
Sudah hampir seminggu Elena mengurung dirinya di dalam rumah. Ia bahkan meminta izin tidak dapat pergi bekerja dengan bosnya. Beruntung media tidak mengungkap tentang hubungannya dengan Rave Josha, selebriti papan atas yang sedang berada di puncak kejayaannya. Media tidak akan pernah mengungkap hubungan selebriti jika mereka berkencan dengan warga biasa. Selain menjaga privacy sang warga sipil, media tidak banyak mendapat keuntungan dengan mengungkapnya ke publik.
Walaupun media tidak mengungkap skandal hubungan Rave dengan Elena, namun tetap saja ia terus mendapati ujaran kebencian serta terror dari para fans. Mereka terus-terusan mengirim surat, terror berupa bangkai binatang hingga terror bunuh diri. Elena tidak bisa terus-terusan berdiam diri di rumah, ia masih harus menjalani aktivitasnya seperti bekerja di kantor.
Daniel Rosamun—ayah dari Elena pun ikut mendapatkan terror. Ia terus mendapatkan pasien palsu yang ingin mendapat info lebih tentang putrinya itu. Melihat putrinya yang terus mendapat terror, Daniel semakin khawatir dibuatnya.
“Elena akan pergi kerja hari ini?” tanya Daniel—ayah Elena ketika melihat putrinya keluar dari dalam kamar.
“Ya, Ayah. Elena tidak mungkin harus terus bersembunyi di dalam rumah.”
Terdengar ucapan Elena yang mendadak ragu namun ia berusaha untuk tetap tersenyum, mengurangi rasa khawatir ayahnya pada dirinya. Ia tidak mau membuat ayahnya harus mengkhawatirkan dirinya sepanjang hari.
“Biar Ayah yang mengantar ke kantor tempat Elena bekerja.”
Elena dengan cepat menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan sang ayah, “Tidak Ayah, tidak perlu. Ayah bisa langsung berangkat ke rumah sakit. Elena bisa pergi ke kantor seorang diri. Lagipula Ayah akan terlambat ke rumah sakit jika harus mengantar Elena ke kantor lebih dahulu.”
“Elena,” panggilan sang ayah mendadak terdengar serius, “Selain menjadi Ayah yang membimbing dan membesarkanmu, Ayah harus bisa menjadi seorang penjaga yang baik untukmu.”
Elena paham ke mana arah ucapan ayahnya. Ia pun tertunduk mendengar ucapan ayahnya. Ia merasa sedih karena sudah membuat sang ayah bersedih dan menganggap Elena adalah orang lain.
“Elena?” panggilan ayahnya terdengar sangat lembut, “Jangan pernah memasang wajah sedih seperti itu. Jangan pernah menundukkan kepalamu, Elena.”
“Ya, Ayah. Elena akan mengingat itu.”
Daniel pun terlihat berjalan ke arah radio yang diletakkan di ruang makan. Setiap Elena dan ayahnya sedang makan bersama, ayahnya selalu menyalakan radio itu untuk mendengarkan berita terbaru. Menemani mereka makan bersama dan membahas berita yang terdengar dari radio bersama-sama.
__ADS_1
King of Ardorarias V jatuh pingsan saat akan menghadiri acara bersama para Menteri pagi ini.
Terdengar ucapan dari pembawa radio ketika Daniel menyalakan radio. Elena yang mendengar berita tentang Raja Ardorarias pun seketika berjalan mendekat ke arah Daniel yang terlihat mematung di depan radio.
Raja Ardorarias V jatuh pingsan ketika akan memberikan sambutan di depan para Menteri Kerajaan.
“Elena nyalakan tv sekarang, cepat.”
Mendengar perintah dari sang ayah, Elena pun berlari menuju ruang keluarga. Dinyalakannya tv dan semua stasiun tv pagi itu menayangkan berita tentang pingsannya sang raja.
Saat ini Raja Ardorarias V terlihat dibawa menuju ke rumah sakit khusus keluarga kerajaan. Dugaan pingsannya Raja karena kelelahan setelah kemarin pulang dari kunjungan ke Negara lain dan pagi ini harus datang menghadiri acara bersama para Pejabat Menteri.
