
Elena dan sang ayah langsung bergegas turun dari dalam mobil. Beberapa warga tengah berkumpul di depan kediaman rumah mereka. Elena dan Daniel langsung menghampiri kerumunan warga di sana.
"Ada apa? Apa yang sedang kalian lakukan?"
Seorang warga langsung datang mendekat ke arah Elena dan ayahnya. Raut wajah warga di sana terlihat kesal dan menahan amarah mereka.
"Elena lebih baik kamu usir dan suruh pulang teman-temanmu itu!"
"Ya, itu benar!"
"Mereka menyusahkan dan membuat kami resah!" tambah warga yang lain.
Elena terlihat sangat kebingungan mendengar ucapan warga tersebut. Ia tidak paham akan maksud dari ucapan-ucapan warga yang mendatanginya. Daniel pun mencoba menenangkan dengan cara mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah, berbincang dengan kepala dingin.
"Sebaiknya kita mengobrol di dalam. Lagi pula tidak baik berbincang di luar. Tetangga dan warga yang lain bisa terganggu dengan obrolan kita."
Elena dengan cepat membuka pintu rumahnya. Daniel pun segera mengajak para warga yang mendatangi mereka untuk masuk dan mengobrol di dalam. Warga sekitar pun setuju dan akhirnya masuk dan mengobrol di dalam kediaman milik Daniel Rosamun.
Elena menyajikan minuman hangat yang dengan cepat ia buat di dapur, menyajikannya kepada para warga yang datang. Ia pun kemudian berdiri tepat di belakang tempat ayahnya duduk.
"Jadi, bisa kita membicarakannya secara perlahan dan dengan kepala dingin?" ucap Daniel ketika warga sekitar duduk di sofa ruang tamunya.
"Ya." jawab salah satu warga di sana.
__ADS_1
"Jadi, ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
Salah seorang warga di sana mengangkat tangannya, Daniel memberinya izin untuk bicara, "Sebelumnya maaf karena kami datang ke rumah anda selarut ini," Daniel mengangguk dan menjawab lembut, "Ya, tidak masalah."
Warga tadi pun melanjutkan ucapannya, "Selama seminggu ini—lebih dari seminggu mungkin, kami semua yang berada di sini dan juga warga lainnya merasa tidak nyaman. Kami semua merasa tidak nyaman karena banyaknya orang asing yang datang ke lingkungan tempat tinggal kita. Entah apa yang mereka lakukan, tapi orang-orang asing—kebanyakan dari mereka adalah anak muda, membuat lingkungan kita menjadi buruk. Mereka semua sangat meresahkan warga di lingkungan sekitar."
"Ya, belum lagi lingkungan kita mendadak banyak kedatangan orang asing yang mengunakan kendaraan secara ugal-ugalan. Mereka sangat meresahkan. Anak saya yang masih balita hampir tertabrak kendaraan milik mereka!" ucap warga lain menambahkan.
"Dan juga aku merasakan keresahan juga," warga lain mengambil alih obrolan, semua mata terfokus padanya, "Beberapa kali dalam minggu ini, pintu depan rumahku dilemparkan telur busuk dan juga kedatangan paket berisi bangkai!" warga tersebut berhenti sejenak dan menarik napas dalam, "Kalian tahu bangkai hewan yang aku terima atas nama siapa? Dikirimkan untuk Elena Rosamun!"
Elena dan Daniel sangat terkejut ketika mendengar ucapan dari warga di sana. Elena mendadak merasa sedih dan tahu ulah siapa sebenarnya ini semua. Ia merasa karena dirinyalah para warga di sana merasakan hal meresahkan seperti ini.
"Jadi sebenarnya apa yang kamu perbuat, Elena?! Kenapa ada orang yang tega memberikan bangkai-bangkai tersebut dan meresahkan lingkungan kita?!"
"...maafkan aku."
