
Elena sekarang adalah waktunya.
Yang ada di pikiran Elena saat ini adalah pesan yang dikirimkan oleh sang ayah kepadanya. Hanya satu kalimat saja tapi berhasil membuat Elena mendadak frustasi dan tegang di saat yang bersamaan.
Elena sempat melupakan para fans Rave yang masih saja mengikuti dirinya. Ia bingung, sangat kebingungan saat ini. Belum lagi memikirkan untuk berhenti bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan. Elena tidak tahu apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu, karena masalah yang datang bertubi-tubi seperti hari ini.
"Oh kamu datang?" tanya seorang karyawan yang merupakan rekan kerja Elena. Gadis itu langsung menyambut kedatangan Elena.
"Sakit apa yang kamu derita, Elena? Sepertinya kamu belum sembuh total. Tubuhmu sangat kurus begini, dan kamu terlihat lemas. Sebaiknya kamu kembali pulang ke rumah dan istirahat." saran rekan kerja Elena.
Elena menggelengkan kepalanya, dirinya mencoba untuk tersenyum walau sangat sulit untuk ia lakukan.
"Apa Joe ada di ruangannya?" tanya Elena lembut.
Rekan kerja Elena kaget ketika Elena menanyakan tentang keberadaan sang atasan di kantor mereka. Pikiran-pikiran gadis itu melayang tinggi.
"Apa kamu sedang menderita penyakit serius?" tanyanya sembari mencengkram lengan Elena, mencoba sedikit memaksa Elena untuk menjawab pertanyaannya.
Elena lagi-lagi tersenyum lembut, "Aku baik-baik saja dan saat ini aku sudah sembuh tentunya."
"Lalu? Kenapa harus menemui Joe? Kamu merencanakan untuk berhenti bekerja di sini?"
Elena tertawa mendengar ucapan rekannya, "Bagaimana kamu bisa tahu aku ingin berhenti bekerja, Teresa?"
Raut wajah Teresa, rekan kerja Elena langsung berubah dan terlihat sedih. Gadis itu sudah mengenal Elena selama dua tahun lamanya. Dan selama bekerja di perusahaan yang sama dengan dirinya, Elena tidak pernah sekalipun pergi menemui Joe. Oleh sebab itu Teresa langsung terpikirkan tentang Elena yang ingin berhenti bekerja.
__ADS_1
"Jadi itu benar?"
Elena mengangguk pelan, tangannya langsung meraih pundak Teresa dan menenangkan rekan kerja yang sudah sangat dekat dengan dirinya. Elena merasa berat hati untuk berhenti kerja ketika melihat raut wajah Teresa, namun ia bisa apa. Dirinya memang sudah mempersiapkan hal ini sejak lama. Ia harus segera mengambil keputusan jika sudah waktunya ia dipanggil.
"Biarkan aku pergi menemui Joe terlebih dahulu."
Elena memberikan senyuman yang menenangkan sebelum beralih dari Teresa. Elena langsung pergi menuju ke ruangan Joe, atasannya di perusahaan tempat ia bekerja. Ia harus segera menyelesaikan semuanya. Jika ia harus berhenti, ia akan berhenti. Semuanya sudah diputuskan dan semuanya sudah ditakdirkan.
Elena menghela napas berat sebelum mengetuk pintu ruangan sang atasan, "Permisi." ucap Elena setelah mendengar jawaban dari dalam ruangan.
"Elena! Ke mana saja kamu selama satu minggu ini? Sakit apa sebenarnya yang kamu derita?!"
Belum sempat Elena ingin menjawab, atasan di perusahannya langsung menodongnya dengan pertanyaan lain, "Apa kamu menipu perusahaan dan beralasan sakit?!"
Elena sempat mematung sesaat dan langsung membalas pertanyaan yang diberikan sang atasan, "Maaf, tapi apa maksud anda?"
Dengan cepat Elena menjawab, "Tidak. Tidak seperti itu."
Elena merasakan sesak di dadanya. Dirinya merasa bersalah karena sudah membohongi sang atasan dengan mengatakan 'tidak' padahal nyatanya dirinya memang tidak sakit. Mana mungkin dirinya menceritakan semua hal yang terjadi, terlebih masalah kebohongan ini bermula karena ia memiliki hubungan rahasia dengan selebriti papan atas. Dan juga atasannya mungkin saja tidak akan percaya pada perkataan Elena.
