Elena; Ratu Dari Ardorarias

Elena; Ratu Dari Ardorarias
Part 3; Janji Yang Penuh Kebohongan


__ADS_3

Setelah merasakan dirinya sedikit lebih tenang, Elena pun memberikan waktu untuk Rave menjelaskan apa maksud kedatangannya yang sangat tiba-tiba dan membuatnya sangat takut. Dan hal itu membuat Rave berulang kali meminta maaf atas tindakannya yang sangat ceroboh.


Manager Rave yang mengendarai mobil van hitam pun memarkirkan mobilnya di sebuah gang kecil yang cukup sempit. Sang manager pun memilih keluar untuk memberikan privacy pada artisnya tersebut.


“Jika kalian sudah selesai bicara, bisa langsung menghubungiku.” ucap sang manager yang kemudian menjauh dari van tersebut.


Di dalam mobil sekarang hanya menyisakan Elena berdua saja dengan Rave. Rave terlihat terus-terusan menggenggam telapak tangan Elena dengan lembut. Elena kemudian menoleh ke arah Rave dan memberikan senyum manisnya, mengisyaratkan kalau dirinya sudah jauh lebih baik sekarang.


“Kamu baik-baik saja, Elena? Aku mendengar banyak fans yang mendatangi dan menerrormu. Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan sesuatu untukmu.”


Melihat Rave yang merasa sangat bersalah, Elena pun memeluk tubuh Rave. Ditenangkannya Rave seolah terror akan diri Elena semuanya tidak mempengaruhi diri Elena. Padahal di balik itu semua, Elena sangat merasa sesak terus-terusan mendapat ancaman terror dari pengikut Rave yang agak gila—menurut Elena.


“Aku baik-baik saja. Ayah selalu menjagaku, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, Rave.”


Rave sangat tahu tentang Elena. Gadis itu sering kali memendam sesuatu sejak pertama kali mereka bertemu di bangku Sekolah Menengah Pertama. Namun melihat Elena yang terlihat tegar dan berusaha untuk tidak membuat Rave khawatir, Rave pun mengangguk seolah ia percaya semua yang dikatakan Elena.


“Maaf karena aku tidak bisa melindungimu, Elena. Yang aku bisa hanyalah menyembunyikan identitasmu dari para media. Namun paparazzi gila itu—“ Rave terlihat menghela napas berat setengah frustasi, “Aku tidak tahu harus melakukan apa pada mereka.”


“Selama kamu baik-baik saja, aku akan selalu merasa baik juga, Rave.”


Rave menarik tubuh Elena ke pelukannya. Dipeluknya erat gadis yang telah ia kencani secara diam-diam selama empat tahun lamanya. Perlahan Elena melepaskan pelukan Rave dari tubuhnya, membuat Rave bingung dengan tindakan Elena yang tiba-tiba ini.


“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Rave?”


Rave dibuat semakin bingung dengan pertanyaan Elena, “Tidak ada yang mengganggu pikiranku. Aku hanya terpikir bagaimana dirimu karna gangguan dari fansku, Elena.”


Elena menggelengkan kepalanya, “Bukan itu maksudku, Rave.”


“Lalu?”


“Kamu tampak ceroboh akhir-akhir ini. Seringkali aku melihat kamu tanpa sadar menjatuhkan mic ketika sedang melakukan live. Dan tentu, tindakan paling ceroboh yang terakhir kali kamu buat adalah dengan memposting foto yang aku kirimkan.” Elena terlihat menarik napas panjang, membuat Rave mendadak gugup melihatnya, “Kamu bukan tipikal pria yang ceroboh Rave. Aku tahu betul itu. Ada sesuatu yang sedang mengusikmu, bukan?”

__ADS_1


Jika berkaitan dengan kebiasaan masing-masing, Rave maupun Elena sama-sama tidak bisa memungkirinya. Keduanya sudah sangat mengenal satu sama lain. Elena si pengamat sekitar dan Rave yang selalu memperhatikan Elena.


“Tidak ada sesuatu yang penting, Elena. Sungguh.”


Elena tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Rave, namun melihat Rave yang seolah menutupi, Elena merasa ia tidak wajib untuk mengetahuinya. Dan Rave biasanya akan bercerita sendiri jika waktunya sudah tepat. Rave pasti akan menceritakan padanya, nanti.


Elena merasakan ponselnya bergetar, ia pun mengambil ponsel yang ia simpan di dalam tasnya. Banyak sekali pesan masuk ke dalam ponselnya, dan hampir semua pesan yang masuk adalah pesan terror dari fans Rave. Elena kemudian melihat ayahnya mengirimnya pesan, segera dibacanya pesan dari sang ayah.


