
Selamat Membaca❤
Brakkk!!
Gebrakan meja membuat mereka semua terkejut bahkan para pengunjung lainnya ikut menoleh.
"Ayah!"
"Apa hakmu mengajak, Rendy pergi tanpa izin dariku, huh!? Berani sekali kau berpacaran dalam keadaan mengajak anakku seperti ini! Sangat tidak sopan pada majikan!"omel Devan. Rahma mengerjap tak paham. Sedangkan pria yang diketahui bernama Alan tersebut hanya melonggo tidak mengerti.
"Ayo pulang!" bentak Devan langsung menarik tangan Rahma dan anaknya.
Jessika yang masih terdiam dengan seribu pertanyaan di otaknya tak bisa berbuat apa-apa.
Baru saja dua langkah berjalan dengan mengandeng tangan Rahma dan Rendy, Devan menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap Alan tajam.
"Buka matamu lebar-lebar. Dari sudut mananya gadis ini terlihat cantik. Apa kau tidak lihat? Dia ini jelek, buluk, jorok, hitam, bibirnya pecah-pecah, badannya bau, giginya kuning, bulu tangannya panjang, bulu matanya tak lebat, hidungnya tidak mancung, dadanya kecil, rambutnya rontoh, dia ketombean, kutuan, alisnya tidak sama, bahkan bokongnya pun kecil. Sangat jelek dan tidak pantas untukmu yang sempurna!" Cecar Devan.
Rahma yang menjadi sasaran pembullyan terang-terangan oleh Devan hanya bisa meneliti seluruh tubuhnya yang disebutkan oleh Devan. Dari alisnya,hidungnya,matanya,tangannya, bibirnya,giginya,dadanya, rambutnya,kulitnya,serta bau tubuhnya.
"Ada apa dengan Devan?"batin Jessika keheranan.
Devan berlalu pergi sambil menarik agresif Rendy dan Rahma. Untung saja makanan tadi yang dipesan langsung Rahma bayar. Tidak lucu sekali mereka apabila mereka di saat-saat seperti ini harus dicegat satpam karena belum bayar.
Sementara Jessika?jangan tanya. Malang sekali nasib gadis itu Devan tinggalkan seperti ini. Kesal, tentu saja Jessika kesal karena acara makan bersama Devan harus gagal. Dan Alan yang masih duduk dikursi menatap nanar punggung Devan yang sudah di balik pintu kaca restoran," majikan ternyata bisa cemburu pada babysister anaknya,"lirih Alan tertawa pelan. Jessika yang sontak mendengarnya sontak ikut berpikir.
"Agam cemburu?"batin Jessika.
************
Brakk!!
Pintu mobil ditutup secara kasar oleh Devan. Rendy yang sudah duduk dikursi penumpang belakang hanya bisa menatap ayahnya bingung. Baru kali ini Rendy melihat sang ayah terlihat kesal dan marah.
"Ayah kenapa?"tanya Rendy akhirnya. Sedangkan Rahma hanya bisa memasang wajah datar.
"Jangan bertemu dengan om jelek itu lagi, Rendy!" Tegas Devan. Rendy menatap ayahnya heran.
"Om Alan? Dia baik dan lucu kok ayah. Dia itu teman--"
"Sudah jangan sebut namanya! Ayah sangat tidak menyukai dia!" Potong Devan dengan nafasnya yang bergemuruh.
Sepanjang perjalanan hanya terjadi keheningan. Dari Rendy yang sibuk memperhatikan jalanan, Rahma yang sudah kehabisan kata akibat merasa kebingungan karena banyaknya pertanyaan yang bergelantung di otaknya dan Devan sendiri yang masih sibuk menyetir.
"Bunda apa seperti ini yang dinamakan cemburu?"tanya Rendy tiba-tiba. Rahma langsung menoleh sama halnya dengan Devan yang tersentak kaget dan langsung salah tingkah.
__ADS_1
"Cemburu?"ulang Rahma.
"Iyah, ayah sedang cemburu. Soalnya kata bang Riki kalau ada laki-laki yang gak suka perempuan dekat laki-laki lain dia akan marah,"jelas Rendy polos. Rahma langsung tertawa pelan sembari melirik Devan yang sok tidak peduli, tetapi salah tingkah saat tak sengaja kontak mata dengannya.
"Kata siapa cemburu?!hahahha.....mana mungkin!"killah Devan.
'Tidak mungkin aky cemburu,lagian untuk apa?aku tidak peduli dia dekat sama siapapun,dia mau pacaran,nikah,
ciuman,pelukan dengan laki-laki jelek itu silahkan, aku tidak cemburu,' otak Devan membantah dalam batin. Sedangkan hatinya meronta-ronta berteriak lain.
"Terus kenapa, ayah marah-marah hanya karena--"
"Rendy, sudah ayah bilang jangan berteman dengan anak yang sudah dewasa!"tegur Devan mencoba untuk tidak gugup sembari mengobrol detak jantungnya kian berdebar. Devan menoleh sekilas pada Rahma yang menatapnya dengan senyum jahil.
