
"Rave, dia menelpon!"
Teriakan histeris sang manager ketika anggota Rias sedang turun dari atas panggung, membuat para member menatap ke arah Rave. Rave yang bingung pun langsung tersadar akan maksud dari ucapan sang manager. Ia langsung melompati lima anak tangga sekaligus dan langsung berlari mengikuti sang manager.
"Di mana?" tanya Rave cepat.
"Di ruang latihan. Ponselmu ada di—
Belum sempat sang manager menyelesaikan ucapannya, Rave pun telah menghilang dari hadapan sang manager. Banyak staff yang hampir ditabrak oleh Rave karena ia berlari secepat mungkin tanpa memperdulikan apapun. Ia hanya ingin segera sampai ke ruang latihannya saat ini.
Dibukanya pelan pintu ruang latihan dan berjalan ke arah sofa ruangan itu. Ponsel berwarna hitam miliknya berada di atas meja. Segera ia meraih ponsel hitam itu dan ditempelkannya ke telinga kanannya.
Ia menarik napas dalam sebelum mengucapkan satu nama yang sangat ia rindukan selama seminggu ini, "Elena.."
"...Rave,"
Hening. Setelah menyebut masing-masing nama, tidak ada obrolan yang keluar. Keduanya saling diam dan mendengarkan napas mereka masing-masing. Seolah mereka tengah memeluk satu sama lain dan saling menenangkan, tanpa ada ucapan sama sekali.
Terdengar sangat jelas jika Elena sedang menahan tangisnya di seberang telpon. Walau Rave tahu gadis itu berusaha menutupi, Rave tetap dapat merasakannya. Tidak ingin Elena merasakan sesak jika terus menutupi rasa sakitnya, Rave membiarkan gadis itu untuk sementara waktu. Dirinya pun perlahan duduk di sofa ruang latihan tersebut, dengan ponsel tetap menempel di telinga kanannya.
"Rave, kamu masih di sana?" ucap Elena setelah beberapa saat sibuk sendiri.
"Ya,"
"Apa aku mengganggu istirahatmu? Kamu baru saja selesai tampil bukan?"
Rave menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak. Elena, kamu sama sekali tidak menggangguku."
Suasana pun kembali hening. Dipikiran Rave terlalu banyak yang ingin ia katakan, tapi dirinya tidak sanggup bertanya apapun. Ia kecewa, tetapi ia tidak sanggup menyakiti hati gadis itu. Rave adalah definisi seorang pria yang mencintai gadisnya secara tulus, dan mungkin sedikit bodoh.
"Ya,"
"Ya,"
__ADS_1
Rave menarik napas panjang sehingga Elena merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat. Berbeda dengan Rave yang terlalu banyak pertanyaan yang ingin ditanyakannya pada Elena, Elena memiliki banyak hal yang ingin dijelaskannya pada Rave, namun tidak ada satu kata pun yang sanggup ia keluarkan. Mendengar Rave menarik napas panjang membuatnya sedikit gelisah.
"Elena, bolehkah aku menjadi satu-satunya orang lain yang memanggil namamu tanpa panggilan 'Putri', Elena?"
"Rave,"
Tangis Elena seketika pecah setelah mendengar ucapan dari Rave barusan. Dirinya sudah mencoba untuk menahan tangis semampunya, namun air matanya kali ini tidak dapat dibendung. Rasa sedih, marah dan rindu bercampur menjadi satu.
Rave yang mendengar tangis Elena pecah pun tanpa sadar juga ikut menangis dalam diam. Dirinya sangat merindukan gadis itu. Ia tahu bagaimana perasaan Elena menahan ini semua seorang diri. Ia tahu betul sifat Elena, dan Rave yakin gadis itu pasti sedang tertekan seorang diri.
"Kamu bukan orang lain, Rave. Kamu bukan orang lain untukku." jawab Elena sedikit terbata.
"Sungguh, Elena? Kamu masih menganggapku Rave yang dulu?"
"Ya. Rave yang dulu dan sekarang tidak ada bedanya. Aku... aku masih mencintaimu, Rave."
Keduanya kembali menangis bersama. Mereka marah dengan keadaan saat ini. Seandainya saja mereka bisa bertemu walau hanya sebentar saja, mereka pasti sudah meluapkan semuanya.
