DUDA NYEBELIN

DUDA NYEBELIN
Nikah atau kawin duluan


__ADS_3

Selamat membaca❤


"Baik-baik di sekolah yah sayang, nanti siang bunda jemput,"ucap Rahma. Kini Rendy dan Rahma sudah berada di depan gerbang paud tempatnya bersekolah.


"Bunda kenapa hari ini kita tidak berangkat bareng ayah?"tanya Rendy.


"Oh itu, ayah tidak masuk kerja hari ini, ayah ada acara," jawab Rahma berbohong. Ia tentu tak mau membuat Rendy khawatir terhadap Devan.


"Oh gitu yah, yasudah Rendy masuk dulu yah bunda."


"Baik-baik sekolahnya, jangan bertengkar dan belajar yang rajin," pesan Rahma.


"Siap bunda, bye-bye."


***********


Ceklekkk


Pintu kamar Devan terbuka dan Rahma langsung masuk dengan satu nampan berisi sarapan yang ia bawakan dari lantai bawah.


Mama Devan pun memangil dokter langanan mereka untuk memeriksa keadaan Devan. Bahkan wanita paruh baya itu masih sempat-sempatnya memarahi Devan karna sering begadang mengurus pekerjaan hingga sakit.


"Tuan ayo sarapan dulu,"ucap Rahma sembari meletakan nampan berisi makanan yang ia bawah ke atas nakas.


"Kau sudah mengantar anakku?"tanya Devan yang sudah mulai berusaha bangkit dari duduknya.


"Iyah sudah,"jawab Rahma.


"Tuan bisa makan sendiri,atau mau aku suapin?"tanya Rahma. Melihat tubuh Devan yang bahkan memegang sendok pun tak mampu langsung membuat Rahma kembali merebut bubur yang ia buat tersebut dari tanggan Devan.


"Tidak apa-apa, sini,"ucap Rahma.


"Yaampun, aku kira semalam tuan sudah mau berangkat," ucap Rahma sembari menyuapkan bubur ke mulut Devan. Sedangkan Devan menatap tajam Rahma yang sudah tertawa.


"Ini juga gara-gara dirimu. Lihatlah baru semalam kau satu kamar  denganku, tetapi sudah membuatku hampir meninggal,"tungkas Devan!


"Dih, itumah karna tuan punya banyak dosa, terlebih padaku, makanya jangan terlalu jahat. Tuan jadi kena sial kan,"hardik Rahma.


"Sebentar lagi dokter datang sebaiknya tuan mandi dulu," ucap Rahma setelah selesai menyuapi Devan.


Rahma berdiri dan membenarkan bajunya sejenak. "Aku sudah cocok nih kayanya nikah, secara aku sudah bisa mengurus suami dan anak,"gumam Rahma.


"Gadis seperti dirimu tidak akan pernah mendapatkan jodoh,"cibir Devan.


"Kau menyumpahkan diriku tuan?!"


"Bukan, hanya menebak,"jawab Devan.


"Yasudah kalo tidak mendapatkan jodoh, sama tuan saja, bagaimana?" Tawar Rahma dengan cengiran kudanya.


"Mimpi! Nasib burukku sudah cukup dengan menjadi duda dan jangan sampai jadi semakin buruk karena nikah dengan makhluk kasta induk ikan buntal seperti dirimu," jawab Devan. Rahma melebarkan matanya.


"Dasar duda laknat! Kusumpah'kan kau suatu saat nanti jatuh cinta padaku!" Geram Rahma dan langsung berjalan menuju kamar mandi dan sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Devan hanya bisa mengulum senyum melihat Rahma.


************


"Tidak ada masalah yang serius, hanya demam biasa akibat tubuhnya kurang vit dan istirahat. Sebaiknya jangan terlalu sering begadang karna tidak baik untuk kesehatan. Masih untung semalam sudah dilakukan  penanganan awal jadi demamnya tidak sampai parah," jelas dokter bernama Hendra tersebut.

__ADS_1


"Tuh, dengerin untung ada Rahma, sungut mama Devan. Dirinya memang tadi malam tak sengaja melihat Rahma ke dapur menyiapkan air hangat dan minuman. Karena penasaran dirinya mengintip dari cela pintu kamar Devan yang tak tertutup rapat.


"Iyah ma,"lirih Devan.


"Baiklah kalau begitu saya permisi, dan jangan lupa obatnya diminum Dev,"pesan  Hendra.


"Terimah kasih,"


"Mama Devan keluar dari dalam kamar Devan untuk mengantarkan dr. Hendra  kedepan. Sepeninggalnya mama Devan dan Hendra, Devan langsung menoleh pada Rahma yang masih duduk di pinggir kasur sedang mengamati obat yang diberikan dokter tadi.


"Ini diminum dua kali sehari setelah makan jadi sekarang waktunya minum obat," ucap Rahma.


"Nona buntal,"pangil Devan.


"Iyah tuan?butuh apa?" Tanya Rahma yang beralih menatap Devan yang sudah duduk di atas kasur dan menatapnya.


"Makasih."


"Iyah sama-sama tuan,"


***************


Seminggu telah berlalu.........


Rahma yang dulu bekerja di pasar kini memantapkan diri untuk bekerja di rumah Devan. Bukan karena keinginan Rahma tapi karna paksaan dengan seribu ancaman dari Devan yang membuat dirinya terpaksa risign dari semua pekerjaannya.


Tentu gadis itu tak bisa menolak terlebih lagi Devan menawarkan gaji yang lumayan besar. Mungkin dalam lima bulan seperti kontrak pambahasan kerja iler buntalnya yang ditawarkan Devan kemarin, Rahma sudah bisa membeli rumah mewah karna hasil kerjanya.


