
Selamat membaca ❤️
"Aarghh... Kenapa aku bisa seperti ini!" Gerutu Devan merasa frustasi.
Pria itu kembali duduk setelah hampir satu jam menatap langit malam. Perasaannya benar-benar gula gulanda memikirkan Rahma. Seketika pikirannya tertuju pada Rahma. Seketika pikirannya tertuju pada Zaki. Pria yang kemarin bertemu dengan Rahma. Apakah sekarang gadis itu sedang bertemu dengannya? Apakah pria itu juga yang membuat Rahma meminta libur? Aarrghh... Memikirkan nya saja membuat Devan menjadi pusing, lantas bagaimana jika fellingnya benar terjadi?
"Tapi jika benar bagaimana?" Devan bergumam sendiri.
Devan kembali meraih benda pipihnya dan melihat nomor Rahma, sedikit lagi jarinya menekan tombol panggil, tetapi lagi-lagi Devan urungkan. Jiwa gengsinya terlalu besar apalagi jika ia ketawan lagi memikirkan Rahma.
"Masih lama yah besok tiba?" Devan menatap sedih ponselnya yang menunjukan pukul tujuh malam.
"Ok, meditasi sebentar," Devan mulai membenarkan duduknya dan menutup mata sebentar mencari ide supaya ia bisa menemukan alasan yang tepat untuk bisa menemui Rahma malam ini.
Lima belas menit berlalu tetapi Devan tidak menemukan alasan yang tepat. Tetapi keresahannya akan pikiran negatif tentang Rahma sedang kencan bersama laki-laki membuat Devan bodoh amat untuk datang tidak punya alasan ke sana.
Devan langsung berjalan cepat dari duduknya dan mengambil kunci mobil mahalnya dan juga tidak lupa memakai jam rolex miliknya agar selain mobil mewah ada barang lainnya yang bisa ia sombongkan apabila disana ada yang berniat adu kekayaan dengannya.
"Devan mau kemana malam-malam?"Yunita yang hendak masuk ke kamar menatap heran anaknya yang berpenampilan di malam hari.
Pria itu kembali melanjutkan jalannya. Pria itu sudah tidak sabar menemui Rahma dan mendengar suara jelek milik nya, tetapi berhasil membuat nya rindu kala tak mendengarnya malam ini.
Menemukan minyak wangi miliknya masih sempat Devan semprotkan ke tubuhnya agar bau tidak mandi nya tidak tercium karna tidak mandi sore ini, gadis itu benar benar membuat Devan menjadi gila.
"Disini bukan yah?" Setelah lima belas menit Devan berkendara akhirnya ia tiba di sebuah gang perumahan sesuai lacakan di nomor handphone milik Rahma.
"Gak bisa masuk nih mobil mewahku?" Ucap Devan saat melihat jalan kecil yang membuat mobil nya tidak bisa lewat. Devan kembali masuk ke mobilnya dan memarkirkan mobilnya di tempat yang benar.
Pria itu kembali keluar dan berjalan memasuki gang sempit mencari seseorang tempat bertanya alamat rumah Rahma, benar benar perjuangan besar yang hanya dilakukan Devan untuk Rahma.
"Aduh, maafkan aku sendal mahalku, sepertinya kamu harus berpetualang malam ini. Tidak apa apa yah jika kamu harus menginjak taik ayam," ucap Devan menatap sendu sendalnya.
Kedatangan pria berciri khas orang kaya di dalam gang sempit jalur neraka tentunya menjadi pusat perhatian manusia yang sedang duduk di depan rumah.
"Permisi,"Devan mulai bertanya kepada pria paruh baya yang sedang duduk bersama istrinya.
"Iyah, nak?"
"Paman, rumah gadis bernama Rahma dimana yah?"tanya Devan.
__ADS_1
"Rahma teh saha?"
"Oh itu teh liva yah?" Wanita paruh baya istri dari pria itu menyahut. Devan mengangguk.
"Itu, rumahnya yang mana?"tanya Devan
"Itu disana. Kamu lurus terus ada persimpangan kamu belok kiri terus lurus ada dua jalur lagi terus belok kiri lagi luruh lagi terus belok kanan," jelasnya . Devan mengerjap dan mengingat peta rumit dari si ibu.
"Udah disitu rumahnya?"tanya Devan.
