
Bisakah aku bertemu denganmu?
Aku sangat merindukanmu.
...***...
Hari minggu adalah hari yang paling ditunggu oleh kebanyakan orang, termasuk Elena. Walau Elena di hari minggu tetap menjalankan serangkaian tugas—tidak resmi, tetapi tetap saja dia sangat bahagia ketika hari minggu datang. Ia sangat menanti datangnya hari minggu bukan karna bisa beristirahat, namun ia bisa mendapatkan kembali ponselnya. Ya, hanya di hari minggu ia bisa berinteraksi dengan orang terdekatnya. Lebih tepatnya ia hanya ingin menghubungi satu orang saja, Rave Josha.
Elena layaknya seorang gadis kecil yang diberi permen ketika menerima ponsel miliknya. Farel yang memberikan ponsel tersebut ke Elena pun hanya bisa melihat Putri Ardorarias itu canggung. Elena tahu Farel pasti berpikiran aneh tentangnya, namun ia tidak peduli. Lagipula Farel pasti sudah tahu baik dan buruknya kebiasaan Elena.
Ketika ponsel dinyalakan, banyak sekali notif pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Ia mendongak ke arah Farel dan memberikan senyum terbaiknya kepada sang asisten. Dia sangat mengagumi sikap Farel yang sangat menjaga privacy Elena, karna pemuda itu benar-benar tidak pernah membuka pesan yang masuk, bahkan menyentuhnya saja tidak pernah.
"Katakan padaku, di mana kamu menyimpan ponselku tiap minggunya?"
Pertanyaan Elena barusan membuat Farel memutar bola matanya dan menggelengkan kepalanya. Ia tidak mungkin memberitahukan tentang hal itu. Bisa-bisa Elena diam-diam akan mengambil ponselnya.
"Oh ayolah, Farel. Aku hanya ingin tahu. Apakah ada hal lain yang tahu tempat kamu menyimpan ponselku?"
"Tidak, Putri Elena. Hanya aku yang mengetahuinya dan anda tidak perlu takut ada orang lain yang kemungkinan bakal menyadap ponsel anda."
Elena terlihat lega ketika mendengar jawaban dari Farel, "Ngomong-ngomong Farel, aku suka sikapmu yang santai seperti ini. Aku berharap bisa melihat sikap santaimu seperti ini setiap harinya."
Farel langsung membungkukkan badannya memohon maaf. Ia merasa lancang telah bersikap santai pada Elena. Walau sebenarnya mereka tadi malam telah membuat kesepakatan bersama. Kesepakatan antara Elena dan Farel, yang mana Elena lelah dengan sikap serius Farel, dan Elena merasa kesepian karena sejak dahulu temannya hanya ada dua orang. Dan di istana ini ia tidak punya seseorang yang bisa ia anggap teman. Satu-satunya orang yang bisa ia anggap teman hanya Farel seorang. Oleh sebab itu Elena ingin Farel bersikap santai padanya. Namun itu adalah hal yang tidak mungkin mengingat Elena merupakan calon Ratu penerus, sangat lancang sekali jika ia bersikap santai pada Elena. Elena tetap bersikeras supaya Farel bisa santai berbicara padanya, dan hal itulah yang membuat Farel akhirnya memutuskan untuk bicara santai pada Elena hanya di hari minggu. Di saat tidak ada seseorang yang bisa mendengar obrolan mereka.
"Dan apakah kamu masih akan terus berdiri di sana, Farel?" Elena menunjuk menggunakan dagunya ke arah di mana Farel tengah berdiri, "Aku butuh ruang sendiri saat ini."
"Ah," tersadar akan dirinya yang masih mengawasi Elena, Farel pun kembali memohon maaf pada Elena, "Seperti biasa, saya ada di luar ruangan anda, Putri Elena. Anda bisa segera memanggil saya jika membutuhkan sesuatu."
Anggukan dari Elena membuat Farel segera mengundurkan diri dari hadapan Elena. Setelah kepergian Farel, Elena pun membuka kembali ponselnya yang sempat tersita waktu. Elena ingin sekali membuka pesan dari Rave lebih dahulu, namun ia punya prioritas lain saat ini. Ia terpikirkan tentang ayahnya.
Ayah.
Ia segera menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel di telinganya. Namun berkali-kali ia mencoba mengulangi panggilan telpon itu, ia tetap tidak bisa mendapatkan jawaban. Ia menyerah. Ponsel ayahnya sudah pasti tidak aktif lagi, dan kemungkinan besar sudah lenyap. Walau sedih namun beberapa detik kemudian ia tersenyum. Tersenyum ketika melihat pesan Rave tiba-tiba muncul.