Ponsel Daniel pun mendadak berdering, setelah melihat siapa yang menelpon ia pun masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Elena seorang diri yang masih termenung melihat berita di tv.
Dikabarkannya Raja menderita penyakit yang cukup parah, namun karena tidak memiliki keturunan yang dapat menjadi penerus untuk memimpin Ardorarias, Raja memaksakan dirinya bekerja lebih keras seorang diri.
“Maaf Ayah tidak bisa mengantarmu ke kantor, Elena. Pihak rumah sakit Kerajaan mendadak meminta Ayah untuk datang ke sana.”
Elena mengangguk paham, dilihatnya sang ayah yang sedang menatapnya sendu, “Ayah..”
Sang ayah melangkahkan kakinya mendekat ke arah Elena, tangannya meraih puncak kepala Elena dan membelainya pelan, “Jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan, Elena. Ayahmu baik-baik saja. Raja baik-baik saja.”
Dan setelahnya Daniel keluar dari rumah mereka, meninggalkan Elena sendirian yang masih dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang menghampiri dirinya.
Jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan, Elena.
__ADS_1
Berulang kali kalimat ayahnya itu berputar-putar di otak Elena. Elena pun kemudian bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dirapikan dirinya dan bersiap untuk pergi ke kantor.
“Saat ini statusku masih anak seorang Dokter ternama. Aku tidak boleh memikirkan apapun yang belum waktunya aku pikirkan.”
Setelah dirasa cukup rapi untuk pergi ke kantor, Elena pun segera meninggalkan rumahnya dan berjalan menuju ke halte bus terdekat. Di sepanjang perjalanannya menuju ke halte bus, Elena merasa seolah sedang diperhatikan oleh beberapa orang. Karena berita tentang Raja yang tiba-tiba jatuh pingsan, Elena sampai melupakan skandal hubungannya dengan Rave yang sudah diketahui oleh sebagian fans Rave. Teringat dengan terror yang akhir-akhir ini menghampiri dirinya dan ayahnya, Elena pun mendadak panik dan mempercepat langkah kakinya menuju halte bus terdekat.
Tiba-tiba sebuah mobil van berwarna hitam dengan cepat menghalangi jalannya. Elena yang kaget dan semakin panik pun berniat untuk berlari, Namun Elena kalah cepat. Seseorang di bangku penumpang menarik tangan Elena masuk ke dalam mobil tersebut.
“To—
Elena berusaha memberontak dan memukul seseorang yang menariknya masuk ke dalam mobil van tersebut. Elena dengan cepat melihat ada dua orang yang berada di dalam mobil tersebut. Dirasakannya seseorang yang menarik dirinya sedikit lengah, Elena kembali memukul orang tersebut mengunakan tas yang dibawanya.
“—Elena!”
Elena yang sangat mengenal suara itu langsung menoleh dan berhenti memberontak. Dilihatnya seseorang yang berhasil menarik tangan Elena masuk ke dalam mobil perlahan membuka topi dan maskernya.
“Rave!”
“Ya, ini aku, Elena.”
Senyum manis yang diberikan pemuda di sampingnya berhasil membuat jantung Elena berdetak kencang. Rasa panik dan takut Elena mendadak berubah menjadi rasa lega. Namun Elena tidak bisa memungkiri dirinya yang sangat takut. Ia pun mendadak menangis membuat Rave yang berada di sampingnya mendadak merasa sangat bersalah telah menakuti Elena.
“Elena, maafkan aku. Maaf karena aku sudah membuatmu takut.”
Tangis Elena semakin pecah ketika Rave memeluk dirinya. Rasa takut yang ia pendam seorang diri selama satu minggu ini pun perlahan mulai hilang. Ia seolah sudah menemukan kembali penakluk rasa takut dirinya yang sudah hilang.
__ADS_1
“Maafkan aku. Ku mohon maafkan aku, Elena.”
...*** ...