Dua Insan

Dua Insan
Harus pulang kemana?


__ADS_3

Suara itu membuat Aluna tertoleh. Ia menatap Sagara dengan seksama. Ia terkejut kala melihat Sagara yang kebetulan sekali sedang tidak mengenakan pakaian dinas.


"Paman sejak kapan disini?" tanya Aluna lirih membuat Sagara terkekeh pelan.


"Saya boleh duduk? Saya ceritakan sesuatu."


"Boleh kok, kenapa tidak? Paman duduk saja, tapi ga keberatan kan duduk sama Aluna..?"


"Untuk apa? Yasudah saya duduk ya," ujar Sagara dengan berjalan mendekati Aluna dan duduk disamping Aluna.


"Ada apa.. Paman?" tanya Aluna dengan menatap penasaran ke arah Sagara.


"Tapi janji setelah kamu mendengar ini.. Jangan marah ataupun kecewa..?"


"Aluna.. Janji, paman."


Terlihat sekali Sagara dengan susah payah menghela nafas dengan gusar. Matanya tersirat rasa takut dan kesedihan yang cukup mendalam.


"Beberapa tahun silam, kedua orang tuamu, orang tua Arlangga dan saya adalah sahabat yang baik hanya saja.. Aliya memiliki gangguan jiwa yang kerap bertingkah seperti seorang pembunuh. Tak hanya itu, dulu Aliya nyaris membunuh Anindia, mamanya Arlangga hanya karena ia tidak terima bahwa Andara mencintai Anindia.. Ya jelas, kita semua juga pura-pura tidak tau agar Aliya tidak gila. Dengar kabar.. Malam setelah Andara menolaknya, dia melemparkan vas bunga kepada amma kamu sampai nenekmu pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Aliya diikat didalam kamar sampai hari minggu oleh appa kamu.."


"Saat hari minggu, Pratmana sengaja menemui Aliya duluan. Dia memang yang sangat berarti dipertemanan hanya saja.. Aliya gak sadar karena Pratmana mencintainya begitu dalam. Hari itu, Pratmana nyatain perasaannya ke Aliya dan diterima baik. Dan saat itu.. Aliya sedang mengandung kamu 2 minggu. Aliya sangat kukuh ingin mengugurkan kamu tapi, Pratmana langsung menikahi Aliya 2 hari setelahnya. Kamu tau..? Perjuangan cintanya Pratmana itu membuat semua orang salut. Bahkan, Andara sering liat Aliya abai sama Pratmana sejak hamil kamu.. Aliya bisa menempel dengan Pratmana. Sifatnya menjadi manja seperti anak kecil walau.."


"Dia selalu mau gugurin kamu dengan cara apapun."


DEG..

__ADS_1


Jantung Aluna serasa terhenti namun, ia mencoba biasa dan kembali mendengarkan Sagara agar semua jelas dan titik terangnya dapat ditemukan.


"Aluna, ada yang sakit lagi?"


"Tidak, tidak ada. Lanjutkan saja ceritanya, paman."


Sagara mengangguk. Ia menurut karena memang, ia sudah terlalu lama memendam masalah ini begitu lama. Apalagi pasca kejadian yang kelam itu membuatnya takut bertemu dengan Aluna karena ia tidak tega melihat anak yang selalu hendak digugurkan ternyata bisa sekuat itu.


"Singkatnya, Pratmana selalu gagalin rencana itu dan tenangin Aliya yang histeris ketakutan karena ulahnya sendiri. Ia berkata hanya ingin mengugurkan kamu karena... Dia selalu teringat kesalahan yang ia perbuat saat mabuk. Bahkan, hanya semalam. Namun, dengan tegar Pratmana berkata yang tengah dikandung oleh Aliya adalah anaknya. Jadi, keluarga tidak mempermasalahkan hal itu. Sampai saat nikah, Pratmana tidak menyentuh Aliya sebelum kamu lahir karena dia takut akan menyakiti kamu dan bundamu.."


"Pas kamu lahir, Aliya sama sekali tidak menyentuhmu dan yang memberi nama kamu waktu itu adalah Pratmana. Dia selalu berusaha membuat kamu bahagia dan ia juga selalu bersama dengan Aliya. Sampai tiba dimana adik-adik kamu dilahirkan namun, dititipkan ke kamu karena Aliya kena baby blues akibat tekanan dari pergaulannya. Ya jelas. Pergaulan Aliya adalah dengan para perempuan free child. Mereka tidak pedulikan anak dan tidak ingin memilikinya. Namun, Ya.. Kamu merawat adik-adik kamu dengan baik walau..."


