Dua Insan

Dua Insan
Jangan menangis, Rembulanku.


__ADS_3

Sejak hari dimana Arlangga memulai lembaran baru, ia selalu datang dengan wajah datar tanpa senyuman. Kasar. Mudah marah dan kerap menyela. Bahkan, Arlangga hanya akan berbicara jika benar-benar perlu.


Hari ini Arlangga tengah berjalan dibawah hujan yang mengguyur deras. Menikmati setiap tetesan air hujan, berbeda halnya dengan Aluna yang masih menunggu hujan itu reda. "Kenapa semua orang yang ku temui selalu saja tidak beruntung..?" lirih Aluna dengan menatap langit mendung.


Tak lama setelahnya, Aluna mulai keluar dari sekolah dalam keadaan yang basah kuyup. Walau hujan reda, Aluna disiram dengan seember air oleh Bianca dan teman-temannya. Aluna tak menghiraukan itu, ia mulai berjalan pulang ke rumah karena mobilnya tengah diperbaiki.


Aluna berjalan dengan tenang, mengikuti Arlangga diam-diam. Mendengar semua keluhan Arlangga. Menyaksikan bagaimana Arlangga menghajar anak-anak yang menganggu adiknya hanya dengan tangan kosong. Arlangga benar-benar seperti orang lain bagi Aluna.


"Aku pulang, Mahendra.. Kamu kenapa?" tanya Aluna dengan cepat menghampiri adiknya yang tengah terluka.


"Hanya jatuh dilapangan kak, tadi latihan sepak bola. Aku mau masuk lomba, kakak nanti hadir ya?"


"Kakak akan hadir. Lain kali, jangan dipaksa.. Sakit kan? Sini kakak lihat," ucap Aluna dengan perlahan mulai meraih kaki Arlangga dan mengobati luka pada betisnya.


"Kak, boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa? Tanyakan saja, kakak akan menjawab semua pertanyaanmu."


"Kakak punya pacar?"


Kan? Pertanyaan Mahendra jelas saja membuat Aluna terhenyak. Ia hanya menggelengkan kepalanya membuat Mahendra mengerinyitkan dahinya.


"Jangan bohong kak. Aku tau kakak punya pacar yang brengsek melebihi binatang. Bahkan, dia bercumbu dengan perempuan lain didepan mata kakak. Benar kan?"


Aluna bergeming. Ia mulai menghela nafasnya gusar, "Iya. Tapi sekarang bukan," sahut Aluna dengan tersenyum simpul.


"Sekarang kamu bersih-bersih, dan makan ya, jangam pikirin yang lain."


"Iya kakak.."


Mahendra kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri meja makan.


Aluna hanya termenung. Ia kembali mengingat kata-kata adiknya yang sangat menentang hubungannya bersama Andrew namun, bagaimana jika misal Aluna mengatakan kelakuan Andrew yang sebenarnya..? Bagaimana jika Mahendra tau..? Apa mungkin ia melakukan kesalahan fatal seperti saat dimana ia nyaris diceburkan kedalam jurang..?


Namun, Aluna tidak akan membuat hal itu berat. Ia mulai menghembuskan nafasnya, mengganti seragamnya dan berjalan-jalan ke sekitar taman.

__ADS_1


"KAK, JANGAN LOMPAT!" seru Aluna dengan berlari mendekap Arlangga dari belakang dan menarik Arlangga jauh dari jembatan. Melempar pisau yang Arlangga genggam.


"INI BAHAYA! KAKAK TAU GAK?!" bentak Aluna tanpa sadar membuat Arlangga menangis dalam diam.


"Kak.. Maaf, jangan lakuin ini. Hidup kaka masih panjang, perjalanan kakak ga cuman sampai disini, jangan diakhiri dengan cara seperti ini. Kakak tau...? Kelak kakak pasti tau bagaimana caranya bahagia tanpa menyakiti diri kaka sendiri. Jangan membuat keputusan ini."


"Aluna.. Bolehkah saya mencintaimu, lagi..?"


"Kakak ingat aku..?"


"Gadis yang mirip dengan mama.. Saya tidak lupa. Walau saya sempat lupa namun, papa yang memberitau saya. Dan sahabat saya mengenalkan kamu kepada saya.. Bolehkah saya mencintaimu, Aluna..?"


"Apakah kakak tidak malu mencintai gadis sepertiku..? Aku tidak sempurna. Aku hanya gadis yang hidup didampingi ayah dan sangat ingin melihat rupa bunda. Apakah kakak ingin menerimaku jika kakak tau aku terlahir dari lelaki yang bejat melebihi binatang..?"


"Semua itu tidak membuat saya mundur, Aluna. Saya akan mengejarmu hingga ujung dunia apabila perlu karena saya ingin memilikimu.. Seutuhnya dan selamanya."


