
Selamat Membaca❤
Malam nanti adalah hari dimana acara reunian Devan dilaksanakan. Rahma tentunya sudah mempersiapkan diri sejak awal agar kelak disana nanti dia bisa bersikap kalem dan tidak mempermalukan Devan.
Apalagi disana ada kehadiran Mantan pacar tidak ada akhlak Devan, jadi Rahma tidak boleh tampil kalah cantik dari wanita itu.
Sudah hampir satu jam Rahma berada di dalam kamarnya. Kegiatan nya tak lain merawat diri. Dari membersikan kukunya, mencabut bulu ketiaknya yang mungkin sudah tumbuh lagi, memakai berbagai cream dan scincare yang Devan baru belikan kemarin dan juga tak lupa Rahma membasmi kaki jenjangnya dengan waxing agar terlihat mulus.
"Nona buntal, kau---huaaa!"pengilan Devan membuat Rahma langsung menoleh dan mendengar Devan berteriak kaget Rahma ikut teriak karena terkejut.
Tentu saja Devan terkejut. Penampilan Rahma kini bahkan menyerupai hantu kuntilanak yang salah memakai bedak. Wajah Rahma yang berwarna abu-abu serta rambut panjangnya yang tergerai setengah basah dengan berantakan. Ditambah dengan keadaan kamar yang remang-remang membuat kesan semangkin horor.
"Apa kau sudah bosan bekerja dirumahku hingga kau ingin membunuhku dengan cara seperti ini?!"tuding Devan kesal sambil menyalakan lampu dan melangkahkan kakinya mendekati Rahma yang duduk dengan beberapa botol serta plastik-plastik scincare yang sudah berceceran di lantai.
"Hmm."deheman kecil Rahma lontarkan. Bukan tak mau menjawab hanya saja mulutnya terasa keram akibat batasan masker yang ia oleskan terlalu dekat dengan bibir.
"Kau apakan wajah jelekmu itu?"tanya Devan mencolek masker Rahma yang sudah setengah kering. Tetesan air dari rambut Rahma dilantai membuat Devan jijik sendiri. Gadis itu benar-benar jorok dan pecicilan. Apakah tidak bisa gadis itu sehari saja jaga image di depan Devan?
Setidaknya jangan terlihat jorok bukan?
Devan langsung bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi Rahma. Setelah dapat yang ia cari Devan langsung duduk di tepi kasur dan mencolokan hairdyer.
Rahma menatap Devan bingung.
"Jangan baper aku hanya tidak ingin terpeleset dan berakhir geger otak gara-gara tetesan air dari rambut sarang kutumu itu!"sarkas Devan. Rahma ingin tersenyum, namun wajahnya terasa kaku dan ia urungkan.
Rahma langsung memundurkan duduknya dan bersandar di kaki ranjang. Tangannya sibuk memegang kipas kecil guna membantu mengeringkan maskernya, sedangkan Devan membantu mengeringkan rambutnya.
Sudah cukup romantis seharusnya apabila Devan bisa halus dalam berbicara,tetapi apalah daya gengsi Devan lebih besar meskipun hanya sekedar ingin mengucapkan kata lembut kepada Rahma.
__ADS_1
"Tuan kau ingin terlihat tampan'kan, saat di acara reunian mu nanti?"tanya Rahma tiba-tiba. Suara gadis itu sedikit tidak jelas,tetapi masih bisa Devan pahami.
"Aku tidak pernah terlihat jelek,"jawab Devan sambil mencabutkan colokan hairdyer.
"Iyah makhsudku rawatlah dirimu sedikit seperti ini,"jelas Rahma. Devan bergidik geli melihat wajah Rahma.
"Ogah, tidak pakai cairan-cairan apapun aku sudah terlihat tampan,"tolak Devan.
"Ck, ini akan seru. Sekali-kali tuan harus mengerti konsep merawat diri!" Rahma langsung membuka bungkusan maskernya yang bewarna merah muda, setelah mengaduknya dalam sebuah wadah Rahma langsung mengoleskan ke wajah Devan.
"Tidak aku tidak mau! ini menjijikan, aku tidak suka! Jangan kotori wajahku," teriak Devan meronta-ronta.
