DUDA NYEBELIN

DUDA NYEBELIN
Taman Bermain


__ADS_3

Selamat membaca❤


"Baiklah sekarang kalian pulang,dan jangan pernah nakal lagi."ucap Rahma. Bocah-bocah tersebut langsung lari terbirit-birit.


Rahma langsung tersenyum dan menyimpan case hpnya ke dalam tasnya. gadis itu langsung mencium gemas pipi Rendy.


"Bunda tidak telat'kan,sayang."tanya Rahma.


"Ngak kok,bunda!"jawab Rendy.


"Zahra,ini bunda aku, aku gak bohong'kan?"Rendy memperkenalkan. Zahra tersenyum manis dan menganguk bahagia.


"Cantik yah,bunda kamu,"puji Zahra.


"Iyah dong, aku san ayah beli dari pasar,"jawab Rahma. Rahma yang mendengar hampir saja tersedak ludahnya sendiri.


"Dasar properti barbar,"lirih Rahma.


*****


Devan yang mendapat kabar bahwa anaknya dan Rahma tidak pulang kerumah menjadi panik.pikirannya mungkin si induk ikan buntal mau menculik putranya membuat Devan langsung meraih kunci mobilnya.


"Pak,kita siang ini ada meeting,bapak mau kemana?"


"Batalkan!"


"Tapi,in--"


"Jangan membantah bila tak mau dipecat!"tegas Devan memotong ucapan sekertaris nya.


Devan langsung berlari menuju lift dan meraih ponselnya.


"Hallo."


"Ikuti mereka, dan awasi dari jauh saja,saya akan menyusul kesana!"


"Jangan sampai hilang jejak!"


Tuttt!!!


Pangilan diputuskan secara sepihak.


******


Rahma dan Rendy sekarang sedang singgah di taman bermain anak-anak. Jelas saja itu permintaan sari Rendy. Rahma sebagai gadis yang baik hati tentunya tanpa ragu langsung mengi'yakan permintaan dari Rendy.


"Bunda,ayo...!"Rendy dengan antusias nya langsung menarik tangan Rahma memasuki taman bermain itu.


"Bunda,didalam ada kolam,gimana kalau kita berenang saja,"pinta Rendy.


"Tidak, Rendy sekarang cuaca sedang tidak bagus,nanti kamu bisa terkena flu.


Nurut sama bunda yah,"jawab Rahma. Rendy nampak kecewa tetapi Rendy tetap patuh.


"Yaudah,bunda ayo main perosotan,"ajak Rendy.


"Baikllah, ayo!"

__ADS_1


*****


"Mereka saat ini, sedang berada di taman bermain,tuan!" Pria yang disuruh jadi mata-mata itu memberikan laporan pesan sesuai Whatsap.


"Saya sudah berada di belakangmu, Utramen Nexus!" Pria itu tersentak kaget ketika melihat Devan sudah dibelakangnya.


"Kau pulang saja,biar saya yang mengawasi mereka,"ucap Devan.


"Baik,tuan. Permisi!"


*********


"Rendy,hati-hati nak. Tidak jangan seperti itu duduk yang benar nanti terjatuh!" Teriak Rahma saat Rendy dengan antusias nya bermain perosotan.


"Bunda ayo naik." Rahma terpaksa menurut, setelah melepaskan heells nya,  Rahma ikut naik dan Rendy langsung pindah ke pangkuan Rahma langsung merosot ke bawah bersama.


Sementara Devan yang melihat dari jauh hanya bisa tersenyum bahagia melihat anaknya bisa tertawa lepas seperti itu.


"Sekali lagi bunda," ucap Rendy. Rahma hanya pasrah meskipun ia juga takut. Melihat Rendy bisa tertawa lepas Rahma ikut bahagia.


"Pegangan, sayang,"ucap Rahma.


"Iyah." Jawab Rendy.


Namun,ketika sudah merosot kebawah tak sengaja kaki Rahma tergesek batu hingga tumitnya berdarah. Rahma hanya bisa meringgis dalam diam.


"Bunda kenapa?"tanya Rendy ketika melihat Rahma berhenti.


"Ohh, tidak papa, sayang, bunda sudah lelah, bisa kita membeli minuman dulu?" Rendy mengangguk.


Setelah selesai membeli minuman Rahma dan Rendy sekarang sudah berada di bawah pohon rindang sembari bermain bola-bola kecil. Rendy nampak sangat bahagia, Devan yang juga memperhatikan dari jauh juga tak henti-hentinya tersenyum.


Dua jam berlalu. Kini hari sudah menunjukan pukul empat sore. Segala permainan sudah dicoba semua. perasaan bahagia yang Rendy terima kali ini sangat besar. Setelah bertahun-tahun merasa bahwa hidupnya tidak sempurna kini telah terasa lengkap karna kehadiran Rahma.


"Bunda,keringetan,sini Rendy lap." Ucap Rendy mengangkat tangan kecilnya sembari mengusap kening Rahma.


