DUDA NYEBELIN

DUDA NYEBELIN
Devan sakit


__ADS_3

selamat membaca❤


Rahma masih berada di ruangan kerja Devan menemani majikan yang masih belum selesai dengan pekerjaanya. Sebenarnya Devan sudah menyuruh Rahma dari tadi untuk segera kembali ke kamarnya saja menemani Rendy tidur, tetapi jawaban yang sudah diketahui Devan itu bohong lagi-lagi dilontarkan Rahma.


"Tuan,"pangil Rahma. Entah sudah tak terhitung lagi berapa kali gadis itu memangil Devan.


"Apa?"


Rahma bangkit dari duduknya dan pindah ke kursi di depan meja Devan. Gadis itu sudah terlihat sangat mengantuk,tetapi dia tetap kekeh mau menemani majikannya.


"Boleh nanya?"


"Ngakk boleh!"tolak Devan. sangat malas lagi-lagi dirinya hilang fokus karena sedari tadi diajak bicara oleh Rahma.


"Kenapa tuan tidak menikah lagi?"tanya Rahma.


"Tadi kan aku sudah bilang kau tidak boleh bertanya,"ketus Devan. Rahma hanya menatap lekat Devan dengan mata sayunya.


Devan membuang nafasnya pelan.


"Belum menemukan calon yang pas saja,"jawab Devan akhirnya.


"Pacar'tuan?makhsudku tuan pasti memiliki pacar kan?nah kenapa tidak mengajaknya nikah saja?" Usul Rahma bertopang dagu.


"Kau mengejekku secara halus?"


"Aku memberi usulan,"jawab Rahma.


Rahma terpejam beberapa detik dan menatap lekat wajah Devan.


"Memangnya mantan istri tuan pergi kemana? Dari penilaian ku wajah tuan lumayan,"ucap Rahma.


"Secara tidak langsung kau memujiku atau mengejekku?" Sentak Devan.


"Ya,lumayan jelek makhsudnya,"jawab Rahma tertawa pelan hingga menampakan gigi gingsulnya.


"Tapi serius aku nanya,istri tuan pergi kemana?"tanya Rahma yang sudah menghentikan tawanya.


"Apakah it--"


"Ohhh,,aku tau pasti dia tidak pernah puas sunnahan sama,tuan?! Iyah kan?"potong Rahma dan kembali tertawa mengejek Devan.


"Wajar saja, milik tuan pasti hanya sepanjang jari telunjukku itupun lima menit langsung tepar, hihihi aku mah sudah bisa menebak,"ucap Rahma tertawa terbahak-bahak.


"Sembarangan kalau ngomong, jangan meremehkan keperkasaan serta ukuran milikku kau, nona buntal, dan apa kata kau tadi, sepanjang jari telunjukmu? Kalau begitu kemarilah dan ukur sendiri. Jawab Devan. Rahma menatap Devan geli.


"Lalu apa alasanya?"tanya Rahma lagi. Devan memperbaiki posisi duduknya dan menghela napas panjang.


"Dia meninggal ketika melahirkan Rendy,"jawab Devan.


Melihat raut wajah Devan yang terlihat sedih membuat Rahma tak tega sekaligus tidak berani menanyakan lebih jauh.


"Begitu yah,"lirih Rahma.


"Yasudah lanjutkan,pekerjaanmu,tuan aku tidak akan menganggumu lagi,"ucap Rahma.


"Seharusnya itupun kau lakukan sejak tadi,"sunggut Devan.


Rahma tak menjawab lagi,dirinya langsung mengulingkan kepalanya di meja. Kantuk sudah tak tertahan lagi, matanya perlahan-lahan terpejam dan akhirnya tertidur.


Devan yang menyadari keheningan pun menoleh pada Rahma yang sudah tertidur. Pria itu menarik nafas panjang lalu menutup laptopnya dan beranjak sari duduknya.

__ADS_1


"Ini yang kau bilang belum ngantuk?cihh,"lirih Devan.


"Selalu saja merepotkan diriku." Dengan pelan Devan mengangkat tubuh Rahma menuju kamarnya. Setelah sampai dia langsung membaringkannya disamping anaknnya.


