
Aliya mencoba bersikap seperti biasanya. Ia merapikan rambutnya dan mendekat ke arah Andara yang tengah bersama Aluna, "Ini adalah saudara Aluna," ujarnya dengan tersenyum membuat Andara mengerinyitkan dahinya binggung.
"Saudara..? Anakmu bersama dengan pria itu..?"
"Iya, tidak ada yang harus ditutupi bukan..? Sudah jelas bahwa ayahnya Aluna sudah tiada, jadi aku akan mengakuinya. Ini anakku bersama dengan pria itu."
Sungguh! Andara tak habis pikir dengan Aliya yang bahkan, terang-terangan membawa putranya ke rumahnya. Karena, Aliya sudah mendatangi rumah Pratmana namun, rumah itu kosong.
"Aluna, kenalkan ini saudaramu," ujar Aliya dengan lembut mulai menarik putranya namun saat putranya Aliya menoleh, hal itu membuat Aluna terpaku.
"Andrew..?" lirih Aluna dengan mulai berjalan mundur yang membuat Andara dan Aliya saling pandang.
"Kalian saling kenal..?"
"Dia Aluna, ma. Mantan kekasihku yang sangat gampangan," cibir Andrew membuat Aluna terdiam beberapa saat.
"Gampangan bagaimana..?"
"Ya jelas. Dia sama cowok lain, sama Arlangga tuh enak banget pacaran, padahal statusnya masih kekasih Andrew, jelas kan? Dia cewek gampangan."
PLAK!!!
"TIDAK USAH MEMUTAR BALIKKAN FAKTA, SIALAN!" jerit Aluna dengan menampar pipi Andrew itu justru membuat Aliya dan Andara semakin binggung!
"Gampangan..? KEMANA AJA KAMU PAS AKU DIBULLY?! KEMANA AJA KAMU PAS AKU NYARIS DIBUNUH SAMA MEREKA?! KEMANA AJA KAMU PAS AKU LAGI BUTUH KAMU?! KAMU BILANG AKU GAMPANGAN, PADAHAL JELAS-JELAS AKU LIAT KAMU BERCUMBU DENGAN GADIS-GADIS ITU! DAN KALIAN BERKERJA SAMA MENINDASKU!"
"Aluna! Apa maksudmu?!" sela Aliya dengan tatapan marah.
"Maksudku..? Kenapa bunda harus melahirkan bajingan sepertinya?! Dia laki-laki yang tidak bisa menghormati perempuan!" jerit Aluna dengan mata memerah menahan amarah.
"ALUNA! JAGA UCAPANMU ANAK SIALAN!"
"KENAPA AKU HARUS MENJAGA UCAPANKU KEPADA LAKI-LAKI YANG TELAH MENJAMAH TUBUHKU?! KENAPA?! DENGAN BANGGANYA DIA MELIHAT AKU DILUCUTI DAN DENGAN TERTAWA BAHAGIA DIA MELAKUKANNYA! MENYEBAR VIDEO YANG IA REKAM DAN IA MENGATAKAN AKU YANG MURAHAN?! GAMPANGAN?! BAJINGAN SIALAN! BAHKAN KAU MERUSAK GELANG TERAKHIR PEMBERIAN MAHENDRA DAN JANGAN LUPAKAN CINCIN PEMBERIAN MELATI YANG KAU JADIKAN LIMA BAGIAN!!!! TAK HANYA ITU.. KAU DAN GADIS-GADIS SIALAN ITU JUGA MENARIK KALUNG PEMBERIAN KAK ARLANGGA SAMPAI PUTUS! APAKAH MASIH ADA KATA-KATA YANG AKAN KAU UCAPKAN SETELAH INI, ANDREW?!"
__ADS_1
Hening.
Aluna berhasil meluahkan semua rasa sakit yang ia simpan namun, Aluna lupa bahwa kondisinya semakin hari semakin buruk.
Aliya yang mendengar itu hanya terdiam. Ia termenung dengan memandangi putrinya yang menahan tangis. Nafasnya tersengal-sengal. Air mata mulai bercucuran deras sehingga membuat darah mulai mengalir namun, Aluna abai. Sedangkan Andara, ia masih mencerna apa yang terjadi dihadapannya sekarang.
"Ma, itu dia kenapa..?"
"Diam kamu! Kamu menindasnya?!"
"I - iya ma.. Bahkan sampai ─"
"Sampai apa?! Sampai apa, Andrew?!"
"Aku hanya mendukung orang yang menindasnya, membuat sahabatnya membencinya, memaksanya makan makanan anjing, menghasut yang lain agar memaksa Aluna memakan muntahannya sendiri, memerintahkannya agar bersimpuh dan.."
PLAK!
