DUDA NYEBELIN

DUDA NYEBELIN
tidak berdebat tidak afdol


__ADS_3

Selamat Membaca❤


Keesokan harinya


"Ayah hamill?"


Uhukkk....uhukkk.....


Kue brownis yang sedang asik-asiknya Devan kunyah supaya bisa dengan mudah berselancar melewati tengorokannya kini sudah salah jalur karena malah memasuki hidungnya hingga membuat Devan langsung tersedak-sedak dan terbatuk.


Apabila seperti ini terus Devan benar-benar akan lebih cepat menemui malaikat izrail. Anaknya Rendy sebenarnya polos atau bar-bar?  Bagaimana bisa ayahnya dikatakan hamil? Mau Devan umpati kasihan karena sama saja itu mengumpati dirinya sendiri.


"Apa makhsudmu, Nak?"tanya Devan setelah berhasil mengeluarkan brownis dari hidungnya. Perih sudah hidung mancungnya saat ini.


Rendy menyelesaikan sarapannya. Bocah kecil itu langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Devan. Tangan kecilnya mengelus lembut perut Devan.


Yah, Devan sekarang memang terlihat lebih gemuk, perutnya tak ayal ikut sedikit buncit gara-gara pria itu sudah jarang olahraga meskipun dirumahnya terdapat tempat Gym. Dadanya kini tidak bisa dikatakan Sixpack lagi melainkan onepack.


Ini semua gara-gara Rahma. Gadis itu tiada hari tanpa membuat cemilan dirumahnya hingga mau tak mau setiap Devan duduk otomatis dirinya ikut ngemil dan sekarang berakhir membuat berat badannya naik delapan kilo.


"Iyah kata bang Riki, kalau orang perutnya besar itu hamil."


Devan melonggo mendengar jawaban dari sang anak. Kenapa semua pengetahuan gila anaknya itu harus dia dapatkan dari Riki si remaja bar-bar itu. Mungkin benar, setelah ini Devan harus mengusir tetangganya itu agar anaknya tidak bisa mendapatkan pengetahuan pemicu sesak nafas Devan.


Benar-benar bisa meninggal secara kejang-kejang Devan apabila terus-terusan menghadapi wawasan anaknya yang sudah terlalu luas itu.


"Nak dengarkan ayah baik-baik, manusia yang memiliki burung tidak bisa hamil, hamil hanya untuk perempuan. Kamu paham?" Rendy mangut-mangut mengerti.


"Yasudah ayah sarapan dulu,"ucap Devan. Baru saja sepotong kue masuk ke dalam mulut Devan, pertanyaan Rendy kembali membuat Devan batuk.


"Bunda perempuan, tetapi kenapa belom hamil?"


Devan menepuk-nepuk dadanya yang sesak, resiko mempunyai anak yang memiliki keinginan besar ya gini, sangat hobi menguji kesehatan jantung.


"Itu karena wisata beharga bundamu belom ayah kunjungi,"jawab Devan.


"Kenapa belom ayah kunjungi?"


"Tiketnya mahal, nak." Rendy kembali menganguk meskipun otaknya masih mencoba berpikir keras, mencoba memahami dan mencerna ucapan ayahnya.


"Biar nanti aku tanya bang Riki deh, sebenarnya berapa biaya mengunjungi wisata perempuan makanya ayah tidak mampu mengunjungi tempat wisata bunda," gumam Rendy yang seolah mendapatkan hidayah dri rasa ingin tahunya.

__ADS_1


********


Seluruh pembantu hari ini libur, mama menyuruh kita membersikan halaman belakang karena mau dibikin kandang kelinci,"ucap Rahma.


Devan hanya acuh sambil memainkan laptopnya. Mamanya memang sangat suka memelihara hewan, tetapi hanya sehari selebihnya ia akan menyuruh orang lain untuk mengurusnya.


Menambah pekerjaan saja memang!


"Tuan kau dengar aku'kan?"sentak Rahma.


"Iyah," jawab Devan.


"Ayo kita bersikan, aku tidak bisa sendirian, disana ada bebarapa bata yang menumpuk, ada juga beberapa kayu bekas patahan pohon jadi, aku tidak bisa mengangkatnya,"jelas Rahma. Devan menghela nafas pelan dan melirik Rahma sejenak.


"Yah sudah ayo!"


"Tetapi beneran mau bantuin'kan? Ini perintah mama loh.


"Iyah, ini juga aku mau karena permintaan mama, jika kau yang meminta, aku tidak akan sudi mengotori tanganku dengan membantumu!"


