Elena; Ratu Dari Ardorarias

Elena; Ratu Dari Ardorarias
Part 9; Peraturan Yang Membingungkan


__ADS_3

Ketukan pintu di depan rumah terdengar cukup keras. Elena yang baru saja berjalan ke dapur tiba-tiba langsung membelokkan kakinya menuju ke depan rumah. Melihat siapa dan kenapa mengetuk pintu begitu keras.


“Elena!”


“Elena bisa kamu menolong kami? Kami mohon tolonglah kami.”


Elena dibuat bingung dengan raut wajah tetangganya yang sangat pucat dan panik. Wanita di hadapan Elena memegang tangan Elena sangat erat ketika memohon pertolongan pada dirinya. Terasa getaran tangan wanita tersebut di telapak tangan Elena.


“Bibi tenang dahulu dan coba untuk menarik napas secara perlahan,” Elena menuntun wanita itu untuk menarik napas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Ketika dilihatnya wanita yang datang bersama putrinya yang masih remaja sudah cukup tenang, Elena menanyakan apa yang sekiranya dapat ia tolong, “Apa yang bisa ku bantu, Bibi?”


Kedua telapak tangan wanita tersebut masih menggenggam erat kedua tangan Elena, “Suami.. suami saya kecelakaan tadi subuh tapi sampai sekarang belum mendapatkan penanganan dari pihak rumah sakit..”


“Belum ditangani? Bagaimana bisa?”


Wanita itu menatap wajah Elena dengan raut wajah yang sangat sedih, air mata mengalir deras tanpa bisa dibendungnya, “…pihak rumah sakit meminta kami membayar administrasi terlebih dahulu... dan suami saya harus dioperasi karna kecelakaan tersebut.”


“Bibi tenang dulu yaa, tetap bernapas secara normal,” Elena menoleh ke arah seorang gadis yang hanya diam termenung dengan air mata yang terus mengalir keluar, “Kamu juga harus tenang ya.”


Elena kemudian bergegas masuk rumah dan berlari menuju ke kamarnya. Dirinya langsung meraih tas dan ponsel miliknya kemudian kembali menemui tetangganya yang masih berdiri tepat di depan pintu masuk rumahnya.


“Ayo, aku antarkan ke rumah sakit.”


Dengan cepat Elena menghentikan taksi yang lewat di jalan raya dekat rumahnya. Elena langsung mengajak tetangganya itu masuk ke dalam mobil. Dirangkulnya wanita tersebut dan menepuk bahunya perlahan, mencoba menyalurkan kekuatan dan sedikit lebih bersabar pada wanita tersebut.


Elena dan tetangganya pun sampai di rumah sakit. Segera mereka berlari menuju ke ruang gawat darurat, mencari keberadaan suami tetangganya itu. Seorang pria yang mengunakan tabung oksigen serta selang infus yang terpasang di tubuhnya tengah terbaring di rumah sakit. Di samping ranjang tempat pria itu dibaringkan, seorang remaja laki-laki tengah duduk dan memegang erat tangan pria tersebut.


"Ibu.."

__ADS_1


Pandangan Elena teralihkan pada remaja laki-laki yang langsung berlari menghampiri ibu dan saudara perempuannya. Elena datang mendekat ke arah ranjang tempat ayah dari kedua remaja tadi berbaring. Sekujur tubuh tetangganya penuh luka dan bekas darah.


"Permisi, wali dari Bapak Edward apakah bisa datang menemui Dokter di ruangannya sekarang?"


Mendengar salah seorang Perawat yang datang mendekat, Elena dan istri dari tetangganya yang bernama Edward itu pun segera mengikuti Perawat tadi, meninggalkan kedua remaja bersaudara tersebut mendampingi ayahnya yang terbaring lemah.


"Permisi," sapa Elena kepada Dokter yang menangani tetangganya itu.


"Ya, silahkan masuk."


Elena dan istri dari Edward pun masuk dan duduk di hadapan Dokter, "Dokter, bisa dijelaskan bagaimana kondisi dari Bapak Edward?"


Dokter di sana langsung menjelaskan kondisi dari tetangga Elena. Edward memgalami luka yang cukup parah dan beberapa tulang di tangan dan kakinya patah. Dokter di sana tidak bisa mengoperasi dikarenakan tidak ada Dokter patah tulang di rumah sakit tersebut. Terlebih lagi rumah sakit di sana adalah rumah sakit kecil yang tidak memungkinkan untuk mengoperasi. Edward harus segera dikirim ke rumah sakit yang lebih besar agar segera dapat pertolongan yang memadai.


