DUDA NYEBELIN

DUDA NYEBELIN
Takut khilaf


__ADS_3

Selamat membaca❤


Ayah, malam ini Rendy maunya tidur sama, ayah dan bunda  yah?"


Uhukkk....uhukkk....


Devan langsung terbatuk kala mendengar permintaan konyol anaknya. Kini memang mereka sedang melakukan ritual makan malamnya. Devan sontak menatap tajam Rahma yang juga sedang membeo dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Ahh,itu....tapi nanti ayah harus menyelesaikan pekerjaan dulu diruang kerja. Selesainya mungkin akan lama jadi sebaiknya Rendy tidur sama bunda aja bagaimana?" Rahma langsung dengan cepat menyelesaikan kunyahan di mulutnya. Untuk segera memberikan jawaban.


"Iyah,sayang. Tidak papa yah lain kali saja,"jawab Rahma. Sedangkan mama Devan sudah terkikik geli melihat ekspresi panik dan juga kebingungan dari kedua manusia dewasa itu.


"Yah sudah, nunggu ayah selesai kerja dulu baru setelah itu ayah nyusul ke kamar," ucap Rendy.


"Ayah itu takut Khilaf,anakku," lirih Devan.


Brakkkk


Rahma menendang kuat kaki Devan dari bawah meja. Devan sontak meringis dan menatap tajam Rahma.


"Namanya juga manusia tempatnya khilaf," timpal mama Devan.


"Mau yah, ayah?"pinta Rendy.


"Rendy pengen banget kita tidur bersama, dulu'kan Rendy belum ada bunda jadi gak bisa, tapi sekarang'kan sudah ada jadi--"


"Baik sayang. Kita tidur di kamar ayah nanti,"potong Rahma. sangat tidak sangup hatinya mendengar cerita yang membuatnya ingin menangis.


"Tap--"ucapan Devan terhenti kala Rahma menginjak kakinya lagi.


"Mau kan ayah?"tanya Rahma tersenyum manis pada Devan. Sedangkan di bawah meja kakinya dengan keras menginjak kaki Devan.


Devan langsung tertawa paksa."Ahahhhh....tentu saja, demi anak ayah, jawab Devan sambil terus menahan sakit dikakinya.


"Yess!"seru Rendy.


Ditengah perjalanan menuju lantai atas kamar Devan. Devan tak henti-hentinya menatap tajam Rahma yang ada dibelakangnya.


"Ayo sayang,tidur besok sekolah," ucap Rahma yang mulai membaringkan Rendy dikasur Devan.


Sementara Devan hanya berdiri di ambang pintu menatap anaknya yang sangat bahagia. Tatapan nya teralih pada dinda yang menatap nya tajam. Entah kesalahan apa yang dilakukan Devan hingga gadis itu menatapnya seperti itu.


"Kenapa?"tanya Devan.


"Sprei ini bukan bekas kau lap-kan cairan proteinmu kan?"Devan melebarkan matanya. Apa-apaan gadis itu sembarangan menuduhnya seperti itu.


"Astaghfirullah kamu jangan solimi nona buntal," lirih Devan geleng-geleng kepala.


"Ayah ayo berbaringlah sebentar, jika aku sudah tidur ayah baru boleh melanjutkan pekerjaan,"ucap Rendy. Devan langsung menurut dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Rahma masih duduk di tepi kasur sambil mengelus kepala Rendy.


"Tidurlah sayang bunda dan ayah sudah menemani kamu,"ucap Rahma.


"Bunda kenapa gak berbaring?ayo sini,"ajak Rendy. Rahma hanya bisa menelan ludah susah payah, sesekali dirinya melirik Devan yang sudah memejamkan matanya.


"Bunda....."

__ADS_1


"Eh,iyah...."ucap Rahma dan langsung berbaring.


Rendy langsung memiringkan badanya menghadap Rahma dan membelakangi sang ayah. Bocah kecil itu langsung memeluk erat Rahma dan mulai memejamkan matanya.


"Selamat malam bunda, Rendy sayang bunda."ucap Rendy. Rahma tersenyum hangat dan membalas pelukan hangat Rendy.


Cupp!!


"Tidurlah. Bunda juga sayang Rendy,"jawab Rahma setelah memberikan kecupan sayang pada puncak kepala Rendy.


"Ini seperti pulang kerja tidak membawa uang,diriku diacuhkan,"lirih Devan.


*********


Hening keadaan kamar sudah sunyi dengan cahaya remang-remang dari  lampu tidur serta detik jarum jam yang berdetak. Rahma tentu tak bisa tidur. Gadis itu masih terjaga dengan tanganya yang masih mengelus kepala Rendy.


