DUDA NYEBELIN

DUDA NYEBELIN
Acara Reunian


__ADS_3

Selamat Membaca❤


Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Kini Devan sudah berada di sofa dengan panampilan yang rapi. Hanya tinggal menunggu Rahma saja yang sedang berdandan saja katanya cuma lima menit, baru Devan sadari tenyata lima menit pangkat empat.


"Sabar dong, namanya juga perempuan, apalagi dia sudah bilang bahwa malam ini harus tampil sempurna, jadi wajar saja lama,"timpal mama Devan mencoba memberi pengertian kepada anaknya.


Tak lama yang ditunggu-tunggu menampakan diri. Mama Devan langsung tersenyum manis saat melihat Rahma sedangkan Devan yang belom sadar masih fokus pada ponselnya.


"Van,"pangil mamanya.


"Iyah ma, mamanya menyengol kuat lengan Devan hingga pria itu ikut menoleh. Sejenak Devan tak berkedip menatap penampilan Rahma yang sangat cantik. Gadis itu mengenakan dress bewarna biru dongker yang terlihat sangat cocok membalut tubuh putih susunya.


Suara detukan heels itu kian mendekat. Mama Devan yang sudah tau anaknya sedang mengagumi Rahma diam-diam hanya bisa mengulum senyum. "Aku sudah siap,"ucap Rahma.


"Ekhemm....iyah," jawab Devan.


"Bagaimana penampilanku?" Rahma menatap Devan dengan tersenyum manis. Devan berdecih pelan dan bangkit dari duduknya.


"Biasa saja,tidak ada yang berubah, waktuku dua puluh menit terbuang sia-sia," lagi dan lagi jiwa gengsi Devan lebih menguasai hingga sekedar menjawab iyah pria itu tidak mampu.


"Mama sebagai wanita yang peka disini tadi jadi saksi loh bahwa kamu menatap Rahma tanpa berkedip,"sahut mama Devan. Rahma hanya bisa tersenyum kecil.


"Yah sudah,ayo berangkat, Ma kami jalan dulu,"pamit Devan.


Kedua manusia itu langsung bergegas berangkat. Acar reunian ini bukan acara reunian SMA, tetapi reunian teman kuliah Devan dulu, mungkin tidak akan terlalu rame karena banyak yang sibuk ditambah lagi mereka sudah banyak yang berkeluarga jadi tidak ada waktu.


"Yang mesra dong jangan kayak suami-istri yang sedang bertengkar,"ucap mama Devan.


Kini mereka sudah berada di perjalanan, tempat pertemuan mendadak diganti di sebuah bar. Awalnya perjanjian sudah sepakat di sebuah restoran, tetapi William tiba-tiba saja mengantinya. Tentu saja Devan paham bahwa pria itu berniat pamer.


"Kau kenapa?"tanya Devan saat melihat Rahma terlihat gugup. Berkali-kali gadis itu bercermin melihat wajahnya.


"Tuan apakah penampilanku terlihat jelek?aku takut disana nanti aku akan me--"


"Iyah kamu cantik,"


Degg!


Rahma menatap Devan lekat. Jantungnya kian berdebar kuat akibat mendengar pujian nada lembut tak biasanya dari Devan. Rahma sedang tak bermimpi kan?benarkah pria disampinya itu Devan atau jin Tomang yang menyerupai Devan.

__ADS_1


"Penampilanmu sudah sempurna,tidak akan membuatmu malu jadi tenang saja," sambung Devan. Rahma tersenyum manis dan detik berikutnya gadis itu menatap Devan penuh selidik.


"Kau tadi pasti salah minum obat, atau mungkin di perjalanan tadi nyawamu nyangkut,"tuding Rahma. Devan mendelik jengah, Devan selalu serba salah menghadapi Rahma, mau dihina gadis itu seperti tidak terima dan sedih. Tetapi saat dipuji dikatakan aneh jadi sebenarnya mau gadis itu seperti apa coba?


Lama menempuh perjalanan diiringi obrolan ambigu kini mereka sudah sampai di bar di penghujung kota. Rahma tampak ragu karena ini pertama kalinya ia datang ke tempat khas dengan minuman keras seperti ini.


"Ayo!" Devan langsung mengulurkan tangannya setelah membukakan pintu mobil untuk Rahma.


"Disaat seperti ini saja sok romantis, kalau bisa aku ingin setiap hari berdrama saja agar bisa romantis-romantisan bersamamu,"celotehan Rahma.


"Jangan membuat malu,malam ini kita damai dulu pulang nanti baru kita lanjutkan permusuhan abadi kita,"bisik Devan. Rahma terkikik geli.


"Biasanya permusuhan bisa jadi cinta,"goda Rahma.


"Jangan bermimpi,aku tidak menyukaimu dan bahkan tidak akan pernah menyukaimu."


"Perasaan'kan tidak ada yang tau,"jawab Rahma.


Devan dan Rahma mulai memasuki bar, musik DJ mulai terdengar, ini sudah hal biasa bagi Devan, tetapi tidak untuk Rahma. "Ingat pesan mama tadi,"bisik Devan.


