
Selamat Membaca❤
"Setiap perempuan beda-beda tuan, mungkin tidak Jessika tapi aku yakin ada,"jawab Rahma.
"Iya."jawaban singkat Devan membuat Rahma hanya bisa mendelik jengah. Berbicara pada orang yang mabuk memang harus sabar.
"Yasudah tidurlah, aku pergi dulu."
"Jangan pergi, nona buntal!" Rahma mengerjap ketika Devan menahan dan menggengam tangannya erat. Gadis itu terpaksa kembali duduk.
"Ini sudah malam. aku harus istirahat, kamu juga harus istirahat,"jawab Rahma. Devan mengeleng kuat.
"Tidur disini saja."
"Ogah! Kalau kau khilaf bagaimana?!"
"Kepalaku sakit? Kau kupecat jika membantah!" Rahma melebarkan matanya. Apa-apa pria itu asal memecat saja dalam kondisi mabuk berat.
"Nona buntal kamu mencintaiku'kan?" Devan kembali bertanya dalam kondisi bawah sadarnya. Rahma, tetap diam tak mampu menjawab, gadis itu kembali menghela nafas panjang saat Devan sudah kembali menitikkan air mata.
Tidak punya pilihan, Rahma ikut menaiki kasur. Mungkin dengan menemani pria itu tidur malam bisa membuatnya menjadi sedikit tenang.
"Kumohon tetaplah bersamaku, jangan tinggalkan aku dan Rendy."
"Rahma menganguk dan tersenyum kecil." Rahma hanya bisa berandai. Ya, andai saja Devan mengucapkan itu dalam kondisi sadar.
__ADS_1
"Iya, tidurlah,"jawab Rahma.
Devan semakin mendekatkan tubuhnya mendekati Rahma. Sedangkan Rahma mulai was-was sendiri dan......
Grep!!
Pikirannya akan Devan yang memeluknya benar terjadi. Pria itu memeluknya dengan erat diiringi kepalanya yang dia sembunyikan di leher Rahma.
Dengan ragu tangan Rahma ia angkat dan mengelus lembut kepala Devan. Kakinya ikut ia angkat supaya bisa menarik selimut.
"Awas kalau kau khilaf yah."
Keesokan Harinya....
Pagi telah tiba. Devan mulai terbangun dari tidurnya, pria itu mengerjap beberapa kali untuk memperjelas pandangannya. Disaat pandangan itu mulai jelas Devan menatap bingung sesuatu yang kembung di depannya tersebut.
Devan berusaha mengingat kejadian semalam. Dimana disaat mamanya yang marah dan berakhir menamparnya kemudian Rahma yang membantunya ke dalam kamar dan menganti pakaiannya. Hanya itu yang Devan ingat. Selebihnya tentang yang ia ucapkan pada Rahma tak bisa ia ingat lagi.
Devan seketika tersenyum membayangkan entah apa yang ia ucapkan pada Rahma hingga gadis itu terpaksa tidur dengannya. Devan sontak merasa malu karena ia sendiri yakin pasti hal yang ia ucapkan itu adalah hal-hal yang konyol.
Mendengar Rahma melenguh dengan cepat Devan kembali memejamkan matanya dan memposisikan kepalanya di samping leher Rahma. Sangat malu Devan apabila Rahma mengungkit dan mengejeknya tentang segala perkataannya semalam. Jadi lebih baik Devan pura-pura tidak tau saja.
Rahma yang sudah terbangun langsung melirik jam yang menunjukan pukul enam pagi. Rahma tersenyum tipis melihat Devan masih tidur disampingnya. Tangannya terangkat mengelus lembut kepala Devan kemudian ia pelan-pelan beranjak dari kasur.
Devan membuka matanya dan mengintip sedikit Rahma yang sudah terlihat memasuki kamar mandinya. Terdengar di dalam sana gemercik air. Setelah melihat Rahma yang kembali masuk Devan kembali menutup matanya seolah-olah tertidur.
__ADS_1
Setelah siap dengan air hangat di kamar mandi Rahma mulai melangkahkan kakinya ke lemari untuk menyiapkan pakaian Devan.
"Oke sudah siap." Rahma sudah hendak berjalan keluar, tetapi gadis itu kembali menghentikan langkahnya dan menoleh pada Devan yang masih tertidur.
Rahma menghela nafas panjang kemudian berjalan mendekati Devan.
"Tuan,"pangil Rahma.
"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi, bangunlah!" Devan yang sedari tadi sudah bangun kembali pura-pura menguap seolah-olah baru bangun dan menatap linglung Rahma yang sudah didepannya.
"Iya,"jawab Devan.
"Yasudah aku kekamar Rendy dulu," Devan menganguk. Bertepatan pintunya yang tertutup Devan tersenyum sinis.
Cekklekk
Pintunya kembali terbuka. Dengan cepat senyumnya Devan gantikan dengan wajah Lesu dan kembali pura-pura menguap. Rahma hanya menyengir dan kembali berjalan mendekati Devan.
"Ada apa?"tanya Devan.
"Jepit rambutku ketinggalan,"jawab Rahma.
Pintu kembali tertutup. Senyum Devan kembali terbit. Entahlah pagi ini ia merasa bahagia sekali. Mungkin benar Devan juga telah terkena jimat iler buntal Rahma.
"Ada apa denganku? apa aku juga telah terkena pikatan jimat iler buntalnya?"gumam Devan.
__ADS_1
Bersambung