Elena; Ratu Dari Ardorarias

Elena; Ratu Dari Ardorarias
Part 26; Beban Pikiran Elena


__ADS_3

"Bagaimana pekerjaanmu di kantor Pusat Pertanian dan Perkebunan? Kamu tidak membuat kesalahan bukan?"


Setelah satu minggu bekerja di bawah pemerintahan Ardorarias, tepatnya di bawah bimbingan Menteri Pertanian dan Perkebunan, Raja mengajak Elena untuk makan malam bersama. Semua aktivitas di pemerintahan Ardorarias berakhir di hari Jumat. Dan saat malamnya, Raja menyempatkan waktu untuk mengevaluasi pekerjaan Elena, walau dirinya sedang lelah setelah menghadiri berbagai acara.


"Aku tidak tahu apa yang kamu kerjakan di sana, tapi ingat satu hal. Jangan mempersulit diriku, Elena. Aku ingin kamu bisa secepatnya mempelajari semua hal yang berkaitan tentang pemerintahan, dan setelahnya kamu bisa langsung mengambil alih takhta selanjutnya."


"Ya, Elena mengerti."


"Di pemerintahan maupun di istana banyak yang tidak menyukaimu. Mereka berusaha menyingkirkanmu. Kamu juga harus tahu akan hal itu. Dan mengenai Pangeran dari Greekaloca—"


Ratu meraih tangan Raja, membuat Raja menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah istrinya, "Ada apa?"


"Tidakkah hal ini terlalu cepat untuk dibahas?" tanya sang Ratu yang membuat Raja langsung menatap ke arah Elena.


"Tentu saja. Ini adalah hal yang terpenting dan harus lebih dahulu kita bahas. Elena dengar," panggilan Raja membuat Elena berusaha menatap ke arah Raja yang tengah berbicara padanya, "Aku dulu mempunyai janji untuk menikahkan salah satu anakku dengan keturunan Raja Greekaloca VI. Dan seperti yang kamu ketahui, hanya kamu satu-satunya keturunan yang aku punya."


Raja terlihat menghela napas panjang, diraihnya gelas berisi air minum dengan bantuan Ratu yang selalu sigap membantunya, "Dan melepasmu adalah penyesalan terbesar untuk hidupku nantinya,"


Raja kembali menggantungkan ucapannya, membuat Elena berusaha menebak apa maksud di balik ucapan Raja. Kata-kata yang keluar dari mulut Raja seolah saling bertentangan satu sama lain. Di satu sisi ia membahas masalah janji, namun setelahnya Raja mengatakan penyesalan jika melepas Raja. Elena tetap mencoba tenang walau di kepalanya terlalu banyak pertanyaan yang ingin ia coba pecahkan.


"Aku tidak akan menjodohkanmu dengan Putra Raja Greekaloca VI, Pangeran Steven. Aku tidak akan membiarkanmu diambil alih oleh Kerajaan Greekaloca." Raja meraih tangan Elena dan seraya memohon sesuatu pada Elena, "Kamu adalah masa depan Ardorarias, Elena. Apapun yang akan terjadi, aku akan mengusahakanmu mengambil takhta kerajaan selanjutnya. Aku—ayah kandungmu, akan memastikan kamu menjadi Ratu Ardorarias selanjutnya."


Jantung Elena berdetak sangat cepat. Elena merasa kepalanya memanas dan hatinya terasa sakit. Tubuhnya pun seketika bergetar ketika mendengar ucapan Raja barusan. Seharusnya Elena merasa bahagia mendengar ucapan Raja barusan, tapi ia menahan amarah saat ini.

__ADS_1


Apa maksud dari ucapan Raja. Ia membuat janji untuk menjodohkan putrinya, tetapi ia sendiri yang akan mengingkari hal itu. Bukan karena Elena menaruh hati ataupun tertarik untuk dijodohkan dengan Pangeran Steven, bukan. Hatinya masih sama, hanya untuk Rave Josha seorang. Tetapi pernyataan ini sungguh membuatnya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat Raja ingin mengingkari janjinya sendiri.


Dan ucapan Raja ketika menekankan kata 'ayah kandungmu' membuat hati Elena mendadak sakit. Kenapa hatinya harus sakit ketika Raja mengatakan hal itu. Elena benar putri kandung dari Raja dan Ratu, namun ucapan Raja terdengar sangat tidak tulus ketika mengatakannya. Itulah hal yang menyebabkan hati Elena mendadak sakit ketika mendengarnya.