Lagian kurang apalagi, Rahma sudah cukup merasa bahwa gaji yang diberikan Devan terlalu besar baginya. Ditambah lagi dirinya juga tinggal dirumah Devan.


"Rendy mau tanya,"ucap Rendy.  Rahma menghentikan aktifitas nya dan langsung duduk di atas kasur menatap Rendy hangat.


"Nanya apa?"tanya Rahma.


"Kata bang Kevin adik itu tidak bisa dibeli yah?katanya itu harus dibuat dengan mencampurkan dua cairan susu. Benar gitu yah bunda?"tanya Rendy polos.


Rahma kini dibuat melonggo oleh pertanyaan yang dilontarkan Rendy padanya. Terkutuklah tetangga satu komplek yang berumur delapan belas tahun tersebut. Berani sekali dia mencemari otak polos Rendy.


"Aduh, nak bunda tidak mau kamu dewasa sebelum waktunya,"lirih Rahma.


"Katanya, bunda harus bikin sama ayah,"ucap Rendy.


"Bikin?dari campuran dua susu?"beo Rahma. Rendy mengangguk.


"Wahhh,kamu tanya juga tidak susunya merk apa?biar besok kita bikin," sahut Devan yang baru saja memasuki kamar.


"Oh iyah, Rendy lupa nanya,"jawab Rendy


Devan langsung tertawa dan menjatuhkan tubuhnya diatas kasur Rendy. "Yasudah, nanti ayah saja yang nanya," ucap Devan. Rendy tersenyum bahagia.


"Kamu jangan berteman denganya lagi yah, Rendy,"ucap Devan.


"Kenapa?"tanya Rendy dengan nada sedihnya.


"Bang Kevin baik, dia juga suka jawab kalau Rendy nanya,"ucap Rendy.


"Nah iyah, itulah alasanya. Dia terlalu baik anakku,"jawab Devan. Dalam hal membunuh ayah perlahan-lahan' sambung Devan membatin.

__ADS_1


"Sudah, ayah bilang berteman dengan anak-anak seusia kamu saja jangan berteman dengan orang dewasa,"tegur Devan.


"Kan kalau mau nanya bisa sama ayah,"sambungnya. Rahma langsung mengangguk membenarkan.


"Yasudah kalau begitu sekarang Rendy mau nanya,"jawab Rendy.


"Hmm nanya apa?"tanya Devan.


"Ayah yang benar itu kawin atau nikah duluan," tanya Rendy. Devan langsung mengubah posisi jadi duduk. Wajahnya kini kian bersemangat. Sedangkan Rahma sudah was-was takut kalau Devan akan memberikan jawaban yang laknat pada Rendy.


"Enak ny itu kawin duluan,biar bisa tau yang dimasuki itu berupa lubang bersegel atau lubang umum," jawab Devan diiringin tawa kerasnya.


Bugh......


Sebuah bantal mendarat kuat di bahu Devan. Yah, Rahma yang melakukannya. Rahma bahkan tidak habis pikir dengan jalan otak Devan yang mungkin berisi abon makanya pria itu bisa gila seperti ini. Apalagi caranya mendidik Rendy yang menurut Rahma itu tidak benar.


Ayah macam apa dirinya?.


"Tutup mulutmu! Duda sialan, jangan kotori otak polos Rendy," desis Rahma.


"Mengotori bagaimana?aku hanya memberikan usulan terhadap yang ia tanyakan,"killah Devan


"Jadi kapan ayah, mengawini bunda?" Tanya Rendy. Rahma langsung menatap tajam Devan.


"Tidak begitu nak, yang benar itu nikah dulu,"jelas Rahma.


"Tidak apa kawin dulu, sayang,"jawab Devan lagi.


"Mana ada begitu,"sentak Rahma.


"Kawin dulu baru seru, nona buntal!"


Rendy hanya bisa melonggo menyaksikan perdebatan unfaedah yang tiap hari selalu menjadi bahan tontonan pemicu otaknya untuk kembali error karena untuk mencerna pembelajaran baru dari kata-kata yang dilontarkan ayah dan bundanya.


Ya, pasti perdebatan antara ayah dan bundanya lagi-lagi melibatkan jenis cairan, julukan populer diri mereka atau bahkan......


"Ohhh,berarty kau hanya ingin berjelajah di goa yang belum terjamah ini,lalu kau titipkan benih berudumu, begitu huh?! Kau pikir masuk goa gohara ku tidak butuh password dan apa kau pikir rahimku tempat menitipan ****** secara gratis?!"omel Rahma. Rendy hanya mengerjap tak paham sedangkan Devan sudah beringsut mundur ke belakang.


"Air ludahmu muncrat,"lirih Devan.


Skip, aku sedang marah saat ini!"tukas Rahma.


"Enak aja mau ngajak kawin duluan! Kau pikir uangmu termakhsud pembelian pewisataan  berhargaku begitu duda laknat. Ak--"


"Rendy keluar dulu. Rendy tidak paham, dan masih kecil,"potong Rendy langsung turun dari ranjang dan berjalan keluar meninggalkan Rahma dan Devan.


"Lanjutin bunda,"ucap Rendy sebelum benar-benar menutup pintunya.


Pintu tertutup. Didalam sana Rahma sedang benar-benar memarahi Devan . Perdebatan antara kawin dan nikah maish berlangsung.


"Apa aku tanya nenek saja yah?sebenarnya itu nikah atau kawin duluan?"gumam Rendy mencoba kembali melanjutkan rasa ingin taunya.


"Iyah, aku tanya nenek saja,"ucap Rendy dan langsung berjalan menuruni tangga dan menghampiri mama Devan.


#Bersambung


#jangan_lupa_tinggalkan_jejak❤

__ADS_1


__ADS_2