DUDA NYEBELIN

DUDA NYEBELIN
Pendramaan


__ADS_3

Selamat membaca❤


Sesampainya dirumah setelah insiden pendramaan si duda dan mantannya. Kini Devan sudah berada di kamar Rahma membantu membawakan belanjaan yang tadi ia beli. Rahma yang belum tau sontak kebingungan melihat Devan mengikutinya masuk ke kamar. Kamar Rahma memang bersebelahan dengan kamar Devan.


"Et..et..et... mau apa kau wahai duda laknat?! Jangan bilang kau telah kecanduan terhadap diriku setelah mencium pipiku tadi?!" Tuding Rahma melotot garang pada Devan.


"Aku hanya membawakan pakaianmu," jawab Devan yang tak niat berdebat konsep ambigu pada Rahma. Emosi Devan entah mengapa selalu memuncak ketika bertemu dengan Siska.


"Pakaianku?"beo Rahma.


"Hem,jangan ge'er aku melakukan ini agar kau tidak membuat anakku malu ketika menjemputnya sekolah,"jelas Devan. Rahma tersenyum hambar dan menundukan kepalanya. Terdengar gadis itu menghela nafas. Sontak itu membuat Devan langsung menatapnya dan seketika ia merasa bersalah saat melihat wajah sedih Rahma.


'Apa aku telah membuatnya tersingung?'batin Devan.


"Rahma,"pangil Devan. Rahma kembali tersenyum dan menatap Devan


"Iyah tuan,"


"Kata-kataku barusan aku minta maaf aku tidak bermakhsud--"


"Yes akhirnya,"seru Rahma tiba-tiba. Devan yang kebingungan langsung menatap Rahma kebingungan.


"Untuk pertama kalinya seorang duda laknat minta maaf, yuhu!!" Ucap Rahma girang. Devan langsung menjitak kening Rahma.


"Dasar gadis tukang drama,"desis Devan.


"Oh iyah, kira-kira aku cocok gak yah jadi pemeran film aku menangis?"gumam Rahma.


"Cocok, bahkan cocok banget," jawab Devan yang sudah memasuki kamar Rahma dan meletakan paper bag di atas kasur.


"Benarkah?"tanya Rahma yang sudah ikut masuk dan mendekati Devan.


"Iyah, jadi pemeran pelakornya,"


Rahma yang tadinya senang  kini sudah mendatarkan wajahnya saat mendengar ucapan Devan. Lagi-lagi dirinya dijatuhkan setelah selesai dipuji. Baiklah mulai sekarang Rahma tidak akan meminta pendapat ataupun mendengar pujian dari Devan lagi.


"Buang, semua pakaianmu dan ganti dengan yang baru,"ucap Devan. Rahma menoleh sejenak pada lemarinya dan melihat beberapa lembar baju.


"Semuanya?"tanya Rahma.


"Hmm..."


"Termakhsud Bh dan Cd ku?!apa kau tidak ingat kau tidak membelikannya untukku tadi? Jika aku buang juga lantas bagaimana dengan rawa-rawa berlumpurku ini dan dua kinerjoi-ku ini?"tanya Rahma.


Devan membuang nafasnya kasar. Dirinya benar-benar bisa mati dalam keadaan salto apabila terus-terusan berhadapan dengan gadis gila seperti Rahma.


"Mungkin sebaiknya aku juga membuangmu?" Geram Devan.


"Buang yang ingin kau buang saja kalau begitu,"sambung Devan.


"Eh, tunggu ini sedang tidak dalam pemotongan gajikan?" Tanya Rahma. Devan rasanya mau menelan dan memuntahkan Rahma saat ini juga.


Kenapa setiap kebaikan yang dilakukan Devan selalu dinilai tak ikhlas oleh gadis itu.

__ADS_1


"Apakah aku terlihat aneh ketika berbuat baik padamu?"tanya Devan.


"Oh tentu saja! Patut dicurigai! Dibalik kebaikanmu pasti tersimpan sebuah ********,"jawab Rahma.


"Kemauan,"ralat Devan


"Eh, iyah," jawab Rahma menyengir.


"Angap saja bayaran atas drama yang akan kau lakukan minggu depan di acara reunian ku,"jawab Devan. Rahma langsung memutarkan bola matanya.


"Ap tadi aku bilang bukan? Tidak ada ceritanya,tuan Devan berbuat baik secara ikhlas kepada Rahma Anatasya,"ucap Rahma.


