Elena; Ratu Dari Ardorarias

Elena; Ratu Dari Ardorarias
Part 6; Hidup Dan Masa Depan


__ADS_3

"Sebenarnya aku lebih dulu ingin berhenti bekerja, Elena."


Elena yang tengah menatap lingkungan sekitar pun mendadak menoleh ke samping kanannya. Teresa lagi-lagi sedang menatap ke arah langit malam. Pikirannya seolah terbang jauh ke arah bintang-bintang di malam itu.


"Sejujurnya sudah lama aku ingin berhenti bekerja. Bekerja di perusahaan itu membuatku stress. Tapi kamu tahu, Elena? Kamu datang dan menjadi bagian dari teamku. Aku sangat bahagia saat itu karena memiliki rekan kerja yang cekatan dan pintar," Teresa tersenyum dengan pandangan masih menatap ke arah langit, "Aku sempat terpikirkan keadaanmu jika aku berhenti bekerja. Apakah kamu bisa bertahan tanpa diriku di perusahaan itu, ataukah tidak."


Teresa menoleh ke arah Elena dan meraih tangannya, menggenggam erat seolah ia sedang menyalurkan suatu energi yang telah ia simpan selama ini.


"Tapi sekarang aku merasa lega. Lega akhirnya kamu memutuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan itu. Walau sebenarnya aku sempat merasa kesal dan sedih, tapi aku menganggap pilihanmu adalah yang terbaik."


Elena dibuat bingung dengan ucapan Teresa barusan. Ia bingung akan alasan Teresa yang lega ketika Elena berhenti bekerja. Elena sempat menanyakan alasan apa yang membuat Teresa merasa berat hati meninggalkan Elena, dan juga alasan apa yang membuat Teresa akhirnya lega ketika Elena berhenti. Namun Teresa tidak menjawab pertanyaan yang Elena tanyakan, ia hanya tersenyum pada Elena.


"Aku akan menikah."


Elena terkejut dan langsung menoleh ke arah Teresa, "Menikah?"


"Ya. Mungkin acaranya akan berlangsung bulan depan," Teresa membuka ponselnya ketika benda berbentuk persegi panjang itu bergetar, "Awalnya aku akan berhenti bekerja setelah menikah. Tapi kita lihat saja nanti, apakah aku akan menyusulmu keluar dari perusahaan itu atau tidak."


"Kamu punya kekasih?"


Tersadar dengan pertanyaannya yang mungkin membuat Teresa sakit hati, Elena secepat mungkin memperbaiki perkataannya, "Maksudku aku tidak tahu kamu punya kekasih dan tiba-tiba... menikah?"


Teresa tertawa kecil mendengar ucapan Elena, "Kamu benar, aku tidak punya kekasih. Dan yaa pernikahanku ini karena perjodohan. Kamu tahu umurku bukan? Umurku sudah tidak muda lagi."


"Teresa umurmu baru menginjak 28 tahun."


"Lebih tepatnya 29 tahun tiga bulan lagi."

__ADS_1


"Tapi tetap saja, perjodohan huh?"


Teresa tersenyum hambar, dirinya tidak sanggup menoleh ke arah Elena, "Begitulah hidup, Elena. Kita tidak tahu tentang hidup dan masa depan kita. Aku bahkan tidak pernah terpikirkan kedua orang tuaku telah menjodohkanku, karena mereka selama ini bersikap santai saja. Tapi... entahlah aku pun tidak tahu."


Elena mengangguk kecil seolah ia paham apa yang sedang dirasakan oleh Teresa, padahal di dalam hatinya ia merasa kesal. Kenapa orang lain harus ikut campur dengan hidup kita. Belum lagi hidup Elena sendiri, hidupnya yang selalu diatur sedemikian rupa demi orang lain. Seolah manusia hidup sebagai boneka.


"Ku harap kamu datang ke acara pernikahanku nantinya, Elena. Walau aku tidak yakin bisa bertemu denganmu lagi, karena aku pun tidak tahu apa alasan kamu berhenti bekerja. Apakah nantinya kita masih bisa berhubungan atau tidak."


Elena meraih tangan Teresa dan menggenggamnya hangat, "Akan ku usahakan untuk tetap menjaga komunikasi denganmu. Kamu bisa menghubungi ayahku jika nantinya tidak bisa menghubungiku. Dan..." Elena menggantungkan ucapannya dan tertawa kecil, "Kamu bisa datang ke royal house nantinya haha."


