Dua Insan

Dua Insan
Akhir dari segalanya


__ADS_3

Hanya ada rasa takut untuk saat ini, Reno hanya takut akan kehilangan Aluna, rembulannya itu. Namun, karena keputusan sudah bulat, Aluna dan Reno memutuskan untuk mengunjungi tempat dimana Andara disekap sesuai informasi yang diberikan oleh Sagara.


Sesampainya digedung yang dimaksud, benar saja. Aluna dan Reno dicegah masuk jadi, mereka harus tembak-menembak dan bertengkar dengan para penjaga itu.


Cukup lama, hingga akhirnya Aluna sengaja mengambil sebuah pistol lalu dengan lihai menggunakan pistol tersebut dan melemparkan sembarang saat pistol itu habis peluru.


"Kalau gak kuat, bilang gua ya?"


"Iya kak, tenang aja ya."


Reno mengangguk dan tersenyum simpul saat mereka berhasil menemukan tempat yang sesuai. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke lantai akhir gedung tersebut. Lantai 5 yang cenderung digunakan untuk menjadi tempat persembunyian.


"PAPA..!! PAPA...!!" teriak Aluna membuat Aliya terkejut setengah mati. Pasalnya, ia tak tau bahwasan Aluna bisa senekat ini.


"Ngapain kamu ha?!"


"B - bunda...? Bunda kenapa sekap papa Andara..? Selesaikan baik-baik semua masalahnya, bunda.. Jangan seperti ini..," lirih Aluna membuat Aliya berdecih geli lalu mendekatinya.


"Apa urusanmu ha? Anak sialan sepertimu tidak mengerti apa-apa jadi jangan ikut campur! Bocah bau kencur sepertimu tau apa? Kamu hanya masalah untukku! Kamu tau...? Aku melahirkanmu itu saja sudah menyesal! Aku menyesal melahirkan anak tak berguna sepertimu.. Dan aku menyesal karena menikah dengan Pratmana."


"Lantas.. Untuk apa bunda menerima ayah apabila menyesalinya? Buka hati bunda.. Semua yang bunda lakukan ini menyiksa mereka, mereka tidak tau apa-apa bunda.. Obsesi bunda menghancurkan semuanya. Dan sekarang..? Bunda akan seperti ini sampai kapan? Bunda, ayo kembali.. Aluna akan rawat bunda dan Aluna akan ─"


PLAK!!!


Tamparan yang kuat itu membuat Aluna tertoleh dan pipinya terasa panas. Bahkan, sudut bibir Aluna berdarah. Sedangkan Reno, ia tengah mencoba melepaskan Andara namun, ia juga terkena pukulan dari belakang. Sial sekali karena Andrew dan 6 anak yang merundung Aluna juga berada disana.


"Tutup mulutmu! Aku tidak membutuhkan bualanmu yang membuatku muak! Aku tidak butuh semua perhatian dari anak sepertimu dan untuk semua itu... Kau tau apa? Kamu hanyalah anak yang tak pernah aku inginkan! Anakku hanya Andrew. Hanya Andrew dan menantuku hanya Alice. Hanya mereka dan kamu... Aluna? KAMU HANYALAH ANAK HASIL HUBUNGAN SATU MALAMKU DENGAN ORANG LAIN DAN KAMU ANAK YANG TAK PERNAH DIHARAPKAN SIAPAPUN! HANYA SAJA PRATMANA YANG BODOH ITU MAU MERAWATMU!"


DEG...!!


Hati Aluna seolah tertusuk ribuan jarum. Tutur kata Aliya itu membuat hati Aluna layaknya diremuk-remuk. Walaupun itu benar, apakah dia harus sebenci itu dengan putrinya sendiri?


"Dan kamu cuma anak yang menyusahkan! Kamu tidak pantas hidup, Aluna!"


"Jika memang seperti itu.. Aku akan menyerah demi bunda, Bunda.. Boleh peluk Aluna, 1 menit saja..? Aluna ingin tau rasanya didekap mesra oleh sosok ibunda yang melahirkan Aluna," pinta Aluna dengan tersenyum simpul.


"Aku tidak sudi," tampik Aliya lalu pergi meninggalkan Aluna.


Aluna mulai berlari memasuki ruangan yang dimana Andara ada disana dengan Mawar yang diikat pada kursi. Tubuhnya lebam-lebam, banyak sayatan-sayatan yang membuat Aluna bergidik ngeri melihatnya.


Aluna berlari lalu mendekap erat Andara dan menangis sejadi-jadinya. Menangis dan meluahkan semua rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Perasaannya terluka padahal, ia hanya ingin didekap oleh sang ibunda yang melahirkannya.


