
Jika ditanya, siapa teman terbaik Elena? Elena akan menjawab dengan cepat, "Teresa." karena Teresa adalah teman wanita pertama yang Elena punya. Walau usia mereka terpaut berbeda dua tahun, yang mana Teresa lebih tua, namun mereka sangat akrab seperti layaknya teman yang seusia.
Elena tidak punya banyak teman. Bahkan jika dipikirkan, Elena lebih banyak mempunyai musuh dibandingkan teman baik. Elena adalah tipikal orang yang pendiam dan menyimpan banyak rahasia, oleh sebab itu ia lebih suka menyendiri.
Saat pertama kali kenal dengan Teresa pun, Elena sangat sulit memulai obrolan dengan gadis itu. Elena benar-benar menghindari terlibat obrolan dengan orang sekitar. Ia takut tanpa sadar membocorkan semua rahasia yang ia telah sembunyikan dengan sangat baik sampai hari ini.
Elena bersyukur memiliki teman wanita seperti Teresa. Teresa gadis yang sangat ceria, jauh berbeda dengan sifat Elena yang pendiam dan suka menyendiri. Dan juga hal yang membuat Elena sangat senang punya teman seperti Teresa, karena gadis itu sifatnya sangat dewasa. Ia tidak segan menegur Elena jika dirinya berbuat salah.
Dan karena kebaikan Teresa, Elena merasa sedikit terbebani. Ia merasa sedih karena dirinya tidak bisa bersikap apa adanya. Elena menyimpan banyak cerita dan rahasia. Ibaratnya Elena adalah orang lain yang meminjam tubuh dirinya. Ia selalu memakai topeng demi melindungi dirinya sendiri. Dan hal itu membuatnya sedih karena sudah membohongi Teresa yang sudah sangat baik kepada Elena selama ini.
"Maafkan aku karena sudah merepotkanmu satu minggu ini, Teresa."
Elena meletakkan beberapa map tebal yang baru saja ia kerjakan di atas meja Teresa. Tidak lupa ia juga meletakkan dua batang coklat di atas tumbukan map. Coklat yang sempat ia beli di jam istirahat makan siang tadi memang sengaja ingin ia berikan pada Teresa.
"Tidak usah ajak aku bicara, Elena. Aku sangat kesal dan benci denganmu!"
Elena hanya bisa tersenyum hambar, hatinya saat ini sangat sedih. Terlebih mendengar ucapan yang keluar begitu saja dari mulut Teresa. Walau Elena tahu Teresa tidak benar-benar membencinya, tetapi tetap saja ia merasakan kesedihan tersendiri.
"Kamu boleh marah dan kesal kepadaku, Teresa. Tapi ku mohon jangan membenciku. Aku tidak sanggup menerima kenyataan jika kamu membenciku."
"Kenapa? Bukankah kamu memang ingin dibenci bukan?"
Elena terkejut mendengar ucapan yang keluar begitu saja dari mulut Teresa. Ia tidak menyangka jika Teresa semarah itu dengannya. Elena tidak bisa menyembunyikan raut wajah sedihnya lagi. Ia benar-benar merasa sangat sedih hari ini.
"Aku.. Aku tidak tahu rasanya sesakit ini ketika kamu mengatakan itu. Kamu adalah teman pertamaku, Teresa. Aku memang punya banyak musuh. Banyak orang membenciku. Tapi ternyata sangat sakit rasanya ketika kamu ikut membenciku."
Tanpa Elena sadari, air mata di pipinya mengalir begitu saja. Teresa yang mendengar perubahan di suara Elena pun menoleh ke arah gadis itu. Ia langsung berdiri dan memeluk Elena erat. Seperti yang dipikirkan oleh Elena sebelumnya, Teresa tidak pernah dan tidak mungkin membenci Elena. Namun tetap saja sikap Teresa barusan berhasil membuat Elena merasa amat sedih.
"Elena kenapa kamu malah menangis seperti ini? Ya Tuhan aku hanya bercanda. Kenapa kamu menganggapnya serius seperti ini." ucap Teresa sembari menepuk punggung Elena perlahan.
"Aku.. Aku sangat takut kehilangan teman baik sepertimu, Teresa."
"Kamu tidak akan pernah kehilangan teman sepertiku, Elena. Aku akan selalu menjadi temanmu dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu."
"Terima kasih. Terima kasih sudah mau menjadi temanku."
__ADS_1
Teresa melepaskan pelukannya pada Elena. Dirapikannya rambut Elena yang terlihat berantakan. Teresa tersenyum, tersenyum sangat manis membuat Elena ikut tersenyum melihatnya.
"Jadi.. Apa malam ini kamu punya waktu luang, Elena? Jika ya, bisakah kita jalan dan makan sesuatu yang lezat bersama? Hitung-hitung sebagai tanda permintaan maafmu padaku haha."