"Nona buntal apakah kau sudah tidur?"tanya Devan setengah berbisik.


"Hmm."hanya deheman kecil yang keluar dari mulut Rahma.


Devan langsung bangkit dari tidurnya setelah mencium singkat pipi anaknya.


"Good night sayang,"bisik Devan.


"Tuan mau kemana?"ucap Rahma yang sudah duduk dari posisinya.


"Kenapa?mau ikut?"


"Aku  bertanya,"jawab Rahma.


Rahma ikut beranjak dari kasur dan mengikuti Devan yang sudah hilang dilantai bawah menuju ruang kerjanya.


Rahma langsung menghela nafas panjang dan pergi ke dapur.


Setelah siap dengan segelas kopi Rahma melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Devan. Mungkin berbaik hati dengan si duda nyebelin itu tidak masalah.


Tok...tok....tok....


"Passwordnya apa?"seru Devan dari dalam. Rahma yang mendengarnya menjadi kebingungan.


"Apakah membuka pintu ruang kerjanya harus mengunakan password kalimat?"batin Rahma bertanya-tanya.


"Passwordnya apa?"tanya Devan lagi dari dalam. Rahma tidak tau saja bahwa pria itu sedang terkikik geli.


"Tuan duda laknat gak ada akhlak,"ucap Rahma. Itu sontak saja membuat senyum Devan berubah jadi kesal. Devan menatap garang pintu yang sudah terbuka dan menampakan Rahma yang menunjukan cengiran menjijikan menurut Devan.


Rahma langsung melangkah'kan kakinya mendekati Devan dan meletakan kopi yang tadi ia bawa di atas meja kerja Devan,sedangkan sang empu masih dengan ekspresi kesalnya.


"Tuan ini aku buatkan kopi,"ucap Rahma. Devan langsung menurunkan pandanganya pada kopi yang terletak di atas mejanya. Kemudian Devan kembali menatap Rahma penuh selidik.


"Aku tidak akan pernah mau meminum nya,"jawab Devan.


"Kenapa?tuan tidak meminum kopi?"tanya Rahma.


"Didalamnya pasti sudah kau campurkan sesuatu,"tuding Devan.

__ADS_1


"Ngaku saja iya'kan?gini yah kuberitahu dirimu, nona buntal. Diriku tidak akan pernah mempan walaupun kau pikat dengan jimat apapun jadi berhentilah memikatku karna tidak mungkin berhasil,"cecar Devan panjang lebar. Rahma rasanya mau menyumpal mulut Devan dengan ****** bekas saking kesalnya pada duda itu.


"Jadi berapa lama kontrak iler buntalmu itu bekerja?"tanya Devan.


"Hanya satu tahun,"jawab Rahma dengan nada ogah-ogahan. Sontak Devan melebarkan matanya.


"Satu tahun?"beo Devan. Rahma menganguk pelan.


"Itu terlalu lama bisakah kau meminta 5 bulan saja?"tawar Devan.


"Bisa tuan,"jawab Rahma.


"Serius?"


"Hmmm."


"Jawab yang ikhlas,"tegas Devan.


"Iyah tuan bisa,"jawab Rahma.


"Janji yah lima bulan,setelah itu kau harus pergi jauh dengan jimat iler mu itu."


"Iyah,tuan?"


"Janji lima bulan?!"


"Janji."


"Bagus?"Devan tersenyum bahagia.


Usai perdebatan kontrak kerja jimat iler buntal milik Rahma kini kedua manusia itu sudah saling diam dengan Rahma duduk di sofa sedangkan Devan masih fokus dengan laporan-laporan bisnis di laptop barunya. Laptop yang pecah layar kemarin sudah dijadikan rongsokan.


Ini sudah kebiasaan Devan setiap malam.


Bahkan sudah kebiasaan Devan begadang mengurus bisnisnya dalam bidang berbeda-beda di berbagai kota. Kadang kesehatan tubuhnya selalu terganggu akibat sibuk bekerja.


"Tuan duda,"pangil Rahma


"Hmmm....ganti kata pangilanmu"sungut Devan.


"Baperan si duda mah,"umpat Rahma.


Brakkkk


Sebuah kotak tissu dilemparkan ke Rahma,siapa lagi pelakunya kalau bukan Devan.


"Ckckck,ini seperti akhlakmu tuann,"ucap Rahma meraih kotak Tissu tersebut.


"Apa makhsudmu?"sentak Devan.


"Kosong,"


#Bersambung


#jangan_lupa_di_likke❤

__ADS_1


__ADS_2