"PAPA..!! PA, AYO KELUAR DARI SINI! ALUNA DATANG UNTUK JEMPUT PAPA, ALUNA DATANG UNTUK PAPA DAN MAWAR, PAPA.. TANGAN PAPA KENAPA?!"


"Aluna.. Papa tidak apa-apa sayang, hanya sedikit tergores, Kamu kemari bersama siapa, Aluna..?"


"Reno, pa.. Ayo keluar.. Kita keluar ya..?"


"Iya, nanti kita akan keluar nak, kita keluar sama-sama ya, Aluna harus janji gak boleh sakit-sakit lagi setelah kita keluar.. Aluna harus bahagia ya?"

__ADS_1


"Aluna akan bahagia. Aluna selalu bahagia. Pa.. Aluna sayang papa."


......................


Suasana hening kala air mata Aluna menetes terus menerus dan setelah melepas ikatan pada Mawar dan Andara, Aluna sengaja melindungi mereka sesuai tujuannya ke tempat itu, menyelamatkan Andara dan Mawar.


"Mawar, kamu gapapa sayang?" tanya Aluna dengan menelusuri tubuh Mawar jaga-jaga apabila ada yang terluka.


"Tidak ada yang terluka, kak. Aku baik-baik saja, terimakasih."


Aluna tersenyum manis. Ia lega akhirnya penantiannya tak sia-sia lagi. Walau begitu, Aluna tak bisa keluar dari sana. Apalagi saat hendak beranjak, Aliya langsung melempar Aluna ke sebuah kamar mandi. Aliya mengunci kamar mandi tersebut dan mendorong tubuh Aluna kuat sehingga kepalanya terbentur bathup.


"SUDAH AKU KATAKAN JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU, SIALAN! APAKAH SEBENARNYA KAU TIDAK MENGERTI BAHASA MANUSIA?! AKU HARAP KAU MATI SEKARANG! KARENA KELAHIRAN DAN KEHIDUPANMU TAK PERNAH AKU HARAPKAN! DENGAR BAIK-BAIK ALUNA!"


Aliya mulai mencekram dagu Aluna kuat dan memepetkan tubuh Aluna pada tembok kamar mandi tersebut, "Lebih baik kamu mati dibandingkan berada disini!" kecam Aliya membuat Aluna hanya tersenyum dan tertawa tanpa suara.


"Bunda.. Aluna juga ga pernah minta dilahirkan, sama sekali Aluna tidak memintanya.. Ini semua sudah takdir dan bunda harus menuai apa yang bunda tanam, jangan menyalahkan Aluna karena Aluna tidak tau apa-apa.."


"DIAM! BERHENTI TERSENYUM, SENYUMANMU MENJIJIKKAN! KAMU MEMBUATKU MENGINGAT BAJINGAN ITU, KENAPA KAU HARUS MIRIP DENGAN ANINDIA?!"


"Aku juga mirip dengan bunda.. Bukan hanya dengan mama kak Arlangga."


"JANGAN BERBICARA LAGI!"


***BUGH!!


CPLASH!


PLAK!!


"Kau masih bisa tersenyum?! Berhenti tersenyum! Aku membencinya!"


"Bunda... Bunda jaga diri baik-baik ya..? Aluna ga mungkin nangis didepan bunda karena Aluna ga akan pernah bisa lihat bunda sedekat ini, bunda ga akan pernah sentuh Aluna kaya gini, Aluna rela mati ditangan bunda asalkan.. Setelah ini bunda jadi lebih baik ya..? Jangan gunakan sisa hidup bunda dengan penyesalan dan diusia Aluna yang 19 tahun ini.. Bolehkah Aluna minta sesuatu..?"


"Bunda diam artinya boleh kan..? Aluna mau dipeluk bunda, peluk Aluna erat ya bunda..?"


BRAK!!


Pintu kamar mandi itu didobrak oleh Reno dan Andara langsung menggendong Aluna keluar kamar mandi tersebut. Sedangkan Reno, dia menatap tajam ke arah Aliya. "Setidaknya dia masih putrimu. Seorang binatang saja mencintai anaknya, apakah seorang manusia tidak mampu untuk berbelas kasih kepada putrinya?" ucap Reno dengan tatapan yang tajam lalu meninggalkan Aliya disana.


Andara terus menerus berusaha agar Aluna tidak merasa sakit namun, lebam disekujur badannya itu sudah jelas tampak menyakitkan.


Aliya keluar dari tempat tersebut dan mengambil pisau lalu mendekat ke arah mawar. Ia mengambil sebuah celah dan...


JLEB!


Hening. Semua bergeming dan mematung melihat Aluna yang bangkit dan mendorong Mawar sehingga ia yang tertusuk pisau tersebut.


