
Reno mulai berjalan menuju ke arah mobilnya. Tentu tak lupa ia membeli sebucket bunga mawar putih dan melajukan mobilnya ke pemakaman sahabatnya.
Sesampainya, Reno hanya termenung dengan mulai melangkahkan kakinya gamang menginjak tanah dingin itu. Saat Reno tiba tepat didepan makam Arlangga, Reno mulai bersimpuh meletakkan bunga mawar putih, membersihkan pemakaman dan mulai terpaku ditempatnya.
Bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan tanpa sadar. Hatinya terasa sakit. Meski ia adalah seorang lelaki namun, Reno itu memiliki hati yang lemah.
"Ar, gua mau ngomong boleh? Gua kesepian. Nyokap sama bokap gua pisah, gua cuma bisa ngadu sama lo kayaknya, karena lo pasti tau Aluna ga berdaya kan..? Sorry ya..? Tapi gua suka sama Aluna. Iya, gua suka sama dia dari pertama kalinya gua ketemu sama dia tapi.. Karena lo cinta dan kekeh banget mau sama dia, gua ikhlas. Gua lupain dan relain perasaan gua sama dia, tapi gua boleh minta satu hal aja gak, Ar..?"
"Gua minta lepasin Aluna! Kasihan dia tolol! Lo bisa ngerti ga sih? Lo kalau sayang sama dia, jangan jerat dia dengan cara kaya gini. Lo harus bisa buat Aluna bangkit, jangan buat dia kaya gini.. Sekarang ini, dia lagi ga berdaya.. Gua tau. Gua tau dia butuh seseorang tapi.. Gua bisa apa Ar..? Gua juga gatau harus gimana biar Aluna sadar dan ngelewati masa-masanya yang cukup mengkhawatirkan.."
"Gua gatau Ar, gua binggung.. Gua cuma takut kehilangan dia. Gua takut dia kenapa-kenapa karena kaya paman lo, dia bisa hidup karena dia berjuang dan mau bertahan. Jadi gua mohon.. Lepasin dia dari jeratan lo, Ar... Gua tau kalian udah resmi. Gua tau kalian statusnya udah jadi suami-istri tapi.. Gua bisa kan egois..? Gua mau Aluna ga kesiksa kaya gini, gua ga tega.."
"Bangsat banget lo bilangnya mau sama-sama tapi akhirnya apa? Lo ninggalin gua duluan. Tanpa pamitan sama gua, tanpa ada kata perpisahan. Lo kira gua ga sakit lo tinggal? Gua binggung Ar! Gua cuma bisa nungguin lo disini. Nungguin ratu lo sampe bangun dan setelah itu.. Gua gatau lagi harus gimana, gua binggung kalau kaya gini.. Lo harusnya bisa buat gua senyum kaya dulu, tapi hari-hari gua rasanya sepi. Rasanya hampa. Dan setelah lo ga ada.. Kehidupan gua ancur berantakan."
Cukup lama Reno menangis disana hingga, ia tertidur disamping makam Arlangga yang penuh dedaunan kering sejak Aluna tak kesana. Sejak Aluna mulai terbaring tak berdaya, Reno layaknya mati dalam keadaan hidup. Hari sudah malam namun, Reno terbangun dari tidurnya lalu pergi dari pemakaman tersebut.
Reno memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Setelah sampai, ia langsung menuju ke kamar Aluna dan saat itu juga ia terhenti. Mematung ditempat menatap Aluna yang masih terbaring lemah. Paras ayunya tak luntur. Mata yang terpejam itu seolah-olah tanpa beban. Wajahnya yang lugu membuat semua perhatian tertuju kepadanya.
Dengan langkah gamang, Reno mulai memasuki ruangan tersebut dan duduk disamping Aluna. Ia meninggat bagaimana Aluna meminta izin untuk memegang tangannya dulu. Lalu, Reno mengenggam jemari kecil Aluna tersebut tanpa Aluna meminta izin. Ia mengusap kepala Aluna lembut.
"Gua gatau Lun.. Gua udah cari kemana-mana tapi mereka belum ketemu.."
......................
__ADS_1
"Aliya, lepaskan kita!" seru Andara membuat Aliya tersenyum licik dan mulai mengenggam kuat tangan Andara seolah-olah ia berniat menghancurkan tulang belulang itu.
