DUDA NYEBELIN

DUDA NYEBELIN
Wisata Perempuan


__ADS_3

Selamat Membaca❤


"Bang Riki sebenarnya biaya untuk berkunjung ke wisata perempuan itu berapa?"


Riki Ardiansyah, tetangga satu komplek Devan yang biasa dipangil Riki. Cowok tersebut adalah anak tunggal dan sangat akrab dengan Rendy. Riki bahkan sudah mengangap Rendy sebagai adiknya sendiri jadi tak ayal dia dengan senang hati ikut berbagi ilmu.


"Pertanyaan yang bagus bro!" Tawa Riki langsung pecah. Setiap hari Rendy selalu bertanya hal konyol dan gila yang akan ia tanyakan pada Riki. Tentunya jawaban yang Riki berikan tak kalah gila.


"Soalnya kemarin, Rendy nanya sama ayah." Rendy mulai bercerita. Riki langsung menyimak dengan baik.


"Rendy nanya apa memangnya?"tanya Riki.


"Kata ayah hamil itu hanya untuk perempuan, terus Rendy tanya. Kalau untuk perempuan terus kenapa bunda Rahma belom hamil?"penuturan polos Rendy membuat Riki turut berpikir keras dalam memberikan jawaban yang epick.


"Ayah jawab gini, karena wisata berharga bundamu belom ayah kunjungi," ucap Rendy sambil menirukan bicara Devan.


"Oh hahahahha....." tawa Riki kembali pecah.


"Rendy tanya kenapa? Terus ayah bilang kalau tiket nya mahal yah?"tebak Riki. Rendy menganguk polos.


"Tidak mahal kok, cuma mereka harus collab,"jawab Riki.


"Terus biayanya?"


"Ck, tidak pakai biaya tidak masalah,oke jadi gini, abang kasih tau yang benar deh. Ayah dan bunda kamu hanya butuh tujuh huruf,"jawab Riki.


"Tujuh huruf apa?"tanya Rendy penasaran. Sudah tidak sabar ia ingin tau.


"M E N I K A H,"jawab Riki.

__ADS_1


"Bukan kawin duluan?"tanya Rendy. Riki kembali tertawa.


"Oh iya yah kawin duluan,"jawab Riki.


***********


"Ayah... pulang!" Teriakan Devan tidak mendapat sahutan. Keadaan rumah sepi.


"Devan langsung celingak-celinguk mencari keberadaan orang-orang. Entah ada dimana para penghuni rumah. Nama sang anak mulai Devan teriakan tapi tidak mendapat jawaban.


"Nona buntal..." Devan menaiki lantai atas, tetapi tetap saja tidak ada orang. Seketika ia merasa hawa tak enak dengan keadaan rumahnya yang tiba-tiba terasa horor.


"Ayah?" Devan refleks berteriak kaget saat mendengar suara Rendy yang ada di belakangnya. Pria itu memegang dadanya yang berdegup kencang. Rendy hanya menyengir.


"Dari mana kamu, sayang?"


"Nenek dimana?"tanya Devan lagi.


"Bagi-bagi uang di kompleks sebelah." Devan menganguk.


"Terus bunda kamu?"


"Kenapa mencariku? Mau gelud?!" Rahma menyahut dengan nada tak santai dari lantai bawah.


**********


"Mama capek habis pamerin kelinci di gang sebelah, mama duluan." Mana Devan yang baru selesai menikmati makan malam langsung melangkahkan kakinya menuju kamar. Tinggal Rahma, Devan dan Rendy juga sudah selesai.


"Ayah," pangil Rendy.

__ADS_1


"Iya?" Devan yang sedang meminum teh hangatnya menoleh.


"Sepatuku hilang sebelah."


Devan hanya menganguk santai  sedangkan Rahma langsung tersedak-sedak kemudian meraih segelas minuman. Gadis itu menatap kaget Rendy yang juga sedang menatapnya.


"Itu sepatu tujuh juta, Rendy?!"beo Rahma.


"Soalnya tadi ada yang jahilin Zahra jadi aku lempar pake sepatuku." Rendy menjelaskan tanpa dosa. Devan hanya menangapi dengan santai.


"Bagus, lelaki memang harus bisa menjaga perempuan,"jawab Devan


"Terus sepatunya hilang?"tanya Rahma.


"Tadi udah kotor jadi, sekalian saja Rendy buang." Rahma langsung melemaskan bahunya. Sementara Devan dengan santainya menjawab....


"Nanti ayah belikan lagi yang lebih bagus." Rahma yang mendengarnya hanya bisa menelan ludah.


Ting Tong.....


Suara bell dipencet mengema, Devan menatap heran dan melirik sejenak pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah delapan. Siapa yang bertamu malam-malam kerumahnya?


"Biar aku saja." Rahma langsung bangkit dari duduknya dan membukakan pintu.


"Iya? Cari siapa?" Rahma menyapa sopan wanita yang sedang berdiri membelakanginya tersebut. Dari penampilannya Rahma tau bahwa dia adalah Seseorang yang terpandang. Disaat wanita itu berbalik Rahma menatap kaget.


"Kau?!"


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2