
Selamat Membaca❤
Tak lama kini pintu utama terdengar terbuka. Rendy langsung tersenyum mendengar suara ayahnya yang terdengar.
"Bunda, ayah sudah datang,"ucap Rendy.
"Iyah, ayo,"jawab Rahma. Dengan senyum merekah mereka berdua lamgsung bangkit dan menuju ruang tamu. Tapi tak begitu lama senyum keduanya pudar kala Devan tak datang sendirian.
Ya, ada Jessika bersama dengannya.
"Dia tante yang kemarin'kan?"tanya Rendy. Devan langsung tersenyum manis dan menghampiri anaknya.
"Iyah, ayo sapa gih,"suruh Devan. Rendy menatap ayahnya tak suka. Seketika pikirannya tentang Jessika yang akan mengantikan posisi Rahma sebagai bundanya membuat Rendy kesal.
Jessika langsung mendekati Rendy dan menundukan tubuhnya. Dari segi wajah gadis itu memang tidak terlihat terlalu buruk menurut Rendy, tapi yang membuat Rendy tidak suka padanya adalah sifatnya. Dia sangat kasar dalam berbicara, tidak sabaran dalam setiap hal dan juga pemarah. Tidak seperti Rahma yang selalu sabar dan ramah.
"Hai Rendy,"sapa Jessika ramah. Rendy tetap diam hingga terdengar teguran dari Rahma baru anak itu mau membuka suara.
"Hai....." setelah menjawab Rendy langsung menjauhkan tubuhnya.
"Dia nginap disini malam ini,"ucap Devan memberitahu.
Rahma hanya membalas dengan senyum kecilnya. Entah mengapa melihat Jessika membuat Rahma jadi sakit hati. Terlebih lagi mengetahui Devan dan gadis itu akan menikah dua bulan lagi.
Apa iyah, Rahma cemburu?
Entahlah.......
"Dia pacar, Ayah?"pertanyaan polos itu terlontar dari mulut Rendy. Devan yang mendengarnya langsung tersenyum dan mengelus lembut kepala anaknya.
"Iyah, yang sebentar lagi akan jadi bundanya kamu," jawab devan. Rendy refleks menoleh pada Rahma yang hanya berdiam diri.
"Terus, bunda Rahma?"tanya Rendy.
Rahma yang sudah tidak nyaman dengan arah pembicaraan langsung menyimpangkan obrolan. "Nona mau aku buatkan minuman apa?"tanya Rahma.
"Tidak usah,"tolak Jessika.
"Ayah, Rendy dari dulu tidak suka dengan perempuan itu. Dia tidak baik, dia galak, dan dia gak suka Rendy, kenapa sekarang Ayah bawa lagi." Rendy menatap Devan kecewa.
"Rendy, kata siapa tante galak, ngakk kok," jawab Jessika tersenyum manis.
"Bunda ayo!" Rendy langsung menarik tangan Rahma mengajak gadis itu untuk pergi ke kamarnya.
Merasa tak ada pilihan meskipun sikap Rendy yang tak sopan terhadap Jessika, Rahma tak bisa melakukan apa-apa. Dia lebih memilih mengikuti saja bocah itu pergi ke kamarnya.
"Rendy kok gitu, sama tante Jessika? Gak sopan loh," nasehat Rahma saat sudah berada di kamar Rendy.
"Rendy gak suka dia,"ucap Rendy lirih.
__ADS_1
"Gak boleh gitu, sayang." Rendy menunduk lemah dan air matanya yang telah sekian lama tak keluar hari ini kembali terlihat, yah Rendy menangis.
Rahma yang melihatnya tentu merasa tak tega. Rahma langsung membawa Rendy ke dalam dekapannya. Mengucapkan kata-kata penenang agar anak itu tidak menangis lagi.
"Sudah anak bunda tidak boleh sedih, hapus air matanya. Bunda gak suka liat anak bunda menangis," ucap Rahma.
"Aku benci ayah, dia gak nepati janji. Katanya dia mau nuruti semua keinginan Rendy, tetapi dia bohong dan mau jadiin tante itu bundaku, aku'kan sudah ada bunda jadi gak perlu dicariin lagi," Rendy mengoceh di sela-sela tangisnya.
"Rendy gak suka tante itu bunda, Rendy gak mau dia jadi bundanya Rendy,"ucap Rendy.
"Iyah, iyah sudah dong jangan nangis lagi, nanti gantengnya ilang loh , liat nih ingusnya keluar jadi kena baju bunda,"jawab Rahma yang pura-pura kesal.
"Bunda, jangan tinggalin Rendy yah."
"Iyah, gak bakal kok," ucap Rahma sembari mengusap air mata Rendy.
"Janji?" Rendy mengulurkan kelingking kecilnya. Rahma terdiam.
"Janji'kan bunda?"Rahma menganguk ragu kemudian ikut mengaitkan kelingkingnya dengan Rendy.
"Bunda janji, sudah yah kita tidur sekarang, besok Rendy harus sekolah," Rendy menurut, setidaknya rasa kecewa pada sang ayah bisa digantikan dengan ketenangan dari bundanya.
"Pr mengambarnya sudah selesai'kan?"tanya Rahma.
"Sudah."