Tawa mereka berdua lepas begitu saja. Elena merasakan hangat di dadany melihat teman wanitanya itu tertawa. Elena mengatakan hal yang sesungguhnya, ia ingin Teresa tahu di mana keberadaan Elena nantinya jikalau Teresa membutuhkan dirinya. Walau hanya tersirat, Elena yakin suatu hari nanti Teresa akan paham dengan maksud ucapan Elena saat ini.


"Tapi jujur, Elena. Tidakkah kamu merasakan kita sedang diperhatikan?"


Elena tertawa kecil, "Ya, aku tahu. Oleh sebab itu aku meminta Ayah untuk datang menjemputku."


Elena melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul sebelas malam dan mereka harus segera pulang ke rumah masing-masing. Terutama Teresa, gadis itu masih harus bangun pagi esok hari karena masih harus bekerja.


...***...


Elena segera menghampiri ayahnya yang sedari tadi sudah menunggunya di dekat taman. Elena langsung masuk ke dalam mobil di mana ayahnya duduk dan menunggu dirinya.


"Maafkan aku sudah membuat Ayah menunggu lama."


Daniel Rosamun, seorang Dokter terkenal di kota tempat mereka tinggal hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya lembut. Diraihnya puncak kepala Elena dan membelainya penuh dengan kasih sayang.


"Jangan dipikirkan. Nikmati saja waktumu, dua hari lagi kita akan berangkat."

__ADS_1


Elena mendadak merasa sedih. Dirinya memang sudah tidak punya waktu untuk menikmati hidupnya. Ia sempat berterima kasih dengan orang tua kandungnya yang mana menitipkan Elena pada Daniel. Jika Elena tetap tinggal dan besar bersama orang tuanya, sudah dipastikan dirinya akan tertekan sejak kecil.


"Jangan memasang tampang sedih seperti itu. Kamu harus terlihat tegar, tegas dan kuat di mana pun kamu berada, Elena."


Elena mengangguk, "Aku hanya memasang raut wajah seperti ini di depan Ayah. Karena sesungguhnya hanya Ayah yang tahu semua tentang diriku."


Daniel meraih tangan putrinya dan menggenggamnya. Kehangatan dari tangan Daniel tersalurkan dengan baik ke tangan Elena yang dingin. Elena membalas genggaman tangan sang ayahnya erat.


"Ayah tahu itu, tapi Ayah takut kamu terbiasa dan tanpa sadar memasang raut sedih di depan banyak orang nantinya."


"Elena janji tidak akan memasang raut wajah sedih lagi," ucap Elena mencoba menghentikan obrolan mereka dan menggantinya dengan topik yang lain, "Ayah sudah makan malam?"


Daniel refleks melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Ia tertawa ketika melihat Elena. Sedangkan Elena hanya bisa bingung melihat ayahnya yang tiba-tiba tertawa ketika melihatnya.


"Kenapa Ayah tertawa?"


"Kamu lihat jam berapa sekarang, Elena?" Daniel menyodorkan pergelangan tangannya ke arah Elena, berharap gadis itu melihat ke arah jam yang ia kenakan.


"Pukul sebelas lewat lima belas menit. Kenapa, Ayah?"


"Kenapa? Harusnya kamu tahu jawabannya, Elena. Tentu saja Ayah sudah makan. Sekarang sudah hampir tengah malam. Mana mungkin Ayah belum makan jam segini."


Elena ikut tertawa ketika mendengar ucapan ayahnya, "Ayah benar haha sepertinya aku terlalu lelah. Bisakah kita pulang sekarang, Ayah?"


Daniel mengangguk kemudian menyalakan mesin mobilnya. Mobil pun bergerak menuju ke kediaman mereka. Sepanjang perjalanan, Elena hanya diam dan terus menatap ke arah ayahnya yang sedang mengendarai mobil. Elena merasa sedih karena ia tidak tahu apakah nantinya ia bisa terus bersama dengan sang ayah atau tidak.


Bagi Elena, ayahnya adalah segalanya. Daniel memang bukan ayah kandungnya. Ia hanya seseorang yang dipercayakan oleh kedua orang tua Elena untuk merawatnya. Walau Elena menyayangi Daniel, sampai kapanpun mereka tidak bisa bersama seperti keluarga pada umumnya. Elena hanya bisa tinggal bersama Daniel hanya sampai waktu yang nantinya akan ditentukan.

__ADS_1


"Apa yang sedang terjadi?"


...***...


__ADS_2