
Sesampainya pada gedung, Andara dengan segera memasuki gedung tersebut dan terkejut setengah mati kala melihat Aliya sudah berada digedung tersebut dengan membawa sebuah belati untuk jaga-jaga walau, Andara sebenarnya tau bahwa Aliya bisa menikamnya dengan pisau saat itu juga.
"Aliya, kamu jangan seperti ini!" seru Andara dengan memberanikan diri mendekat.
"Tau apa kau sialan?! Bahkan jika saat ini aku membunuhmu, itu tak akan membuat amarahku hilang!"
"Kendalikan dirimu."
Mendengar itu, Aliya merasa muak. Bahkan ia melemparkan sebuah pisau dan untung saja Andara dapat menghindar. Pisau yang tepat tertancap pada dinding. Andara terdiam. Ia memandangi Aliya dengan seksama dan mulai menghela nafasnya gusar. Ia tak tahu harus bagaimana lagi! "Ingat Aluna. Dia membutuhkanmu," lirih Andara namun, tak didengar oleh Aliya.
Andara tergopoh-gopoh saat melihat tingkah gila Aliya yang terus mengancamnya dengan senjata tajam. Mata merah menahan amarah yang dapat meledak kapanpun juga.
"Aliya sadar! Kamu tidak kasihan dengan anak-anak dan suamimu..? Apakah kamu fikir pelampiasan sesungguhnya adalah dengan cara seperti ini?! Tidak!" sergah Andara dengan menepis pisau dan memegang kedua pundak Aliya.
"Kamu tau apa?! Kamu cuma orang asing yang gatau apa-apa soal kehidupanku! Kamu tau..? Andaikan saja ibuku tidak mati terbunuh mungkin saja aku tidak akan seperti ini! Andai saja kedua orang tuaku tidak terbunuh malam itu.. Mungkin saja aku akan menikah lagi setelah diceraikan dan ditinggal mati!"
"Aliya. Saya adalah seorang laki-laki yang memiliki hati. Kamu tau apa..? Andai saja orang tuamu tidak terbunuh malam itu? Lantas.. Mengapa kau tak mengatakan saja andai kamu tidak mencoba aborsi Aluna mungkin orang tuamu masih bisa kau selamatkan! Semua hanya karena keegoisan dan ketidaksiapan kamu dalam menjalani hukuman yang kamu perbuat sendiri."
"Andara.. Apakah kau tau rasanya jadi aku?! Aku ditinggal oleh kedua orang tuaku dan kau masih menyalahkan aku?!"
"Lantas saya harus menyalahkan siapa..? Pratmana? Saya justru hanya akan bertanya.. Apakah kamu mengerti rasanya menjadi putrimu..? Bukan membandingkan hanya saja, bayangkan sebejat apa kamu dalam menyiksanya! Bayangkan gadis belia sepertinya harus berjuang karena keegoisan sang ibunda yang tak ingin mengerti dan hanya ingin menang sendiri."
Hening.
Aliya bergeming dengan mulai memberontak saat Andara mencoba menuntunnya keluar agar tak terbawa suasana dan pikiran gilanya.
"Lepaskan aku sialan!" umpat Aliya dengan mulai mendorong tubuh Andara sekuat tenaganya dan mengambil batu lalu..
BUGH!!!
Batu itu dilemparkan ke kepala Andara sehingga membuat Andara seketika pingsan ditempatnya. Tak sampai disana, Aliya juga menargetkan Mawar, putrinya Andara sebagai korban selanjutnya setelah ia puas memberikan pelajaran kepada Andrean dirumah.
Saat ini Mawar tengah berada didalam sekolah. Menjalani hari seperti biasanya namun, hal yang sangat mengherankan adalah Aliya yang tiba-tiba berada disana, "Tante ngapain?" tanya Mawar meminta penjelasan.
__ADS_1
"Ikut tante yuk? Papa kamu sama tante," sahut Aliya diangguki cepat oleh Mawar karena memang, Aliya itu sahabatnya Andara. Jadi mudah-mudah saja jika Aliya ingin membawa Mawar.
Mawar dimasukkan mobil. Aliya mulai melajukan mobilnya dan membawa Mawar ke tempat dimana Andara disekap dan setibanya disana, Mawar seketika membeku kala Aliya memaksanya masuk dan mengikatnya pada sebuah kursi.
"Tante ngapain?!"
"Diam! Kamu diam.. Atau saya bunuh..?"
"Enggak! J - jangan bunuh aku, tan.. Aku masih mau hidup!"
"Jadi kamu diam saja ya..? Kalau kamu teriak, saya bunuh."
......................
Aluna tengah termenung didalam ruangan bersama dengan Sagara yang bolak-balik karena sudah dari kemarin Andara tak kunjung kembali dari tempat tersebut. Bahkan, tak ada kabar sama sekali dari Andara.