"Itu tadi kau yang menginginkan aku tidak ikhlas, coba saja tadi kau tidak berburuk sangka aku pasti sudah menjawabnya bahwa aku ikhlas,"papar Devan.


"Bihwi iki ikhlis, tetapi tetap saja ujung-ujungnya harus ada yang dilakukan," jawab Rahma sambil memilih-milih baju yang akan dia buang.


Sementara Devan masih duduk di tepi  kasur dengan tatapannya yang kosong. Mengingat Siska yang selalu membuatnya muak dan kecewa. Rasa kecewa ny makin besar pada wanita itu.


"Tuan?" Pangil Rahma membuat Devan tersadar dan menoleh pada gadis itu.


"Lagi mikirin yang tadi ya," tanya Rahma.


" apa?yang tadi? Ngak'lah, aku lagi mikirin pekerjaan,"kilah Devan.


Rahma menghela nafas panjang dan kembali duduk di atas ranjang. Melihat tatapan kosong Devan, Rahma jadi paham bahwa pria itu sedang sedang sedih saat ini. Mengetahui latar belakang kelurga itu membuat Rahma jadi tau bahwa Devan adalah pria yang bertangung jawab dan tanguh, jiwa keayahan'nya sangat besar,dia sangup menjadi dua peran sekaligus untuk Rendy selama bertahun-tahun.


Melihat sosok Rendy yang tumbuh menjadi anak yang baik,pintar dan penurut itu semua berkat didikan dari Devan. Rahma kembali dibuat berkali-kali kagum dan bangga pada Devan.


Rahma yang tiba-tiba memeluknya membuat Devan jadi keheranan. Ada apa dengan nona buntal tersebut? Melihat Rahma yang bahkan sudah menitikan air mata membuat Devan semakin kebingungan.


"Aku hanya memberikan yang tuan butuhkan,yaitu pelukan," jawab Rahma lirih.


"Aku tidak pandai dalam membujuk orang menangis, tapi apabila penyebab kau menangis karena aku suruh membuang pakaian tadi maka tidak usah dilakukan," ucap Devan. Rahma melepaskan pelukannya dan mendorong sedikit tubuh Devan.


"Cih, dasar tidak bisa melanjutkan adegan. Padahal tadi sudah tiba scene sad dan mengharukan," cibir Rahma mengusap air matanya kasar, Devan terkekeh pelan.


"Jadi kau beneran mau jadi tukang drama?" Tanya Devan. Gadis itu tidak menatap, ia malah membuang muka dengan wajahnya yang sudah cemberut membuat Devan gemas sendiri.


"Dih baperan,"ejek Devan. Tangannya terulur menghapus air mata Rahma yang masih tersisa. Rahma tentu saja tersenyum malu-malu akan aksi Devan.


"Jangan baper, aku hanya tidak mau Rendy melihatmu menitikan air mata, aku tidak sangup bila harus diancam melibatkan celana andalan!" Sarkas Devan. Senyum Rahma langsung pudar dan kembali cemberut. Devan memang tidak bisa romantis seperti laki-laki lain.


Devan langsung bangkit dari duduknya dan beranjak keluar. Rahma yang masih duduk di atas kasur tersenyum memegang pipinya yang beberapa lalu dicium oleh Devan. Tidak bisa ia lupakan alangkah kagetnya ia saat tiba-tiba Devan menciumnya tadi.


"Arggghhhh.... aku benar-benar sudah gila karena duda laknat itu," teriak Rahma menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


************


Rahma kini sudah berada di kamar Rendy menemani anak itu mengerjakan pr sekolahnya. Sedangkan Devan sendiri masih sibuk di ruang kerjanya.


"Bunda, jadi kapan bunda dan ayah nikah?"tanya Rendy.


Otak Rahma kini kembali bergelut berdebat antara mau memberikan jawaban berupa harapan atau jawaban atas kebenaran yang ada. Lagian Rahma cukup sadar diri siapa dirinya dan siapa Devan. Tidak mungkin bisa Devan menikah dengan gadis miskin seperti dirinya.

__ADS_1


"Rendy...sini." Rendy menurut dan langsung duduk di atas pangkuan Rahma.


"Menjadi bundanya, tak harus menikah dengan ayahnya. Sampai kapanpun bunda akan selalu jadi bunda kamu. Jika suatu saat ayah menikah dengan perempuan lain, itu yang akan jadi bunda kamu sesunguhnya." Jelas Rahma sambil mengelus lembut kepala Rendy.