Devan langsung duduk dan menatap damai wajah Rahma yang tertidur lelap. Tanpa sadar bibir Devan tersenyum mengingat segala perdebatan dan percakapan konyol yang sering terjadi antara dirinya dan Rahma.


"Kau cantik hari ini,"


**********


Uekkkk.....uekkkkk.....


 


Rahma yang tertidur bangun  kala mendengar suara orang ingin muntah. Gadis itu terlihat panik saat melihat Devan muntah-muntah hingga isi perutnya kini telah log-out berceceran di lantai.


Uhukkk...uekkkk.....uekkkk.....


"Tuan?!" Rahma yang melihat Devan ingin berdiri langsung membantu pria itu bangkit dan menuju kamar mandi.


Wajah Devan terlihat pucat, Tubuhnya pun demam tinggi, Rahma langsung panik, Ingin membawa kedokter tidak mungkin karna sudah larut malam.


Devan masih belum selesai muntah, kini Rahma hanya bisa membantu mengurut bahu dan tengkuk Devan.


"Lepas saja bajunya sudah kotor," ucap Rahma membantu melepas kancing baju piyama Devan yang sudah terkena muntahan itu.


"Sudah selesai?"tanya Rahma saat Devan sudah tidak muntah lagi.


Devan mengangguk lemah, kakinya lemas bahkan rasanya pun tak bisa menahan beban tubuhnya.


Glekk!


'Uekkk....


Lamunan Rahma buyar ketika melihat Devan muntah hingga kini lantai kamar mandi ikut kotor.


Setelah memastikan Devan sudah benar-benar tidak muntah lagi Rahma mulai membopong Devan menuju kasur dan menyelimutinya. Dan dengan cepat Rahma berlari menuju dapur menyiapkan air hangat serta membuat minuman yang bisa membuat perut Devan tidak mual lagi.


Selang sepuluh menit Rahma sudah kembali lagi. Satu baskom kosong ia letakan di samping ranjang guna tempat Devan muntah. Satunya lagi berisi air hangat untuk mengompres Devan.


Wajah gadis itu berkeringat karena efek  panik. Melihat Devan yang kedinginan membuat Rahma langsung mematikan Ac. Sekilas Rahma menoleh pada Rendy tetap terlelap. Tidak tega juga Rahma apabila bocah kecil itu harus terbangun.


"Minum teh nya dulu,"perintah Rahma membantu Devan untuk sedikit menegakan kepala.


Uhukkkkk ....


Devan hendak memuntahkan teh itu, tetapi Rahma langsung menutup mulut Devan dengan terpaksa hingga membuat Devan langsung menegukkan teh itu.


"Teh sedikit pahit akan lebih mudah mengobati perutmu,"jelas Rahma.


Tubuh Devan menginggil Rahma langsung mengompres kening pria itu guna meredakan demamnya. Tak lupa ia juga membuka segala laci guna mencari obat. Hinga minyak kayu putih tak lupa ia oleskan di perut Devan.


Tiga puluh menit berlalu....


Merasa demam Devan sedikit reda membuat Rahma sedikit lega meskipun Devan tak henti-hentinya muntah. Rahma tetap sabar membantu mengobati Devan, seperti mendekatkan baskomnya ketika Devan ingin muntah. Bahkan gadis itu tak terlihat jijik sama sekali.


Sejujurnya masuk angin dan muntah seperti ini sudah biasa Devan lalui setiap malam. Dan seperti biasa dirinya hanya bisa merawat dirinya sendiri dan membiarkan penyakitnya sembuh dengan sendirinya di pagi hari.


"Minum tehnya lagi tuan,"ucap Rahma. Meskipun Devan tak suka rasa tehnya yang pahit. Lebih baik ia meminum teh pahit daripada besok ia harus berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa.


"M-matikan Ac-nya,"ucap Devan terbata.

__ADS_1


"Sudah mati kok,masih dingin tah?"tanya Rahma. Rahma dengan cepat langsung membukakan lemari pakaian Devan guna mencarikan baju Devan yang berlengan panjang. Setelah dapat Rahma mambantu Devan duduk dan memakaikan bajunya.


