
Selamat Membaca❤
"Ketulusan seseorang tidak bisa kita lihat dari luar, tetapi aku yakin Devan sudah membenarkan pasti itu memang benar adanya, karena yang lebih dahulu merasakan ketulusan dari istrinya pastinya Devan sendiri," Siska benar-benar kalah sekarang, Bukan satu dua wanita yang membela Rahma tapi semuanya.
"Yah, kita lihat saja sampai seberapa jauh ketulusan Rahma,"jawab William.
"Aku sudah pernah melakukan kesalahan dan sekarang aku yakin aku tidak akan salah pilih lagi,"ucap Devan sambil merangkul Rahma mesra.
"Lagian aku tidak butuh yang sempurna yang aku butuhkan hanyalah dia yang bisa mengerti dan mau berusaha saling menyempurnakan dalam rumah tangga,"sambung Devan.
Setelah selesai dengan acara sindir-menyindir antara Devan dan sang mantan pacarnya kini mereka sudah menikmati hidangan yang ada di meja, dan tak sedikit pula yang sudah mabuk.
"Tuan Devan ayolah, sedikit saja," ucap William menyodorkan segelas wine. Devan tetap menolak karena memang stamina tubuhnya sedang buruk jadi alkohol harus ia hindari.
"Ck, lemah,"cibir William.
"Kamu tumben, tidak minum sayang?" Tanya William pada Siska yang hanya diam. Devan yang melihatnya hanya tersenyum miring, tentu saja wanita itu tidak minum karena takut nanti mulutnya tiba-tiba berbicara pada hal yang sudah lama ia tutupi dari William.
"Rahma kamu juga tidak minum?"tanya William. Rahma menganguk dan langsung meraih gelas. Devan yang melihatnya sontak membulatkan matanya.
"Tidak usah macam-macam, aku tidak sanggup membopongmu nanti jika pingsan,"bisik Devan. Rahma hanya senyum meyakinkan.
"Tidak apa-apa aku akan mengantikanmu,"jawab Rahma berbisik.
Satu jam sudah berlalu kini sudah tak terhitung berapa botol telah habis di atas meja. hanya Devan dan Siska yang masih dalam keadaan tidak mabuk karena memang hanya keduanya yang tidak minum.
"Aku tidak yakin dia istrimu,"ucap Siska.
"Kenapa tidak yakin?" Devan menatap Siska sinis.
"Tidak mungkin kau menyukai gadis kampung seperti ini."
"Apa urusanmu. Lagian sudah aku katakan aku tidak membutuhkan wanita yang berlebihan dalam setiap hal sama sepertimu, Rahma sudah cukup sempurna bagiku,"jawab Devan. Siska berdecih kasar.
"Nikmatilah kebahagiaanmu sekarang karena beberapa bulan lagi kehancuran akan menghampirimu,"bisik Devan tersenyum jahat pada Siska.
"Aish, kepalaku sangat sakit,aku ingin pulang,"lirih Rahma. Devan yang mendengarnya langsung tersenyum manis dan mulai bangkit dari duduknya dan membopong tubuh Rahma untuk pulang.
***********
Beberapa hari telah berlalu setelah insiden di acara reunian, Devan juga akhir-akhir ini sering pulang cepat dari kantor, Tidak seperti dulu yang selalu pulang malam. Entahlah, Devan juga tidak tau kenapa dirinya lebih betah dirumah akhir-akhir ini.
"Devan,"pangil mamanya. Devan yang hendak kehalaman belakang menghentikan langkahnya dan menghampiri sang mama yang sudah berpenampilan rapi.
"Ada apa,ma?"tanya Devan.
"Ayo siap-siap, mama mau membeli kue,"jawab mama Devan.
"Membeli kue?mengajak diriku? Mama ini salah ajak orang, aku ini tidak mengerti perihal cita rasa kue, aku lebih mengerti cita rasa cairan lelehan lembah goa," jawab Devan. Mamanya langsung menjitak kuat kepala Devan.