"Pesan mama atau kemauanmu?"goda Rahma. Devan hanya menatap Rahma malas.


Setelah ketemu ruangan khusus tempat pertemuan mereka Devan dan Rahma mulai masuk. didalam sudah terdengar ramai mungkin pertemuan mereka kali ini banyak yang hadir.


Menyadari kedatangan Devan dan Rahma mereka semua langsung menoleh. Yang menjadi fokus pada pria adalah Rahma, sedangkan Devan tak luput dari kekaguman yang telah berbeda-beda status tersebut.


"Tuan Devan, akhirnya datang juga,"beberapa pria itu mulai bertos ria.


"Duduk-duduk mari silahkan,"


"Wah,wah ternyata yang dikatakan tuan William benar? Kamu sudah menemukan tambahan hati setelah sekian lama sendiri,"ujar seorang pria sambil berjabat tangan dengan Devan.


"Iyah,dia istriku Dinda," jawab Devan memperkenalkan Rahma.


"Nama yang bagus seperti rupanya,"puji pria lain.


"Silahkan-silahkan pertemuan kita kali ini sangat istimewa karena diundang untuk datang ke bar milik tuan William!"


"Oh iyah dimana istrimu?" Tanya Devan menoleh pada William yang sedang memimun wine,"

__ADS_1


"Lagi ke toilet,"jawab William.


"Begitu rupanya? Apakah toilet bar ini terletak si samping? Karena jika tidak salah aku melihat dia ada disana bersama seorang pria," ucap Devan setengah berbisik kepada William.


William yang tidak terima istrinya dituduh selingkuh oleh Devan merasa geram. Baru saja hendak menjawab teman mereka menyahut hingga ucapan William terhenti.


"Seperti yang kita tau, tuan Devan sekarang sudah sukses meskipun dulu ia berasal dari keluarga yang sederhana. Kerja keras serta usahanya menjadi panutan. Aku sendiri bangga padanya!" pujian dari pria tersebut membuat William tak suka.


"Iyah, bisnis ada dimana-mana, ditambah lagi sekarang mendapatkan istri yang sangat cantik, sangat bahagia tentunya dia,Rahma juga sangat beruntung memiliki suami yang kaya."


Devan tersenyum kecil dan menatap Rahma sejenak. Melihat Siska yang sudah duduk tepat disampingnya Devan mulai bereaksi. Pastinya wanita itu ikut kaget atas apa yang baru ia ketahui mengenai mantan pacarnya dulu ia tinggalkan sekarang mungkin sudah bisa menjabat gelar sultan


"Bukan, Rahma yang beruntung mendapatkan aku,melainkan akulah yang beruntung mendapatkan istri sebaik Rahma,"jawab Devan. Para wanita  tentunya ikut tersentuh mendengar ucapan Devan.


"Yah, aku setuju karena banyaknya wanita di dunia ini tidak akan mudah menemukan yang benar-benar tulus," sahut seorang wanita yang sedang menatap kagum pada Devan.


"Yah seperti yang kita tau tuan Devan'kan sudah memiliki anak jadi yang bisa menerima dengan tulus status duda sangat langkah."orang-orang lainya menganguk setuju.


Devan yang mendengar ucapan teman-temanya menjadi terhenyak, yah memang benar,tidak mudah mendapatkan wanita yang benar-benar tulus mencintai duda beranak satu seperti dirinya.


Namun, sejauh ini Devan melihat jelas bagaimana Rahma sangat menyayangi anaknya bahkan mengurusnya dikala sakit kemarin. Devan jadi paham itu bukan bentuk niat pekerjaan tapi gadis itu benar-benar tulus dalam menyayangi anaknya, Rendy.


Seketika perasaan ragu kembali hinggap di hati Devan mengenai Jessika, apakah gadis itu bisa setulus Rahma?


"Sangat cantik istrimu Van,"pujian dari salah satu pria yang duduk betepatan sebelah Rahma membuat Devan tidak suka. Tatapan pria itu sangat menyiratkan ketertarikan yang besar pada Rahma.


"Tapi entahlah aku tidak yakin istrimu sebaik itu,"sahut William. Siska menganguk.


"Zaman sekarang mana ada yang benar-benar tulus palingan juga menginginkan hartanyan"jawab Siska. Satu meja langsung menoleh padanya.


"Yang tulus bukannya tidak ada tapi sangat jarang ditemukan, kalian pasti  pernah mendengar sendiri bukan?" Siska langsung terdiam mendengar jawaban  dari Rahma. Sementara Devan hanya bisa mengulum senyum. Tidak salah dirinya mengajak Rahma.


"Yah,aku setuju,"salah satu wanita menyahut membenarkan ucapan Rahma.


"Ketulusan seseorang tidak bisa kita lihat dari luar, tetapi aku yakin Devan sudah membenarkan pasti itu memang benar adanya, karena yang lebih dahulu merasakan ketulusan dari istrinya pastinya Devan sendiri," Siska benar kalah sekarang, Bukan satu dua wanita yang membela Rahma tapi semuanya.


#Bersambung


Jangan luppa di like dan vote yah say😊❤

__ADS_1


__ADS_2