
“Hei, kalian tahu berita terbaru? Katanya Rave suka dengan seorang gadis yang satu kelas dengannya!”
“Rave? Rave mana?”
“Rave Josha! Memangnya ada berapa banyak orang bernama Rave di sekolah kita? Tentu saja hanya ada satu orang Rave dan yaa Rave yang ku maksud adalah sang idola kita!”
“Hah benarkah? Siapa gadis beruntung yang disukai oleh seorang Rave Josha?”
“Kalian tahu ini adalah gosip terhangat di seluruh penjuru sekolah! Rave menyukai Dilla.”
“Dilla?”
"Ada apa ini? Apa yang sedang kalian bicarakan?" terdengar seseorang yang baru datang ikut dalam obrolan.
"Hei Jenni, kamu sekelas dengan Rave bukan? Ku dengar dia menyukai teman sekelas kalian?"
"Teman sekelasku? Siapa? Aku tidak tahu."
"Dilla!"
"Dilla?"
“Dilla sih gadis pendiam dan penyendiri itu?” tanya gadis yang lainnya.
"Maksud kalian Elena?"
"Mungkin? Kami mengenalnya dengan panggilan Dilla. Mungkin nama panjangnya?"
"Elena Dilla Leithova. Yaa," jawab gadis bernama Jenni, siswi yang satu kelas dengan Elena, "Tunggu sebentar. Kalian bilang Rave menyukai Elena? Tidak mungkin!"
"Begitulah yang kami dengar!"
“Itu tidak mungkin terjadi! Bagaimana Rave bisa suka dengan gadis seperti itu? Sepertinya si penyebar gosip salah paham, jikalau Elena yang suka dengan Rave jauh lebih masuk akal, secara masih banyak gadis lain yang jauh lebih cantik dan popular dibandingkan dengan Elena.”
“Kamu benar, Jen. Aku saja sangat terkejut mendengar berita ini. Atau jangan-jangan Dilla yang menggoda Rave terlebih dahulu dan menyebarkan gosip seolah-olah Rave lah yang menyukainya?”
“Wah kalau itu benar, tidak akan ku biarkan Elena hidup nyaman di sekolah ini!”
“Kamu benar, aku juga akan ikut turun tangan!”
Suasana di dalam toilet perempuan pagi itu menjadi tempat tersebarnya gosip dengan cepat. Toilet yang biasanya sangat tenang pagi ini menjadi ricuh karena gosip yang dibicarakan oleh sekelompok gadis.
__ADS_1
Elena—atau anak dari kelas lain sering memanggilnya dengan nama Dilla itu pun hanya bisa diam dan terjebak di dalam salah satu bilik toilet. Awalnya ia hanya ingin buang air kecil, namun seketika rombongan para gadis penyebar gosip datang dan membuat dirinya terjebak di dalam bilik toilet sekolah.
“Hei kamu yang di dalam toilet cepat keluar. Aku juga harus mengunakan toilet!”
Teriakan salah seorang gadis si penyebar gosip itu pun terdengar. Elena pun mendadak panik. Haruskah ia keluar dari bilik tersebut atau pura-pura belum selesai mengunakan toilet. Namun jika ia tidak keluar, sampai kapan ia harus menunggu di dalam bilik toilet. Para gadis penggosip itu pasti tidak akan sebentar berada di dalam toilet.
“Hei cepatlah keluar!”
Ketukan keras di pintu toilet itu pun membuat Elena cepat mengambil keputusan. Ia sudah memutuskan untuk segera keluar dari dalam toilet. Ia hanya harus melewati rombongan para gadis dan akan terlepas dari mereka semuanya.
Elena pun memutar knop pintu toilet. Semua mata rombongan gadis-gadis di sana semuanya tertuju pada Elena yang baru saja membuka pintu. Elena pun membungkukkan badannya, meminta maaf karena lama mengunakan toilet.
“Maaf.”
Elena pun melangkahkan kakinya perlahan, berusaha melewati para gadis yang berada di toilet tersebut.
“Tunggu,” seseorang yang Elena kenal sebagai teman sekelasnya, Jenni menghentikan langkahnya, “Apa benar yang dikatakan oleh mereka jika kamu orang yang disukai oleh Rave, Elena? Tidak salah?” pertanyaan dari Jenni terdengar sangat mengintimidasi.
"Tidak, aku dan Rave hanya teman biasa."
“Hei Jenni, ku dengar dia juga satu sekolah dengan Rave di tingkat menengah pertama,” bisik seorang gadis pada Jenni yang tengah mencegat lengan Elena.
“Aku tidak pernah menggoda Rave,” Jawab Elena pelan dan berusaha untuk tetap tenang.
“Jadi maksudmu Rave menyukaimu tanpa alasan? Hahahaha sangat tidak mungkin.”
“Kalian semua salah, aku dan Rave hanya teman biasa. Dan Rave juga tidak menaruh perasaannya padaku.”