"Bagaimana dengan janji itu, Yang Mulia?" Elena berusaha menanyakan hal yang mengganjal hatinya. Ia sangat berharap Raja akan menjawabnya, tapi ia tahu kalau mempertanyakan hal itu adalah sesuatu yang lancang. Walau sangat berharap, Elena berusaha untuk tidak terlalu banyak berharap.


"Itu urusanku. Urusanmu saat ini hanyalah secepat mungkin memahami sistem pemerintahan Negara kita. Berusahalah tidak membuat kesalahan, agar jalanmu untuk menjadi Ratu nantinya berjalan mulus."


"Dan oh," baru saja Raja ingin menyuapkan makanan penutup ke dalam mulutnya, ia segera mengurungkannya, "Terkait kekasihmu itu,"


Elena langsung mendongak melihat ke arah Raja dengan tatapan sangat serius. Belum sempat ia menetralkan isi kepala dan hatinya, Raja menambahkan pikiran baru padanya.


"Sesungguhnya aku tidak peduli dengan siapa kamu akan berkencan. Oleh sebab itu aku akan menyerahkan hal ini kepada ibumu. Mungkin kamu akan merasa sedikit nyaman juga jika membicarakan hal ini dengan ibumu," Raja menoleh ke arah Ratu dan langsung mendapatkan senyuman dari Ratu, "Tapi.. aku tidak bisa mengijinkanmu berkencan dengan selebriti itu. Kamu bisa berkencan bebas tapi tidak dengan seorang selebriti. Jadi aku harap kamu secepatnya memutuskan hal tersebut."


"Ingat semua apa yang aku katakan malam ini, Elena. Kamu bisa merenungkan apa yang ku katakan."


Raja pun bangkit dari duduknya dan langsung meninggalkan ruang makan. Ratu yang melihat Raja bangkit pun segera mengikuti langkahnya dari belakang, meninggalkan Elena seorang diri masih duduk dan merenung di ruang makan.


"Putri Elena.."


Tersadar dengan lamunannya, Elena langsung mendongak dan mendapati Farel sudah berada di belakangnya. Elena menarik napas dalam kemudian bangkit dari duduknya.


"Kamu lelah, Farel?"

__ADS_1


"Anda membutuhkan sesuatu, Putri Elena?"


Elena tersenyum ke arah Farel. Tentu saja asisten pribadinya itu tidak akan pernah menjawab tentang keadaan dirinya. Ia hanya akan menjawab dan bertanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan Elena ataupun kerajaan.


"Aku membutuhkan tempat untuk menenangkan diri selain ruangan pribadiku. Apa ada tempat yang cukup tenang di istana?"


"Anda bisa mengikuti saya, Putri Elena. Akan saya tunjukkan tempat yang cukup tenang untuk anda menenangkan diri."


Farel pun mengajak Elena untuk mendatangi suatu tempat yang sering ia datangi. Tak lupa ia membawa lima orang penjaga. Walau tempat yang dimaksudkan Farel berada di dalam istana, ia tetap ingin menjaga keamanan Putri Elena. Tidak akan pernah tahu siapa saja yang mencoba untuk menyakiti Putri Elena, dan ia lebih baik berjaga dan selalu siaga.


"Oh, hormat kami Putri Elena."


Elena terkejut ketika masuk ke dalam taman yang ditunjukkan oleh Farel. Taman itu cukup ramai dengan para pelayan di istana. Elena menoleh ke arah Farel, menatapnya seolah mempertanyakan kenapa Farel membawanya ke tempat tinggal para pelayan istana. Dan Farel hanya tersenyum membalas tatapan dari Elena.


"Mereka tidak akan mengganggu anda, Putri Elena. Mereka malah bahagia ketika melihat anda datang mengunjungi mereka. Walau sesungguhnya bukan mengunjungi mereka tujuan anda datang ke sini."


Elena duduk di salah satu bangku taman itu, "Farel, kamu duduklah di sampingku." perintah Elena.


"Tapi, Putri Elena,"


"Banyak yang ingin aku tanyakan padamu. Dan ku harap kamu mau menjawab pertanyaan yang aku tanyakan padamu,"


...***...

__ADS_1


__ADS_2