu kenapa?"


"Gausah sok munafik, Aluna! Kita udah sahabatan selama 3 tahun dan lo nyebarin berita buruk tentang gua, maksud lo apaan?! Gua paling benci sama orang munafik!" cela Alice tanpa penjelasan sama sekali.


"Loh?? Aku diam, aku baru masuk sekolah tapi ─"


"Udahlah, ngaku aja. Lo itu anak orang ga bener, anak haram. Mending Lice.. Lo gabung kita deh."


"Iya. Gua gabung kalian."


"ALICE! MAKSUD KAMU APA?! AKU GA NYEBARIN APA-APA..!"

__ADS_1


"Berisik penyakitan! Mending lo mati."


DEG..!!


"*Benar... Ayo bunuh dirimu didepan mereka."


"Ayo, cepat potong urat nadi kamu."


"Aluna.. Mereka benar, mereka benar Aluna*.."


"BERISIK....!!!!!!!" jerit Aluna dengan mulai mengusak kepalanya dan menutup telinganya.


"Dasar gila," cela Alice lagi dengan santai.


Aluna tak habis pikir. Tak habis pikir dengan semua tingkah anak SMA yang hampir sebagian besar, perempuan membencinya. Bahkan, Andrew juga terus menghasutnya.


"Gimana rasanya jadi cewek penggoda..? Murahan," imbuh Andrew tiba-tiba membuat Aluna seketika mematung. Tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin mulai bercucuran.


"Kamu tau..? Dari jerat tikamanmu, jiwa ini lumpuh. Sakit kronis akibat ulahmu, raga ini seolah tercerai berai. Mengapa..? Ada apa..? Aku yang terluka.. Kenapa mereka yang merawatmu dengan penuh cinta? Aku yang celaka mengapa mereka yang membicarakan seolah aku yang paling berdosa..? Jangan panggil namaku karena nama terlalu akrab untuk kamu yang menjadi luka terhebat."


Singkat, padat, menyakitkan. Perlakuan Alice yang menghianati juga sulit dimaafkan. Apalagi Aluna yang tak tahu menahu dicela sesuka hatinya.


Aluna memasuki kelas dan duduk dipojok dengan menggunakan headphone. Ketenangan tanpa usikan itu hanya khayal saat jam istirahat, Aluna diseret ke lapangan dan dipaksa memakan muntahan dari orang.


"Makan."


"Enggak!"


Brugh!


"GUA BILANG MAKAN BANGSAT!" umpat Alice dengan mendorong Aluna sehingga Aluna terpaksa memakan itu semua dengan menahan mual.


Setelahnya, Aluna dipaksa meneguk air mentah yang jelas mereka ambil dari wastafel.


Tak selesai disana, Aluna diseret ke tengah kelas dan kepalanya dibenturkan ke meja. Aluna dilempari dengan tepung dan disiram dengan air.


"Aku juga manusia, kenapa kalian gini..?"


To be continue!

__ADS_1


__ADS_2