Gadis-gadis di dalam toilet itu pun seketika semuanya tertawa, “Tentu saja Rave tidak mungkin menyukai dirimu. Kalau kamu yang menyukai Rave baru kami semua percaya. Lagipula gadis pendiam dan penyendiri sepertimu mana mungkin bisa disukai oleh Rave.”
“Ya, kalian memang benar. Kalau begitu izinkan aku untuk kembali ke kelas,” ucap Elena berusaha untuk segera meninggalkan toilet.
“Kembali ke kelas? Oh ayolah Elena, mereka bahkan belum saling kenal denganmu. Kenapa kamu terlihat buru-buru sekali? Bagaimana kalau kalian berkenalan dahulu?”
Elena yang baru saja ingin keluar dari toilet, kembali tertahan. Jenni yang berada di hadapan serta menghalangi jalannya pun dengan cepat mendorong badan Elena ke arah gadis yang lain.
"Oh maaf Elena tanganku licin dan tak sengaja menyenggolmu." ucap Jenni dengan raut seolah merasa bersalah.
Gadis-gadis yang terkena dorongan badan Elena pun langsung mendorong badan Elena, sehingga punggung Elena menabrak dinding toilet.
"Kamu jangan sok kenal dengan kami yaa, Dilla." jawab gadis-gadis yang dengan sengaja mendorong badan Elena ke dinding toilet.
__ADS_1
Jenni melangkah maju dan berdiri tepat di depan Elena, "Dengar yaa Elena. Aku tidak tahu apa yang kamu perbuat sehingga Rave bisa menyukaimu, namun ingat satu hal. Aku adalah orang pertama yang akan menentang hubunganmu dengan Rave. Gosip barusan membuatku sangat kesal. Persiapkan dirimu setelah ini!"
Elena hanya diam mendengar ucapan Jenni yang kemudian berlalu diikuti gadis-gadis dari kelas lain. Elena kemudian berjongkok dan memegang pundak kirinya yang terkena hantaman tembok. Pundaknya terasa sangat nyeri sampai ia merasa tidak kuat untuk bangkit lagi.
"Elena? Elena? Elena kamu mendengar ucapan Ayah?"
"Elena, Ayah tidak tahu apa yang terjadi di sana tapi kamu harus bertindak cepat. Jangan hanya melamun dan segera bangkit!"
Elena tersadar dari lamunannya. Diturunkannya tangan kanan yang tengah memegang ponsel di telinga kanannya. Telinganya terasa sangat panas saat ini.
"Oh yaampun!"
Tersadar bahwa dirinya tengah menelpon, Elena kembali menempelkan ponsel ke telinganya, "Ayah maaf, nanti Elena segera mengabari Ayah kembali."
"Yaa, bergerak cepat, Elena."
Setelah mendengar sambungan telpon dari sang ayah dimatikan, Elena pun langsung berlari dan mengetuk kembali pintu ruangan Dokter yang sebelumnya ia datangi. Dokter yang berada di dalam pun mempersilahkannya masuk.
"Bisa berikan kepada saya bukti pembayarannya?"
Elena menggelengkan kepalanya, "Bisa tolong urus dahulu surat rujukan untuk Bapak Edward ke rumah sakit umum di kota?"
Dokter di hadapannya menyunggingkan bibirnya, "Sudah saya katakan kamu harus membayar terlebih dahulu baru mendapatkan surat rujukan."
"Tapi saya tidak dapat membayar karena harus mengembalikan dua kantong darah dahulu."
"Anda sudah tahu itu kenapa masih diam saja? Ikuti peraturannya baru saya bisa proses!" terdengar suara Dokter di hadapannya meninggikan suaranya.
Suara Elena terdengar sangat pelan, "Peraturan?"
"Ya, peraturan. Kan sudah saya katakan anda harus mengembalikan seberapa banyak darah yang dikenakan dahulu baru bisa membayar. Dan setelah itu baru anda bisa mendapatkan surat rujukan dari saya."
"Selama ini saya tidak pernah mendengar ada peraturan seperti itu. Lagipula bagaimana bisa pihak rumah sakit mempersulit urusan untuk pasien seperti ini?"
"Itu peraturan yang dibuat langsung dari Kerajaan. Silahkan protes kepada Raja langsung jika anda merasa keberatan dengan kebijakannya!"
Elena semakin dibuat kesal oleh Dokter di hadapannya, ditambah harus bertemu dengan rekan sekelasnya dahulu membuatnya semakin emosi. Elena menghela dan menarik napas pelan, kemudian dikeluarkannya sebuah kartu hitam dari dalam tasnya.
"Dokter, saya butuh rujukan pasien bernama Edward sekarang juga. Berikan rujukan ke rumah sakit umum kota dibawa kendali Dokter Daniel Rosamun. Setelah itu saya akan menyelesaikan semua urusan di rumah sakit ini."
......***......
__ADS_1