"Tidak usah,sayang. Tidak apa-apa, jangan kotori tanganmu," tolak Rahma.


"Sudah puas belum mainya, kalo sudah puas kita pulang yah?"


"Sudah,bunda. Tapi, Rendy mau es krim,"jawab Rendy. Rahma tersenyum hangat.


"Untuk anak bunda tentu saja akan dipenuhi,"seru Rahma.


"Ayo kita beli, tapi satu aja yah?"ucap Rahma.


"Iyah,"jawab Rendy.


***********


Rahma yang baru saja akan memesan taxi terhenti karena mendengar suara milik Devan. Rahma dan Rendy langsung menoleh dan benar saja. Devan telah datang dengan tampilan ala kantornya.


"Kau ingin dipecat, atau bagaimana huh?sembarangan bawa pergi anak orang tanpa izin."omel Devan yang sepertinya sudah mulai mencoba mengibarkan bendera perang  bersama Rahma.


Bagaimana Rahma mau memberikan kabar,lagian di ponsel buluk miliknya tidak menyimpan nomor ponsel Devan. Dan bila mau diberitahukan secara batin Devan pun tidak akan bisa mendengarkanya.


Oke, sabar!!

__ADS_1


"Ayah?kenapa ayah disini?"tanya Rendy.


"Ohhh,,,ekhem....ini tadi ayah sedang meeting bersama klien disekitar sini dan kebetulan melihat kalian."jawab Devan berdusta.


Tidak sangup Devan mengatakan bahwa sebenarnya ia tadi sedang mengikuti mereka lantaran khawatir karena mengira si induk ikan buntal ini menculik anaknya. Bisa diancam membakar ****** ******** lagi nanti apabila Rendy tau bahwa sang ayah telah menuduh bunda kesayanganya. Terlebih lagi sekarang Devan belum sempat membeli brangkas untuk menyimpan ****** ********.


"Yasudah,ayo pulang,"sengah Devan. Rahma tak banyak bicara, gadis itu hanya menganguk dengan senyum manisnya. Tak perlu ditanyakan lagi tentunya Devan sudah peka dari raut wajah Rahma yang pasti saat itu sudah mengumpati dirinya.


"Rendy, kenapa duduk dibelakang,duduk di depan saja,"ucap Devan saat melihat anaknya duduk di belakang.


"Gak papa Rendy mau duduk dibelakang saja biar, bunda dan ayah aja yang didepan." Jawab Rendy. Rahma hanya diam sedangkan Devan menatap Rahma tajam seolah sedang menanya'kan kau berikan jampi-jampi apa anakku.


"Tidak nak, biar bunda aja yang dibelakang, sini ayo masuk." Rendy duduknya di depan."ucap Rahma.


"Kalau bunda tidak mau didepan, sini saja duduk bersama Rendy,"jawab Rendy.


"Baiklah nak,terserah kamu saja."lerai Devan.


"Masuklah kau nona buntal,"titah Devan.


*********


Keheningan kini terjadi dalam perjalanan pulang tersebut. Tadi keadaan masih ricuh dari Rendy yang dengan antusiasnya menceritakan keseruannya bersama bunda ketika bermain tadi.Devan tentu saja merespon dengan baik, tetapi sekarang anak itu sedang tertidur hingga seprtinya keributan akan ganti topik.


"Nona buntal," pangil Devan tanpa mengalihkan fokusnya pada jalanan.


Lima menit tak mendapat jawaban Devan menoleh dan melihat Rahma hanya diam dengan pandangan mengarah pada jalanan kota.


"Nona buntal,"pangil Devan lagi. Merasa tak mendapat jawaban lagi,Devan merasa kesal sendiri. Padahal baru kali ini dirinya benar-benar tidak ingin mengajak Rahma bertengkar ataupun berdebat.


"Rahma...,"pangil Devan.


"Iyah,tuan? Ada apa?" Jawab Rahma tersenyum manis.


"Apa kau tuli, dari tadi dipangil tidak menyahut?"sungut Devan kesal.


"Heh, duda laknat tadi kau memangil nona buntal, yah. Dan jelas-jelas itu bukan aku!. Jawab Rahma menatap Devan geram. Sudah cukup dari tadi Rahma menahan kekesalan nya.


"Kenapa kau nyolot?mau dipotong gaji?!" Sentak Devan.


"Ohh, maaf tuan tadi aku hanya bercanda,"lirih Rahma.


"Berbicara pada majikan haru sopan,"nasehat Devan.


"Siaappp! Daddy Devan,"


"Ohh....."Rahma menggeriyitkkan dahinya binggung kala mendengar Devan melengu pelan.


"Jika saja kau mengucapkan itu saat diranjang pasti itu sangat mengairahkan,"ucap Devan.


"Dasar duda sialan,"maki Rahma sambil memukul paha Devan.


#Bersambung


#Jangan_lupa_vote_yah❤


#tinggalkan_jejak

__ADS_1


__ADS_2