"Melepaskanmu..? Kau kira semudah itu..? Tidak! Jangan harap aku akan melepaskanmu, Andara.. Lihatlah! Putrimu begitu sangat cantik bukan..? Sayang apabila ia tidak digunakan atau lebih baik.. Aku menjualnya? Menjual organ atau dia..?"
"Aliya!"
"Jangan berteriak, telingaku sakit kak.. Jangan membentakku! Aku tidak menyukai bentakanmu itu."
"DASAR GILA! LEPASKAN SAYA SIALAN!"
"Sudah ku katakan bukan..? Andai kamu menerimaku dari awal.. Pasti istrimu juga masih hidup sampai sekarang. Ah tidak hanya itu! Pasti kau juga akan hidup bahagia denganku yang sehat ini. Kau pikir.. Istrimu mati karena penyakitnya..? Tentu tidak! Istrimu mati itu.. Karena aku."
DEG..
Jantung Andara seolah terhenti. Ia mematung kala mendengar ucapan dari Aliya yang terlalu banyak meminum alkohol itu.
"Iya! Aku membunuhnya karena seharusnya aku yang menikahimu setelah Pratmana tiada! Tapi nyatanya dia mati telat. Andai saja orangku tidak berulah, pasti pratmana tidak mati."
"Orangmu..?"
"Ups! Sepertinya aku keceplosan ya..? Iya. Orangku yang berbuat ulah. Dia memasukkan obat tidur ke dalam minuman Pratmana dan.. Ya! Pesawatnya terjatuh lalu meledak didalam air, dia mati! Lalu.. Apakah kau pikir juga 3 anakku itu mati karena kecelakaan murni dari pesawatnya..? Tentu saja tidak!" seru Aliya dengan tertawa puas.
Andara bergeming. Tubuhnya bergetar. Matanya memerah menahan amarah dan isak tangisan yang bisa meledak kapan saja namun, itu tak berguna karena Andara dalam keadaan terikat.
__ADS_1
"Tiga anak sialan itu mati karena aku menyuruh orang sengaja agar kontak pesawat itu hilang dan akhirnya pesawat itu ditemukan terjatuh, tak ada yang selamat. Dan setelah itu..? Jelas! Aluna anak sialan itu hancur. Hidupnya hancur dan aku harap.. Dia akan mati setelah ini! Karena aku.. Membencinya."
Andara tak habis pikir dengan tingkah gila Aliya yang tega menghabisi suami dan anak-anaknya sendiri bahkan, tanpa hati ia melakukan itu semua. Dalam keadaan sadar dan tanpa menyesal.
"APAKAH KAU SAKIT JIWA ALIYA MARSHELA LAKSAMANA?!"
"Jangan berteriak! Aku... Takut..."
"HAHAHHAHA! BODOH! TENTU SAJA AKU MELAKUKANNYA KARENA AKU ITU TIDAK MENYUKAI MEREKA DAN.. TERIMA AKU ATAU AKU AKAN MEMBUNUH PUTRIMU..? MENJUALNYA MUNGKIN...?"
Gila! Andara sudah tak bisa menahan dirinya hingga akhirnya ia mengumpat habis-habisan dan membuat Aliya menangis sesengukan. Hanya umpatan yang bisa Andara lontarkan tanpa menyadari bahwa ternyata Aliya mengejarnya selama ini.
"Sadarlah! Seharusnya kamu tau mengapa aku menjaga ucapan karena ini. Aku tidak ingin menyakitimu, Aliya. Kita sahabat dan tidak akan lebih dari itu. Karena bagi saya mendiang istri saya akan tetap saya cintai hingga akhir hayat. Jangan berharap saya akan mencintaimu karena saya tidak melakukan hal itu."
Patah.
Hati Aliya rasanya seperti terkoyak-koyak dan hancur. Ucapan Andara bahwa ia tak akan mencintainya itu cukup menyakitinya.
"Lepaskan putri saya, Aliya."
"Aku tidak akan melakukannya! Aku akan tetap menjualnya pasti akan menguntungkan bukan..? Mengapa aku harus menurutimu?! Aku akan membunuhmu dan putrimu dalam waktu dekat ini juga."
Disisi lain, Reno masih berada ditempat yang sama. Menanti Aluna dengan menerima kenyataan yang menyakitkan. Kenyataan bahwa kedua orang tuanya sudah tak lagi bisa bersama.
__ADS_1
"Ma.. Pa.. Tolong dengarkan putramu ini berbicara.."
To be continue!