__ADS_1
> Aktif?
> Elena ponselmu aktif?
> Apakah aku sedang bermimpi sekarang?
> Elena jika benar kamu yang membaca pesanku, balas pesanku secepatnya. Aku sungguh merindukanmu.
Elena tergelak membaca pesan yang dikirimkan oleh Rave barusan. Ia pun mengetikkan balasan pada Rave, yang Elena yakin Rave sedang tak sabar menunggu balasan dari pesan yang ia kirim.
< Ya, ini aku, Rave. Elena.
> Demi Tuhan, Elena. Aku sungguh bahagia mendapatkan balasan pesan darimu.
> Apa kabarmu? Bisakah aku menghubungi sekarang?
> Aku ingin mendengarkan suaramu.
Tanpa menunggu lama, Elena langsung menekan tombol panggil. Dan seketika itu juga panggilan telpon Elena diangkat oleh Rave. Elena tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat ini.
"Elena, ini benar dirimu kan?"
"Hallo?"
"Elena kenapa kamu tidak menjawab panggilan telpon dariku?"
"Elena, kamu membuatku gugup saat ini."
"Setidaknya katakan satu dua kata padaku*."
Elena tidak bisa menahan gelak tawa yang sedari tadi ia tahan. Sudah lama sekali ia tidak mengusili Rave seperti saat ini. Demi apapun, Elena menjadi sangat merindukan saat-saat mereka masih bersama dan bersenda gurau tanpa terpikirkan akan terpisah seperti sekarang.
"Elena kamu sungguh.. Ah aku sempat takut tadi dan kamu bisa-bisanya mengusiliku seperti ini."
__ADS_1
"Haha Rave, maafkan aku. Sungguh aku tak bermaksud tapi aku rindu mengusilimu seperti saat ini."
Hening sejenak obrolan di antara mereka. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Membayangkan bagaimana indahnya jika mereka bisa kembali bersama dan bersenda gurau seperti dahulu.
"Apa kabarmu, Elena? Kamu baik-baik saja bukan?"
"Ya, aku baik-baik saja. Ku harap kamu juga selalu baik dan sehat, Rave."
"Tentu. Aku akan selalu sehat agar nantinya aku bisa bertemu denganmu."
Obrolan mereka kembali hening. Hanya terdengar deru napas masing-masing. Hanya mendengar deru napas satu sama lain sudah membuat mereka merasa tenang dan nyaman.
"Elena," panggil Rave lembut.
"Ya?"
"Bisakah aku bertemu denganmu? Aku sangat merindukanmu."
Terdengar dari panggilan telpon yang Rave dengarkan, Elena menarik napas panjang sebelum menjawab ucapan Rave barusan. Walaupun Rave sudah tahu akan sangat sulit bertemu dengan Elena saat ini, ia tetap berharap Elena akan menjawab dan mengusahakan mereka untuk bisa bertemu.
"Dengan berat hati aku mengatakan belum waktunya kita bertemu, Rave. Tapi aku janji. Aku berjanji padamu kita akan segera bertemu."
Terdengar Rave membuang napasnya kasar. Elena tahu jikalau Rave pasti kecewa mendengar jawaban dari Elena. Tapi Elena tidak bisa berbohong akan hal ini, ia benar-benar tidak bisa bertemu dengan Rave saat ini, walau ia sangat ingin sekalipun.
"Kamu mau berjanji padaku akan hal ini, Rave?"
"Tentu. Katakan saja kapan kamu bisa bertemu denganku, Elena. Aku akan langsung menemui saat itu juga."
"Terima kasih, Rave." Elena melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "Rave, maaf aku tidak bisa berbicara lama denganmu. Aku akan menghubungimu kembali minggu depan. Dan aku akan mengusahakan bisa menelponmj secepatnya."
Elena pun langsung mematikan panggilan telponnya ketika mendengar jawaban kecewa dari Rave. Walau sulit, tapi Elena harus tetap tegas. Elena ingin waktu satu jam dirinya memegang ponsel di hari minggu ia manfaatkan hanya untuk berbicara dengan Rave saja. Namun ia sempat mendapat pesan lain ketika sedang menelpon Rave.
> Elena, aku membutuhkan bantuanmu.
__ADS_1
...***...