Suara Elena keluar begitu saja. Matanya sudah berbinar karena menahan air mata yang hampir jatuh. Daniel yang duduk di depan Elena menoleh ke arah anaknya, diraihnya telapak tangan Elena dan menggenggamnya. Daniel pun menggelengkan kepalanya pelan ke arah Elena, mengisyaratkan agar putrinya tersebut bisa menahan tangisnya dan bersikap lebih tegar.
Seorang warga merasa bersalah mendengar permintaan maaf dari Elena, "Sebenarnya kami tidak menyalahkanmu, Elena. Kami semua tahu kamu adalah anak yang baik dan ramah. Walau mereka mengatakan bahwa mereka adalah teman-temanmu, kami semua tidak percaya. Tapi kami tidak bisa bertahan hidup di lingkungan kita yang seperti ini. Mereka semua meresahkan lingkungan kita. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"
"Apa kamu berbuat kesalahan sampai mereka datang menerrormu, Elena?" tanya warga yang lain.
"Aku tidak peduli apa masalahmu dengan mereka semua, aku hanya ingin mereka pergi dari lingkungan kita. Anakku jadi tidak bisa bermain dengan nyaman, bahkan di perkarangan rumahku sendiri."
__ADS_1
Para warga di sana tiba-tiba tersulut emosi kembali. Elena semakin merasa tertekan karena ucapan para warga. Daniel yang merasakan tangan putrinya bergetar pun menggenggam erat tangan Elena. Ia tersenyum sebelum mengambil alih perbincangan malam itu.
"Maaf jika kalian semua merasa tidak nyaman tinggal di lingkungan kita sendiri akhir-akhir ini. Sebenarnya kami sendiri tidak tahu pasti apa yang mereka lakukan serta inginkan. Saya ingin meminta maaf atas ketidaknyamanan kalian, dan berharap kalian bersabar sedikit. Sebelum pulang tadi, saya sempat datang ke kantor polisi terdekat dan melaporkan hal ini. Beberapa polisi akan mulai berjaga dan mengusir mereka semua esok pagi. Jadi saya harap kalian semua bersabar. Dan saya serta Elena benar-benar meminta maaf karena telah merugikan kalian semua."
"Apa tidak masalah mengusir mereka semua?" tanya salah satu warga.
Warga yang lain memukul lengan warga tersebut, "Apa maksudmu? Mereka meresahkan. Dan juga mereka tidak ada keperluan di lingkungan kita. Sudah sewajarnya mereka kita usir."
"Mereka memang meresahkan dan membuatku tidak nyaman. Tapi mereka mengatakan bahwa mereka semua adalah teman Elena. Bagaimana bisa kita mengusir mereka?"
Baru saja Daniel ingin menjawab perdebatan mereka, salah satu warga lain langsung menyambar, "Jika Elena dan Dokter Daniel saja merasa tidak nyaman, itu artinya mereka bukan teman dari Elena. Bahkan Dokter Daniel tadi mengatakan ia tidak tahu tujuan anak-anak muda tersebut datang dan menerror Elena."
Daniel mengangguk menjawab ucapan warga tadi. Ia pun kemudian mengangkat tangan kirinya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Sudah lewat tengah malam.
"Waktu sudah lewat tengah malam, alangkah baiknya kalau kita lanjutkan obrolan ini di hari esok. Dan juga besok pagi saya harus menemui para polisi yang dikirim untuk menjaga lingkungan kita. Lagipula sebagian dari kalian harus istirahat untuk bekerja esok hari bukan?"
Sadar karena telah mengganggu waktu untuk beristirahat, para warga pun segera meminta maaf pada Daniel dan izin pulang ke rumah masing-masing. Mereka meminta maaf karena telah mengganggu waktu istirahat serta berterima kasih karena Daniel sudah sigap meminta bantuan kepada pihak kepolisian untuk menjaga lingkungan mereka.
Setelah kepulangan warga, Daniel pun menatap Elena sendu. Air mata Elena pun mengalir begitu saja ketika sang ayah memeluknya erat.
"Kamu harus kuat, Elena. Hal ini bukanlah masalah yang serius. Tapi kamu harus bisa mendapat pelajaran dari itu semua."
...***...
__ADS_1