"Pikiranmu selalu saja melantur ke berbagai lembah kaum hawa, kalau tidak membawa tumbuh-tumbuhannya yang membawa airnya,"cibit Mama Devan. Devan langsung tertawa.
"Ajak nona buntal saja,"usul Devan.
"Dia sedang tidak enak badan, lagian mama cuma minta kamu anterin mama saja setelah itu kamu temani calon istri kamu dirumah,"jawab Mama Devan.
__ADS_1
Mendengar kabar Rahma yang sedang tidak enak badan membuat Devan sedikit khawatir, tetapi sebisa mungkin pria itu bersikap biasa saja di depan mamanya.
"Sejak kapan si nona buntal itu jadi calon istriku?mama ini mungkin sudah sedikit pikun,"jawab Devan.
"Sudah-sudah, ayo cepat antar mama dulu, kuenya harus segera dibawa ke rumah sahabat mama nanti malam,"sengah mama Devan.
Mama Devan memang berniat menginap dirumah sahabatnya karena besok pagi sahabatnya tersebut mengadakan acara syukuran untuk cucu pertamanya yang baru lahir kemarin.
"Yasudah,Devan ganti celana dulu,"jawab Devan langsung berlari kekamarnya.
**************
Rahma yang sudah dua jam tidak melakukan apapun didalam kamar mulai bosan. sebenarnya dirinya tidak sakit seperti yang dikatakan oleh mama Devan. Hanya saja dirinya sedang flu akibat cuaca yang memang sering hujan.
Baru flu saja Rahma sudah dilarang melakukan apapun,bahkan nampak lantai tidak diperbolehkan lantas bagaimana apabila Rahma sedang mengandung anak Devan? Tidak bisa dibayangkan bagaimana perhatiannya mama Devan padanya. Mungkin terkena nafas Devan saja tidak diperbolehkan.
"Aku ini apa-apaan coba?mana mungkin juga bisa hamil,orang bukan suami istri," gumam Rahma tersadar akibat pikiran gilanya.
Mengingat dirinya belom scincare'an Rahma langsung bangkit dari kasur dan menuju kamar mandinya. Perawatan di dalam kamar mandinya akan terasa lebih afdol karena bisa sekalian latihan vokal agar bisa menjadi penyanyi terkenal seperti raisa.
"Sedikit lagi sudah satu bulan aku bekerja disini,bagaimana jika kotrak kerja ku habis?apa aku minta diperpanjang saja?"gumam Rahma sambil membersikan wajahnya.
Baru membayangkan'nya saja Rahma sudah tidak sanggup, yang jadi beban penghalangnya pergi adalah Rendy, rasanya dirinya benar-benar tidak tega apabila selama lima bulan ini akan meninggalkan Rendy.
Yah, meskipun Rahma tau bahwa Devan akan segera menikah dengan Jessika dan Rendy benar-benar akan mempunyai bunda setelah itu, seharusnya Rahma bahagia akan hal itu bukan?tetapi kenapa rasanya dia tidak rela.
"Ck, ternyata begini rasanya ketika sudah nyaman dengan seseorang tetapi sudah ada waktunya berpisah,"lirih Rahma.
"Percayalah.....
hanya diriku yang paling mengerti. Kegelisahan mu kasih.....
Kasih yakinlah,hanya aku yang paling memahami.
Besar arti kejujuran diri....
indah sanubarimu kasih......
"Percayalah...."sepengal lagu milik Raisa, Rahma nyanyikan dengan kencang dengan sebotol sabun cuci wajah yang ia jadikan seolah-olah adalah maick nya.
"Pantas saja burung-burung puyuh di depan tadi pada ngungsi di tempat tetangga sebelah, ternyata ini penyebabnya,"
Rahma langsung menoleh dan menatap kaget Devan yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mandinya dengan satu paper bag yang diketahui dari apotik. Entah sejak kapan pria itu sudah berdiri di situ.
