
Selamat membaca❤
"Jika saja kau mengucapkan itu saat diranjang pasti itu sangat mengairahkan,"ucap Devan.
"Dasar duda sialan,"maki Rahma sambil memukul paha Devan.
Devan tertawa terbahak-bahak bahkan tidak memikirkan bahwa tidur Rendy menjadi terganggu. Pria itu berhasil membuat Rahma kesal karna menahan malu akibat perkataanya.
"Diam kau duda laknat,"bentak Rahma.
"Kau bahkan sangat terlihat tua ketika tertawa seperti itu," ejek Rahma dan itu berhasil membuat Devan menjadi diam. Pria itu dengan cepat mengarahkan spion mobilnya untuk berkaca meneliti wajahnya.
"Sembarangan, aku ini abadi, nona buntal, bahkan seluruh tubuhku ini tidak akan berubah sampai kapanpun,"ucap Devan. "Sama halnya dengan wajah tampanku,"sambungnya.
"Cih, bahkan mamamu pernah mengatakan bahwa kau hanya produk percobaan mereka ciptakan dalam posisi salah gaya dan juga semprotan benih dari susu cair beriklan naga."ucap Rahma. Devan bahkan membulatkan matanya. Sangat tidak terima dirinya dikatakan tercipta dari cairan susu obat penambah dara yang ber-iklan naga di tv itu.
"Lalu apakah kau merasa kau tercipta dari benih yang segar?modelan seperti mu ini bisa aku tebak tercipta dari cairan susu adem sari sachet,"balas Devan lalu tertawa terbahak-bahak.
"Mana mungkin, hanya aku makhluk tuhan yang tercipta dari benih segar, lihat saja diriku cantik,tinggi,putih,pintar uwaww lah pokoknya," jawab Rahma bangga.
"Iyah, cantik bahkan lebih cantik ketika bugil!" Rahma melotot garang.
"Akhhh,....kenapa kau mencubitku nona buntal?!"desis Devan kesakitan karena pahanya dicubit keras oleh Rahma.
"Kenapa kau selalu mengalihkan pembicaraan dengan topik yang melenceng,wahai duda laknat?!" Geram Rahma.
__ADS_1
"Lah, kenapa kau tidak senang aku berikan pujian?"tanya Devan. Rahma langsung menatap tajam Devan yang sedang menyetir.
"Pujian macam apa itu? Kursus dimana kau memuji perempuan dengan kata itu?"
"Hanya belajar dari laptop,"jawab Devan.
"Sangat menjijikan,"desis Rahma.
"Benar kok, nona buntal si pria memuji gadisnya seperti itu,"jelas Devan.
"Otakmu kesandung ****** online duda laknat! Makanya jangan kebanyakan nonton ikeh-ikeh kimochi!" Bentak Rahma. Kedua manusia itu benar-benar tidak menghiraukan Rendy yang tidur.
Kasian kamu nak, mana masih kecil:((
"Tidak usah nonton aja sekalian kita praktek-kan sambil live streaming juga. Bagaimana setuju?"usul Rahma. Devan mengancungkan jempol.
"Ide bagus!!setuju," Seru Devan
**********
Kini mereka sudah sampai dirumah, Rendy juga setelah sampai dirumah langsung terbangun jadi Devan tak perlu repot untuk mengendong anaknya tersebut.
"Sepatunya tempatkan di rak sepatu, yah sayang, jangan berantakan."seru Rahma memperingatkan.
"Iyah,bunda,"jawab Rendy patuh.
__ADS_1
"Bagaimana sekolah kamu tadi,sayang? Kamu sudah memamerkan baju barumu bukan?" Tanya Devan sambil mengandeng tangan anaknya masuk kedalam kerumah.
Sementara Rahma hanya mampu meringis dalam diam karena lukanya yang terasa sakit akibat bergesekan dengan heells nya. Gadis itu kini berjalan terpincang-pincang. Devan yang menyadari itu langsung menghentikan langkahnya.
"Rendy,kamu naik sekarang ganti baju, terus mandi,"titah Devan.
"Baik ayah,"jawab Rendy dan langsung berlari menaiki tangga.
"Boleh aku mengusulkan saran untukmu, nona buntal?"Rahma tersentak kaget. Gadis itu hanya menatap Devan datar.
"Berhentilah memiliki hobi merepotkan diriku," ucap Devan dan langsung mengendong Rahma, membawa gadis itu untuk duduk di sofa. Rahma tentu saja terkejut dengan tindakan tiba-tiba dari Devan, tapi Rahma tetap diam dan melingkarkan tangannya dileher Devan agar tidak terjatuh.
"Tunggu disini!" Rahma hanya mengerjap lucu dan menganguk patuh.
"Mau apa dia,"gumam Rahma saat melihat Devan sudah hilang ke dapur. Tak lama pria itu sudah datang kembali dengan membawakan kotak P3K di tanganya. Rahma hanya bisa mengulum senyum membayangkan ternyata Devan mau....
Brakkk...
Devan menjatuhkan kotak itu kelantai.
"Tidak ada ceritanya seorang majikan mengobati luka pelayan, bersikan sendiri lukamu sampai bersih dan jangan sampai itu menyebabkan virus menular!" Devan melengang pergi, sedangkan Rahma hanya bisa mengumpat.
"Dasar duda kaku, katakan saja bahwa kau gengsi untuk menunjukan perhatianmu padaku,"cibir Rahma sambil mengobati lukanya.
Sementara Devan yang masih berada di tangga atas memegang jantungnya yang berdebar kuat.....
__ADS_1