Elena; Ratu Dari Ardorarias

Elena; Ratu Dari Ardorarias
Part 8; Obrolan Pertama Kali


__ADS_3

Pagi ini, suasana di lingkungan sekitar tempat Elena tinggal sudah ramai dengan warga yang berkumpul. Warga sekitar sedang sibuk memperhatikan sekelompok polisi yang dipanggil oleh ayah Elena untuk mengusir fans fanatik Rave Josha.


Elena hanya memperhatikan kegaduhan dari dalam rumah. Dilihatnya aktivitas tarik menarik antara polisi dan para fans tersebut, belum lagi para warga yang sudah kelewat kesal dan ikut membantu polisi di sana.


Melihat putrinya yang terlihat sedih memperhatikan kegaduhan di luar rumah mereka, Daniel segera menghampiri Elena. Dipegangnya pundak Elena dan mencoba menenangkan Elena yang sedang merasakan kesedihan. Daniel tahu pasti apa yang dipikirkan oleh putrinya tersebut. Wajar saja, sejak hari pertama Elena lahir ke dunia sampai ia berusia 26 tahun, Daniel-lah yang telah mengurus putri angkatnya itu.


"Elena, dengar.. Terkadang pemimpin tidak harus merasa iba kepada semua hal. Nantinya banyak hal yang akan bertentangan denganmu dan kamu harus bisa memilih mana yang terbaik untuk banyak orang."


Daniel menggenggam tangan Elena lembut, "Ingat, Elena. Kamu harus tegar dan kuat. Harus. Jangan lemah dengan hal seperti ini," mata Daniel beralih ke arah luar rumah mereka, "Kamu tahu, jika Raja tahu apa yang terjadi padamu saat ini, ia tak segan untuk menghukum mereka semua. Dan kamu tahu hukum mereka yang berani mengintai bahkan menerror keluarga Kerajaan? Hukuman mati."


"Ayah.." mata Elena langsung menatap ke arah sang ayah, kepalanya menggeleng pelan, "Ku mohon jangan sampai Raja tahu hal ini. Sebenarnya ini semua salahku juga, jika saja aku tidak berkencan dengan Rave, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi. Jika Raja sampai tahu, bukan hanya warga sipil yang kena dampaknya, tapi juga... Rave."


"Ayah tahu. Itulah sebabnya Ayah tidak bisa berbuat apapun pada mereka. Ayah hanya bisa meminta utusan dari kepolisian untuk menjaga lingkungan kita tinggal." Daniel menghela napasnya berat, "Elena,"


Elena mendongak ke arah ayahnya, "Ya, Ayah?"


"Usahakan kamu menutupi hubunganmu dengan Rave dari Raja. Raja tidak boleh tahu tentang ini," Daniel kembali menatap ke arah luar jendela, "Walau Raja pasti akan sangat marah ketika tahu kamu berkencan dengan Rave, yang akan menanggung semua beban adalah Rave. Bukan dirimu."


Melihat kedatangan polisi yang berhasil mengusir para fans yang selama seminggu ini meresahkan banyak orang, Daniel pun segera keluar menghampiri polisi yang datang. Dibawanya sekalian tas kerja miliknya dan langsung pergi meninggalkan Elena di rumah seorang diri.


Melihat ayahnya yang sudah pergi menjauh, Elena masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk diam di atas ranjang miliknya. Tanpa ia sadari, air mata jatuh mengalir dengan bebas di pipinya. Pikirannya jauh terbang ke masa lalu ketika ia pertama kali bertemu dengan Rave Josha, kekasihnya.


...***...


Saat itu musim gugur tengah berlangsung di bulan Oktober. Elena yang tengah duduk di semester pertama kelas dua menengah atas kembali menjadi bulanan teman sekelasnya. Elena memang gadis pendiam dan tidak banyak bicara. Sejak kecil Raja sudah meminta dan mengingatkan Daniel supaya mengawasi Elena, Raja ingin Elena tidak terlalu dekat dengan orang lain. Oleh sebab itulah, hingga Elena duduk di kelas dua menengah atas, dirinya tidak memiliki teman sama sekali.


"Hei Elena, bukankah hari ini jadwal kamu piket kelas? Sampah di depan kelas sudah menumpuk. Sebaiknya kamu cepat buang sebelum baunya menyebar ke dalam kelas."


Tidak mau terlibat perdebatan dengan teman sekelasnya, Elena pun langsung bangkit dan membuang sampah ke tempat pembuangan sampah. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini, bahkan terkadang ia disuruh-suruh dan di-bully oleh teman sekelasnya tanpa sebab.

