
Setelah dibuat pusing seharian ini, Elena bisa kembali pulang dengan tenang ke rumahnya. Suasana di perumahannya tampak tenang kembali, seperti hari-hari sebelum kejadian para fans fanatik yang membuat heboh lingkungan di sekitar rumah Elena. Satu per satu masalah yang datang bertubi-tubi kepadanya pun perlahan dapat teratasi.
“Elena.”
Elena yang baru keluar dari kamarnya pun langsung menghampiri sang ayah yang tengah duduk di ruang makan. Wajahnya yang keriput karena sudah cukup tua masih mampu memberikan senyum terbaiknya untuk Elena.
“Ayah ingin membicarakan sesuatu padamu,” sang ayah—Daniel Rosamun mempersilahkan Elena duduk di bangku kosong di hadapannya, “Sesuatu yang penting tentang Ardorarias.”
Elena yang mendengar kata Ardorarias pun segera duduk di kursi yang sudah ayahnya persiapkan. Ia kemudian menatap ayahnya dengan wajah serius. Rasa gugup selalu menghampiri Elena setiap ia mendengar kata Ardorarias, dan belakangan ini setelah ia mendengar kabar Raja sedang sakit, ia semakin takut menghadapi masa depannya, masa depan yang sudah menunggunya untuk pulang.
“Kamu sudah tahu bukan jikalau saat ini Raja sedang menderita penyakit cukup serius? Dan ia meminta Ayah untuk segera mengirimmu kembali ke istana dalam waktu dekat.” ucap Daniel dengan wajahnya yang terlihat sangat serius.
“Penyakit yang cukup serius.” gumam Elena pelan.
“Ya. Dan maafkan Ayah, Elena. Ayah tetap dilarang memberitahumu tentang penyakit Raja. Raja hanya ingin kamu tetap fokus pada Kerajaan bukan pada penyakitnya,” Daniel menunduk tidak sanggup menatap wajah putri yang sudah ia besarkan selama 26 tahun ini, “Dan Raja memintamu kembali ke Kerajaan dalam waktu dekat. Besok adalah waktu yang tepat.”
“Besok?! Itu terlalu cepat, Ayah. Aku… aku… jujur saja sebenarnya Elena belum siap.”
Hening menghampiri keduanya. Mata Elena terpejam dan pikirannya melayang jauh memikirkan dirinya—memikirkan hidup dan Negara yang akan ia pimpin. Walaupun sejak kecil Elena sudah tahu tentang hidup dan masa depannya kelak, ia tetap tidak siap menghadapi semuanya. Ia terlalu ragu dengan apa yang sudah ia persiapkan. Dan juga ia sudah terlalu nyaman hidup sebagai Elena, putri dari Dokter terkenal Daniel Rosamun, bukan sebagai Elena yang merupakan putri dari Raja Ardorarias yang telah disembunyikan selama ini.
“Memang terlalu cepat, tapi bukankah Ayah sudah mengingatkanmu bahwa dua hari ini kamu harus menyelesaikan segala urusanmu?”
__ADS_1
Elena menatap sang ayah dengan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca, “Tapi Ayah..”
“Seharusnya kita menghabiskan waktu bersama selama dua hari ini. Tapi… maafkan Ayah, Elena..”
Air mata Elena jatuh begitu saja ketika ia mendengar ucapan Daniel. Mendengar ayahnya meminta maaf dikarenakan tidak bisa memanfaatkan waktu untuk menghabiskannya secara bersama-sama, semakin membuat Elena bersedih. Ia sadar bahwa selama ini dirinya dan sang ayah jarang menghabiskan waktu bersama. Selain karena dirinya dan sang ayah yang sama-sama sibuk, Elena tahu ayahnya sedikit menjaga jarak dengannya.
“Dan Elena, kamu adalah calon penerus Raja Ardorarias. Perjalananmu akan segera dimulai. Ayah tidak bisa berjanji bisa selalu menjagamu dalam dekat, terutama ketika kamu kembali ke Kerajaan nanti. Kamu harus tegas, tangguh dan tentunya selalu bersikap rendah hati,” Daniel menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, “Dan di istana penuh dengan orang jahat. Kamu harus teguh pada pendirianmu sendiri. Jangan mudah percaya pada orang lain, bahkan padaku atau Raja sekalipun. Kamu hanya harus percaya pada dirimu sendiri sampai kapanpun.”
