
Semua tertawa mendengar pertanyaan Aluna. Mereka semakin parah apalagi saat guru membebaskan dan jam pelajaran kosong.
"Denger ya.. Denger. Lo itu cuma binatang disini. Bukan manusia! Sekarang, makan makanan ini didepan kita semua tanpa penolakan."
"Sampai kapanpun, aku gamau makan, makanan anjing ini."
"ALAH, KATIMBANG MAKAN DOANG LAMA BANGET!"
Alice dan Cecil juga tanpa segan mengunci pergerakan dan mulai membuka mulut Aluna paksa dan memasukkan makanan anjing itu ke mulutnya.
"Kunyah dan telen. Sampe lo muntah, gua ga segan-sengan nyuruh lo makan muntahan lo sendiri."
Perlakuan keji namun, didiamkan tanpa dihakimi. Aluna jelas tak tahan. Seluruh gerakannya dikunci dan ia hanya bisa memohon agar dilepaskan. Nahas. Aluna memuntahkan makanan itu dan Alice tak segan-segan mendorong dan memaksa Aluna memakan muntahannya sendiri lagi.
Aluna memakannya. Ia menelan dengan dorongan air yang sengaja dicekok i oleh Jovanka dan Bianca.
"Seru banget sih pertunjukkannya, udah ya guys bubar!!!"
Setelah semua pergi, Aluna berusaha mengambil ponselnya.
...Chat...
^^^Aluna🦋:^^^
^^^Kak..^^^
Semestaku💗:
Ada apa? Katakan!
^^^^^^Aluna🦋:^^^^^^
^^^^^^Tolong... Aku ga kuat berdiri, didalam kelas. Semua pulang.. Aku ga kuat.^^^^^^
Semestaku💗:
Aluna..? Tunggu saya. Saya kesana, saya kesana sekarang! Jangan matikan ponselmu, seharusnya kamu tidak masuk sekolah terlebih dahulu.
^^^Aluna🦋:^^^
^^^Sakit....^^^
Arlangga mematikan ponselnya. Ia langsung berlari ke kelas Aluna dan terkejut saat pintu kelas itu dikunci. "PAK, TOLONG BUKAIN PINTU KELAS INI..!!" pinta Arlangga membuat seorang petugas refleks datang dan membuka kelas tersebut.
Arlangga terdiam mendapati kelas itu sangat berantakan. Ia tak habis pikir mengapa guru mendiamkan tingkah anak-anak keterlaluan itu hingga, langkah Arlangga terhenti ketika melihat Aluna tengah menatap kosong sekitar dan penampilannya sangat berantakan.
"Aluna..?"
"A-aku takut, kak..!! A-aku takut...!!"
"Iya sayang, iya! Ada apa? Ada apa?! Kenapa ada bungkus makanan anjing disini? Dan tunggu.." sela Arlangga dengan membersihkan mulut Aluna dengan tissue dan membantu Aluna berdiri.
"M-mereka.. Mereka..!! Mereka kak, aku takut, aku gamau sekolah lagi! Aku gamau..!! A-aku gamau ketemu mereka, Alice... Alice penghianat. D-dan t-tadi ─"
__ADS_1
Grep!!
Arlangga mendekap erat tubuh Aluna yang sudah lemas. Seluruh badannya gemetar dan sudah jelas Arlangga segera menggendong tas dan menggendong Aluna ke kamar mandi terlebih dahulu.
Aluna memuntahkan semua isi perutnya dan membasuh mulutnya sehingga membuat Arlangga tak kuasa menahan dirinya. Ia merasa gagal menjaga kekasihnya.
"Aluna, sudah..?"
Aluna hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Aluna meminta Arlangga membawanya ke telaga saja. Jadi, Arlangga dengan segera mengemudikan mobilnya hingga sampai ditelaga, Arlangga menggendong Aluna. Arlangga mendudukkannya ditepi telaga. Membiarkan Aluna merebahkan dirinya dipangkuannya.
"Kak.. Ikat aku pada belikatmu, aku lelah.. Aku lelah.. Aku tidak pernah menginginkan takdir ini, kak.."
"Takdir akan tetap berjalan dan takdir tidak akan sesuai dengan apa yang kamu mau, Aluna. Semua takdir akan berjalan dengan kehendak Tuhan, bukan sesuai kemauan kita, saya tau kamu lelah. Saya tau kamu terlampaui lelah namun, bisakah kamu menetap sejenak untuk menjalani hari-hari indah bersama saya..?"
"Yang aku dengar pada cerita dongeng saat kecil.. Ayah berkata bahwa tak semua takdir berjalan lurus dan tidak ada orang tua yang akan meninggalkan anaknya begitu saja lantas.. Mengapa bunda meninggalkanku..?"