"Masih dingin?" Devan mengangguk lemah.


Rahma yang sudah kalang kabur tak bisa memikirkan bagaimana lagi memberikan kehangatan langsung meraih kedua tangan Devan dan mengosok-gosokan dengan tanganya. Tak lupa Rahma juga meniupkannya guna memberikan rasa hangat.


Lama melakukan itu serta berulang-ulang mengompres kening Devan perlahan Devan mulai kembali tidur. Waktupun sudah menunjukan pukul tiga subuh, Rahma dengan pelan berdiri dari lantai dan mulai membersikan lantai yang kotor terkena muntahan Devan.


Setelah bersih Rahma kembali  duduk di atas lantai yang berlapis karpet tebal dan merasa bahwa kening Devan sudah tidak panas lagi. Rahma kembali mengesekan telapak tangan Devan   dengan tangannya.


"Aku kira sudah saatnya tadi,"lirih Rahma tertawa pelan, kemudian  gadis itu merebahkan kepalanya di pinggir kasur dan memejamkan matanya untuk tidur kembali. Biar saja dirinya tidur dalam posisi duduk di lantai seperti ini  karena siapa tau penyakit Devan kembali kambuh.


Angap saja dia pelayan siaga!!


Eakkk.....


*********


Pagi kembali datang. Bulan kini sudah saatnya berganti dengan arunika. Kamar bernuansa abu-abu itu masih terlihat senyap karena ketiga penghuninya belum ada yang bangun.


Tak lama Devan terbangun, ia merasa ada yang aneh dikepalanya, terasa seperti ada yang lembap. Pria itu mengerjap beberapa kali dan menoleh ke sampingnya.


Disampingnya masih ada kehadiran Rahma yang memegang tangannya dengan keadaan tidur duduk di lantai. Devan jadi tidak tega, apalagi mengingat semalam betapa repotnya gadis itu mengurus dan mengobati dirinya.


Dengan perlahan Devan bangkit dari posisinya dan itu membuat Rahma terbangun, gadis itu membuka matanya dan menatap Devan.


"Tuan, kau sudah bangun, apakah masih pusing?" Tanya Rahma sambil tangannya yang terulur menatap kening Devan.


"Kalau masih belum sembuh kita kedokter,"sambungnya Devan mengeleng cepat kemudian kembali berbaring.


"Bunda.." Rahma tersenyum lebar dan langsung bangkit ketika melihat Rendy sudah bangun.


Dua kecupan lembut ia berikan kepada Rendy, Devan yang menatapnya hangat dan tersenyum kecil.


"Good morning anak bunda,"ucap Rahma tersenyum.


"Good morning to. Rendy senang, semalam Rendy mimpi indah." Rendy mulai bercerita.


"Oh yah,bermimpi apa?"tanya Rahma.


"Rendy mimpi punya adik perempuan dan Rendy sayang banget sama dia, kami bermain bersama, jalan-jalan bersama dan banyak lagi, Adik Rendy sangat cantik. jawab Rendy. Rahma langsung tertawa.


"Iyah nanti akan dikabulkan,"jawab Devan pelan.


"Bunda gimana? Bunda nyenyak kan tidurnya?"tanya Rendy. Rahma menganguk dan tersenyum manis.


"Yah tentu saja, bunda bahkan hampir kesiangan karena ayah tidak memasang alarm,"jawab Rahma. Sedangkan Devan yang mendengarnya langsung menatap Rahma.


"Yasudah, kalau begitu ayo kita kembali ke kamarmu. Rendy kan mau sekolah, nanti kesiangan,"ajak Rahma.


"Ayah, Rendy mau siap-siap dulu,"ucap Rendy pada Devan.


"Cium dulu,"ucap Devan menunjuk pipinya. Rendy langsung tersenyum kemudian mendaratkan banyak ciuman di pipi sang ayah.


"Bundamu itu tidak kamu cium,"tanya Devan. Itu sontak membuat Rahma langsung kaget. Benarkah pria itu menyuruh putranya mencium Rahma?tumben!


"Oh iyah," Rendy tekekeh pelan.


#Bersambung


#Jangan_lupa_di_like❤

__ADS_1


__ADS_2