"Yasudah, aku juga tidak perlu niat ikhlasmu,"jawab Rahma dan mulai berjalan duluan dengan membawa sapu lidi dan tong sampah.


"Angap saja olahraga,"ucap Devan.


*********


"Orang kaya yang tidak pernah bersih-bersih dan mengerjakan apapun sendiri yah gini, saraf otaknya berisi pipa rucika, gobloknya mengalir sampai jauh."


Devan mendelik tajam mendengar ucapan Rahma. Sudah tak terhitung berapa kali gadis itu mengatainya hari ini. Rasanya Devan mau berhenti saja membantu gadis itu saat ini karena saking kesalnya.


"Nyampu itu dikumpulkan di tempat satu saja, jangan numpuk sana-sini seperti rumah penduduk,"omel Rahma yang tak habis pikir dengan cara nyapu Devan.


"Oke masih kupantau belom saja kau ku pecat, berani sekali kau mengataiku seperti ini, sudah naik pangkat kau rupanya!"


"Ayah harus sabar," sahut Rendy yang menonton dari kejauhan.


"Nah benar itu, harus sabar." Rahma tersenyum jahat pada Devan karena mendapat pembelaan dari Rendy.


Devan memilih mengalah, Pria itu memilih melanjutkan pekerjaanya, setelah salah dalam tutorial menyapu kini Devan berpindah mengangkat beberapa batang pepohonan kemudian menariknya ke tempat pembuangan sampah di belakang rumahnya.


"Jangan harap aku akan membantumu!" Rahma langsung mencebik kesal mendengar ucapan Devan. Memang tak memiliki hati rupanya si duda itu. Padahal sudah jelas-jelas dirinya melihat Rahma tidak dapat mengangkat kotak sampah yang sudah penuh tersebut.

__ADS_1


"Begini nih kalau gadis penjual ayam yang setiap harinya memakan puding coklat loyo,"balas Devan.


Prakkk!!!


Sapu lidi Rahma lemparkan tepat mengenai bahu Devan, pria itu meringis dan menghentikan acara istirahatnya.


"Kekuatan seorang wanita memang tidak dalam angkat barang, tetapi perempuan diciptakan kekuatan bisa melahirkan manusia!" Devan yang hendak marah terhenti ketika mendengar nada bicara Rahma yang tinggi.


"Dih, tetap saja yah, anak yang kau lahirkan tidak akan ada jika bukan berasal dari benihku!" Perempuan tidak akan bisa mempunyai anak apabila tidak mendapatkan bantuan dari laki-laki. Bermodal jari mana bisa jadi!"balas Devan tak mau kalah.


"Tetap saja, kodrat wanita lebih tinggi dari laki-laki!" Sungut Rahma.


"Tetapi tetap saja perempuan harus bisa menghormati laki-laki!"


Perdebatan kembali terjadi, kedua manusia itu benar-benar tidak ada yang mau terlihat mengalah dalam membahas kekuatan satu sama lain.


Rendy yang sedari tadi hanya diam menyimak dan mencoba memahami perdebatan antara ayah dan bundanya.


"Rahma, ini ada pisau."


Perdebatan Rahma dan Devan terhenti ketika mendengar suara mama Devan. Apa coba makhsud wanita itu mencoba menawarkan pisau pada Rahma.


"Siapa tau perdebatan kalian mau langsung ke tahap bunuh-bunuhan,"sambung mama Devan. Devan menatap Rahma tajam. Sang empu pun tak kalah tajam menatap Devan.


"Suami yang tidak bisa menyenangkan hati istri tidak akan bisa masuk surga,"sungut Rahma.


"Istri yang tidak patuh dan melawan pada suami juga tidak akan masuk surga!"balas Devan. Mama Devan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua manusia itu yang tidak pernah akur.


"Memangnya kalian berdua sudah jadi suami istri?"sahut mama Devan.


Devan langsung terdiam, begitu juga dengan Devan. Namun, tak berlangsung beberapa detik perdebatan mereka kembali berlanjut.


"Siapa memangnya tadi yang salah huh?! Kau yang duluan! Kalau saja kau tidak membuat masalah, pekerjaan ini tidak akan jadi lama!" Tukas Rahma kesal.


"Bahkan burung di atas pohon itu jadi saksi bahwa kau yang mulai duluan,"hardik Devan.


Mama Devan yang sudah pusing langsung menarik Rendy masuk ke dalam rumah. Peperangan dunia ketiga itu sepertinya tidak akan selesai dalam satu hari.  Biarkan saja mereka lelah dengan sendirinya nanti.


"No debat no life,"lirih mama Devan.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2