
Pagi ini, Aluna berada dirumah. Ia memasak banyak sekali makanan, sibuk dengan bahan-bahan masakan yang berada didapur. Aluna juga menyiapkan makanan ringan kesukaan Alura dan Melati. Menyiapkan sebuah salad buah kesukaan Mahendra. Memasak tonik yang sangat disukai ayahnya. Tak lupa, ia menyediakan semua dan menyusun semua makanan dimeja makan.
Aluna mulai menyiapkan sebuah nasi goreng yang sangat digemari oleh Arlangga. Tak hanya itu, Aluna mengemasi semua barang yang berantakan dirumah, menyapu, mengepel, berdandan dengan cantik, mengenakan dress berwarna putih dan jepit rambut yang diberikan oleh Arlangga. Tak hanya itu, Aluna juga mengenakan sepatu yang sangat cocok dengan dirinya.
Aluna mulai duduk disofa dengan anggun, sesekali ia melihat jam untuk memastikan dan mulai keluar untuk menyambut jemputan Alura dan Melati. "Mereka kok belum sampai..?" tanya Aluna dengan terus menanti kedatangan kedua adiknya itu.
Tak lama, sebuah mobil jemputan datang namun, wali kelas Alura dan Melati hanya memberikan sebuah bunga kepada Aluna lalu, saat wali kelas tersebut hendak memasuki mobil, Aluna menahan tangan wali kelas tersebut.
"Alura sama Melati.. Mereka kemana, bu..?" tanya Aluna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aluna.. Kamu yang tabah, saya turut berduka cita dan saya izin mengantarkan anak-anak kembali pulang dulu."
Aluna terhenyak. Ia mulai menghampiri seorang anak remaja yang satu sekolah dengan Mahendra, "Kamu temennya Mahen yaa..? Mahen kemana kok belum pulang..?" tanya Aluna membuat anak itu terdiam dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Kak.. Mahen udah ga ada, kakak ikhlas ya.. Aku pulang dulu."
Lagi dan lagi jawaban itu yang Aluna terima.
Aluna mulai membuka ponselnya dan menghubungi salah satu kontak, jelas. Itu kontak Arlangga.
...Chat...
Aluna🦋:
Kakak, kakak sudah pulang kampus?
Aku masakin nasi goreng kesukaan kakak!
Kakak nanti kesini tidak? Atau aku anterin ke kantor papa saja?
Kakak kemana..? Kakak sibuk ya?
Kak, kakak kemana deh?
Kan kemarin udah aku kasih tau kalau hari ini ulang tahunku! Kakak lupa ya!?
(҂⌣̀_⌣́)
Mahendra, Alura dan Melati.. Mereka juga tidak pulang.. Ayah juga mungkin sibuk:( aku ga ada yang temani dong..? Aku pakai baju cantik loh! Baju yang kakak kasih waktu itu^^
Kakak...?? Kakak beneran sibuk? Yaudah deh, aku tunggu sampai nanti ya, makanannya takut dingin, see you semestaku<3
__ADS_1
Aluna menutup ponselnya setelah melihat pesan kirimannya itu hanya centang 1 tanpa jawaban ataupun berubah menjadi centang 2 walau sudah hampir 30 menit lamanya Aluna menunggu hingga, Aluna memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumahnya.
Aluna mulai menyalakan lilin-lilin kecil pada sebuah kue yang ia buat dan hias sendiri dengan sangat cantik. Aluna meletakkan kue tersebut pada sebuah meja yang sudah ia sediakan sedari tadi. Mendekor ruangan sendiri hingga saat Andara datang, Aluna tetap bergeming di tempatnya.
"Aluna.. Kenapa kamu memasak sebanyak ini, nak..?" tanya Andara dengan mulai menghampiri Aluna yang tengah mematung ditempatnya.
"Bukankah seharusnya mereka semua pulang sekarang..? Sekarang ulang tahunku, pa.. Apa mereka semua lupa dengan ulang tahunku..?" tanya Aluna dengan suara lirih.
"Aluna.."
"Papa bawa apa..?"
"Kado buat kamu. Semoga kamu suka ya sayang sama kadonya.. Kita tiup lilin ya..? Papa temani Aluna tiup lilin," ucap Andara membuat Aluna mengangguk. Mereka mulai menghidupkan kembali lilin tersebut dan tak lupa mereka berdoa.
......................
Malam semakin larut. Andara disiapkan makanan oleh Aluna namun, ia tak tega memakannya. Karena bahkan, meja makan yang sudah disusun dan hanya ia yang duduk ditempat tersebut menikmati hidangannya agar Aluna tidak terlalu sedih.
"Aluna, sudah mau tengah malam, kamu tidur ya?"
"Kenapa mereka belum pulang..?"
"Kak Arlangga sudah aku hubungi, ponselnya mati. Ayah sudah ku hubungi tapi juga tidak bisa, Alura dan Melati.. Mereka sepertinya tidak pulang karena hanya ada bunga ini yang wali kelas mereka kirimkan dan kata temannya, Mahendra sudah pergi. Kemana mereka pergi..?"
DEG..
Layaknya tertusuk duri hati Andara mendengarkan peetanyaan Aluna yang ternyata menanti orang yang telah pergi.
"Aluna tidur ya sayang..? Mereka ga akan pulang," lirih Andara membuat Aluna menoleh.
"Kemana mereka pa..?"
"Mereka sudah pergi ke tempat yang membuat mereka bahagia. Mereka telah pergi ke syurga."
