
Selamat membaca❤
Setelah usai perdebatan, kini mereka sudah berada di sebuah mall, untuk memenuhi keinginan sang anak yang ingin pergi ke tokoh buku untuk membeli buku yang dibutuhkan Rendy untuk pelajaran di sekolah.
"Sabar yah nak, empat bulan lagi proyek besar bangunan ayah kelar dan kamu akan punya mall sendiri," tutur Devan mengelus lembut kepala anaknya.
"Oke, pamer terus, kalau gak pamer bukan Daddy Devan namanya,"cibir Rahma.
"Aku tidak pamer, aku hanya memberitahu anakkku,"jawab Devan.
Setelah sampai di gramedia, Devan memilih menunggu saja dan membiarkan Rahma dan anaknya berkeliling mencari buku-buku yang diinginkan putranya. Dan tentunya pengunjung remaja di sana tak lupa curi-curi perhatian pada Devan.
Wajar saja, siapa yang tidak terpikat oleh ketampanan seorang duda tersebut. Bahkan bila tidak dicari tau mungkin orang-orang akan mengira bahwa umur Devan baru dua puluh tahun dan bahkan tidak menyangka bahwa Devan seorang duda. Diumurnya yang sepertinya sekarang sebenarnya cukup terlalu muda untuk menyandang status duda.
"Sudah selesai sayang,"tanya Devan saat melihat Rahma dan Rendy datang membawa lima buku.
"Sudah ayah,"jawab Rendy.
"Kau tidak tertarik membeli buku nona buntal?"tanya Devan.
"A--aku?"beo Rahma menunjuk dirinya. Sangat langkah sebenarnya Devan berbuat baik padanya. Telah kerasukan jin dari mana hingga pria itu baik padanya.
"Iyah, apa tidak tertarik? Atau kau mau kita beli saja tokoh buku ini?"tanya Devan.
"Aku ingin membeli novel boleh?"tanya Rahma.
"Itu tidak dijual, nona buntal,"tolak Devan. Rahma mengerjap lucu. Apa ini? Mana ada tidak dijual, sudah seperti berbelanja dengan emak-emak saja. Apa-apa yang diinginkan tidak dijual.
"Dijual kok,"jawab Rahma.
"Tidak dijual kan mbak," tanya Devan pada kasir perempuan yang sudah mengulum senyum di tempatnya.
"Iyah nona tidak dijual,"jawabnya.
"Apa, ayah sudah semiskin itu hingga tidak bisa membeli yang bunda inginkan? Seharusnya walaupun itu tidak dijual, ayah mampu membelinya,"timpal Rendy. Devan langsung tertawa
"Ohhhh, bukan begitu sayang, ayah hanya bercanda,"jawab Devan.
"Jadi boleh'kan?"tanya Rahma berbinar. Sangat tidak sabar ia memeluk novel terbaru yang ia lihat tadi. Terlebih lagi saat membaca blurbnya membuat jiwa penasaranya akan cerita itu tambah besar.
"Boleh, ambil saja yang kau inginkan,"jawab Devan.
"Jangan lupa beli novel yang ada adegan hot'nya agar bisa dijadikan tutorial!" Seru Devan saat Rahma sudah berlari menuju rak.
"Beres!"teriak Rahma.
__ADS_1
Setelah pergi dari tokoh buku Devan berjalan ke tokoh pakaian. Rahma tentu saja kebingungan apa yang akan dibelikan oleh duda laknat itu.
"Tuan mau apa kesini? Ini khusus pakaian perempuan?"tanya Rahma.
"Mau beli miniset untuk wadahi melon minimu,"jawab Devan asal.
"Ayo!" Devan langsung menarik tangan Rahma memasuki tokoh tersebut. Rendy yang berada di samping Rahma tentunya hanya ikut saja.
"Rendy ini akan sedikit lama,kamu boleh tunggu disini sebentar?" Tanya Devan pada anaknya.
"Ayah mau kemana?"tanya Rendy.
"Beli pakaian baru untuk bunda, ayah mau bantu pilihin. Kalau Rendy ikut nanti lelah,jadi tunggu disini saja, mau?" Rendy mengangguk patuh.
Setelah mamangil salah satu pegawai tokoh untuk menjaga Rendy, Devan langsung menghampiri Rahma yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ayo ikut!" Rahma hanya menurut. Otaknya kini sedang berpikir mungkin Devan mau membelikan baju untuk pacarnya dengan dijadikan dirinya sebagai ukuran dan perumpamaan tubuh. Itulah yang saat ini Rahma pikirkan.
"Coba pilih ini mana yang bagus?"tanya Devan menunjuk beberapa dress yang digantung di dalam mall. Rahma mengangguk patuh. Dari semua yang ia lihat sejujurnya semuanya bagus menurut Rahma. Tetapi kali ini ia harus mengeluarkan pilihan terbaiknya untuk pacar sang majikan.
Tujuh warna dress serta model yang beda-beda yang memiliki harga satu bola mata manusia sudah berada di tangan Rahma. Gadis itu langsung menghampiri Devan yang sudah berada di depan lemari kaca berisikan kumpulan hells.
"Tuan bagaimana kalau ini?" Tanya Rahma. Devan langsung menoleh dan meneliti pada Rahma.