__ADS_1


Setelah memilah sampah yang bisa di daur ulang dengan yang tidak, Elena memutuskan untuk duduk di bawah pohon Beech. Daun-daun yang berguguran pun menutupi taman sekolah, membuatnya tampak sangat indah. Dibandingkan musim semi, Elena lebih menyukai musim gugur karena suasana yang terasa jauh lebih hangat.


Beristirahat sejenak dari suasana kelas yang berisik, Elena menarik napasnya dalam kemudian menutup matanya. Menikmati angin musim gugur yang hangat.


tak.


Merasa ada sesuatu di sampingnya, Elena membuka kedua matanya dan menoleh ke arah samping kanan dirinya. Betapa terkejutnya ia mendapati seorang pemuda duduk tepat di samping kanannya.


"Hi, Elena."


Pemuda itu tersenyum sangat manis ke arahnya. Elena yang bingung serta kaget melihatnya pun hanya bisa membalasnya dengan anggukan kecil. Pemuda yang duduk di sampingnya kemudian menyodorkan sekaleng minuman penambah ion kepada Elena.


"Untukmu, kamu lelah bukan?"


Tidak mendapat respon dari Elena, pemuda itu meletakkan kaleng minuman berwarna biru itu di kedua telapak tangan Elena. Rasa dingin menyambar dari kaleng minuman tersebut membuat telapak tangan Elena memerah.


Elena semakin dibuat bingung dengan sikapnya, kenapa juga pemuda di sampingnya ini harus bersusah payah menghampiri dan memberikan minuman untuk Elena. Namun Elena tidak mungkin mengatakan seperti itu, ia langsung mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu.


"Terima kasih."


"Rave. Namaku Rave. Kamu tahu namaku bukan? Rave Josha. Sejak duduk di sekolah dasar kita sudah saling kenal."


"Ya, aku tahu namamu. Terima kasih, Rave."


Rave tersenyum sumringah mendengar Elena menyebut namanya. Sedangkan Elena hanya menunduk memandang kaleng minjman yang diberikan Rave.


"Bukalah. Tidakkah kamu haus setelah membuang dan memilah sampah?"


Mendengar ucapan Rave, Elena pun langsung membuka tutup kaleng minumannya. Karena terburu-buru dan keadaan kaleng miring ketika Elena membukanya, air di dalam kaleng tersebut menyemprot ke arah rok yang ia kenakan.

__ADS_1


"Ah.." desah Elena yang langsung berdiri agar air dari minuman kaleng tersebut tidak semakin membuat basah rok Elena.


"Ya ampun, ternyata kamu cukup ceroboh ya, Elena?"


Rave tertawa kecil melihat tingkah Elena. Ia pun mengeluarkan sapu tangan yang terlipat rapi dari kantongnya. Diambilnya kaleng minuman dari tangan Elena dan mengelap tangan Elena mengunakan sapu tangan miliknya.


"Kamu terlihat kuat dari luar, tapi ternyata aku salah menilaimu."


Elena mendelik dan menarik tangannya dari pegangan Rave, "Apa maksudmu?"


Rave tersadar kata-kata yang keluar dari mulutnya barusan mungkin menyakiti hati Elena dan membuat Elena salah paham, ia langsung melambaikan tangan ke kanan dan kiri, meminta maaf akan kesalahpahaman Elena barusan.


"Bukan begitu maksudku. Aku tidak bermaksud—"


"Ya, tidak masalah." Elena memotong ucapan Rave cepat membuat Rave semakin merasa bersalah.


"Elena... kamu marah padaku?"


Elena yang baru saja duduk kembali mendongak ke arah Rave yang tengah berdiri di depannya. Elena menggelengkan kepalanya pelan, "Kenapa aku harus marah padamu? Kamu tidak berbuat salah. Dibandingkan marah, aku seharusnya berterima kasih padamu."


Mendengar ucapan Elena yang sangat lembut, Rave ikut duduk di samping Elena kembali. Tatapan mata Rave fokus ke arah Elena, "Elena ayo berteman denganku."


...***...


Elena menggelengkan kepalanya cepat dan mengelap air mata yang mengalir di pipinya. Ia bangkit dari lamunan panjangnya barusan dan menuju ke dapur. Dirinya sudah membuang waktu hampir satu jam hanya untuk melamun mengingat kembali awal mula dirinya dekat dengan Rave.


"Elena... Apa ada di rumah?"


...***...

__ADS_1


__ADS_2