"Belom sampai. Setelah belok kanan kamu lurus lagi belok kiri lagi dan kamu akan menemukan rumah yang ada pohon mangga nya.
"Rumahnya ada di dekat pohon mangga nya?"tanya Devan
"Bukan, itu rumah janda," Devan melebarkan matanya. Kenapa ia diberikan alamat rumah janda? Apakah ibu ini menghina nya karena Devan seorang duda. Dan apakah harus serumit ini menemukan alamat Rahma.
"Dari rumah janda itu kamu belok kiri lagi dan Nemu warung kecil."ibu itu tersenyum akhirnya alamatnya selesai dan.....
"Dari warung itu hitung Lima rumah, nanti ada rumah bercat biru muda itu rumah dia,"ucap ibu itu.
Devan bernafas lega dan mengelap keringat di pelipis nya. Bahkan menemukan rumah Rahma sangat sulit.
"Bukan!"
" Allahuakbar?! Jadi yang mana?" Sentak Devan.
"Disamping rumah itu kamu akan menemukan jalan sempit kamu lewati dan dibelakang rumah biru itu ada dua rumah. Yang kanan itu rumahnya."
"Rumah, Rahma?" Tanya Devan.
"Bukan,itu rumah si mantan suami si janda tadi," Devan yang tadinya sudah berbinar sekrang kembali menjatuhkan rahangnya lemas.
"Terus nanti--"
"Sudah, buk saya tidak jadi ke rumah Rahma. Saya mau kerumah si janda saja baru setelah itu ke rumah mantan suaminya menyuruh mereka rujuk." Potong Devan.
"Terimah kasih buk yah, permisi." Devan kembali melanjutkan langkahnya. Bertemu dengan seorang remaja laki laki Devan kembali bertanya. Semoga saja laki laki itu mau memberikan alamat yang benar bukan malah memberitahu kan rumah janda ataupun waria..
"Dek?"pangil Devan.
__ADS_1
"Iyah"
"Rumah gadi bernama Rahma dimana yah? Jika kamu memberikan alamat yang benar maka aku akan memberikan uang," Devan yang takut bertanya langsung menawarkan penyelesaian segala permasalahan.
"Nih,ambil semuanya asalkan kamu memberitahukan alamat Rahma yang benar,"ucap Devan.
"Lurus aja nanti ada persimpangan tiga dan ambil jalur tengah rumah bercat biru nomor 14 itu rumahnya," Devan menatap remaja tersebut dengan penuh selidik. Bisa saja kan dia diberikan alamat rumah si janda juga.
"Kau tidak berbohong kan?" Sentak Devan.
"Tidak, itu benar rumahnya, kak Rahma!"jawab remaja itu.
"Terus kenapa ibu disana menjelaskan rumit sekali?" Tanya Devan menunjukkan rumah ibu tadi.
"Dia memang suka mempersulit hidup." Devan sontak langsung tertawa.
"Ya sudah nih ambil." Devan memberikan lima lembar uang terbesar di kantongnya.
Namun, remaja itu menatap dengan Engan menerima nya. Devan memikirkan bahwa remaja itu akan menolak karena merasa agak berlebihan. "Tidak apa apa ambillah." Ucap Devan.
"Itu lima ratus?"
"Iyah, ah kurang yah?" Devan hendak kembali merongoh sakunya, tetapi jawaban tak terduga dari remaja itu membuat Devan melonggo.
"Aku hanya butuh tiga ratus, tetapi itu lima ratus, jadi tidak usahlah."jawab remaja itu.
"Aa?" Beo Devan.
*****
Devan menelusuri jalan yang remaja itu tunjukan. Tidak jauh dari tempatnya memang ada rumah bercat putih. Dengan senyum merekah Devan langsung berjalan menghampiri rumah itu.
"Iya benar in--"ucapan Devan terhenti kala ia melihat Rahma bersama seorang laki-laki di depan rumahnya.
Devan mengepalkan tangannya menahan amarah. Sudah seperti menciduk istri selingkuh saja saat ini.ternyata felling Devan benar. Rahma sedang berduaan bersama laki-laki yah meskipun itu bukan Zaki.
Devan langsung menghampiri hinga kedua manusia itu langsung menoleh.
"Tuan?"
__ADS_1
...*Hm kira kira apa yang bakal terjadi?😁siapa pria itu?dan kenapa ada di depan rumah Rahma? tungguin part selanjutnya yah Babay...