Dua Insan

Dua Insan
Jejak samar yang akan terus diikuti


__ADS_3

Aluna mengangguk sebagai jawaban lalu, Aluna mulai mencari jejak sang ibunda meski, ia tak tahu pasti dimana letak gedung yang dikatakan oleh Sagara tadi sebelum mereka berdua pergi.


"Aluna, lo yakin?" tanya Reno ragu-ragu.


"Aku yakin."


Karena begitu kukuh, Aluna mulai mengurai rambutnya yang panjang. Aluna menyusuri ke tempat gedung yang pertama kali mereka datangi. Gedung yang letaknya tak jauh dari hutan belantara. Hutan rimbun yang dikatakan banyak binatang buas.


"Kak, Aluna mau masuk dulu. Karena dulu disini juga ada keributan, jadi besar kemungkinan mereka disini kan?" monolog Aluna dengan menatap curiga terhadap gedung dihadapannya itu.


"Iya. Gua juga gatau kenapa gedung ini kaya pernah kejadian peristiwa yang cukup memakan banyak trauma pada korban, gua cuma inget ini gedung udah lama dikosongin sejak pembantaian berantai yang menjadi korbannya itu kalau ga salah inget.. Pasutri yang udah paruh baya ngelindungi anaknya yang lagi hamil," ujar Reno dengan mulai melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut.


Aluna menatap sekitar gedung tersebut dan menjerit dengan histeris kala melihat foto Arlangga yang pecah. Bukan hanya itu, Aluna juga menemukan sebuah surat yang berisi ancaman yang dimana hari dan tanggalnya jelas dimana saat Arlangga waktu itu menghilang beberapa hari.


"Aluna, lo liat apa?!" tanya Reno segera kala melihat Aluna menjerit histeris seperti itu.


"K - kak! T - tanggal ini... Ini adalah tanggal Kak Arlangga hilang selama 3 hari dan pas kembali.. Dia... Dia... D - dia.."


"Pelan-pelan, gua tunggu penjelasannya. Gimana?"


"Bajunya terdapat banyak bercak darah dan juga lebih anehnya lagi.. Kak Arlangga pas liat Bianca dan temen-temen Bianca, kaya kenal dan nyimpan suatu perasaan.."


"Dendam..? Karena Arlangga pernah bilang dia hampir ditikam pisau sama si Jovanka. Lo inget gak?"


"Iya! Tapi.. Kenapa papa sama Mawar ga disini? Mereka dimana..?"


Keduanya saling pandang. Reno memandangi Aluna dengan seksama. Menahan dirinya kala melihat leher jenjang Aluna jadi, Reno langsung menarik pelan rambut Aluna dan membiarkan rambut itu menutupi leher jenjang tersebut.


"Gua inget satu tempat, tapi itu jauh dari sini, tapi deker sama rumah sakit. Deket sama hotel yang udah kosong beberapa tahun lalu," ucap Reno membuat Aluna seketika menoleh.


"Kak.. Kita cari disana! Pasti ada kan?!"

__ADS_1


"Coba dimana dulu? Soalnya gua belum pernah masuk ke hotelnya dan gedungnya itu dijaga ketat, Lun."


Lagi dan lagi keduanya menghela nafasnya samar. Tak lama, seseorang keluar dan mencegat mereka. Siapa lagi jika bukan Bianca and the gank? Bahkan, Aluna muak sekali menghadapi mereka.


"Aduh, kasihan banget.. Arlangga udah mati ya..? Ups! Mungkin aja racunnya langsung bekerja, iya kan? Hahaha!" gelak tawa Bianca membuat Aluna seketika menahan amarah.


"Lihatlah wajah mereka, emosinya semakin gila guys, langsung aja lah kita udah lama gak lakuin ini kan?"


Lagi... Diluar dugaan mereka. Aluna melemparkan beberapa barang yang membuat Bianca dan teman-teman lainnya seketika terdiam. Mematung. Mencerna keadaan dan badannya seketika bergetar hebat kala Aluna mendekat dengan tatapan yang berapi-api.


"KALIAN BAJINGAN!!!"


JDAR!!!


Reno bergeming. Baru kali ini ia melihat Aluna semarah ini. Apalagi saat ini, Aluna tengah mencekram leher bianca dan teman-temannya. Entah mengapa namun, bayangan-bayangan dikala perundungan itu terjadi membuat Aluna berani.


......................