"Ya,"
"Ya,"
"Elena. Dari dulu aku sangat menyukai namamu. Namamu begitu indah. Wajahmu tak kalah indahnya. Tapi ada yang lebih aku sukai di atas itu semua, Elena. Kamu tahu apa itu?"
Elena menggelengkan kepalanya, "Tidak,"
"Kebaikan hatimu," Rave mengusap air mata di pipinya yang mulai menimbulkan rasa gatal, "Maafkan aku karna baru memahami semuanya sekarang, Elena. Aku... aku merasa kecewa, sungguh. Tapi di sisi lain aku merasa tidak berguna. Selama ini kamu menahan semuanya seorang diri."
"Rave, maafkan aku. Jujur aku tidak bermaksud membuatmu kecewa. Dan menyembunyikan ini semua darimu membuatku terbebani sejak dulu. Maafkan aku, Rave. Maafkan aku karna tidak bisa jujur padamu."
"Tidak, Elena. Kamu tidak salah. Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Kamu sudah berjuang seorang diri selama ini. Akulah yang harusnya meminta maaf padamu." Rave memberi jeda sejenak, "Seharusnya aku bisa membantumu, aku bisa memberikan semangat untukmu. Tapi nyatanya aku tidak berguna. Sungguh, kekasih macam apa aku ini."
"Rave, kamu sudah banyak membantuku selama ini. Kamu selalu menguatkanku padahal kamu tidak tahu apa yang membuatku lemah. Aku berterima kasih karena selama ini kamu tidak pernah memaksaku untuk menceritakan semuanya. Sehingga aku bisa menjalani tugasku, menjalani janjiku."
__ADS_1
"Rave, aku benar-benar meminta maaf padamu. Jika nanti kita memiliki waktu luang, aku akan menceritakan semuanya padamu. Semuanya yang sejak dulu ingin ku ceritakan padamu."
"Aku akan selalu menanti datangnya hari itu, Elena. Aku akan sabar menunggumu."
"Rave, aku sungguh beruntung bertemu denganmu."
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari seberang telpon. Seseorang datang dan mendekat ke Elena seolah tengah menginstruksikan sesuatu.
"Apa terjadi sesuatu, Elena?"
Agak lama Elena baru menjawab, "Rave, banyak yang ingin aku ceritakan padamu, tapi maafkan aku, aku harus segera mematikan panggilan telpon darimu. Aku akan segera menghubungimu kembali. Jaga kesehatanmu, Rave. Aku merindukanmu."
Seketika panggilan telpon diputus secara sepihak, membuat Rave dibuat gelisah seorang diri. Dipikirannya hinggap berbagai macam pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan apa yang terjadi pada Elena. Namun ia mencoba untuk menepis itu semua. Ia yakin Elena akan baik-baik saja. Ia hanya harus menunggu, seperti sebelumnya ia menunggu panggilan telpon dari Elena.
Diletakkannya kembali ponsel ke atas meja. Diusapkannya kedua telapak tangannya secara kasar di muka. Berulang kali ia mencoba menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan, mencoba membuat dirinya tenang kembali.
"Rave?"
Ketukan pintu pun menyita perhatian Rave, dilihatnya siapa seseorang di balik pintu tersebut, dan terlihat jelas kepala Ian yang menyembul ke dalam ruang latihan.
"Kamu sudah selesai?"
"Ya,"
"Segera makan malam dan beristirahat."
"Kalian sudah makan malam?" tanya Rave yang tiba-tiba kembali terdengar sedikit ceria.
Ian yang merasakan perubahannya sejak kemarin pun langsung tersenyum bahagia, "Ya, baru saja kami selesai makan malam. Cepat makan malam dan segera istirahat. Aku duluan ke kamar."
"Ya, aku akan menyusul."
Setelah kepergian Ian, Rave mengambil kembali ponsel miliknya. Dengan cepat ia mengetikkan pesan untuk Elena dan segera mengirimkannya. Ia pun bangkit dan pergi menuju ke ruangan makan.
__ADS_1
> Kamu juga harus pastikan untuk menjaga kesehatanmu, Elena. Makan yang banyak dan jangan sampai sakit. Kita akan segera bertemu secepatnya. Aku juga merindukanmu.
...***...