
Terlihat jelas raut kecewa dari sebagian fans yang datang menonton konser Rias malam ini. Rave memaklumi banyak fans yang berharap tidak ada skandal hubungan karena bagi para fans, hidup mereka adalah milik fans mereka. Biasanya fans sangat antusias ketika menonton konser mereka, namun malam ini sangat berbeda. Fans yang terlihat tidak antusias menonton konser mereka pun membuat para anggota grup ikut tidak antusias untuk tampil.
Rave adalah yang paling pertama turun dari atas panggung. Biasanya ia selalu menjadi yang terakhir turun karena menghargai fans mereka. Namun malam ini pikirannya sangat kalut. Ia tidak bisa berpikir secara jernih dan ingin secepatnya beristirahat.
"Ayolah Elena angkat telponku," ucap Rave yang berulang kali mencoba menghubungi Elena.
Lebih dari belasan kali Rave mencoba menghubungi Elena namun tidak ada jawaban sama sekali. Para anggota yang lain pun perlahan masuk ke dalam ruang latihan tempat mereka beristirahat. Semua mata tertuju pada Rave yang terlihat gusar.
"Aku tahu kalau kamu sedang banyak pikiran saat ini. Tapi bisakah kamu sembunyikan sedikit raut wajahmu itu? Kamu memang mungkin kecewa tapi fans jauh lebih kecewa mendengar berita ini." gumam Shann mencoba memperingatkan Rave.
"Tapi berita itu bohong. Dan aku tidak sedang berkencan dengan Chalota. Lagipula kenapa para fans harus kecewa sedangkan itu adalah hak ku. Aku punya hak untuk berkencan dengan siapapun." jawab Rave dengan tegas membuat Shann terlihat sedikit menahan amarah.
Melihat akan timbulnya perselisihan antara Rave dan Shann, Ian dan juga Andro mencoba menenangkan mereka berdua. Suasana yang cukup panas di ruangan itu perlahan mereda.
"Rave aku tahu kamu sedang banyak pikiran, tapi ku mohon bersikaplah professional. Bukankah kamu adalah yang terbaik menutupi masalahmu sendiri dan bersikap professional? Aku harap kamu bisa sedikit tenang ketika konser kedua besok."
Setelah menurunkan egonya, Shann pun keluar dari ruang latihan diikuti oleh Andro di belakangnya. Perkataan Shann memang benar adanya. Rave adalah yang terbaik ketika menutupi masalah yang menghampirinya. Dan ia merasa menyesal sudah bersikap tidak professional saat konser tadi.
"Ayo, Rave. Lebih baik kita segera kembali ke kamar. Kamu butuh istirahat." gumam Ian yang sedari tadi setia duduk menemani Rave.
"Pergilah lebih dulu. Aku akan segera menyusul."
"Jangan melakukan hal yang tidak-tidak, Rave. Kamu dengar bukan?"
"Ya,"
Setelah mendengar jawaban dari Rave, Ian pun beranjak pergi meninggalkan Rave seorang diri di ruang latihan mereka. Walaupun Ian merasa tidak tega meninggalkan Rave seorang diri, tapi Ian tahu kalau saat ini Rave sedang membutuhkan waktu sendiri. Setidaknya Rave harus bisa berpikir secara tenang.
__ADS_1
Rave kembali melakukan panggilan telpon pada Elena. Walau tidak mendapatkan jawaban apapun, Rave terus menelpon gadisnya itu. Berharap Elena mau dan bisa menyempatkan menjawab panggilan telpon dari Rave walau sebentar saja.
"Elena ku mohon jawab panggilan telpon dariku."
Ketika Rave baru saja ingin menyandarkan punggungnya di sofa, sebuah panggilan telpon dari nomor tak dikenal masuk ke ponselnya. Tanpa fikir panjang, Rave langsung menjawab panggilan telpon tersebut. Dengan penuh harap Rave berpikir bahwa Elena yang menghubunginya, mengunakan ponsel milik orang lain.
"Hallo—"
"Hallo Rave! Wah sepertinya kamu antusias sekali mengangkat panggilan telpon dariku? Apa yang sedang kamu lakukan saat ini?"