"Dan juga Bapak Edward terus kehilangan banyak darah. Stok golongan darah O di rumah sakit ini sangat terbatas dan sebaiknya anda mendatangi kantor palang merah." ucap Dokter menjelaskan kepada Elena dan istri Edward.


"Kalau begitu bisa langsung berikan surat rujukan ke rumah sakit yang lebih besar? Bukankah lebih cepat dikirim akan jauh lebih baik untuk pasien." jawab Elena setenang mungkin.


"Mengembalikan dua kantong darah?"


"Ya, jika tidak pihak rumah sakit tidak dapat mengurus surat rujukan. Dan yang paling penting adalah mengurus biaya administrasi lebih dahulu."


"Bisa berikan surat rujukan terlebih dahulu sebelum saya ke bagian administrasi?"


"Maaf tidak bisa. Anda harus ke bagian administrasi lebih dahulu."


Lelah mendengar ucapan Dokter di sana yang berulang-ulang mengatakan harus ke bagian administrasi, Elena pun pamit dan langsung ke bagian administrasi untuk menyelesaikan semua urusan biaya tetangganya itu.

__ADS_1


"Permisi, saya wali dari pasien bernama Edward. Pasien kecelakaan yang dibawa ke sini tadi pagi. Bisa saya minta total biaya yang harus dibayarkan?" ucap Elena kepada pihak administrasi rumah sakit.


"Elena?"


Elena yang tersadar namanya disebut pun memperhatikan admin di hadapannya. Ia sangat terkejut ketika memperhatikan lebih jelas admin rumah sakit itu, ia sangat mengenal siapa admin di hadapannya.


"Jenni?"


Jenni, bagian administrasi rumah sakit tersebut merupakan teman sekelas Elena ketika duduk di bangku sekolah menengah. Ralat—Jenni bukanlah teman Elena, tetapi benar mereka satu kelas. Elena sangat mengenal Jenni dikarenakan Jenni sering membully Elena sewaktu masih sekolah. Karena itulah Elena tidak bisa melupakan Jenni dengan mudah.


Elrna tersadar jika dirinya membutuhkan segera surat rujukan, ia kembali bertanya tentang total biaya rumah sakit, "Bisakah saya meminta total biaya pasien atas nama Edward?"


Jenni dengan cepat mengetik dan mengoperasikan komputer di meja kerjanya, sedangkan Elena hanya diam dan bersabar menunggu.


"Bapak Edward memakai dua kantong darah ketika datang. Anda harus mengganti terlebih dahulu dua kantong darah tersebut sebelum bisa melunasi pembayaran."


Mendengar penjelasan dari Jenni, Elena menghela napas berat. Dirinya dibuat bingung dengan kantong darah yang dipakai. Kenapa bisa keluarga pasien harus diberatkan untuk mengganti darah yang digunakan, mempersulit keluarga pasien yang sudah pasti kebingungan saat itu.


"Lebih baik anda mencari pendonor darah yang sesuai dahulu untuk mengganti dua kantong darah yang dipakai. Jika tidak, pihak rumah sakit tidak bisa mengurus urusan selanjutnya."


Setelah mendapatkan penjelasan dari bagian administrasi, Elena menemui istri dari Edward yang tengah menangis di samping ranjang suaminya. Kedua anak mereka pun ikut termenung melihat kondisi ayah mereka.


"Bibi, apa golongan darah Bibi sama dengan golongan darah Paman?"


Istri dari Edward menggelengkan kepalanya lemah, "Golongan darah saya A. Elena, di mana saya harus mencari pendonor dengan golongan darah O?" ucapnya sembari menangis memegang kedua telapak tangan Elena.


Elena pun teringat dengan ayahnya. Bagaimana bisa Elena melupakan profesi ayahnya yang juga seorang dokter. Ia pun segera menghubungi dan menjelaskan kepada ayahnya mengenai kondisi dari tetangganya.

__ADS_1


"Palang merah, Elena. Tapi tidak—tidak perlu. Kamu harus segera meminta rujukan dan kirim ke rumah sakit tempat Ayah bekerja saja. Cepat dapatkan surat rujukan dan segera kirimkan pasiennya."


......***......


__ADS_2