
Selamat Membacaâ¤
Maafkan author yang lama up nyađ
Malam Harinya.......
"Rendy sudah besar tidak seharusnya, Rendy masih tidur sama bunda."
Rendy menatap sedih Rahma. Apakah bundanya itu sudah tidak menyayangi Rendy lagi hingga kini ia disuruh tidur sendirian?memang sudah hampir satu bulan ini, lebih tepatnya semenjak ada Rahma, Rendy selalu meminta Rahma untuk tidur bersamanya.
"Kenapa? Bunda gak suka tidur sama Rendy?"tanya Rendy.
"Kata siapa? Bahkan bunda sangat suka tetapi, Rendy sekarang'kan sudah besar. Rendy harus belajar mandiri, malu dong kalau ketahuan Zahra, Rendy sudah mau masuk SD, tetapi tidurnya masih ditemani,"jelas Rahma.
Rendy menganguk mengerti. Rahma tentu saja senang karena setiap yang diucapkannya, Rendy tidak pernah membantah. Yah meskipun Devan akan marah karena menurutnya cara Rahma terlalu keras dalam mengatur anaknya.
Namun apa peduli Rahma, bahkan gadis itu tidak mengangap Devan sebagai bossnya. Prinsipnya apabila mama Devan iya-iya saja komentar Devan tidak perlu dihiraukan. Lagian Rahma juga memberikan didikannya yang baik pada Rendy. Tidak seperti Devan yang terlalu jujur ketika Rendy bertanya.
"Sudah malam, sekarang tidur," ucap Rahma singkat sambil mencium kedua pipi Rendy.
"Besok hari senin, jadi Rendy masuknya jam tujuh gak boleh telat,"sambung Rahma.
"Iyah bunda, selamat malam."
"Selamat malam, sayang."
Rendy mulai memejamkan matanya. Rahma masih dalam posisinya duduk di tepi ranjang dan mengelus lembut kepala Rendy. Tak berselang lama anak itu tertidur dan Rahma pun langsung beranjak keluar.
*********
PLAKK!
Suara tamparan dari lantai bawah membuat Rahma yang sedang berjalan hendak ke kamarnya jadi terhenti. Di bawah sana sudah terlihat gelap karena hanya ada sinar lampu di ruang tamu dan sinar rembulan malam yang jadi penerang.
"Kenapa kebiasaan ini kembali terulang, Devan! Sudah berapa kali mama katakan jangan minum-minum lagi! Peralihan segala masalah bukan kesana!" Suara mama Devan terdengar marah dari lamtai bawah.
"Mama, Devan pusing, besok saja yah,"lirih Devan sambil diiringi batuk.
Rahma yang mengerti apa yang terjadi sekarang langsung turun dan menghampiri mama Devan yang sedang marah-marah sekarang.
"Ma,"pangil Rahma. Mama Devan menoleh.
"Ah maafkan aku, mama pasti mengangu tidurmu yah?"
"Tidak kok, aku memang belom tidur,"jawab Rahma.
"Nona buntal." Devan memangil dengan suara seraknya.
"Sudah malam, mama tidur saja biar aku yang mengurus, tuan,"ucap Rahma. Mama Devan melirik sejenak Devan yang sudah mabuk berat.
Wanita paruh baya itu tersenyum lembut kepada Rahma kemudian ia langsung memilih kembali ke kamarnya. Memilih membiarkan saja Rahma yang mengurus Devan. Itu juga lebih baik karena setidaknya emosi mama Devan bisa tertahan pada Devan malam ini.
Sebenarnya sudah lama Devan tidak minum bahkan pulang sampai mabuk seperti itu, tetapi entah ada masalah apa hinga putranya tersebut kembali mimum.
__ADS_1
Rahma langsung menghampiri Devan yang sudah terkulai lemas di sofa. Keadaan pria itu membuat Rahma sakit hati. Devan bukan hanya mabuk, tetapi baju kemeja nya dipenuhi bekas lipstik wanita, lehernya juga merah-merah, pikiran Rahma tak lagi positif lagi.
Namun, Rahma sadar. Mau cemburu memang dia siapa dan apa haknya. Seorang pelayan tidaklah pantas cemburu pada sang majikan.
"Nona buntal tubuhku panas," Devan kembali bergumam lirih.
"Iyah, ayo berdiri kita ke kamar," jawab Rahma sambil mulai membopong tubuh Devan. Perjalanan tentunya akan lama meskipun menempuh jarak yang tidak terlalu jauh untuk sampai ke lantai atas. Ditambah lagi Devan yang sudah berbicara melantur tidak jelas membuat Rahma kesal sendiri.
"Huuuhhh!" Rahma bernafas lega saat mereka akhirnya berada di kamar Devan. Gadis itu langsung mendorong kuat tubuh Devan agar jatuh ke kasur. Tidak peduli ia melihat kepala Devan yang sedikit terbentur di kepala kasur hingga sang empu meringis kesakitan.
"Selalu saja merepotkan diriku, dasar duda laknat." Rahma mendumel keras sambil melangkahkan kakinya ke lemari pakaian.
"Sok-sok'an mabuk segala, kalau tidak merepotkan diriku tidak masalah, ini apa-apa harus aku yang mengurusmu!" Omelan Rahma terus berlanjut sembari tangannya yang membuka baju Devan untuk mengelap tubuh pria itu.