Cih,pede sekali gadis itu!
Devan langsung menepikan mobilnya saat sudah memasuki gerbang rumahnya. Rendy langsung bergegas turun dan meneriakkan kalimat yang rasanya membuat Devan ingin mengolah kembali Rendy menjadi sprema kembali.
Bagaimana tidak......
"Nenek! Ayah tadi cemburu.....!"teriak Rendy berlari memasuki rumah mencari keberadaan mama Devan.
"Rendy,itu tidak benar!"bantah Devan. Sedangkan Rahma yang sudah berdiri di samping Devan hanya bisa mengulum senyum
Hening!!!
"Ekhemm." Devan bedehem pelan untuk mengembalikan wibawa tegasnya,sekalian menyembunyikan perasaan gugupnya. hatinya berkali-kali mencoba meyakinkan diri bahwa Devan benar-benar tidak cemburu. Devan hanya tidak suka! Ingatlah HANYA tidak suka.
"Bulu tanganku tidak panjang, bibirku tidak pecah, aku tidak bau, kulitku putih, hidungku tidak terlalu pesek, aku tidak ketombean ataupun kutuan, gigiku putih, dadaku lumayan, 34B, bokongku pun masih bisa diremas, dan alisku bentuknya sama."ucap Rahma meralat ucapan Devan tadi saat menjelek-jelekan dirinya pada Alan-temannya.
Devan kembali berdehem pelan mencoba menyembunyikan kegugupannya. Rahma rasanya mau mencubit pipi Devan gemas. Sangat lucu ekspresi pria itu saat ini.
"Apa benar,tuan cemburu?"goda Rahma menyenggol tubuh Devan pelan sembari menaik turunkan alisnya.
"Cemburu?ngapain aku cemburu padamu, nona buntal! Sangat tidak mungkin!" tegas Devan dan langsung berjalan memasuki rumahnya meningalkan Rahma yang masih senyum-senyum tidak jelas.
"Namanya Alan, dia menurutku lumayan tampan dan kami tadi bertukar nomor ponsel katanya besok ketemuan di tempat yang sama. Kalau gitu aku minta izin sama tuan."ucapan Rahma berhasil menghentikan langkah Devan. Pria itu kembali berjalan mendekat pada Rahma.
Devan tersenyum remeh dan berkacak pingang di hadapan Rahma. "Cih, tampan dari mananya, wajahnya pun hampir mirip dengan Slender Man suaminya Slendirina dan tidak kau tau saja jempol kakinya cantengan,"ejek Devan. Rahma bergidik.
"Dan apa katamu tadi? Minta izin untuk bertemu dengan Slender Man besok?jangan harap aku izinkan!"ucap Devan. Devan langsung meraih tas selempang Rahma untuk mengambil ponsel Rahma dan langsung mencari kontak pria menjijikan yang dikatakan ganteng oleh Rahma barusan. Tombol blok langsung Devan pencet, tak sampai disitu Devan juga menghapus nomor Alan, baru kemudian ia mengembalikan ponsel Rahma.
"Kenapa kau memblokir dan menghapus nomornya?jadi kau benar cemburu?"goda Rahma.
"Dih kata siapa?aku tidak cemburu aku hanya tidak suka!"jawab Devan.
__ADS_1
"Kenapa tidak suka?"
"Karena menurutku dia berlebihan! Lagian aku punya hak untuk tidak menyukai sesuatu bukan?"jawab Devan.
"Aku besok akan tetap menemuinya karna kami sudah janjian,"jawab Rahma.
"Tidak aku izinkan!"bentak Devan.
"Kenapa?"
"Aku tidak suka!"
"Kenapa tidak suka?"
"Karena dia pria menyebalkan!"
"Besok aku akan menemuinya!"
"Aku tidak mengizinkan mu, nona buntal!"
"Kenapa? Kamu cemburu?"
"Iyah"
Satu setikkkk....
Tiga detikkkk....
Lima detikkkk....
Hening!!
Devan seketika tersadar akan jawabannya. Pria itu kembali salah tingkah. Mata indahnya mengerjap lucu membuat Rahma gemas sendiri.
"Tidak, itu--makhsudku aku hanya tidak suka pelayan dirumahku bertemu dengan pria jelek sepertinya,"kilah Devan. Rahma hanya bisa mengulum senyum.
"Kalau tidak cemburu, izinkan aku bertemu dengannya besok,"jawab Rahma.
"Terserah!" Devan langsung berlari memasuki rumahnya. Bertepatan posisinya membelakangi Rahma senyum Devan seketika terbit tak dapat ia tahan. Pria itu memegang dada kirinya yang kian berdebar tak karuan.
Devan yang hendak membuka pintu tersentak kaget melihat mamanya menatapnya dengan tatapan mengejek. Senyum Devan langsung sirna dan digantikan dengan wajah datarnya.
"Tidak papa, nak lanjutkan,"ucap mamanya terkekeh pelan melihat jiwa gengsi anaknya yang masih tetap belum hilang terlebih lagi menyangkut Rahma.
#Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa di like guys😁😊biar author tambah semangat ngetiknya👌