Raut wajah Elena mendadak menjadi agak tegang setelah membaca pesan dari sang ayah. Ia terlihat termenung setelah menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas. Rave yang melihat perubahan pada raut wajah Elena pun menjadi khawatir.


“Elena apa yang terjadi?”


Tidak mendapat respon dari Elena, Rave menyentuh pundak Elena, “Elena?”


Elena kembali tersadar dan cepat menoleh ke arah Rave yang tengah melihatnya khawatir. Elena langsung memberikan senyuman manisnya pada Rave, berharap Rave tidak terlalu khawatir dengan perubahan raut wajahnya.


“Ada sesuatu yang terjadi, Elena?”


Rave semakin dibuat bingung oleh Elena, “Kenapa?”


“Bukan sesuatu yang besar. Aku hanya mendapat pesan untuk menemani Ayah dinas ke luar kota.”


“Dinas ke luar kota? Tidak biasanya Ayah memintamu ikut bersamanya, Elena. Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?”


“Aku akan mengundurkan diri.”


“Sebenarnya apa yang terjadi Elena? Apa dinas ayahmu sepenting itu sampai kamu harus ikut pergi dan bahkan mengundurkan diri bekerja di kantormu? Perusahaan yang selama ini sangat kamu impikan?”


Elena merasakan rasa sakit mendengar ucapan Rave. Rave benar, Elena berusaha semaksimal mungkin agar bisa lulus dan bekerja di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Dan Elena harus meninggalkan semuanya. Semua yang sudah ia bangun selama ini, bahkan sepertinya ia harus siap meninggalkan Rave juga.


“Ya, itu sangat penting, Rave. Untuk diriku dan semuanya. Ada yang ingin aku ceritakan padamu nantinya, namun sekarang bukanlah waktu yang tepat. Maafkan aku, Rave.”

__ADS_1


Meskipun Rave dibuat bingung oleh Elena, Rave tetap mencoba mempercayai semuanya. Percaya pada Elena yang sudah percaya pada dirinya.


“Baiklah. Tapi Elena, kamu harus berjanji tetap mengirimkan pesan padaku di mana pun kamu berada. Janji?”


“Ya, Rave. Aku janji padamu.”


Rave kemudian teringat alasan lain dirinya ingin bertemu Elena di saat seperti ini. Jika tidak terjadi sesuatu yang penting, Rave akan menemui Elena di malam hari sepulang Elena bekerja, bukan di pagi hari ketika Elena harus bekerja dan mengganggunya seperti sekarang.


“Elena ada yang aku lupakan.”


Elena menatap Rave dengan tatapan bingung dan cukup penasaran, “Apa, Rave?”


“Aku dan grupku akan konser keliling dunia dan konser akan dimulai minggu depan. Mungkin aku juga akan sulit untuk bisa bertemu denganmu. Tapi, sama sepertimu aku akan berjanji untuk sebisa mungkin mengirimkan pesan kabar padamu.”


Elena tersenyum mendengarnya, “Semoga konsermu berjalan lancar dan kamu harus berjanji satu hal lagi padaku, Rave. Kamu harus tetap sehat sampai kita bertemu nantinya. Jangan pernah menunda makan dan selalu makan vitamin. Janji?”


Rave membalas ucapan Elena dengan senyuman yang tak kalah manis, “Aku janji.”


“Kalau begitu, bisa kamu antar aku ke halte bus terdekat? Aku harus pergi ke kantor sekarang.”


Rave melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul sepuluh. Ia menyita waktu Elena cukup lama. Ia pun segera menelpon sang manager untuk kembali ke mobil dan segera mengantarkan Elena.


“Tidak perlu sampai di stasiun bus. Turunkan aku agak jauh saja.”


“Tidak, aku akan mengantarmu tepat di depan kantor.”


Elena menatap ke arah Rave cepat, “Jangan. Beberapa fans kamu sedang mengikutiku. Jika mereka melihatku turun dari van, dugaan mereka pasti benar kalau kita sedang berkencan. Jadi aku mohon Rave, turunkan aku di pinggir jalan saja.”


Dengan berat hati Rave pun meminta sang manager untuk menurunkan Elena di pinggir jalan dekat dengan halte bus. Sebelum berpisah, Rave sempat memberikan pelukannya pada Elena. Dan Elena juga memberikan pelukan—pelukan perpisahan, karena Elena tidak tahu kapan ia bisa bertemu kembali dengan Rave.


“Hati-hati.”

__ADS_1


...*** ...


__ADS_2