"Lalu sakit apa kamu sebenarnya?! Kamu tahu, ketika kamu tidak masuk selama seminggu, semua tugas yang kamu kerjakan dialihkan ke Teresa. Dan tentu saja semua pekerjaan Teresa tidak ada yang maksimal ia kerjakan. Itu semua karena dirimu!"
Mendengar ucapan dari atasannya, Elena merasa sangat bersalah. Jika saja dirinya masuk bekerja, Teresa tidak harus kerepotan menggantikan pekerjaannya. Jika saja fans fanatik Rave tidak menerrornya, ia pasti bisa menjalani hari seperti biasa. Jika saja ia tidak mengirimkan foto bunga di taman, tidak mungkin Rave akan ceroboh mempostingnya di Instagram. Dan jika saja dirinya tidak berkencan dengan Rave, semua masalah ini mungkin saja tidak akan pernah terjadi. Masalah ini semua berawal dari dirinya sendiri. Dirinya yang egois karena berkencan dengan Rave Josha.
"Saya sampai tidak tahu bagaimana cara memberikan hukuman kepadamu, Elena. Ingin sekali saya berikan surat peringatan padamu, namun kamu mengikuti aturan dengan baik. Kamu izin tidak masuk karena kamu melampirkan surat keterangan dari Dokter. Saya bahkan bingung sendiri ingin menghukummu." suara sang atasan perlahan melemah dan berhasil membuat Elena semakin merasa bersalah.
__ADS_1
"Maafkan saya. Anda bisa memberikan hukuman serta sanksi jika anda merasa saya memang bersalah. Jika hal tersebut menurut anda benar, saya pantas menerimanya."
Sang atasan menggelengkan kepalanya, "Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya sendiri bahkan bingung hukuman apa yang seharusnya saya berikan. Haruskah saya memotong gajimu, Elena? Ataukah saya harus memecatmu? Haha saya pikir saya sudah gila."
Elena hanya terdiam dan mendengarkan keluhan sang atasan atas dirinya. Perasaan makin bersalah ketika ia memikirkan dirinya akan berhenti bekerja dari perusahaan itu. Dirinya seolah melarikan diri dari hukuman serta pekerjaannya, walau sebenarnya ini adalah bagian dari pekerjaan dirinya yang sesungguhnya.
"Ku lihat kamu datang terlambat hari ini. Lebih baik kamu kembali bekerja agar Teresa bisa kembali mengerjakan pekerjaan miliknya sendiri."
Elena mendongak ke arah sang atasan, ia terlihat sedikit ragu namun ia harus segera mengatakan hal yang sebenarnya. Hal yang harus segera ia selesaikan.
"Ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada anda."
Sang atasan terlihat bingung, "Apa itu?"
"Maaf jika saya terkesan seperti melarikan diri dari hukuman yang anda berikan, namun ada hal yang lebih penting yang harus saya lakukan. Jujur saya merasa sangat bersalah karena sudah satu minggu tidak masuk kerja, dan.." Elena terlihat ragu, namun ia tetap melanjutkan ucapannya, "Saya ingin mengundurkan diri."
"Apa? Apa maksudmu?! Ingin mengundurkan diri? Saya tidak salah dengar?"
Elena mengangguk mantap, "Ya. Karena alasan saya datang hari ini adalah ingin mengundurkan diri."
"Ta-tapi apa alasan kamu ingin mengundurkan diri? Bukankah kamu pernah bilang bekerja di perusahaan ini adalah salah satu cita-citamu?"
Elena tersenyum lembut, "Ya, bekerja di perusahaan ini merupakan impian terbesar saya. Dan semua hal yang pernah saya lakukan di perusahaan ini membuat saya sangat senang. Maafkan saya karena ada hal yang jauh lebih penting yang harus saya kerjakan sampai harus berhenti bekerja di perusahaan ini. Saya harap anda bisa memaklumi saya."
"Tapi, Elena. Jika kamu mengundurkan diri seperti ini kamu harus membayar denda. Dan itu semua sudah tertulis di kontrak pekerjaanmu."
__ADS_1
"Ya, saya akan membayar semua denda yang tertulis di kontrak." Elena menarik napasnya sejenak, "Izinkan saya bekerja seperti biasa hari ini. Saya ingin menyelesaikan semua pekerjaan saya sebelum saya resmi berhenti bekerja."
...***...