"Rendy gambar apa?"
"Soalnya besok kata bu Nisa harus diceritain,"sambung Rendy.
"Rendy harus ceritain yang bagus yah besok, biar teman-teman Rendy iri,"ucap Rahma.
"Iyah dong,"
"Yasudah, ayo tidur."
************
Sementara diluar Jessika untuk pertama kalinya bertengkar hebat dengan Devan, gadis itu kali ini benar-benar terlihat kesal mengenai Devan yang menurutnya tidak tegas kepada Rendy.
"Ini sudah hampir empat bulan, Devan. Mau sampai kapan aku menunggu, Rendy menyukai ku baru kita akan nikah?!"
Devan menghela nafas gusar, sudah berapa kali ia katakan bukan? Devan tidak mau menikahi Jessika hanya saja ia tidak mau memikirkan kepentingan dirinya sendiri dan melukai hati anaknya.
"Ini tidak akan sulit apabila kamu bisa mengambil hatinya, jess,"jawab Devan.
"Mau dengan cara apalagi, Devan? Sudah lama aku mencoba mendekati hati Rendy, tetapi apa hasilnya?!"dia tetap saja tidak menyukaiku. Harusnya anakmu itu bersyukur karna aku bisa dengan senang hati menerimanya meskipun dia tidak terlahir dari rahimku sendiri.
Devan yang mendengar ucapan gadis itu barusan langsung menoleh cepat, dia tidak salah dengar barusan bukan?ternyata benar ketakutan Devan, Jessika tidak benar-benar tulus mencintainya, seharusnya gadis itu bisa mengerti perasaan Devan, tetapi apa yang malah ia lakukan?
__ADS_1
"Kalau begitu jangan perdulikan anakku lagi,"
Jessika langsung tersenyum mendengar ucapan Devan, akhirnya pria itu bisa sadar juga dan tidak lebih mementingkan anaknya mengenai pernikahan mereka.
" Dan jangan bahas tentang pernikahan lagi, karena mulai saat ini kau bukanlah kekasihku lagi!"
Deg!!
Jessika melotot sempurna mendengar ucapan Devan, gadis itu langsung mendekati Devan untuk meminta penjelasan atas ucapan pria itu barusan.
"Apa makshudmu? Tidak bis--"
"Kenapa? Kau tidak mau putus?ingatlah, kebahagiaan anakku adalah yang paling utama bagiku, dari perkataanmu beberapa detik lalu membuatku sadar bahwa kau tidak benar-benar mencintaiku dan tak bisa menerima aku dan anakku dengan tulus," potong Devan. Jessika terdiam.
"Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, lupakan semua yang telah direncanakan, tidak akan ada pernikahan di antara kita, aku tidak bisa menikahi perempuan yang tidak bisa menerima anakku!"
"Devan, aku--"
"Pergilah, aku tidak mau melihatmu lagi!"
"Devan bukan it--"
"Pintu rumahku disana, pergilah sendiri sebelum aku mengusirmu dengan kasar!"
"Devan dengarkan aku dulu--"
"Pergi!" Teriakkan Devan membuat Jessika tidak bisa bekata apa-apa lagi. Dengan keadaan yang sudah terisak gadis itu mulai melangkahkan kakinya keluar.
Harapan besar tentang kehidupan bahagia yang telah ia idam-idamkan kini telah pupus sudah, ditengah isakan gadis itu hanya bisa berandai-andai agar tadi ia tidak mengucapkan kata-kata yang bisa membuat Devan marah padanya.
Tetapi apalah daya emosi Jessika benar-benar tidak tertahankan lagi karena pernikahannya dengan Devan selalu diulur karena belum bisa mendapatkan hati Rendy.
************
Ceklek!!
Pintu coklat kamar Rendy terbuka, keadaan kamar sudah remang-remang karena hanya lampu tidur yang dinyalakan. Devan melangkahkan kakinya mendekati Devan dan anaknya yang sudah tertidur lelap.
Tangannya terulur mengelus lembut kepala anaknya. Rasa bersalah kini mulai timbul di hati Devan melihat rasa kekecewaan terlihat jelas di manik coklat putra kecilnya tersebut.
"Maafkan ayah nak, kamu benar dia tidak pantas jadi bunda kamu." Devan berucap lirih dengan air matanya yang tumpah.
Devan kecewa, dan bahkan sangat kecewa pada Jessika. Gadis itu sudah sangat ia cintai dan ia harapkan kelak bisa memberikan kebahagiaan padanya dan anaknya ternyata bisa dengan teganya mengucapkan kata-kata yang tak sepantasnya dia ucapkan, terlebih lagi ia ucapkan di depan Devan sendiri.
Devan mengusap kasar air matanya dan menoleh pada Rahma yang terlelap dalam keadaan memeluk putranya. Tanggis kecewa itu seketika berubah jadi tersenyum manis saat melihat wajah damai Rahma.
Tangan Devan tanpa sadar mengelus lembut puncak kepala Rahma. Menyampingkan beberapa helai rambut gadis itu kebelakang agar tidak menutupi wajah cantiknya.
"Apakah kamu mencintaiku, nona buntal?"
__ADS_1
#Bersambung
jangan lupa tinggalkan jejak guys😊