"Hei, tenanglah aku bukan mau menyunatmu,"jawab Rahma yang tak habis pikir dengan Devan.
"Diam, nanti masuk mulut! tutup mulutmu rapat-rapat dan pejamkan matamu!"titah Rahma. Devan sebagai pria sejati yang tidak mengerti apapun tentang scincare hanya bisa menurut dari pada nanti cairan itu membuatnya buta, pikir Devan.
"Sssst!"desis Rahma memotong ucapan Devan.
"Nah selesai, tunggu lima belas menit baru cuci,"seru Rahma. Devan langsung meraih kaca kecil yang tadi Rahma gunakan. Devan jadi takut sendiri melihat nasib wajahnya yang mengenaskan.
"Astaga wajahku, aku bahkan terlihat seperti monyet dora,"lirih Devan. Rahma yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak. Baru sadar ternyata si duda nyebelin itu mirip dengan monyet dora.
"Apakh ini dibuat dari sirup anak-anak?kenapa wanginya seperti strawberi busuk,"komentar Devan sambil mengendus-endus menghirup aroma masker diwajahnya.
"Iyah itu dibuat dari strawberi busuk dicampur tai cacing terus ditambahkan rempah-rempah kutu jerapah,"jawab Rahma.
"Ish, wajahku kaku, aku tidak bisa bicara,bolehkah aku bilas sekarang?"tanya Devan. Rahma mengeleng cepat.
"Kulit wajahmu bisa terkelupas apabila kau cuci belum sampai lima belas menit,"jawab Rahma. Devan melotot kaget.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa bicara! Ini terasa menghisap kulitku!"protes Devan sambil mengerak-gerakan wajahnya. Rahma hanya bisa tertawa.
"Lalu barusan apa itu bukan bicara namanya?"hardik Rahma.
"Nona buntal,"Devan merengek-rengek bak anak kecil, pria itu benar-benar terlihat panik dan berulang kali mencoba menyentuh wajahnya, tetapi takut akan yang dikatakan Rahma tentang wajahnya yang mengelupas membuat Devan tak berani.
"Bagaimana ini, aku tidak tahan dan benar-benar menghisap wajahku,"ucap Devan, Rahma masih saja tertawa ngakak melihat sisi lain Devan yang mungkin tidak orang tau. Yah itu dia, polos-polos o'on.
"Ayo sudah waktunya kita cuci,"ajak Rahma. Devan langsung berlari cepat memasuki kamar mandi dan disaat pria itu hendak membasuh wajahnya Rahma kembali menyahut.
"Hati-hati wajahnya mengelupas jika tidak benar mencucinya,"ucap Rahma. Devan mengeram kesal dan menatap Rahma tajam
"Lantas harus bagaimana? Awas saja wajahku lecet kupastikan aku akan memecatmu!" Devan lagi-lagi memberi ancaman yang sudah Rahma ketahui hanyalah angan belaka. Lagian mana berani Devan memecat Rahma.
"Yah sudah, sini." Devan menurut. Pria itu langsung mendekati Rahma.
"Wahai duda laknat titisan tower sudihkan kau menunduk sebentar saja?" Devan langsung tertawa dan menurunkan wajahnya agar bisa sejajar dengan Rahma yang hanya sebatas pundaknya.
"Dasar keturunan kurcaci,"balas Devan.
"Pejamkan matamu jika tidak mau buat," ucap Rahma. Devan lagi-lagi menurut. Sungguh terlihat mengemaskan pria itu saat dengan bodohnya percaya-percaya saja dengan apa yang diucapkan oleh Rahma.
Rahma tersenyum manis saat tangannya yang sibuk membersikan wajah tampan Devan. Ada gelongar aneh dalam diri Rahma saat menikmati kebersamaan nya dengan Devan saat ini. Entahlah Rahma tak mampu menjelaskan bagaimana perasaannya yang jelas Rahma bahagia saat di sisi Devan.
"Sudah," ucap Rahma saat sudah mengeringkan wajah Devan dengan handuk kecil.
"Wajahku tidak koyak'kan?" Tanya Devan sambil meneliti wajahnya.
"Tidak,hanya saja jakunmu hilang,"jawab Rahma sambil membersikan wajahnya sendiri.
__ADS_1