Elena mengangguk paham, “Elena paham. Terima kasih atas semuanya, Ayah. Sampai kapanpun Elena tidak akan pernah sanggup membalas semua kebaikanmu. Elena harap Ayah selalu mendukung sampai akhir.”
“Pasti. Ayah pasti akan selalu mendukung kebijakanmu. Lakukan yang terbaik untuk Negara ini, Elena. Ayah tahu kamu bisa melakukannya dan kelak kamu akan menjadi pemimpin yang bijaksana. Doa Ayah selalu menyertaimu.”
Daniel pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Elena. Dipeluknya Elena dengan pelukan sangat hangat seolah pelukannya sekarang adalah pelukan terakhir yang bisa ia berikan untuk Elena. Begitu juga Elena, ia balas pelukan sang ayah dengan sangat erat. Ia akan selalu berterima kasih pada Daniel yang sudah mengurus dan membimbingnya sampai ia mampu berdiri sendiri.
“Ya, Ayah.”
Elena bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke kamar. Dilihatnya sang ayah yang masih duduk termenung di depan meja makan, membuat Elena kembali memutar tubuhnya. Dipeluknya sang ayah yang masih duduk di bangku seperti semula.
“Sekali lagi terima kasih atas semuanya, Ayah. Jika di kehidupan selanjutnya Elena bisa terlahir kembali, Elena ingin menjadi putri Ayah. Putri kandung Daniel Rosamun.”
“Ya.”
__ADS_1
Elena langsung meninggalkan ayahnya tanpa menoleh ke arah sang ayah. Elena tidak tahu dan tidak menyadari jika ayahnya yang tengah menundukkan kepalanya sedang menahan tangis. Bukan hanya Elena yang merasakan sedih serta kehilangan, ayahnya jauh lebih merasa terpukul. Kehadiran Elena di hidup Daniel sudah membawa kebahagiaan tersendiri. Jika Daniel boleh egois, ia juga menginginkan dan mengharap agar Elena terus dan akan sampai kapanpun menjadi putrinya, putri kandungnya dan bukan putri yang hanya dititipkan padanya.
“Maaf, Elena. Maafkan Ayah.
“Dunia ini terlalu egois untukmu. Tidak ada yang tulus menyayangimu di dunia ini. Semuanya hanya memanfaatkan dirimu.
“Maafkan Ayah. Ayah berjanji akan selalu menjagamu dari jauh. Ayah akan selalu melindungimu, walau Ayah harus berhadapan langsung dengan Raja. Ayah akan tetap dan selalu ada untukmu.”
Dan tanpa Daniel ketahui, Elena yang berada di dalam kamar mendengar semua ucapan Daniel. Ucapan yang hanya ia tujukan untuk dirinya sendiri di dengar oleh Elena. Elena yang awalnya ingin kembali mengambil ponselnya di atas meja ia urungkan. Dirinya kembali masuk dan duduk tepat di belakang pintu.
“Terima kasih, Ayah. Terima kasih.”
Elena menangis dalam diam dan kegelapan malam. Air matanya terus mengalir tanpa henti, “Semuanya hanya memanfaatkanku? Apa maksudnya itu, Ayah? Apakah kamu tahu sesuatu yang tidak ku ketahui? Tentang diriku?”
Elena menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya yang ia lipat di depan dada. Terus menangis dan memikirkan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan.
“Kamu tulus padaku, Ayah. Aku tahu kalau sebenarnya kamu tulus menyayangiku selama ini. Sekali lagi terima kasih. Terima kasih karena kamu sudah memberikan kebahagiaan dan sedikit kebebasan untukku selama ini. Jika bukan karenamu, aku tidak akan pernah tahu bahwa dunia ini cukup indah.
“Aku akan selalu mengingat pesan serta semua pelajaran hidup yang kamu berikan padaku. Aku bersumpah padamu bahwa aku akan menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana seperti yang selama ini kamu ajarkan padaku.”
“Sekali lagi, terima kasih.”
__ADS_1
...***...