"KAK ALUNA..!!!!!" jerit Mawar histeris kala melihat Aluna yang mendorongnya dan mengorbankan dirinya sendiri.

__ADS_1


"ALUNA..!!!!" teriak Reno dengan sigap menangkap tubuh Aluna. Menopang tubuh yang lemah itu, dan membiarkan darah Aluna mengenai dirinya.


Sedangkan Aliya, ia mematung ditempatnya. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia membuang pisau dan berlari dari gedung dengan 7 orang lainnya.


"Aluna.. Lo denger gua kan..? Aluna!" teriak Reno terus menerus dengan menunggu ambulans menjemputnya.


Perlahan, tangan Aluna bergerak dan mulai mengulas senyuman simpulnya. Mengenggam erat tangan Reno dan darah yang dimuntahkan oleh Aluna membuat Reno merasa sakit.


"K - kak... A - aku.."


"Diem! Gua gamau lo ngomong aneh-aneh, Aluna! Yakin kalau lo gapapa! Kita hadapi sama-sama dan yakin kalau bisa.. Oke..? Gua yakin lo kuat!"


"K - kak.. J - jagain papa sama Mawar ya..? A - aku gabisa tepati janji.. T - terimakasih karena kakak udah temani aku.. Terimakasih karena kakak sudah ─"


"Sakit, kak..."


"Mana yang sakit sayang..? Bilang, ayo bilang mana yang sakit...? Sayang..."


"K - kak.. Semua sakit... A - aku boleh minta sesuatu..?"


"Iya! Bilang semuanya, apapun itu, Lun... Apapun!"


"P - papa.."


"Iya sayang? Kenapa?! Apa yang sakit? Minta apa?!"


"A - Aluna minta tolong... N - nanti papa gendong Aluna ke rumah baru Aluna, ya..? N - nanti... Aku mau disamping kak Arlangga.."


"K - kak Reno.. Aku cuman mau minta.. P - peluk aku.."


Grep!!


Reno memeluk erat tubuh Aluna dengan isakan yang lolos dari bibirnya. Tangisan yang menyayat hati karena cintanya telah seperti ini.


Tak ada yang menyangka, bahwa akhir dari kehidupan Aluna adalah dari sang ibunda yang selalu ia dambakan.


"T - terimakasih karena telah mencintaiku, k - kak.. Aku pamit, kalau ada kehidupan selanjutnya.. A - aku harap kita bisa bersama.. Pa, Mawar.. A - Aluna sayang kalian.."


"ALUNA, JANGAN BILANG GINI! AYO KITA KELUAR, AMBULANSNYA SEBENTAR LAGI SAMPAI, GUA GA MASALAH CINTA GA TERBALAS TAPI TOLONG BERTAHAN LAGI..! GUA MAU LO BAHAGIA, ALUNA..!!! LO DENGER GUA KAN?! LUNA..!!!! GAK, ARLANGGA LO GAK BOLEH BAWA ALUNA! JANGAN BAWA ALUNA PERGI, ALUNA, BANGUN! GUA GAMAU DITINGGAL, ALUNA BANGUN! INI SEMUA COBA BOHONG KAN?!" teriak Reno histeris dengan terus mengguncang tubuh Aluna yang sudah jelas-jelas tak bernyawa.


"LUNA, BANGUN! GUA GAMAU DITINGGALIN LO! GUA GA PEDULI SOAL PERASAAN TAPI GUA MOHON, LO BANGUN, ALUNA!"


Hening. Mawar dan Andara menangis dalam diam, menahan rasa sakit dalam hatinya yang membuncah. Mendengarkan Reno yang berteriak karena kehilangan cintanya dan langit seketika gelap seolah-olah merasakan duka yang sama.


"Aluna... Gua harap lo bahagia atas pilihan lo dan makasih karena udah jadi penghangat kehidupan gua, makasih karena lo udah terima gua, gelang ini bakal gua kenang sebagai tanda Aluna dan Arlangga adalah kedua insan yang memiliki kekuatan cinta dan menyatu abadi dalam nirwana."


Sagara yang mendengar kepergian Aluna, dia seketika terjatuh dan menangis sejadi-jadinya. Tak ada lagi sosok gadis yang memiliki senyuman manis meski tengah menangis. Tak ada lagi sosok gadis yang selalu ceria dalam suasana apapun.


......"***Selamat berbahagia, Aluna.. Berdamailah engkau dalam nirwana dengan dawai asmara bersama semestamu yang selalu engkau rindukan.. Dua insan yang telah menyatu kini benar-benar bersama hingga akhir cerita.. Tak ada yang abadi karena mereka.. Pasangan sejati."......

__ADS_1


^^^-Sagara Dewanta***^^^


__ADS_2