Hening. Aluna terduduk lemas dengan derai air mata yang mengalir deras. Tatapan yang kosong, mulut membisu seraya tubuh terpaku menatap sekeliling yang kosong. Rumah yang tadinya ramai dengan suara gurauan Alura dan Melati sirna. Rumah yang tadinya terasa hangat dengan semua perhatian Mahendra turut sirna bersama kenangannya bersama sang ayah yang telah dimusnahkan tanpa rasa bersalah oleh Andrew dan 7 anak lainnya.
"Mereka belum pergi pa.. Mereka disini! Mereka ga pergi! Semestanya Aluna disini.. Dia sedang duduk disana, mereka datang pa..! Mereka ─"
"Aluna, mereka ga akan datang karena yang pergi sudah pasti ia tidak akan kembali sayang."
Aluna hanya menggelengkan kepalanya kukuh. Pikirannya terberai dengan langkah gamang, Aluna mulai berdiri dan berjalan mendekati sebuah foto yang terpanjang.
__ADS_1
"Ini Ayah, aku, Alura, Melati dan Mahendra.. Mereka tidak mau berfoto seperti ini lagi..? Aku sudah menyediakan kameranya, pa! Semua sudah Aluna siapkan.. Semua yang dibutuhkan sudah Aluna siapkan! Rencana hari ini akan berfoto, makan bersama, lalu kita bertukar cerita, dan kita akan merayakan hingga tengah malam tiba! Papa kenapa diam saja..?!"
"Aluna.."
"Papa.. Kenapa papa menangis? Jangan menangis pa.. Jangan menangis! Maaf, aku hanya.. Aku hanya ingin ─"
Grep!!
Tubuh Aluna ditarik oleh Andara dan didekap erat. Tubuh mungil yang ringkih itu didekap erat sehingga Aluna mulai terisak.
"Menangislah jika itu membuat hatimu lega," titah Andara dengan mulai mengusap lembut punggung Aluna.
"Pa.. Dulu kala Aluna pernah bermimpi memiliki putri bersama semestanya Aluna.. Lantas, kenapa sekarang mimpi itu hancur berantakan..? Semesta Aluna berkata bahwasan Aluna adalah cintanya lantas.. Mengapa ia meninggalkan Aluna seorang diri disini..? Sunyi. Sepi. Rasa hampa menghampiri Aluna setiap hari, kenapa harus begini pa..? Aluna juga manusia.. Aluna punya hati."
"Aluna.. Ada banyak sekali takdir yang harus kamu jalani. Dan mungkin, esok ada kejutan untuk kamu, sayang.. Apapun itu, kamu harus menerimanya."
"Pa.. Apakah Aluna boleh marah kepada Tuhan..?"
"Tidak. Tuhan tidak bersalah, ini semua sudah takdirnya sayang, sudah ya..? Kita kembali ke rumah sakit. Tempat ini terlalu menyimpan kenangan yang sangat kelam.. Biarkan papa menyuruh orang membereskan tempat ini nanti."
Aluna menggeleng. Ia mulai mengambil sebuah bunga yang ia siapkan. Aluna mulai mengurai pelukan dan berjalan mendahului Andara dan hal itu membuat Andara binggung.
"Sampai," lirih Aluna dengan melihat lautan lepas. Aluna mulai melepas bunga-bunga itu dan bersimpuh diatas pasir pantai yang dingin pada tengah malam.
"AYAH..!!!! ALUNA SEKARANG SUDAH BERUSIA 19 TAHUN, APAKAH AYAH TIDAK INGIN MENGUCAPKAN SELAMAT ULANG TAHUN KEPADA PUTRIMU INI?! AYAH...!!! ALUNA TAU ALUNA BUKANLAH PUTRI KANDUNG AYAH NAMUN, ALUNA TAU KALAU AYAH MENYAYANGI ALUNA! AYAH JANGAN LUPA JEMPUT ALUNA PULANG YA..!!! ALUNA TUNGGU AYAH JEMPUT ALUNA!"
Setelahnya, Aluna mulai melepaskan kembali sebuah gelang yang sudah putus menjadi 2 bagian.
"MAHENDRA..!!! PULANG SAYANG!! MAHEN BILANG MAHEN SAYANG DENGAN BUNDA BUKAN?! JADI AYO PULANG!! BUNDA SELALU MENUNGGU MAHEN DIAMBANG PINTU.. DAN MAAF...!!! GELANG ITU PUTUS. TERIMA KEMBALI DAN JANGAN LUPA TEPATI JANJIMU! BUNDA AKAN DATANG SETIAP HARI UNTUK MENGUNJUNGIMU! KARENA BUNDA TIDAK AKAN SUDI MENANGISI MAKAM TANPA JASAD ITU..!!!"
Lagi dan lagi jeritan Aluna membuat hati Andara merasa sakit yang luar biasa.
"Alura sayang... Kamu ga suka kakak teriak kan? Kakak ga akan teriak.. Kakak cuma mau bilang, kamu pulang ya sayang..? Kakak sudah bertemu dengan bunda. Dia sangat cantik.. Dan Melati... Kakak minta maaf ya sayang..? Cincin cantik yang kamu rangkai jadi 5 bagian. Dan bagian-bagian itu tidak pernah kakak temukan sampai sekarang.. Dan selamat beristirahat, malaikat-malaikat kecilku."
Setelah cukup lama, Andara langsung membawa Aluna kembali ke rumah sakit namun, diluar dugaan. Saat ditengah-tengah perjalanan, Aluna dan Andara bertemu dengan Aliya. Dan Aliya tengah bersama dengan Andrew.
"Ma, mana anak mama yang katanya dia saudariku?"
"Aliya, kamu ngapain dirumah saya..?"
To be continue!
__ADS_1