Hening. Suasana disana sangat hening tanpa ada yang bergeming. Aluna mengumpat sepuas-puasnya hingga akhirnya ia menghempas sebuah foto Arlangga yang sudah pecah kacanya.


BRAK!!!


Remuk. Tulang belulang Bianca rasanya seperti rontok karena Aluna dengan kuat menghempas Bianca padahal ia tengah sakit, bagaimana bisa Aluna sekuat itu? Jelas karena dendam. Fisiknya tidak kuat namun, tekadnya yang kuat sehingga Aluna mampu melakukannya.


Setelahnya, Aluna langsung menarik tangan Reno dan mengajak Reno keluar dari gedung setelah Reno membereskan Jovanka, si cewek gila tentunya.


Reno hanya melihat Aluna yang tiba-tiba menghentikan langkah karena darah. Namun, tekad Aluna kuat jadi, Aluna bisa tegar walau sebenarnya.. Ia emosi karena hatinya berantakan.


"Kak, boleh tolong... Ambilin tisu?"


"B - boleh! Gua ambilin dulu, tunggu disini ya? Jangan sampai ada yang tau lo disini," ujar Reno dengan mulai memasuki salah satu ruangan untuk mencari tisu.

__ADS_1


Namun, tetap. Cecil bersama Rachel ternyata mengejar Aluna dan memanfaatkan kesempatan itu. Karena memang, Reno tadinya mau gendong Aluna tapi badan Aluna kelampau lemas duluan.


"Widih cewek jago mana lagi nihh?? Sekarang lemah?? Langsung aja ya, sikat Chel."


"Kalau mati gimana nih anak?"


"Kalau bisa bunuh aja sekalian."


Rachel bersemangat. Ia mulai mendekati Aluna dan menarik rambut Aluna dengan kuat. Menghempas Aluna. Lalu tangan Aluna diplintir hingga Aluna menahan teriakannya. Rambut ditarik begitu kuat hingga tercabut beberapa, dan Aluna dipaksa meminum alkohol yang takarannya tinggi.


"Hahahhaha! Ayo minum lagi sayang, habisin semuanya.. Langsung diteguk ayo 1 botol, jangan cuma dikit-dikit biar apa..? Ya bener. Biar lo cepet mati.." ucap Rachel dengan terus memaksa Aluna meminum itu.


Sedangkan Cecil, ia tugasnya menahan tubuh Aluna dan membiarkan Rachel terus meminumkan alkohol itu walau Aluna sudah merasa mual. Perutnya terasa sakit, dadanya sesak dan dia muntah darah.


"S - sakit..!! K - kak... K - kak Reno, t - tolong!"


"Udah diem! Lanjut minumnya, cepet!" bentak Rachel mulai bersiap meminumkan alkohol yang tersisa separuh itu.


Tak lama, Reno dengan tergopoh-gopoh datang dan itu membuat Cecil dan Rachel ngacir. Pergi dari sana melempar minuman itu sembarang.


"Aluna! Lun, jawab gua! Sorry, gua ke bawah ambil tisunya, Lun.. Lo sadar kan?!"


"S - sakit.. Sakit, kak..!!" adu Aluna dengan mengenggam tangan Reno kuat. Tubuhnya lemas seketika darah yang tadinya hanya keluar dari hidung kini, darah itu mulai Aluna muntahkan hingga itu membuat Reno sakit melihatnya.


"Gua gendong, lo diem! Jangan tidur. Kita lanjutin besok aja pencariannya! Masih banyak waktu tapi sekarang lo lebih penting."


Tubuh Aluna yang lemas hanya mampu mengangguk lemah. Mengikuti kemana Reno akan menggendongnya dan membawanya. Ia sudah dititk terendah dimana ia juga tadi tak bisa mengontrol kepribadiannya sendiri.


Sesampainya dimobil, Reno memakaikan sabuk pengaman kepada Aluna. Menahan tubuh Aluna agar tak terjatuh lemas. Reno mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan max. Sehingga tak sampai 2 jam, Reno sudah sampai rumah sakit dan dengan segera semua pihak medis menanggani Aluna. Karena memang, rumah sakit itu yang membangun Andara.


Aluna ditanggani dalam kondisinya yang sudah sekarat. Bahkan, ia harus menahan dan tetap bertahan meski rasanya sakit. Matanya berat dan tubuhnya sebagian rasanya sudah seperti mati.

__ADS_1


"Arlangga.. Sorry, gua gagal jagain ratu lo."


To be continue!


__ADS_2