"Kamu pernah hampir melompat dari jurang dengan sekujur tubuh kamu yang lebam."


Aluna hanya mendengarkan penuturan Sagara dengan seksama. Meski ada beberapa kalimat yang mebuatnya merasa sakit namun, ia juga paham. Tak ada perempuan yang menginginkan anak sebelum menikah.


Tak terasa air mata Aluna menetes begitu saja. Entah mengapa meski ia mencoba biasa, hatinya tetap merasa sakit. Aluna hanya meremas baju yang ia kenakan untuk menyalurkan rasa sakitnya.


"Aluna, kamu..."


"Nangis aja, gapapa.. Saya ga akan larang kamu nangis, seharusnya kamu bilang saja apabila tidak sanggup mendengarkannya, apa ada yang sakit? Katakan saja jika ada Luna, anggap saya sebagai orang tua kamu, saya tidak masalah."


Aluna hanya menggelengkan kepalanya. Bagaimanapun, rasa sakit yang seketika membuncah itu tak mungkin akan dicegah ataupun air matanya tak mungkin ia tahan begitu saja. Dadanya terasa sesak.


"Lanjutkan saja ceritanya. Aluna mau dengar apa yang terjadi dengan semestanya Aluna saat hilang ingatan, dulu.." pinta Aluna dengan tersenyum simpul.

__ADS_1


Sagara hanya meghela nafasnya gusar. Sejujurnya ia sangat takut apabila nanti tiba-tiba Aluna tidak bisa menerima pernyataan dan perkataannya.


"Setelah hilang ingatan.. Arlangga menjadi pribadi yang lebih dingin, kasar, bahkan tak peduli dengan siapapun dan dalam ingatannya hanyalah ada Anindia. Setelahnya, Arlangga selalu tidur ditempat yang terbilang seram. Seperti rumah kosong, gedung tua. Sering ditemukan mabuk-mabukan dan saat mengamuk, ia akan pergi ke tempat tanpa arah.."


"Dulu, Arlangga sempat menulis sebuah buku. Dan saat hilang ingatan, buku itu ia bakar. Dan dia terjun ke dalam dunia malam. Dunia yang jelas-jelas membahayakannya.. Arlangga juga menjauhi adiknya sendiri. Ia selalu menunggu kepulangan Anindia yang wajahnya memang mirip dengan kamu, dia dulunya adalah remaja yang cukup aktif namun, seriring berjalannya waktu.. Semua itu ga berguna. Gagal ginjalnya semakin buruk dan membuat keadaannya parah.."


"Dia bisa tersenyum karena kamu saja, saya dan yang lain sudah bahagia namun.."


"Dia pernah mencintai gadis lain. Walau setelah itu.. Gadis itu mengkhianatinya."


Hening. Aluna bergeming mendengar penuturan Sagara yang membuat hatinya terasa sakit lagi dan lagi. Air matanya lolos tanpa aba-aba dan hal itu membuat Sagara hanya bisa menunggu Aluna menjelaskan perasaannya.


"Apakah karena itu semua.. Kak Arlangga jadi menderita..? Apakah karena itu dia harus selalu memeriksa kesehatan jiwanya dengan Aluna setiap minggu..?" tanya Aluna dengan cepat.


"Tidak, Aluna. Kejiwaan Arlangga memang sudah terguncang sedari dulu hanya saja.. Semua telat menyadari hal tersebut. Bahkan, saat Arlangga tau kamu mengidap itu.. Dia selalu bersikeras menyembuhkan dirinya agar tidak membuatmu semakin sakit nantinya."


"Apakah mama benar-benar mirip dengan Aluna..?"


"Iya. Sangat mirip. Bahkan, kemiripan kalian sangat banyak. Dari tingkah laku, penuturan dan sifat kamu yang penyayang mirip dengannya. Maka dari itu, Arlangga terkadang memanggilmu mamanya. Karena semirip itu, Aluna."


Aluna lagi dan lagi bergeming. Rasa rindu yang membuncah, pecah. Malam ini adalah malam dimana Aluna mengetahui segalanya dan hanya ada satu kata. Ia harus mencoba menerima apapun resikonya dalam mencoba untuk mencari Andara dan Mawar. Karena ia yakin. sang ibunda lah yang melakukan semua ini.


"Paman.. Apapun yang terjadi nanti.. Ikhlaskan Aluna ya..?"


To be continue!

__ADS_1


__ADS_2