"Memangnya bunda engak mau nikah sama ayah?" Tanya Rendy mendongak kepada Rahma dengan nada sedih. Rahma hanya tersenyum dan kembali mencium Rendy dengan sayang.


"Bunda ini, -kan jelek, gak cocok jadi bundanya Rendy,"jelas Rahma.


"Ngakk, bunda gak jelek,"bantah Rendy.


"Tapi ayahnya Rendy gak suka sama bunda. Ayahnya Rendy pasti sudah memiliki calon bunda untuk Rendy, yang pasti dia lebih cantik, perhatian, dan tentunya dia lebih baik dari bunda,"jelas Rahma. Rendy mengeleng kuat.


"Rendy gak mau bunda pilihan ayah, Rendy gak suka," lirih Rendy.


"Tidak boleh begitu sayang, jika sampai itu terjadi Rendy harus menerimanya, karena itu juga demi kebahagiaan kamu,"pesan Rahma.


"Kenapa gak bunda Rahma aja yang jadi bundanya Rendy?" Tanya Rendy sendu.  Bocah itu membalikan duduknya menjadi menghadap Rahma.


"Kalau ayah engak mau biar Rendy paksa aja, biar dia mau nikah sama, bunda!" Tegas Rendy. Rahma tertawa pelan dan memeluk erat tubuh Rendy.


"Kan tadi sudah bunda bilang, bunda akan selalu jadi bunda Rendy sampai kapanpun meski nanti bunda sudah tidak disini lagi," jawab Rahma sambil mencium pipi Rendy.


"Rendy engak mau, Rendy maunya bunda tetap disini sama Rendy. Kalau bunda pergi Rendy akan ikut pergi bersama bunda,"ucap Rendy.


Devan yang sedari tadi mendengar dari balik pintu entah mengapa ikut merasa terluka mendengar ucapan Rahma. Sejenak ia melupakan ingin bergabung bersama Rahma dan anaknya. Devan kembali berjalan menuruni tangga. Perasaan bersalah seketika hingap di hati Devan untuk Rahma.


Ada apa dengannya?


*************


"Baiklah sekarang waktunya jadi ibu yang baik tidak ikut gesrek sudah waktunya!" Seru mama Devan menghampiri putra semata wayangnya yang sedang duduk melamun di ruang keluarga.


Mungkin Devan masih bisa menutup keresahan hatinya dengan pura-pira menonton televisi, tetapi sebagai seorang ibu tentunya mama Devan menyadari bahwa putranya itu sedang butuh pencerahan saat ini.


"Devan kamu 'tau kan kalau cinta itu bisa datang karena terbiasa?" Ucap mama Devan yang mengagetkan Devan.


Mama Devan tersenyum dan ikut duduk disamping anaknya. Jawab mama? Kamu tau perihal itu kan? Tanya mama Devan.


"Iya,"jawab Devan.


"Apa kamu tidak mau membuka hati untuk Rahma? Dia sempurna loh Van, dia gadis yang baik pula," jelas mama Devan. Devan tertawa pelan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Apasih ma kok jadi bahas gadis itu," kilah Devan.


"Perjelas perasaan kamu padanya Devan. Apa tidak kasihan pada Rendy,  yang sudah mengangap Rahma sebagai bundanya?" Ucap mama Devan melanjutkan.


"Devan sudah punya pilihan sendiri ma,"jawab Devan. Mama Devan menghela nafas pelan dan tersenyum hangat.


"Apa menurutmu, Rendy akan setuju? Mama yakin kamu sudah mendengar pembicaraan Rahma dan rendy tadi." Devan menunduk lemah. Dirinya ikut bimbang kini mengenai Rahma. Tidak bisa dibohongi, Devan bahwa sudah memiliki kekasih yang sudah ia rencanakan dua bulan lagi menikah.


"Apa kamu tidak mencintai Rahma," tanya mama Devan memastikan.


"Jika tidak beri Rendy pengertian agar dia bisa paham dan tidak kecewa hingga berakhir membencimu suatu saat nanti," sambung mama Devan.

__ADS_1


"Mama tau kamu tidak bisa menjawa bukan? Jangan bertingkah bodoh sebelum tau kejelasan perasaanmu padanya. Ingatlah cinta bisa tumbuh karena terbiasa, mama tidak mau kamu menyesal nantinya," nasehat mama Devan. Setelah menyelesaikan kalimatnya mama Devan berlalu pergi meningalkan Devan yang semakin bingung dengan perasaanya.


"Tidak, aku tidak mencintai Rahma,"gumam Devan meyakinkan.


__ADS_2