Rave menjauhkan ponsel dari telinganya. Dilihatnya nomor asing yang masuk ke dalam panggilan telpon miliknya. Ia sangat mengenal suara Elena, dan suara perempuan yang baru saja menelponnya bukan suara Elena. Rave sangat yakin akan hal itu.
"Hallo, Rave? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Siapa ini?" tanya Rave cepat dan terdengar kesal.
Terdengar helaan napas berat dari Rave, "Apa yang kamu inginkan?"
"Hei kenapa kamu terdengar sangat ketus? Tidakkah kamu bersikap sedikit lebih baik pada pacarmu saat ini?"
"Pacar?"
"Wah aku tidak tahu kalau kamu benar selambat ini dalam memahami sesuatu. Sejak pernyataan yang dikeluarkan dari agensimu pagi tadi, bukankah kita resmi berkencan?"
Rave semakin kesal mendengar jawaban dari Chalota, ia pun menarik napas panjang sebelum menjawab ucapan Chalota, "Dengar Lota, pernyataan itu hanya pengalihan isu. Kita tidak akan pernah dan tidak bisa berkencan satu sama lain sampai kapanpun. Lebih baik kamu buang pikiranmu untuk bisa berkencan denganku."
"Kenapa aku tidak bisa berkencan denganmu? Apakah karena si Elena itu?"
__ADS_1
Jawaban dari Chalota semakin membuat Rave memanas, "Apa maksudmu Elena? Dia seorang Putri Kerajaan dan kamu dengan mudahnya menyebut nama dirinya?!"
"Kenapa kamu terdengar marah sekali?"
"Sudah hentikan. Aku tutup panggilan telponmu."
Setelah menutup panggilan telpon dari Chalota, Rave pun langsung melempar ponsel miliknya ke atas meja. Kembali ia menyandarkan punggungnya ke sofa dengan tangan kanan menutup matanya. Ia merasa masalah mendatanginya satu per satu. Mungkinkah ini masalah pertama yang menimpanya karena sebelumnya ia tidak pernah mendapatkan cobaan yang berat. Dan sekalinya ia mendapati cobaan, semua mendatanginya sekaligus.
Ia kembali mencoba menghubungi Elena untuk yang kesekian kalinya. Jika malam ini ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Elena, ia akan mencobanya besok. Masih ada banyak waktu dan ia akan memaklumi jika Elena sulit untuk dihubungi malam ini.
"Rave darimana saja kamu baru datang sekarang?" tanya Ian ketika melihat kedatangan Rave ke kamar mereka berdua.
"Ruang latihan."
Jawaban singkat Rave membuat Ian sedikit takut. Rave yang biasanya sangat ceria dan ramah saat ini seperti bukan Rave yang ia kenal. Ian pun bangkit dari tidurnya dan memberikan termos kecil pada Rave.
"Aku meminta manager membuatkanmu teh jeruk panas. Ibuku dulu sering memberikan teh jeruk panas padaku jika aku sedang stress. Minumlah selagi masih panas.
"Terima kasih, Ian."
Setelah memberikan termos berisi teh jeruk panas pada Rave, Ian pun kembali naik ke atas kasur miliknya. Ia kembali memainkan ponselnya, melihat berita yang terjadi hari ini.
"Bukan bagianku untuk menceramahimu, Rave. Terlebih aku jauh lebih mudah daripadamu. Tapi jika kamu mau mendengar perkataanku, kamj yarus sedikit sabar. Aku tahu kamu kecewa dan bingung. Aku tahu kamu berharap mendapatkan jawaban dari Putri Elena secepatnya, tapi kamu harus memikirkan posisinya saat ini. Ia kembali ke istana yang mana sangat ketat peraturan. Aku yakin ia sangat ingin segera menghubungimu juga, tapi mungkin ia tidak punya waktu. Bersabarlah, aku yakin kamu bisa menghubunginya nanti."
Ian yang selama ini selalu kekanakan di mata Rave pun berubah menjadi sangat dewasa. Perkataan Ian benar adanya, dan dirinya hanya butuh sedikit bersabar. Rave tahu Elena mencintainya dengan tulus, dan tidak mungkin jikalau Elena sengaja menghindarinya.
"Hehe kamu tak perlu terlalu memikirkan perkataanku, aku hanya sembarang bicara. Aku tidur duluan, Rave."
__ADS_1
...***...