Benar dugaannya, bukan hanya pada leher, tetapi di dada Devan juga banyak bekas hisapan para wanita titisan vampir.
"Dia jelek, bibirnya tidak mengoda." Gumaman Devan kembali membuat Rahma emosi. Handuk basah yang ia gunakan langsung beralih ia usapkan secara kasar ke wajah Devan.
"Apa saja yang kau lakukan disana?"tanya Rahma. Meskipun Devan tetap terpejam, tapi Rahma yakin Devan masih memiliki kesadaran.
"Duduk." Jawaban konyol itu membuat Rahma menabuk keras lengan Devan.
"Aku tau itu, selain duduk kau ngapain?bermain dengan para wanita seksi itu?iyah!?" Rahma benar-benar emosi, Tidak dapat ia tahan lagi. Memikirkan Devan melakukan itu seketika membuat hati Rahma panas.
"Bermain ular tangga,"jawab Devan sambil tertawa ngakak.
"Duda sialan!"desis Rahma sambil mengelap seluruh tubuh Devan, bahkan gadis itu rela mati-matian menahan rasa malunya ketika membuka celana panjang Devan.
"Jangan bergerak, jangan jatuhkan handuknya!"bentak Rahma. Sedangkan Devan terus mengoceh tidak jelas, mungkin saja pria itu sedang mengeluarkan unek-uneknya.
"Nona buntal apakah kau bisa mencintaiku dengan tulus?"
Degg!!
Rahma kembali menoleh. Dan Devan masih dalam posisinya. Matanya terpejam. Melihat air mata yang keluar dari pelupuk mata Devan membuat Rahma kembali mendekat.
"Dia menangis?"gumam Rahma
"Kenapa tidak ada yang bisa mencintaiku dengan tulus!?kenapa bisa begitu?"suara Devan mulai kembali serak. Ya pria itu benar-benar menangis.
"Tidak ada yang bisa tulus menerimaku."
"Yang sudah aku percaya saja masih bisa mengecewakanku."
Devan terus mengoceh, sedangkan Rahma hanya diam menyimak. Melihat air mata Devan terus mengalir membuat Rahma tak tega. Tidak pernah ia melihat Devan sesedih itu.
Meskipun sekarang Devan dalam keadaan mabuk. Tetapi Rahma tau segala ucapan yang dilontarkan orang mabuk benar-benar tentang perasaan hatinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"gumam Rahma. Gadis itu tentunya kebingungan melihat Devan mengucapkan kata kecewa dan ketulusan yang entah tertuju kepada siapa.
"Aku membencimu, Jessika!"teriak Devan.
Rahma tersentak. Jadi masalah pria itu mengenai Jessika. Apakah mereka telah putus? Batin Rahma mulai bertanya-tanya.
__ADS_1
"Perempuan itu benar-benar membuat aku kecewa,"ucap Devan mengepalkan tangannya.
"Aku benci dia, aku sangat membenci dia!" Rahma langsung mengulurkan tangannya dan mengengam tangan Devan. Tangan satunya ia gunakan mengusap pipi Devan yang basah akibat air mata.
"Mereka tidak ada yang benar-benar mencintaiku. Semuanya bohong!"
"Kepalaku sakit."
Rahma hanya bisa tertawa saat tiba-tiba melihat Devan tersenyum padahal tadi dia baru saja menangis. Pria itu kini menjambak rambutnya sendiri.
"Tidurlah,"ucap Rahma
"Nona buntal,"pangil Devan sambil memiringkan tubuhnya menghadap Rahma.
"Apa?"ketus Rahma.
"Duda laknat dengarkan aku dan jawab aku dengan jujur!"bentak Rahma.
Devan tak menjawab. Mulutnya terus saja mengoceh pada hal yang tidak nyambung.
"Jawab aku apakah kamu melakukannya dengan wanita-wanita jelek itu disana?"tanya Rahma.
"Iya. tidak. Aku tidak main, dia mengajakku aku tidak tau kepalaku sakit." Jawaban Devan kembali membuat Rahma kesal sendiri.
Bugh!!
Pukulan keras lagi-lagi Rahma daratkan di lengan Devan. "Jawab yang benar, mereka menciummu lalu apa lagi?!" Sentak Rahma emosi.
"Ohhh....." Devan kembali tertawa.
"Ya perempuan itu menciumku, bibirnya jelek sekali, tetapi aku tak boleh nolak."
Rahma membuang nafasnya gusar. Ingin sekali ia saat ini menghajar abis-abisan Devan untuk melampiaskan kekesalannya. Entahlah mengingat dada Devan yang merah-merah tadi membuat Rahma langsung emosi.
"Dia menciumku. Di sini, di sini dan di--tidak aku tidak menyentuhnya. Ya aku tidak mau melakukannya aku menolak."
"Benarkah?" Devan menganguk pelan.
"Nona buntal?"
"Hmmm?!"
"Apa kamu mencintaiku?"
Pertanyaan itu lagi!
Rahma terdiam hingga suara Devan kembali terdengar.
"Kenapa tidak ada yang bisa menerimaku dengan tulus?"
"Ada!" Jawab Rahma.
"Tapi, Jessika nggak?"tanya Devan.
__ADS_1
"Setiap perempuan beda-beda tuan, mungkin tidak Jessika tapi aku yakin ada,"jawab Rahma.