"Heran aku, selalu saja menghina secara halus,"cibir Rahma dan kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Mungkin hari ini....hari esok atau nanti.
Tak lagi saling menyapa meski-ku mengharapkanmu....."Rahma tetap pada aksi absurdnya, hingga membuat Devan bergidik geli.
Hatchih!
Uhukkkk! Uhukk.....
Mendengar Rahma yang tiba-tiba bersin dan batuk-batuk akibat kesandung lirik lagu yang sedang ia nyanyikan sendiri membuat Devan langsung tertawa.
__ADS_1
"Dasar ingus tidak ada akhlak,menghancurkan prestasi yang terpendam saja," dumel Rahma mengelap ingusnya yang keluar. Sementara Devan yang masih memperhatikan hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Aku yakin gadis itu sebenarnya berasal dari pluto,"gumam Devan.
"Mu--"
"Sudah-sudah, jangan bernyanyi lagi! Aku tidak mau gubuk lima milyard ini roboh gara-gara suara jelekmu itu,"potong Devab.
"Ck, bisa gak sih tuan diam dan nikmati suara indah ku ini?!"
"Iyah indah, tapi akan lebih indah jika kau hanya diam!" Rahma langsung menatap tajam Devan.
"Benar bagus kok, tidak kau tau saja bahwa aku ini adiknya Raisa, dan keponakan Isyana, jadi suara ku ini ada khas-khas nya dari mereka"hardik Rahma.
"Menangis, Raisa melihatmu menyanyikan lagunya seperti ini, bahkan suara kentutku lebih merdu dari suaramu barusan,"
"Mana ada suara kentut merdu,"
"Ada, buktinya kentutku merdu,mau dengar?"
"Mana coba dengar?"
-
Sepi!
Itulah kata yang mengambarkan keadaan rumah saat ini, biasanya setelah selesai makan malam keadaan rumah akan ramai karena mama Devan yang selalu membuat ulah.
Seperti kemarin saat Rahma, Devan dan Rendy sedang asyik-asyiknya menonton televisi, mama Devan tiba-tiba melemparkan vas bungga ke televisi mahal mereka dan akibatnya pecah.
Bukan itu saja kebiasaan anehnya, wanita itu juga sudah tak terhitung berapa kali mematahkan kaki sofa, apabila ditanya kenapa melakukan itu, jawabanya adalah 'gabut' dan mama sudah bosan memakainya dan ingin ganti baru. Jika tidak rusak, Devan tidak akan membelikanya yang baru, sangat aneh bukan?
"Bunda..."
"Apa,sayang?"
Rendy berjalan mendekat, bocah kecil itu meraba kening Rahma sejenak, "bunda tidak sakit'kan?"
"Ngak, hanya flu biasa saja, besok sudah sembuh,"jawab Rahma.
"Ayah kapan pulang?"
Yah, setelah perdebatan tentang adik Raisa tadi Devan mendapatkan telepon yang kelihatannya sangat
Penting. Setelah menyerahkan obat-obatan yang Devan beli dari apotik ke Rahma pria itu kembali pergi.
"Sebentar lagi Rendy, sini berbaring sama bunda, ayah sudah dalam perjalanan,"jawab Rahma berbohong. Padahal dirinya sendiri tidak tau kemana Devan pergi.
"Ayah memangnya kemana, bunda?"tanya Rendy yang sudah ikut berbaring di samping Rahma.
"Ada pekerjaan bentar,"jawab Rahma.
"Ayah tidak pernah bekerja di luar jika malam hari?"Rahma hanya tersenyum manis dan langsung memeluk erat tubuh Rendy.
"Bunda juga tidak tau kenapa tiba-tiba. Mungkin saja, ayah sedang mengurus pekerjaan lain,"jelas Rahma.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sebentar lagi ayah pulang. Kita nonton saja yah,"ucap Rahma. Rendy menganguk patuh.
Tak lama kini pintu utama terdengar terbuka. Rendy langsung tersenyum mendengar suara ayahnya yang terdengar.