"Kau mau membeli sapatu juga? tuan yakin ukurannya sama dengan kakiku?"tanya Rahma. Devan tak menjawab.
"Cari yang banyak, tidak akan aku diterima jika tidak lebih dari sepuluh,"tegas Devan.
Rahma berlalu pergi untuk memilih baju-baju yang ia sukai. Tentunya ia tak lupa memperhatikan panjangnya agar tidak terlihat terlalu seksi.
"Tuan, mau cari ukuran berapa?"seorang pegawai wanita menyapa hangat Devan yang sibuk memperhatikan beberapa pilihan sepatu heells.
"Size tiga puluh sembilan,"jawab Devan.
"Mau model bagaimana tuan?"
"Saya tidak mengerti modelnya,tapi carikan yang tidak terlalu tinggi, tapi yang paling bagus. Berikan keluaran terbaru."jawab Devan
"Baik, tuan."
Setelah memilih yang pas dan ia suka akhirnya lima belas macam heells dan lima belas flat shoes telah berada di meja kasir. Sekarang Devan tinggal mencari beberapa baju-baju kaos santai dan piyama tidur. Untuk bagian itu tentu saja ia tak butuh pendapat Rahma karena Devan bisa memilihnya sendiri.
"Nona buntal bagaimana?sudah selesai?"sudah kau pilih yang kau suka dari semua yang ada? Tanya Devan
"Sudah,tapi mungkin aku ambil kebanyakan. Jadi lupa soalnya dari semua yang ada disini aku suka yang itu?"tunjuk Rahma pada kedua pegawai perempuan yang sudah banyak memegang dress-dress pilihan Rahma.
__ADS_1
"Baiklah, silahkan bawa ke kasir. Aku akan membayar semuanya,"jawab Devan. Mungkin mobilnya akan penuh dengan belanjaan nya kali ini.
"Aku sudah selesai? Dan apakah kau sudah selesai?"tanya Devan. Rahma mengangguk.
"Yasudah,ayo,"
"Ayah sudah selesai?!"seru Rendy yang masih setia duduk di salah satu bangku bersama seorang gadis yang disuruh Devan menemaninya.
"Sudah, tinggal bayar,apa kamu bosen?" Tanya Devan. Rendy mengeleng kuat.
"Bagus, tunggu dulu yah, setelah bayar kita langsung pulang,"jawab Devan.
"Iyah, sayang kita beli hari ini?" Devan langsung menoleh pada pintu. Disana sudah datang sepasang suami-istri bergandengan memasuki tokoh.
Melihat tatapan kesal pada suami-istri tersebut membuat Rahma heran. Apakah Devan mengenal mereka?itulah yang dipikirkan Rahma.
"Ayah, tante jelek!"seru Rendy menunjuk wanita yang melewati mereka. Sepasang suami-istri tersebut menghentikan langkah dan si pria menatap Devan sejenak.
"Wahh, tuan Devan Kita berjumpa lagi,"serunya. Dia william, pria pengusaha kaya raya yang tak jauh beda dari Devan. Hanya saja tak banyak orang tau bahwa Devan sudah lebih kaya dari pria itu saat ini akibat kerja kerasnya selama tiga tahun berturut-turut.
"Setelah sekian lama akhirnya kau menemukan labuhan hatimu rupanya." Ucap William melihat sekilas Rahma yang sedang mengandeng Rendy.
"Seleramu ternyata rendah yah tuan Devan,"ejek Willian tertawa sinis.
"Sayang....udah kita kesini kan mau beli tas yang aku bilang tadi,"lerai wanita yang tak lain adalah Siska mantan pacar Devan yang sangat gila akan kemewahan.
"Oh maaf, omonganmu harus aku ralat taun William. Bukan seleraku yang rendah melainkan seleramu yang buruk,"balas Devan.
"Sayang ayo pergi saja,"ucap Siska menarik lengan William menjauh, tetapi William tetap tak beranjak dan menatap Devan kesal karena merasa istrinya telah direndahkan.
Devan langsung menarik pingang Rahma hingga tubuhnya merapat padanya. Tak sampai disitu kecupan lembut ia berikan terang-terangan di pipi Rahma didepan William dan Siska.
"Diantara istriku dan istrimu aku yakin istriku yang paling baik. Bahkan bukan dari sudut pengakuan ku saja, tapi bahkan seluruh dunia pun mengakuinya. Dia bisa jadi istri yang baik, bertangung jawab pada anak dan suaminya, penyayang, sabar, setia, dan bahkan tak gila harta,"ucap Devan. Rahma yang sudah paham alur langsung tersenyum manis dan membalas memeluk lengan Devan.
"Yasudah sayang, ayo kita pulang, nanti kemaleman. Kasian ibu dirumah udah nungguin kita,"ucap Rahma.
"Iyah,baiklah." Devan langsung meraih lima belas paper bag belanjaanya. kembali menoleh pada William dan Siska yang masih berdiri di depannya.
"Tuan, William jangan lupa ajak istrimu diacara reunian minggu depan,"pesan Devan sebelum pergi bersama Rahma dan Rendy.
"Dadah,tante jelek!"seru Rendy pada Siska sambil menjulurkan lidahnya.
#Bersambung
#Jangan_lupa_tinggalkan_jejak
__ADS_1