"Paman, papa kemana..?" tanya Aluna membuat Sagara hanya menggelengkan kepalanya.
"Bunda sakit apa?"
"Sakit hati."
Aluna hanya ber-oh ria saja. Ia hanya mencemaskan keadaan Andara yang tak kunjung kembali dari kepergiannya bahkan, Mawar juga tak ada kabar sama sekali apalagi Reno, Aluna tak mendapatkan kabar dari Reno sejak lusa kemarin dan hari ini justru Andara juga Mawar turut menghilang. Bagaimana bisa Aluna tidak heran?
Disisi lain, Reno tengah duduk bersama dengan kedua orang tuanya berada disebuah taman dan Reno terlihat sangat lesu bahkan, ia hanya bisa termangu kala wanita paruh baya mulai menyentuh bahunya, "Nak, kamu kenapa?" tanya wanita itu membuat Reno terhenyak.
"Ma, apakah salah apabila Reno mencintai gadis yang sudah mati dalam keadaan hidup?" tanya Reno membuat teka-teki untuk mamanya.
"Kamu mencintai siapa sayang..?" tanya mamanya dengan mengusap lembut surai putranya.
"Dia.. Aluna, ma. Reno mencintainya sejak lama namun, sahabat Reno yang mendapatkannya. Reno juga tak mengerti bagaimana caranya Reno mengucapkan rasa cinta ini, Aluna juga pastinya tidak akan menerima karena ia milik sahabat Reno, Arlangga. Reno tidak ingin persahabatan ini terpecah walau Reno tau Arlangga sudah tiada namun, ia tentunya tetap akan ada dihatinya Aluna kan? Gadis yang sangat cantik. Lugu. Manis. Lucu. Senyumannya membawa bahagia namun, air matanya.. Air mata luka."
"Tidak ada salahnya jika kamu mencintai seseorang nak, karena seorang laki-laki juga harus mengetahui rasanya berjuang tanpa memiliki. Karena.. Laki-laki sejati adalah laki-laki yang tak akan pernah menyakiti gadis yang ia cintai hanya karena obsesi ingin memiliki, nak."
__ADS_1
Reno hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti lalu, ia memutuskan untuk pergi menemui Aluna dirumah sakit seperti biasa dengan membawakan bunga tulip dan tak lupa dengan ia membawakan dress kesukaan Aluna yang berwarna merah.
Sesampainya, Reno langsung menuju ke ruangan Aluna dan tersenyum kala Aluna sudah mulai bisa ceria dan bercerita seperti dulu kala.
"Aluna, gua bawain bunga nih," ujar Reno dengan tersenyum simpul.
"Terimakasih, kak.. Bunganya sangat cantik!" seru Aluna dengan menerima bunga tersebut dan tersenyum kala bunga itu sudah ia susun rapi didalam pot.
"Suka bunga kan? Jadi setidaknya lo bertahan demi apa yang lo suka."
"Ehm, iya kak."
Aluna mulai mengedarkan pandangannya dan berlarih memandangi Reno yang tengah menatap dirinya dengan lekat dan penuh tanda tanya, "Lo mikirin apa?" tanya Reno cepat membuat Aluna terhenyak.
"Papa sama Mawar dari kemarin ga kesini ga pulang juga entah kemana. Aku cuma takut papa kenapa-kenapa," sahut Aluna dengan menghela nafasnya gusar
Reno bergeming. Ia mulai menyimpulkan bahwa Andara itu bukan pergi, hanya tak bisa keluar karena terakhir kali ia mendengar Andara mengatakan bahwa ia akan menemui Aliya yang tengah menggila digedung. Mungkin alasan Andara tidak ke rumah sakit adalah Andara menenangkan Aliya. Namun, Kemana perginya Mawar?
Reno bergulat dengan pikirannya sendiri. Bahkan, Aluna saja binggung melihat Reno yang menggeleng-gelengkan kepalanya tiba-tiba entah apa yang dipikirkan oleh orang itu.
"Kak Reno kenapa?" tanya Aluna polos.
"Bukan apa-apa kok, nanti juga om bakal kesini sama Mawar kalau udah ga sibuk, positive thingking aja kalau mereka lagi sibuk," ujar Reno jelas-jelas saja membuat Aluna pusing karena memang, Aluna sedari tadi juga diam saja.
"Kakak kenapa?"
"Ah, gapapa. Lupain aja, anggap gua ga ngomong."
Kan? Cangung. Dasarnya memang mereka juga penasaran jadi, Aluna terperanjat dan memutuskan untuk mencoba bangkit dari bednya. Ia mulai meluruskan kaki dan berjalan. Tak lupa Aluna memakai dress berwarna merah yang Reno bawakan untuknya. Jadi, terlihat elegant.
"Lo yakin gak mau lakuin ini?"
To be continue!
__ADS_1