Elena mengangguk cepat, "Tentu. Kita bisa pergi dan makan apa saja yang kamu inginkan malam ini, Teresa."
"Yeay! Tapi sebelum itu mari kita cepat menyelesaikan pekerjaan kita. Semakin cepat selesai maka semakin cepat juga kita bisa segera pergi."
"Ya."
...***...
Dan di sinilah Elena dan Teresa berada. Duduk di salah satu taman yang sudah kosong. Wajar saja, jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Bahkan sudah tidak banyak lagi orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka.
Keduanya duduk di sebuah bangku panjang di taman sembari menggenggam kaleng minuman di tangan mereka masing-masing. Pandangan Elena terus menatap rumput di taman sejak mereka memutuskan untuk duduk di taman tersebut. Sedangkan pandangan Teresa terus menatap ke arah langit di atas mereka.
"Elena?" panggil Teresa tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam.
"Ya?"
Elena dengan cepat menoleh ke arah Teresa, "Apa maksudmu, Teresa?"
Teresa menghentikan aktivitasnya menatap langit malam. Ia tersenyum ke arah Elena yang menatapnya bingung.
"Tentang dirimu."
Elena menggelengkan kepalanya. Sekarang dirinyalah yang melakukan aktivitas seperti yang dilakukan Teresa sebelumnya. Menatap ke arah langit malam.
"Bagaimana pendapatmu dengan seseorang yang sering berbohong?"
"Tentu saja aku membencinya."
"Artinya kamu juga membenciku, Teresa?"
Elena kembali menatap ke arah Teresa. Gadis yang sedang ditatapnya pun seketika tertawa. Tawa yang tidak bisa Elena tebak. Tawa yang mengandung arti tersendiri.
__ADS_1
"Pertemanan kita sangat lucu bukan? Selama dua tahun lebih kita sudah berteman baik. Tapi kamu tahu, Elena. Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang sangat penting."
Teresa memberikan senyuman terbaiknya pada Elena. Diraihnya telapak tangan kanan Elena dan menepuknya secara lembut dan pelan.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan semuanya padaku. Aku yakin kamu punya alasan tersendiri. Tapi jika kamu ingin menceritakan serta membutuhkan seseorang untuk mendengarkanmu, aku akan ada untuk mendengarkanmu, Elena."
Air mata Elena kembali terjatuh. Dengan cepat ia menatap ke arah langit, mencoba menghentikan semakin banyaknya air mata yang akan jatuh. Dan dengan cepat menghapus jejak air mata di pipinya.
"Kamu tahu, Teresa. Ada sebuah peraturan yang harus aku ikuti. Peraturan yang berupa janji," Elena menghela napasnya, "Aku dilarang menangis. Tapi aku selalu menangis. Aku harus kuat. Tapi sebenarnya aku sangat lemah."
"Kamu manusia biasa, Elena. Menangislah jika kamu ingin menangis. Dan istirahatlah sebentar jika kamu sudah tidak sanggup menghadapinya."
Elena membuka tas miliknya dan mengeluarkan sebuah kartu bewarna hitam dengan tulisan berwarna emas. Diberikannya kartu tersebut kepada Teresa. Teresa terlihat bingung, namun tetap ia terima kartu pemberian Elena.
"Hadiah dariku," Elena tersenyum manis, "Hadiah pertemanan kita. Tapi jangan kamu anggap hadiah tersebut adalah hadiah perpisahan, melainkan hadiah tentang akan dimulainya pertemanan kita yang baru."
Teresa melihat kartu tersebut dengan seksama, "Ya, aku suka hadiah dan aku akan menerimanya. Tapi, kartu apa ini? Dan untuk apa kegunaannya?"
"Haha aku juga tidak paham, tapi kartu tersebut tidak terbatas. Kamu bisa menggunakannya untuk apapun. Belanja sepuasnya, menginap di hotel dan yang lainnya. Kamu bisa dengan bebas menggunakannya."
Teresa terlihat sangat kaget, "Kamu bercanda?!"
"Ya, kamu bisa mencobanya nanti setelah pulang dari sini."
"Kamu seperti seorang Putri dari Kerajaan Ardorarias saja, Elena."
Elena kembali tersenyum, "Kamu tentu boleh menganggapnya seperti itu. Dan oh jika nantinya kamu membutuhkanku dan aku tidak bisa kamu temui, kamu bisa menggunakan kartu tersebut untuk masuk ke royal house."
"Gila. Leluconmu terlalu tinggi haha."
Elena hanya tersenyum mendengar ucapan Teresa. Pada kenyataannya, Elena tidaklah berbohong tentang hal ini. Dan kartu yang baru saja ia berikan kepada Teresa adalah kartu yang khusus digunakan oleh keluarga Kerajaan.
"Elena, apa kamu merasa kita seperti sedang diawasi?"
Oh, lagi-lagi Elena melupakan fans fanatik Rave Josha.
__ADS_1
...***...