......................


Arlangga mulai mengenggam jemari Aluna dan menatap Aluna dengan lekat. Mata biru dan mata hazel miliknya itu saling bertemu. Memandangi dan saling memandangi satu sama lain.


"***Apakah setelah menjadi milikmu akan menjamin bahwa semua deritaku sirna, kak..? Bahkan, mustahil apabila ada seolah pria yang menerima gadis rusak sepertiku, mustahil untuk pria mampu menerima seorang gadis yang jelas sudah terjamah tubuhnya dengan paksa! Mustahil untuk pria ─"


"Tidak ada yang mustahil, Aluna. Saya akan tetap mencintaimu sampai kapanpun itu, saya akan tetap mencintaimu. Sampai kita menua, bersama sekalipun saya tetap akan ─"


DORR!!


Keduanya terlonjak kala sebuah peluru tertuju kepada mereka. Untung saja, mereka dapat menghindari perluru tersebut agar tidak menyakiti satu dengan yang lainnya. Meski, mereka sangat terkejut pastinya.


"Aluna," panggil Arlangga dengan tetap mendekap tubuh Aluna erat.


"Kak, takut.."


"Jangan takut, ada saya disini."


Aluna hanya mengangguk dengan menyebukan wajahnya pada ceruk leher Arlangga yang tengah terbaring dan melindungi Aluna dibalik semak-semak belukar yang penuh rumput liar hingga suara tembakan itu tak lagi terdengar.

__ADS_1


Hingga saat Aluna diantarkan pulang, Aluna hanya memandangi sekitar dengan tatapan ketakutan seolah-olah terdapat banyak sekali orang yang berada disana.


"Aluna, ada apa?"


"Tidak! Tidak ada apa-apa.. Kita pulang ya..? Disini menyeramkan!"


"Bukan tempatnya yang menyeramkan. Hanya saja duniamu yang terlalu gelap, Aluna. Tidak ada tempat dan tidak ada siapapun selain saya dan kamu.. Hanya kita berdua. Cerdik siasat mereka akan larut semua perasaan jahat mereka kepada kita."


"Kak.. Apakah aku boleh meminta sesuatu..? Akan sulit dilakukan mungkin..?"


"Katakan apa yang kau inginkan, Aluna."


"Bunuh aku."


Hening. Arlangga bergeming pada tempatnya dengan memandangi Aluna yang terlihat sangat teramat bahagia kala megucapkan kata itu.


"Apakah kamu sudah gila? Saya ga akan lakukan itu!" tampik Arlangga dengan bersimpuh agar tingginya setara dengan Aluna.


"Kakak dengan mudah melakukan hal itu, bukankah dulu kakak juga yang hampir membunuhku pada malam itu..? Pada malam yang kelam kakak sendiri yang nyaris menikamku dengan sebuah belati yang selalu kakak genggam. Dengan mudahnya kakak mengantungku dengan kursi lalu.. Kakak juga mengatakan bahwa kakak membenciku lantas.. Kenapa sekarang kakak menolak untuk membunuhku..?"


Arlangga terdiam. Ia tak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Aluna. Pasalnya, ia tidak meninggat bahwa ia akan membunuh cintanya sendiri. Bahkan, ia tak ada niatan untuk melakukan itu.


"Lalu.. Siapa yang kakak maksud dengan Abimaya..? Kakak mengucapkan itu dan membuatku takut. Abimaya Sadewa.. Kakak menyebutkan nama itu bahwa itu nama kakak."


Arlangga semakin terkejut. Ia hanya menatap Aluna dan mulai mengalihkan pandangannya kepada gadis belia tersebut, "Saya didiagnosa kepribadian ganda, saya tidak tau siapa dan kapan.. Maafkan saya, Aluna.. Apakah ada yang sakit? Apakah saya berhasil menikam kamu dengan pisau sialan itu?" lirih Arlangga dengan mata merah menahan amarahnya.


"Tidak. Tidak ada.. Tidak apa kak, aku juga memiliki itu. Kita berjuang bersama dibawah hujan, ya..? Hujan ini akan menjadi saksinya kisah kita berdua bersemi."


"Kisah cinta Aluna dan Arlangga yang akan diingat dan tak akan pernah dilupakan oleh insan manapun dialam semesta ini. Hanya kita yang akan menjalin kisah asmara penuh luka ini, benar bukan.. Aluna..?"


"Iya kak.. Hanya kita berdua dan putri kecil kita kelak. Hanya kita."


..."Walau kekal itu hanya ilusi aku berharap kita abadi kala kembali dipertemukan dan menjadi cintamu kembali, Arlangga."...


^^^-Aluna Pragya Laksamana^^^

__ADS_1


To be continue!


__ADS_2