......................
Arlangga terhenyak. Ia tak berpikir bahwa Aluna akan mengucapkan kata tersebut.
"Aluna..?"
"Dari kecil kak, dari kecil.. Aku hanya mendengar cerita tentang bunda tanpa tau bagaimana rupa bunda. Ayah selalu berkata bahwa aku harus menjaga adik-adik dari bunda lalu.. Dimana keberadaan bunda..? Apakah ayah mengetahuinya? Apakah aku anak yang berdosa jika terlahir didunia..?"
"Sayang..."
"Dingin sepi kerap menyapaku. Air mata jatuh sebagai lukisan raga. Kadang aku bisa menerima namun, apakah aku harus terus mengalah? Ini bukan keinginanku. Bahkan, apakah aku bisa meminta semua yang telah terengut kembali..?"
Pilu. Sendu. Merindu. Kerasnya hidup ini membuat Aluna dan Arlangga terusik dan terhanyut dalam angan mereka sendiri. "Kak, pegangi aku, boleh..? Aku ingin memasuki telaga itu," ucap Aluna dengan tersenyum tipis.
"Saya tidak akan menolak. Pegang tali ini kencang dan saya bakal pegangi kamu, asal jangan terlalu jauh, ya?"
"Iya.."
Arlangga mulai menyerahkan tali dan ia mengenggamnya. Aluna mulai melepas sepatu dan memasuki telaga tersebut dengan tersenyum manis yang terukir pada bibir pink miliknya.
"Telaga ini ternyata tidak terlalu dalam," ujar Aluna membuat Arlangga terkekeh.
"Biarpun tidak terlalu dalam, buat gadis kecil seperti kamu.. Telaga ini tetap terlalu dalam sayang."
"Tidak! Aku sudah tinggi!"
"Iyakah? Berapa tinggi kamu, hm?"
"157! Aku tinggi kan?!"
"Saya yang 180 diam saja deh."
"KAKA JAHAT!" gerutu Aluna membuat Arlangga menahan kegemasan dari Aluna yang tengah mengitari telaga kecil dengan mengenggam tali yang diserahkan Arlangga.
Jelas saja Arlangga tertawa puas mendengar gerutuan dari gadisnya itu. Apalagi? Ya jelas karena tingkahnya yang selalu tidak terima jika dikatai pendek.
Setelahnya, Aluna langsung berjemur untuk mengeringkan baju dan tubuhnya dibawah sinar matahari yang terik.
__ADS_1
Aluna terkekeh saat Arlangga memberikan cincin bunga yang diukir oleh Arlangga saat ia mengeringkan tubuh dan bajunya.
"Cantik," puji Arlangga membuat Aluna tersenyum.
"Kaka juga tampan!" seru Aluna dengan tertawa kecil.
Tawa kecil yang membuat Arlangga merasa sangat beruntung memiliki Aluna. Memiliki Aluna adalah sebuah anugrah terindah untuk Aluna. Apalagi Aluna itu sudah paket lengkap.
Drtt... Drtt... Drtt...
"Sebentar ya kak, aku mau angkat telfon dulu.."
...Mahendra, perisai kecilku....
...Panggilan terhubung......
..."Halo, ada apa Mahen?"...
..."Aku dapat telfon dari ayah, katanya aku disuruh nyusul ayah.."...
..."Beneran..?"...
..."Iya, tapi Mahen gamau nunggalin bunda.. Mahen takut bunda kenapa-kenapa..."...
..."Tidak apa. Kamu berangkatnya kapan..?"...
..."Detik ini juga, bunda jaga diri dirumah. Hati-hati dan jangan sampai sakit lagi."...
...Panggilan diakhiri....
Aluna terdiam dengan meletakkan ponselnya didalam tas lagi. "Siapa yang telfon?" tanya Arlangga penasaran.
"Mahendra mau nyusul ayah.. Aku dirumah sendirian, gapapa deh! Asal Mahendra bisa ketemu ayah, aku sudah senang!"
"Ingin pulang atau disini saja..?"
"Disini dengan kakak!"
Keduanya tersenyum manis. Bahkan, Aluna tak bisa membayangkan bagaimana apabila misal ia tidak bertemu dengan Arlangga.
Namun, disisi lain..
"Aku sudah bilang kak, dari dulu kenapa kamu gak setuju aku mau aborsi Aluna?!"
"Karena dia putri kita, Aliya!"
"DIA BUKAN PUTRIMU! DIA ANAK BAJINGAN ITU."
"Tapi dia juga putrimu!"
"AKU TIDAK AKAN PERNAH SUDI MENGAKUINYA SEBAGAI PUTRIKU, LAKSAMANA!"
To be continue!
__ADS_1