"Kamu manusia kan..? Kamu punya hati..? Apakah saya pernah mengajarimu bersifat sebajingan ini?! Dan menjamahnya..? Kau sangat bangga?! Bahkan untuk binatang, kamu lebih rendah sekarang!" maki Aliya membuat Andrew terdiam seribu bahasa.
"M - memaksanya... M - memaksanya dan m - mencekoki Aluna pakai... Cairan pembersih.. Pas dibawa waktu itu ga ada yang diberi tau.. Y - yang Aluna koma hampir 3 bulan, om.."
DEG!
Tak punya hati. Hanya itu kata yang pantas untuk Andrew. Cairan pembersih.. Apakah masih kayak Andrew dan teman-temannya disebut sebagai manusia??
......................
Semua bergeming tatkala Aluna mendekat ke arah Andrew dan mulai tersenyum tipis.
"Kamu sama bunda harus bahagia ya..? Agar hancurku ga sia-sia.. Jangan lupa jagain bunda karena aku cuma anak yang ga pernah diharapain bunda. Jagain bunda.. Jangan sampai bunda nangis, karena ─"
Brugh!
__ADS_1
"Aluna!" seru Andara dengan sigap menangkap tubuh Aluna yang terjatuh pingsan tepat dihadapan Andrew. Sedangkan Andrew, ia mematung dan tak menyangka bahwa yang ia lakukan selama ini menyiksa Aluna.
Disamping itu, Aliya menyeret Andrew pergi dari sana sedangkan Andara.. Ia mulai melarikan Aluna ke rumah sakit dengan segera karena Aluna sempat memuntahkan darah saat sadar beberapa menit lalu.
"Aluna, sayang.. Kamu denger papa kan?!"
Aluna hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia mengedarkan pandangannya dan dengan setengah kesadarannya, Aluna hanya bisa menurut saat ia dilarikan ke ICCU dan diberikan pertolongan pertama.
Sagara hilang harapan kala jantung Aluna melemah terus-terusan namun, Aluna masih berjuang untuk tetap hidup.
Setelahnya, Sagara keluar dari ruangan untuk menemui Andara yang tengah cemas dengan keadaan Aluna didalam sana.
"Gimana keadaannya?" tanya Andara dengan cepat membuat Sagara menepuk kedua bahu Andara sembari menatap mata Andara dengan lekat
"Saya tau bagaimana perasaanmu, kak.. Tapi maaf, jantung Aluna dan ginjalnya.. Rusak, besar kemungkinan hidupnya terancam, waktu yang tersisa tidak banyak, kak," sahut Sagara nyaris membuat Andara lemas dilantai namun, Sagara menahannya.
Seolah dunia Andara terhenti. Ia seharusnya bisa menjaga putri Pratmana sesuai dengan pesan Pratmana sebelum bertugas namun, sepertinya ia gagal. Gagal menjaga putra dan apakah ia juga akan gagal dalam menjaga putri Pratmana yang rapuh itu?
Andara kali ini benar-benar mematung menatap nanar Aluna yang tengah terbaring tak berdaya. Andara perlahan-lahan mulai mendekati bed Aluna dan mulai duduk disampingnya.
Seolah-olah rasanya sangat berbeda kala ia mendekati Aluna karena, secara tiba-tiba ia merasakan seolah putranya tengah berada didekatnya.
"Aluna, apakah putra saya terlalu menyayangimu..? Karena sepertinya dia tidak melepaskanmu sampai saat ini.. Kamu lelah? Kalau memang kamu lelah, kamu boleh istirahat, sayang."
Rela ataupun tidak, Andara sudah melepaskan Aluna sebelum ia akhirnya akan menerima kenyataan yang menyakitkan untuk melepas diwaktu yang singkat. Ia tak ingin membuat Aluna tersiksa lebih lama lagi. Ia hanya ingin Aluna bahagia dengan hidupnya tanpa siksa yang akan menghiasi raga dan jiwanya.
"Arlangga.. Lepaskanlah rembulanmu dari jerat dan jangan terlalu lama mengikatnya dengan rasa rindu yang menikamnya. Arlangga.. Lepaskanlah cintamu.. Lepaskanlah dan terbanglah bebas ke nirwana bersama malaikat yang kau rindukan.."
Tak terasa air mata Andara berjatuhan dan saat ini, ia mulai menahan agar tangisannya tidak pecah walau hatinya membuncah. Menahan rasa luka yang luar biasa sakitnya dan harus melepaskan anak yang dipercayakan kepadanya lagi dan lagi.
"Semua perasaan jahat itu telah menghilang, Aluna.. Jangan terus terjerat siksa akan rindu semestamu.. Lepaskanlah ia seperti engkau melepaskan kepergian perisai dan malaikat-malaikat kacilmu dalam lautan lepas itu."
"ALUNA, BUNDA MINTA MAAF!"
__ADS_1
To be continue!