Elena; Ratu Dari Ardorarias

Elena; Ratu Dari Ardorarias
Part 1; Hubungan Rahasia


__ADS_3

Setelah melewati musim yang cukup dingin, musim semi pun akhirnya datang. Bau harum khas musim semi pun perlahan mulai tercium bersamaan dengan bermekarannya bunga-bunga di taman kota. Semua penduduk Ardorarias menghentikan aktivitasnya sebentar demi menikmati pemandangan yang hanya bisa dinikmati saat musim semi saja.


Elena menghentikan langkah kakinya tepat di sebuah taman kota. Baru saja ia keluar dari salah satu pusat perbelanjaan, membeli bahan makanan yang sudah habis tanpa sisa sejak musim dingin lalu. Dikeluarkannya ponsel keluaran terbaru dari dalam tas kecilnya, difotonya bunga-bunga yang bermekaran di taman dan ia pun lekas mengirimkan foto itu pada seseorang.


Setelah dirasanya cukup untuk menikmati sejenak pemandangan kota saat musim semi, Elena pun berjalan ke arah halte bus. Demi membunuh waktu, dibacanya sebuah novel fantasi yang baru saja ia keluarkan dari tas kecilnya. Di mana dan kapan saja, jika ada waktu Elena akan selalu menyempatkan dirinya untuk membaca buku.


“Hei, lihat Rave memposting sesuatu!”


“Benarkah? Apa yang ia posting? Aku mau lihat?”


Bisikan dari para gadis remaja yang sedang menunggu kedatangan bus pun terdengar. Elena yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka pun tiba-tiba tertarik dengan pembicaraan para gadis-gadis itu. Dikeluarkannya ponsel dari dalam tasnya dan ia dapati sebuah notif Instagram dari seorang artis papan atas, Rave Josha.


“Hei tidakkah menurutmu foto yang Rave posting berasal dari daerah sini?”


Elena pun tertegun dan ia langsung melihat ke arah kanan dan kirinya. Ia terlihat cukup panik saat ini, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Seolah tidak pernah terjadi apapun.


“Hei kamu benar. Lihat, bukankah foto ini diambil tepat di depan pusat perbelanjaan sana?”


“Kamu benar. Tempatnya sangat pas dan cocok!”


“Wah sepertinya Rave baru saja lewat daerah sini.”


“Tapi kenapa kita tidak tahu kalau Rave berada di sini?”


“Itu tidak mungkin, semua warga Ardorarias pasti tahu dan kenal dengan Rave. Jadi tidak mungkin jika Rave berada di daerah sekitar sini dan tidak ada seseorang pun yang melihat dirinya.”


“Kamu ada benarnya juga.”


Para gadis remaja itu pun seketika hening dan sibuk mengetikkan pesan-pesan yang mereka kirimkan kepada sang idola. Elena pun perlahan kembali tenang dan menunggu kedatangan bus. Bus yang ditunggu pun akhirnya datang juga, Elena langsung naik ke dalam bus.


“Rave punya pacar?”


Seketika langkah kaki Elena terhenti ketika ia sedang menempelkan kartu busnya. Elena yang tiba-tiba berhenti pun langsung mendapat teriakan dari orang sekitar yang mengantri ingin naik ke dalam bus. Menyadari sikapnya yang salah, Elena buru-buru meminta maaf dan langsung memilih tempat duduk tepat di nomor dua dari belakang.


“Lihatlah, semua komentar di Instagram Rave, isinya ramai mengatakan foto yang ia posting adalah foto dari pacar Rave.”


“Apa menurutmu masuk akal?”

__ADS_1


“Aku tidak tahu tapi tidak mungkin kan seorang idola sukses dan tampan seperti Rave tidak mempunyai kekasih?”


“Kamu benar, tapi jika itu memang yang terjadi aku pasti akan sangat marah. Aku merasa seperti dibohongi oleh Rave.”


“Ya, aku juga pasti marah. Rave selalu bilang ia tidak mempunyai pacar selama ini, bukan?”


Elena hanya bisa memejamkan matanya selama berada di dalam bus. Di dalam hatinya ia berdoa supaya bus melaju lebih cepat sehingga ia bisa segera sampai di rumah. Ia merasa sedih dan juga takut di saat yang bersamaan.


“Lihatlah, paparazzi yang ku ikuti di Twitter. Dia mengatakan memang benar Rave mempunyai seorang pacar. Namun demi menjaga privacy dari gadis itu, mereka tidak akan memberi info apapun tentang gadis yang Rave kencani.”


“Bohong!”


“Hei aku tidak berbohong. Lihatlah sendiri postingan paparazzi itu.”


Jantung Elena berdetak semakin kencang. Ia seolah sedang berada di sebuah pertandingan yang ditonton oleh ribuan masyarakat dan di belakangnya ada beberapa ekor anjing yang mengejarnya.


“Menurutmu bagaimana wajah gadis yang berhasil berkencan dengan Rave yaa?”


“Aku tidak tahu. Mendengar fakta ini saja sudah membuatku sakit hati. Aku sangat iri tapi di sisi lain aku juga sangat marah.”


“Menurutmu apa yang membuat Rave bisa jatuh cinta dengan gadis itu ya? Paparazzi bilang kalau pacarnya ini seorang warga biasa, bukan berasal dari kalangan selebriti.”


“Rave itu pria yang cukup pendiam dan ramah. Aku tebak pasti pacarnya lah yang lebih dulu mendekati Rave. Gadis itu pasti yang lebih dulu menggoda Rave!”


“Ah rasanya aku ingin membeli informasi tentang gadis itu.”


“Hei lihat ini, paparazzi yang lain tiba-tiba muncul. Mereka menjual identitas tentang pacar Rave. Tapi harganya sangat mahal.”


“Ada yang menjual? Aku mau beli.”


“Nama, alamat tempat tinggal, asal sekolah dan juga foto mereka jual seharga 50 dollar.”


“50 dollar? Sudah gila.”


“Bagaimana kalau kita berpatungan untuk membeli identitas gadis ini?”


“Aku mau saja karena aku penasaran ingin melihat wajah gadis itu, tapi setelah itu untuk apa?”

__ADS_1


“Aku akan mengirimkan ujaran kebencian dan juga menerrornya sampai ia putus dengan Rave.”


“Kamu gila?”


“Ya, aku gila. Lagipula siapa yang menyuruhnya merebut Rave dari kita?”


“Kamu benar. Tunggu akan aku kirimkan pesan ke paparazzi ini.”


“Ya aku akan menunggu.”


Elena semakin takut ketika ia mendengar obrolan para gadis-gadis itu. Ia pun kemudian berdiri dari duduknya ketika stasiun tempat ia berhenti segera tiba. Ia langsung turun begitu saja dan berlari cepat supaya bisa langsung tiba di rumahnya.


“Elena apa yang terjadi?”


Sang ayah yang baru saja keluar dari dalam rumah melihat Elena yang sedang terburu-buru mengunci pagar rumah mereka. Elena menggelengkan kepalanya pelan dan menarik sang ayah untuk segera masuk kembali ke dalam rumah.


“Elena, kamu ini kenapa?” tanya ayahnya yang panik melihat sikap Elena.


Setelah ia mengunci pintu rumah dan menutup semua jendela, ia pun berjalan ke dapur. Sang ayah mengikutinya dari belakang, khawatir dengan sikap anak satu-satunya itu. Diambilkan segelas air putih dan diberikan minum tersebut oleh sang ayah untuk Elena.


“Ayah, Elena takut.”


Sang ayah yang melihat putrinya itu ketakutan pun langsung menghampiri dan memeluk putrinya. Ditenangkannya Elena, diusapnya punggung dan dikecupnya lembut puncak kepala Elena.


“Katakan pada Ayah, apa yang terjadi?”


Elena menarik napas panjang sebelum ia mulai menceritakan apa yang membuat dirinya takut, “Setelah ini sepertinya hubungan antara Elena dan Rave akan diketahui oleh publik. Elena takut, Ayah. Beberapa paparazzi bahkan ada yang menjual identitas Elena.”


Dipeluk dan ditenangkannya sekali lagi Elena oleh ayahnya, “Semua akan baik-baik saja. Elena tak perlu mengkhawatirkan hal itu. Percaya pada Rave, Rave pasti melindungi Elena.”


“Elena percaya pada Rave. Elena yakin agensi Rave bisa menutupi dari para wartawan dan media,” Elena terlihat menarik napas berat, “Tapi dari fans? Apa yang harus Elena lakukan, Ayah?”


Tiba-tiba terdengar bunyi pukulan dari depan rumah. Elena pun mengikuti dari belakang ayahnya yang tengah melihat sumber bunyi itu. Ketika pintu dibuka, bau busuk menyeruak masuk ke dalam ruangan. Sebuah telur busuk telah dilemparkan ke depan pintu rumah Elena.


“Ayah, Elena takut.”


...*** ...

__ADS_1


__ADS_2